LOGINPagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.
Dan doanya terkabul. Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis. Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.p Elang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar. "Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?" Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi. "Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan sebelum aku benar-benar menutup bukuku." Elang tertegun. "Kejelasan apa? Kamu tahu aku tidak membunuhnya! Aku dijebak!" Siska mendengus pelan, seolah mendengar lelucon yang tidak lucu. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap tajam ke manik mata Elang. "Dijebak? Jaksa memaparkan bukti forensik yang tidak bisa dibantah, Elang," potong Siska cepat. "Noda darah korban ada di bahu kemejamu. Dan yang paling menjijikkan--mereka menemukan sel sperma yang cocok dengan DNA-mu di tubuh wanita itu!" Napas Elang tercekat. Darah di bahu? Itu karena dia mencoba membopong mayat Vania saat menemukannya. Tapi sperma? Itu fitnah paling keji! Dia bahkan tidak pernah menyentuh Vania. "Itu rekayasa, Siska! Laporan forensik itu palsu!" Elang setengah berteriak, membuat sipir di sudut ruangan melirik tajam. "Kamu mengenalku lebih dari siapapun! Apa kamu percaya aku bisa melakukan hal bejat seperti itu? Apa malam itu tidak cukup membuktikan—" Siska terdiam sejenak. Matanya bergerak gelisah, namun bukan karena ragu, melainkan karena ingin segera mengakhiri percakapan ini. Siska merogoh tas tangannya. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil berkilau. Cincin perak sederhana yang Elang beli dengan menabung gaji bartendernya selama enam bulan. Cincin yang dulu Siska terima dengan senyum manis di bawah hujan. Sekarang, Siska meletakkannya di meja besi pembatas. Lalu dia mendorongnya ke arah lubang kecil di bawah kaca. "Ambil ini!" kata Siska tanpa perasaan. "Hubungan kita selesai sampai di sini." Dunia Elang seakan runtuh. Dinding penjara yang kokoh terasa menimpanya saat itu juga. Dia menatap cincin itu—simbol janji suci yang kini tak berharga. "Kenapa, Sis?" suara Elang parau, nyaris hilang. "Apa karena aku --" "Karena aku kecewa sama kamu, El!" sentak Siska, kali ini suaranya meninggi, memainkan peran korban dengan sempurna. "Aku kecewa karena ternyata selama ini kamu berselingkuh dengan model itu! Aku--" Kalimat itu meluncur mulus, seolah sudah dilatih berkali-kali di depan cermin. Elang menatap cincin perak di telapak tangannya. Dingin lantai penjara perlahan memudar, digantikan oleh ingatan tentang kehangatan yang memabukkan. Ingatan tentang malam terakhir sebelum neraka ini dimulai. Malam itu, hujan turun deras mengguyur Jakarta. Di kamar kontrakan petak sempit berukuran 3x4 meter yang disewa Elang, udara terasa lembap. Elang baru saja pulang dari shift sore di pasar, tubuhnya pegal dan berbau keringat. Dia berniat langsung mandi dan bersiap untuk kerja shift malam di bar. "Siska? Kamu ngapain di sini?" Elang menutup pintu, mengunci dunia luar yang berisik. "Jangan pergi ke bar malam ini, El," bisik Siska. Suaranya serak, basah, dan menggoda. "Tapi aku butuh—" Kalimat Elang terputus saat jari telunjuk Siska menempel di bibirnya. Tanpa aba-aba, Siska melingkarkan lengannya ke leher Elang, menarik pria itu menunduk, dan melumat bibirnya dengan agresif. Darah muda Elang mendidih seketika. Dia membalas ciuman itu tak kalah ganas, tangannya yang kasar meremas pinggang ramping Siska, menarik tubuh gadis itu agar menempel rapat padanya tanpa celah. Dia bisa merasakan lekuk tubuh Siska yang lunak dan hangat di balik kemeja tipis itu. Tidak ada bra. Siska tidak memakai apa-apa di balik kemeja itu. "Kamu gila, Sis ...," erang Elang di sela ciuman mereka yang memburu. Napasnya berat. "Aku gila karenamu, El. Aku mau kamu. Sekarang!" Siska mendorong Elang mundur hingga betisnya menabrak tepi kasur. Elang jatuh terduduk, dengan gerakan yang memancing berahi, Siska naik ke pangkuannya. Dia duduk mengangkang di atas paha Elang, gesekan intim di antara mereka membuat Elang mengerang panjang. Tangan Siska bergerak lincah membuka kancing kemejanya sendiri satu per satu, memperlihatkan kulit putih susunya yang merona terkena cahaya lilin. Pemandangan itu adalah candu yang mematikan. Payudaranya yang indah naik turun seiring napasnya yang memburu, menantang Elang untuk menyentuhnya. "Elang... sentuh aku!" pinta Siska, matanya sayu penuh kabut gairah. "Buat aku lupa kalau kita miskin. Buat aku merasa jadi ratu malam ini." Elang tidak perlu disuruh dua kali. Baginya, Siska adalah dewi. Dia memperlakukan tubuh Siska dengan pemujaan total. Tangannya yang kapalan karena kerja keras, kini menyusuri paha mulus Siska, naik ke pinggang, hingga meremas lembut buah dada gadis itu. Siska mendesah keras, kepalanya mendongak ke belakang, menikmati setiap sentuhan kasar namun penuh cinta dari prianya. "El... ahh..." Malam itu, langit-langit kamar kontrakan yang bocor menjadi saksi penyatuan mereka. Tidak ada janji palsu, hanya suara kulit bersentuhan, derit ranjang tua yang berirama, dan desahan napas yang saling memburu memecah suara hujan. Elang mencumbu setiap inci tubuh Siska, meninggalkan jejak kepemilikan di leher dan bahunya. Mereka bergulung di antara seprai kusut, bergerak liar memacu kenikmatan hingga puncak. Saat Elang menyatukan tubuh mereka sepenuhnya, Siska mencakar punggungnya, membisikkan kata-kata yang kini terasa seperti racun. "Aku milikmu, El... Selamanya cuma kamu..." Keringat mereka bercampur, napas mereka menjadi satu. Di puncak pelepasan itu, Elang merasa dia adalah pria paling beruntung di dunia. Dia memiliki segalanya. Dia rela mati demi wanita yang sedang mengerang nikmat dalam pelukannya ini. Elang membuka matanya. Napasnya terengah, seolah dia baru saja selesai bercinta. Tapi realitas menghantamnya kembali. Kenangan manis tentang tubuh Siska, desahannya, dan janji "selamanya" itu kini berputar di kepalanya seperti pisau yang mengiris otak. Wanita yang mendesah nikmat di pelukannya malam itu, wanita yang memohon untuk disentuh adalah wanita yang sama yang siang tadi jijik melihatnya. Tidak ada lagi harapan dan tujuan Elang hidup.Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka
Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b
Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa
Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu
Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj
Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan







