LOGINLima Tahun Kemudian.
Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati. Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang. Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub. Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya. Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan. Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah. Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra. Dan malam ini, adalah malam kelulusannya. *** Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki. Di gudang kapel, Hendra menyerahkan sebuah peta lusuh yang digambar tangan. "Ingat!" Suara Hendra parau. Dia sudah semakin tua dan batuk-batuk, tapi matanya masih tajam. "Anak buahku menunggu di saluran pembuangan akhir, satu kilometer di utara tembok lapas. Jangan sampai salah!" Elang mengangguk. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang dia curi dari ruang laundry petugas. Dia berlutut di depan Hendra, menyentuh kaki gurunya itu. "Aku akan kembali untuk mengeluarkanmu, Guru," janji Elang. Hendra tersenyum tipis, menepuk bahu murid terbaiknya. "Jangan pikirkan aku. Pikirkan mereka yang harus kamu hancurkan di luar sana. Pergilah! Jadilah badai!" Elang berdiri. Dia memanjat tumpukan peti kayu, meraih tralis ventilasi udara di langit-langit yang bautnya sudah dia longgarkan sedikit demi sedikit selama enam bulan terakhir menggunakan sendok yang diasah. Suara gesekan logam tertelan suara guntur. Elang menyelinap masuk ke dalam lorong ventilasi yang sempit, penuh debu dan sarang laba-laba. Dia merayap seperti ular. Senyap. Cepat. Hendra benar. Peta struktur bangunan lapas ini ada di kepalanya. Saluran ventilasi ini tidak mengarah ke luar tembok, itu mustahil karena dijaga penembak jitu. Saluran ini mengarah ke satu-satunya tempat yang penjagaannya longgar di malam hari. Ruang Kunjungan VIP. Elang merayap selama dua puluh menit. Otot-ototnya tegang, napasnya diatur sehalus mungkin. Akhirnya, dia melihat cahaya redup dari sela-sela kisi ventilasi di bawahnya. Ruang Kunjungan. Elang menendang pelan kisi-kisi itu. Baut yang sudah karatan lepas dengan mudah. Dia menurunkan tubuhnya, menggantung sejenak dengan tangan, lalu mendarat tanpa suara di atas karpet tebal ruangan itu. Aman. Elang menarik napas lega. Sesuai rencana, pintu belakang ruang VIP ini terhubung dengan koridor staf administrasi yang kuncinya mudah dibobol, lalu menuju pintu samping loading barang yang malam ini gemboknya "tidak sengaja" lupa dikunci oleh anak buah Hendra yang menyusup jadi petugas kebersihan. Elang melangkah menuju pintu keluar. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Kebebasan tinggal satu putaran engsel. Klik. Suara safety pistol yang dibuka terdengar nyaring di belakang kepalanya. Elang membeku. "Langkahmu ringan sekali, Napi 9821? Hampir saja aku tidak dengar." Suara itu. Elang kenal suara itu. Perlahan, Elang membalikkan badan, mengangkat kedua tangannya. Lima tahun telah membuat rambut Toba memutih, tapi seragamnya masih sama. Tangan kanannya memegang pistol revolver dinas, moncongnya lurus mengarah ke jantung Elang. Tangan kirinya memegang senter yang menyorot wajah Elang. "Pak Toba?" sapa Elang tenang. Terlalu tenang untuk orang yang tertangkap basah. "Kau mau kemana, Lang?" tanya Toba, matanya nanar. "Kau tahu aku harus menembakmu kalau kau mencoba lari." "Bapak tidak akan bisa menembak saya," jawab Elang datar. "Jangan uji aku! Rusdi akan membunuhku kalau kau lolos kali ini!" Toba membentak, tapi tangannya gemetar. Elang menurunkan tangannya perlahan, lalu melangkah maju satu langkah. "Berhenti!" teriak Toba. "Lima tahun lalu, Bapak memberiku kopi beracun," ucap Elang. Suaranya rendah, menusuk langsung ke memori Toba. "Bapak melihatku muntah darah, kejang-kejang, hampir mati. Saya melihat mata Bapak saat itu. Ada rasa bersalah di sana." Toba terdiam. Pistolnya masih terarah, tapi goyah. "Setiap kali Bapak melihat saya berdoa di kapel selama lima tahun ini, Bapak selalu menunduk," lanjut Elang, maju selangkah lagi. Jarak mereka kini tinggal dua meter. "Bapak bukan terlahir sebagai pembunuh. Bapak hanya ayah yang takut kehilangan putranya." "Mundur, Lang!" Suara Toba pecah. "Kalau kau lari, mereka akan--" "Pukul saya!" kata Elang tiba-tiba. "Apa?" "Pukul saya dengan gagang pistol itu. Buat luka di kepala Bapak sendiri. Katakan saya menyerang Bapak dari belakang dan merampas kunci. Buat seolah Bapak korban." Elang berdiri tepat di depan moncong pistol. Dia menatap mata Toba dalam-dalam. "Bapak berhutang satu nyawa pada saya karena kopi itu. Malam ini, saya datang menagih hutang itu." Suasana hening. Hanya suara hujan yang menderu di luar. Toba menatap Elang. Dia melihat pemuda yang dulu dia kasihani, kini telah berubah menjadi pria yang berbahaya namun memiliki kode etik. Toba tahu, jika Elang mau, Elang bisa saja mematahkan lehernya dalam sekejap tadi. Tapi Elang memilih bicara. Perlahan, Toba menurunkan pistolnya. Bahunya merosot, beban rasa bersalah selama lima tahun seolah terangkat. "Pintu loading barang..." bisik Toba serak. "Truk sampah baru saja pergi sepuluh menit lalu. Penjaga pos depan sedang tidur. Lari! Lari secepat mungkin dan jangan menoleh lagi!" Elang mengangguk hormat. "Terima kasih, Pak. Hutang lunas." Tanpa membuang waktu, Elang berbalik. Dia membuka pintu, angin malam yang basah langsung menerpa wajahnya. Sebelum Elang menghilang ke dalam kegelapan malam, dia mendengar suara Toba di belakangnya. "Elang!" Elang berhenti sejenak, tidak menoleh. "Hancurkan mereka!" seru Toba, suaranya penuh amarah terpendam pada atasan-atasannya yang korup. "Hancurkan Keluarga Dirgantara untuk kami semua yang diinjak-injak ini." Elang tersenyum tipis. "Pasti." Elang melompat keluar, menembus tirai hujan. Dia berlari menuju titik pertemuan di saluran pembuangan.Apa yang akan dilakukan Elang untuk membalas dendam keluarga paling disegani dan paling berkuasa? Mampukah Elang membalas dendam dengan tangan kosong?
Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka
Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b
Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa
Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu
Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj
Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan






![MY CEO [Hate And Love]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
