LOGINDarah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.
Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening. Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan. "Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?" Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang. "Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang." "Pulang ke mana?" "Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan putus asa, apa yang mau kamu bawa menghadap Tuhan? Rasa takut? Atau tekad bahwa kamu sudah berusaha menjadi orang baik meski dunia jahat padamu?" Mata Elang membelalak. "Benar!" Jika dia mati di sini, di tangan preman kotor ini, dia akan mati sebagai "Napi Pembunuh dan Pemerkosa". Dia akan mati membawa fitnah. Tuhan mungkin tahu dia tidak bersalah, tapi Elang malu menghadap Tuhan jika dia mati sebagai pecundang yang membiarkan dirinya diinjak-injak. "Aku tidak boleh mati sia-sia! Kalaupun aku mati, aku harus mati dalam keadaan berjuang membersihkan namaku. Aku harus membalas semuanya pada mereka!" Api itu menyala. Bukan api kemarahan buta, tapi api keyakinan. "AAARRRGGHH!" Baron berteriak, mencoba mendorong senjata tajam itu lagi ke mata Elang. Elang sadar dia kalah tenaga. Baron dua kali lebih besar darinya. Tapi Baron bertarung dengan kesombongan, sementara Elang bertarung demi jiwanya. Elang tidak menahan tenaga Baron. Sebaliknya, dia tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkan tubuhnya ke samping. Baron kehilangan keseimbangan karena dorongannya sendiri. Tubuh besarnya terhuyung ke depan. Kesempatan itu hanya satu detik. Elang tidak memukul wajah terlalu keras. Dia mengincar titik lemah. Dengan sisa tenaga, Elang menendang tempurung lutut Baron dari samping. *Krek!* Bunyi pergeseran tulang terdengar ngilu. Baron melolong kesakitan dan jatuh berlutut. Sebelum anak buah Baron sadar, Elang sudah bergerak. Dia tidak memukul. Dia melompat ke punggung Baron, melingkarkan lengan kurusnya ke leher pria besar itu dalam kuncian. "Lepaskan!" Anak buah Baron maju mengeroyok. Pukulan dan tendangan menghujani punggung dan kepala Elang. Sakit. Rusuknya rasanya mau remuk. Tapi Elang tidak melepaskan kunciannya. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah, mempererat jepitan di leher Baron. "Maju selangkah lagi ...," desis Elang di telinga Baron yang mulai kehabisan napas, matanya menatap tajam ke arah anak buah Baron. "... leher bos kalian patah sebelum kalian sempat menyentuhku lagi!" Anak buah Baron berhenti. Mereka melihat wajah Baron yang mulai membiru, matanya terbelalak memukul-mukul lantai tanda menyerah. Elang menatap mereka satu per satu. Wajahnya babak belur, darah mengalir dari pelipis, tapi aura di matanya membuat para preman itu mundur selangkah. Itu bukan tatapan ketakutan. Itu tatapan orang yang sudah berdamai dengan kematian. "Aku tidak ingin buat masalah dengan kalian!" ucap Elang parau. "Tapi kalau kalian paksa aku lagi ... aku pastikan, aku akan menyeret kalian semua ikut ke neraka bersamaku!" Elang melepaskan kunciannya. Baron ambruk, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya. Elang berdiri terhuyung. Dia meludah darah ke lantai. Di ujung lorong, Sipir Toba yang tadinya membuang muka, kini berbalik badan. Matanya membulat tak percaya. Anak itu... masih hidup? Dan dia menang? Elang berjalan menyeret kakinya mendekati jeruji pembatas, tempat Toba berdiri kaku. "Pak!" panggil Elang. Napasnya tersengal. Toba menelan ludah, tangannya gemetar memegang pentungan. "Kamu cari mati, Lang?" "Tidak. Justru saya masih mau hidup!" jawab Elang tegas. Dia menatap Toba lurus. "Pindahkan saya!" "Apa?" "Pindahkan saya ke Blok F. Blok Tahanan Perdata dan Kegiatan Gereja. Saya tahu ada slot kosong di sana untuk pekerja kebersihan kapel, kan?" Toba terdiam. Blok F adalah tempat yang relatif aman, dihuni oleh penipu kerah putih dan napi yang tobat. Jarang ada kekerasan di sana, tapi sipir jarang mau menempatkan napi kasus pembunuhan di sana. "Kenapa saya harus memindahkanmu? Komandan ingin kamu di sini," bisik Toba. Elang melembutkan suaranya, menyentuh sisi kemanusiaan Toba yang tersisa. "Tolong, Pak. Saya hanya ingin beribadah. Saya ingin menebus dosa-dosa saya, kalaupun saya punya dosa. Beri saya kesempatan untuk bersujud pada Tuhan sebelum vonis mati saya datang." Toba menatap mata Elang yang basah namun tegar. Ada getaran aneh di hati sipir itu. Rasa bersalah karena tadi membiarkan Elang hampir dibunuh. Toba menghela napas panjang, lalu membuka gembok pintu blok. "Kemas barangmu sekarang!" *** Satu jam kemudian. Suasana di Blok F sangat berbeda. Tidak ada teriakan makian. Hanya ada keheningan malam dan sayup-sayup suara seseorang melafalkan doa. Elang masuk ke sel barunya. Kecil, lembap, tapi tenang. Besoknya, rutinitas baru Elang dimulai. Dia tidak lagi menjadi sasaran tinju. Dia menjadi marbot gereja/kapel penjara. Tugasnya mengepel lantai altar, menyusun bangku, dan membersihkan patung-patung orang suci. Setiap pagi, Elang berlutut di depan altar. Dia memegang kain pel, menatap salib kayu besar yang tergantung di dinding kapel yang kusam. Dia tidak berdoa meminta bebas. Dia tidak berdoa meminta Siska kembali. "Tuhan..." bisik Elang dalam keheningan kapel. "Mereka mengambil hartaku. Mereka mengambil namaku. Mereka mengambil cintaku. Tapi hari ini aku berjanji ... mereka tidak akan bisa mengambil jiwaku." Elang mengepal kain pel itu erat-erat. "Berikan aku kekuatan untuk bertahan. Bukan untuk membalas dendam dengan cara kotor seperti mereka, tapi untuk membuktikan bahwa hamba-Mu ini tidak bersalah. Jika hidup ini adalah ujian, maka biarkan aku lulus dengan kepala tegak." Sejak hari itu, Elang berubah. Di pagi hari, dia membersihkan gereja dengan khusyuk, menenangkan batinnya, mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Di sore hari, di sudut sepi halaman gereja, dia mulai melatih tubuhnya. *Push-up* ribuan kali, melatih pukulan bayangan, mengasah refleks. Dia memadukan ketenangan seorang pendoa dengan ketajaman seorang petarung. Dia sedang mempersiapkan diri. Karena dia tahu, dunia luar masih menunggunya dengan gigi-gigi tajam. Dan kali ini, Elang tidak akan menjadi domba. Dia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat.Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka
Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b
Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa
Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu
Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj
Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan







