共有

BAB 8 LOLOS

作者: Square Pena
last update 公開日: 2026-02-06 19:36:18

Lima Tahun Kemudian.

Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.

Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.

Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.

Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.

Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.

Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.

Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.

Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.

***

Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.

Di gudang kapel, Hendra menyerahkan sebuah peta lusuh yang digambar tangan.

"Ingat!" Suara Hendra parau. Dia sudah semakin tua dan batuk-batuk, tapi matanya masih tajam. "Anak buahku menunggu di saluran pembuangan akhir, satu kilometer di utara tembok lapas. Jangan sampai salah!"

Elang mengangguk. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang dia curi dari ruang laundry petugas. Dia berlutut di depan Hendra, menyentuh kaki gurunya itu.

"Aku akan kembali untuk mengeluarkanmu, Guru," janji Elang.

Hendra tersenyum tipis, menepuk bahu murid terbaiknya. "Jangan pikirkan aku. Pikirkan mereka yang harus kamu hancurkan di luar sana. Pergilah! Jadilah badai!"

Elang berdiri. Dia memanjat tumpukan peti kayu, meraih tralis ventilasi udara di langit-langit yang bautnya sudah dia longgarkan sedikit demi sedikit selama enam bulan terakhir menggunakan sendok yang diasah.

Suara gesekan logam tertelan suara guntur. Elang menyelinap masuk ke dalam lorong ventilasi yang sempit, penuh debu dan sarang laba-laba.

Dia merayap seperti ular. Senyap. Cepat.

Hendra benar. Peta struktur bangunan lapas ini ada di kepalanya. Saluran ventilasi ini tidak mengarah ke luar tembok, itu mustahil karena dijaga penembak jitu. Saluran ini mengarah ke satu-satunya tempat yang penjagaannya longgar di malam hari. Ruang Kunjungan VIP.

Elang merayap selama dua puluh menit. Otot-ototnya tegang, napasnya diatur sehalus mungkin.

Akhirnya, dia melihat cahaya redup dari sela-sela kisi ventilasi di bawahnya. Ruang Kunjungan.

Elang menendang pelan kisi-kisi itu. Baut yang sudah karatan lepas dengan mudah. Dia menurunkan tubuhnya, menggantung sejenak dengan tangan, lalu mendarat tanpa suara di atas karpet tebal ruangan itu.

Aman.

Elang menarik napas lega. Sesuai rencana, pintu belakang ruang VIP ini terhubung dengan koridor staf administrasi yang kuncinya mudah dibobol, lalu menuju pintu samping loading barang yang malam ini gemboknya "tidak sengaja" lupa dikunci oleh anak buah Hendra yang menyusup jadi petugas kebersihan.

Elang melangkah menuju pintu keluar. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Kebebasan tinggal satu putaran engsel.

Klik.

Suara safety pistol yang dibuka terdengar nyaring di belakang kepalanya.

Elang membeku.

"Langkahmu ringan sekali, Napi 9821? Hampir saja aku tidak dengar."

Suara itu. Elang kenal suara itu.

Perlahan, Elang membalikkan badan, mengangkat kedua tangannya.

Lima tahun telah membuat rambut Toba memutih, tapi seragamnya masih sama. Tangan kanannya memegang pistol revolver dinas, moncongnya lurus mengarah ke jantung Elang. Tangan kirinya memegang senter yang menyorot wajah Elang.

"Pak Toba?" sapa Elang tenang. Terlalu tenang untuk orang yang tertangkap basah.

"Kau mau kemana, Lang?" tanya Toba, matanya nanar. "Kau tahu aku harus menembakmu kalau kau mencoba lari."

"Bapak tidak akan bisa menembak saya," jawab Elang datar.

"Jangan uji aku! Rusdi akan membunuhku kalau kau lolos kali ini!" Toba membentak, tapi tangannya gemetar.

Elang menurunkan tangannya perlahan, lalu melangkah maju satu langkah.

"Berhenti!" teriak Toba.

"Lima tahun lalu, Bapak memberiku kopi beracun," ucap Elang. Suaranya rendah, menusuk langsung ke memori Toba. "Bapak melihatku muntah darah, kejang-kejang, hampir mati. Saya melihat mata Bapak saat itu. Ada rasa bersalah di sana."

Toba terdiam. Pistolnya masih terarah, tapi goyah.

"Setiap kali Bapak melihat saya berdoa di kapel selama lima tahun ini, Bapak selalu menunduk," lanjut Elang, maju selangkah lagi. Jarak mereka kini tinggal dua meter. "Bapak bukan terlahir sebagai pembunuh. Bapak hanya ayah yang takut kehilangan putranya."

"Mundur, Lang!" Suara Toba pecah. "Kalau kau lari, mereka akan--"

"Pukul saya!" kata Elang tiba-tiba.

"Apa?"

"Pukul saya dengan gagang pistol itu. Buat luka di kepala Bapak sendiri. Katakan saya menyerang Bapak dari belakang dan merampas kunci. Buat seolah Bapak korban."

Elang berdiri tepat di depan moncong pistol. Dia menatap mata Toba dalam-dalam.

"Bapak berhutang satu nyawa pada saya karena kopi itu. Malam ini, saya datang menagih hutang itu."

Suasana hening. Hanya suara hujan yang menderu di luar.

Toba menatap Elang. Dia melihat pemuda yang dulu dia kasihani, kini telah berubah menjadi pria yang berbahaya namun memiliki kode etik. Toba tahu, jika Elang mau, Elang bisa saja mematahkan lehernya dalam sekejap tadi. Tapi Elang memilih bicara.

Perlahan, Toba menurunkan pistolnya. Bahunya merosot, beban rasa bersalah selama lima tahun seolah terangkat.

"Pintu loading barang..." bisik Toba serak. "Truk sampah baru saja pergi sepuluh menit lalu. Penjaga pos depan sedang tidur. Lari! Lari secepat mungkin dan jangan menoleh lagi!"

Elang mengangguk hormat. "Terima kasih, Pak. Hutang lunas."

Tanpa membuang waktu, Elang berbalik. Dia membuka pintu, angin malam yang basah langsung menerpa wajahnya.

Sebelum Elang menghilang ke dalam kegelapan malam, dia mendengar suara Toba di belakangnya.

"Elang!"

Elang berhenti sejenak, tidak menoleh.

"Hancurkan mereka!" seru Toba, suaranya penuh amarah terpendam pada atasan-atasannya yang korup. "Hancurkan Keluarga Dirgantara untuk kami semua yang diinjak-injak ini."

Elang tersenyum tipis.

"Pasti."

Elang melompat keluar, menembus tirai hujan. Dia berlari menuju titik pertemuan di saluran pembuangan.

Square Pena

Apa yang akan dilakukan Elang untuk membalas dendam keluarga paling disegani dan paling berkuasa? Mampukah Elang membalas dendam dengan tangan kosong?

| 2
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 89 PEMAKAMAN TANPA NISAN -TAMAT-

    Pemakaman Rahasia, Pinggiran Jakarta - (Keesokan Harinya).Hujan gerimis belum juga berhenti, seolah langit Jakarta ikut menangisi kepergian sang hantu penuntut keadilan.Suara cangkul yang menghantam tanah basah terdengar berirama. Dimas dan dua mantan napi dari Blok Hitam sedang menutup lubang lahat itu dengan tanah merah. Otot lengan mereka tegang, tapi tidak ada yang mengeluh. Di mata mereka, pria di dalam peti kayu itu bukan sekadar bos, melainkan dewa penyelamat.Di pinggir liang lahat, Larasati berlutut di atas lumpur. Gaun hitamnya kotor. Dia tidak memedulikannya. Air mata terus mengalir di pipinya yang pucat, tangannya gemetar mengusap gundukan tanah yang baru saja selesai dipadatkan."Maafkan Ibu, Nak..." isak Larasati, suaranya nyaris habis. "Ibu baru memelukmu sebentar... kenapa kau buru-buru pergi..."Tidak ada batu nisan berukir nama di sana. Hanya ada sebuah patok kayu polos.Secara hukum, Elang Dirgantara sudah ma

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 88 KEADILAN YANG DIBAYAR DARAH

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.15 WIB.DOR!Suara letusan pistol kaliber 9mm itu membelah deru angin dari baling-baling helikopter.Bagi Elang, waktu seolah berjalan dalam gerak lambat. Di tengah sisa tenaganya yang sudah habis dan otot jantung yang mulai robek karena efek obat, insting jalanan Napi 9821 mengambil alih untuk terakhir kalinya.Dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia melihat arah laras pistol Sanjaya yang terkunci lurus ke dahi Larasati.Dengan sisa tenaga paling dasar yang dia miliki, Elang memutar tubuhnya yang kaku. Dia menarik bahu Larasati, membanting wanita itu ke aspal, dan menjadikan punggung serta dadanya sebagai tameng hidup.JLEB!Peluru itu tidak mengenai Larasati.Peluru panas itu menembus punggung kiri jas hitam Elang, merobek tulang rusuk rapuh Elister, dan bersarang tepat di bilik jantung aslinya—jantung yang memompakan kehidupan kedua baginya."Ugh!"Tubuh

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 87 WAJAH ASLI SANG HANTU

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.10 WIB.Cahaya putih dari lampu sorot helikopter polisi membutakan pandangan. Angin puting beliung dari baling-baling menerbangkan debu, pecahan kaca, dan rintik hujan ke udara.Di angkasa, bukan hanya helikopter polisi yang mengitari atap gedung itu. Tiga buah drone kamera beresolusi tinggi milik stasiun TV berita nasional melayang dekat, menyorotkan lensa mereka dengan lampu merah yang berkedip tanda siaran langsung.Seluruh Indonesia sedang menahan napas menonton adegan ini.Sanjaya tertawa serak, meski lehernya menempel pada bilah pisau berdarah milik Elang."Kau tamat, Elang," bisik Sanjaya di sela deru angin. "Jutaan orang sedang menontonmu sekarang. Kalau kau menggorok leherku, kau akan dicatat sejarah sebagai teroris gila yang membunuh Ketua Mahkamah Agung. Turunkan pisaumu. Hukum manusia akan melindungiku!"Dari pengeras suara helikopter polisi, suara Toba kembali menggema keras.

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 86 KONFRONTASI DI ATAP

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.05 WIB.Angin puting beliung buatan dari baling-baling helikopter AgustaWestland menyapu atap beton itu. Suara mesin jetnya memekakkan telinga, menenggelamkan raungan sirine polisi jauh di jalanan bawah sana.Sanjaya—sang Ketua Mahkamah Agung yang kini menjadi buronan—mendorong kursi roda Barata dengan kasar menuju pintu helikopter yang terbuka. Dua pengawal elitnya menyeret Larasati yang meronta-ronta dan menangis."Cepat! Masukkan mereka!" teriak Sanjaya pada pilot.Tapi langkah mereka terhenti.Di ambang pintu akses tangga, Elang berdiri. Kemeja hitamnya basah oleh keringat dan darah. Dua pistol Glock di tangannya memuntahkan peluru.DOR! DOR!Dua pengawal yang menyeret Larasati ambruk dengan lubang di kepala mereka. Larasati jatuh berlutut di aspal helipad, menutupi telinganya.Sanjaya memucat. Dia bersembunyi di balik kursi roda Barata, menjadikan pria tua yang sakit

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 85 MENYERBU ISTANA HUKUM

    Jalan Medan Merdeka Utara - Pukul 07.55 WIB.Truk logistik seberat 12 ton itu melolong buas. Pedal gas diinjak rata dengan lantai kabin. Jarum speedometer bergetar di angka 100 km/jam.Di kursi kemudi, Elang menatap lurus ke depan. Kaca depan truk yang sudah dilapisi baja anti-peluru mulai berderak saat rentetan tembakan dari penembak jitu di atap Gedung Mahkamah Agung menghujaninya.Peluru-peluru itu hanya meninggalkan bekas putih di kaca. Elang tidak berkedip. Jantungnya berdetak secepat mesin diesel di bawah kakinya. Obat bius militer dari Kara bekerja sempurna. Dia tidak merasakan takut, tidak merasakan sakit. Dia merasa seperti dewa perang.Di depan sana, barikade beton dan puluhan penjaga bersenjata laras panjang memblokir gerbang utama istana hukum tersebut."Truk itu tidak mau berhenti! Tembak bannya! Tembak!" teriak komandan jaga dengan panik.Terlambat.BRAAAAKKK!!!Bumper perusak truk itu menghantam b

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 84 HARI PENGHAKIMAN

    Safe House Phoenix - Pukul 05.30 WIB. Jarum suntik berbahan baja itu menembus kulit dada Elang, tepat di atas tulang rusuknya. Tangan Dokter Kara bergetar hebat saat menekan pendorong suntikan itu. Cairan kental berwarna kuning keemasan—koktail painkiller dosis militer kelas berat yang dicampur dengan stimulan jantung ilegal—mengalir masuk ke aliran darah Elang. Elang memejamkan mata. Rahangnya mengeras hingga ototnya menonjol. Sensasi awalnya adalah rasa panas yang membakar pembuluh darah, seperti disiram cairan timah. Namun, beberapa detik kemudian, rasa sakit yang menyiksa organ dalamnya selama berbulan-bulan ini lenyap seketika. Dada yang tadinya sesak kini terasa lapang. Otot-otot Elister yang rapuh tiba-tiba dipenuhi tenaga yang meledak-ledak. Tubuhnya tidak lagi merasakan lelah, takut, atau nyeri. Saraf rasa sakitnya telah dimatikan total. "Selesai," bisik Kara, menarik jarumnya dan memb

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 79 JEBAKAN

    Sadewa menyalakannya. Dia ingin Elang mendengar kematian sahabatnya. Dia ingin memancing sang Hantu keluar dari sarangnya."Elang Dirgantara," ucap Sadewa ke mic. "Dengarkan suara patahnya leher anjing pintarmu ini."Kailan tahu apa yang sedang direncanakan Sadewa. Jika Elang da

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 74 PEMBUNGKAMAN MEDIA

    "Barata sudah di penjara," potong Elang tajam. "Dan kakakmu memilih menembak kepalanya sendiri daripada melawan. Dia pengecut."Elang mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata Han."The Boss tidak memelihara pecundang."Kalimat itu menohok geng mafia tan

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 73 KERUNTUHAN BURSA SAHAM

    Kantor Tuan Hong - Pukul 16.00 WIB.Di ruangannya, Tuan Hong menatap layar TV dengan tubuh gemetar hebat.Siaran langsung itu viral dalam hitungan menit. Hastag #TangkapHong dan #PahlawanLumpur menjadi trending topic nomor satu di dunia. Saham perusahaannya yang tadi sudah hancu

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 72 KEBENARAN MASA LALU

    "Aku belum tamat!" geram Hong, matanya merah menyala karena putus asa. "Aku masih punya aset tanah fisik! Aku bisa mencairkannya!"Hong menekan tombol interkom ke kepala premannya."Kumpulkan semua pasukan! Kita gusur paksa tanah sengketa di Kampung Muka hari ini juga! Aku butuh

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status