LOGINBlok C.
Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk. Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai. Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi. Bugh! Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket. "Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!" Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir. Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di pojok ruangan. Dia tidak merasakan sakit di pipinya. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan bayangan Siska yang mendesah nikmat di bawah tubuhnya, lalu menusuknya dari belakang keesokan harinya. "Pukul aku lagi!" batin Elang pasrah. Baron yang merasa diremehkan karena Elang tidak berteriak, mulai beringas. Dia melayangkan tinju bertubi-tubi ke perut dan rusuk Elang. Elang meringkuk seperti udang, menerima setiap hantaman sebagai hukuman atas kebodohannya sendiri. "Mati kau, Bangsat!" Saat Baron hendak menginjak kepala Elang, suara pentungan memukul jeruji besi menghentikan segalanya. Trang! Trang! Trang! "MUNDUR SEMUA!" Pintu sel terbuka kasar. Sipir Toba, petugas jaga bertubuh tegap dengan wajah kaku, masuk sambil mengayunkan tongkat karet. Dia mendorong Baron hingga mundur ke tembok. "Kau lagi, Baron! Mau kumasukkan ke sel tikus, hah?!" bentak Sipir bernama dada Toba. Toba melihat Elang yang terkapar babak belur. Dengan kasar, dia menarik lengan Elang, menyeretnya keluar dari sel. "Ke klinik! Sekarang!" Sepanjang lorong, Elang berjalan tertatih-tatih diseret Toba. "Kau bodoh atau apa?" bisik Toba tajam, namun nadanya tidak sekejam sipir lain. "Kenapa tidak melawan? Badanmu tegap. Kalau kau diam saja, mereka akan memakanmu hidup-hidup!" Elang tidak menjawab. Dia hanya menatap lantai. "Buat apa melawan? Hidupnya sudah selesai." *** Kejadian itu berulang selama seminggu penuh. Setiap kali Elang dikeroyok saat jam makan siang, Toba datang melerai. Setiap kali kepala Elang dibenamkan ke bak mandi umum, Toba muncul meniup peluit. Setiap kali Elang tidur, selimutnya disulut dengan rokok, Toba memindahkan Elang ke sel isolasi sementara demi keamanannya. Elang adalah mayat hidup yang berjalan, dan Toba adalah satu-satunya malaikat penjaga yang mencegah nyawanya melayang. Namun, sore itu, Toba dipanggil menghadap. Di ruang Kepala Keamanan Lapas yang ber-AC dingin, Sipir Toba berdiri tegak. Di hadapannya, Komandan Rusdi sedang menghisap cerutu tebal, kakinya naik ke atas meja. Di atas meja itu, ada amplop tebal yang isinya menyembul sedikit—lembaran merah uang tunai. "Toba, Toba ...!" Rusdi menghembuskan asap rokok ke wajah anak buahnya itu. "Saya dengar kamu rajin sekali jadi pahlawan buat Napi 9821 itu?" Toba mengerutkan kening. "Siap, Ndan. Napi Baron dan anak buahnya mencoba membunuhnya. Sudah tugas saya menjaga ketertiban." Rusdi tertawa kekeh. Tawa yang terdengar seperti gesekan amplas kasar. Dia menurunkan kakinya, menatap Toba dengan tatapan mengintimidasi. "Dengar baik-baik, Toba! Tugasmu adalah menjaga agar tidak ada napi yang kabur. Bukan menjaga nyawa mereka!" Rusdi melempar sebuah berkas ke arah Toba. Itu berkas medis Elang. "Ada titipan pesan dari 'atas'. Orang-orang besar di luar sana tidak mau tangannya kotor. Mereka tidak minta kita membunuh anak itu. Itu terang-terangan." Rusdi mendekatkan wajahnya, suaranya melirih penuh ancaman. "Mereka ingin anak itu putus asa. Biarkan dia disiksa. Biarkan dia diperkosa mentalnya. Biarkan dia merasa dunia ini begitu kejam sampai dia sendiri yang mengambil tali celananya dan menggantung lehernya di teralis besi." Mata Toba membelalak. "Siap! Maksud Komandan? Kita membiarkan pembunuhan di dalam lapas terjadi?" "Bukan pembunuhan!" bentak Rusdi. "Itu seleksi alam! Bunuh diri karena depresi! Laporan rapi, kita bersih, dan rekening kita gendut!" Rusdi menunjuk hidung Toba. "Kalau sekali lagi saya lihat kamu menolong anak itu, besok pagi seragammu saya copot dan pensiunmu hangus! Mengerti?!" Toba mengepalkan tangannya erat-erat di samping pinggang. Rahangnya mengeras. Dia punya istri dan dua anak yang masih sekolah. Dia butuh pekerjaan ini. "Siap mengerti, Ndan!" *** Malam harinya. Jam bebas di area rekreasi blok. Elang duduk sendirian di pojok, menatap tembok kosong. Tiba-tiba, bayangan besar menutupi cahaya lampu di atasnya. Baron dan lima anak buahnya datang lagi. Kali ini, mereka membawa sikat gigi yang ujungnya sudah diasah runcing menjadi senjata tajam. "Nah, anak manis," seringai Baron, memamerkan gigi kuningnya. "Sipir kesayanganmu sedang shift jaga di pos depan. Tidak ada yang akan menolongmu sekarang." Elang mendongak. Di ujung lorong, dibalik jeruji pembatas area rekreasi, dia melihat Sipir Toba berdiri. Mata mereka bertemu. Ada tatapan memohon di mata Elang yang lelah. Sebersit harapan terakhir bahwa pria berseragam itu akan meniup peluitnya dan menyelamatkannya lagi. Namun, Toba membuang muka. Sipir itu berbalik badan, membelakangi kejadian itu, dan pura-pura memeriksa gembok sel lain. Dia menutup telinganya, mengabaikan hati nuraninya demi perintah atasan. Pesan itu jelas, "Kamu sendirian, mampus! Elang terpaku. Harapan terakhirnya padam. Dia melihat Baron mengangkat sikat gigi runcing itu, mengincat matanya. "Pegang tangannya! Kita butakan matanya dulu biar seru!" perintah Baron. Dua orang memegangi lengan Elang. Elang tidak meronta. Dia melihat ujung runcing itu mendekat. "Inikah akhirnya?" batin Elang. "Mati konyol di tangan preman kampung? Sementara pembunuh aslinya bebas berkeliaran di luar sana?" Saat ujung senjata itu tinggal satu inci dari bola matanya, sesuatu meledak di dalam otak Elang. Bukan rasa takut. Bukan kepasrahan. Tapi amarah. Amarah yang selama ini dia kubur. Bayangan dirinya hidup sia-sia tanpa bisa melakukan apa-apa padahal bukan salahnya. Dia membayangkan bagaimana jika ada orang lain bernasib sama seperti dirinya? Dunia menginginkannya mati sia-sia? "Persetan dengan dunia!" Ujung sikat gigi itu berhenti mendadak. Bukan karena Baron berhenti, tapi karena sebuah tangan yang berlumuran darah menahannya. Tangan Elang. Cengkeramannya begitu kuat hingga sikat gigi plastik itu patah di genggaman Baron. Elang mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak masuk penjara, matanya tidak lagi kosong. Mata itu menyala merah, lapar, dan buas. "Kalian mengganggu tidurku!" geram Elang dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Baron meremang.Lima Tahun Kemudian.Waktu di penjara tidak berjalan seperti waktu di luar. Di sini, waktu diukur dengan tetesan air keran yang bocor, bekas luka yang bertambah di tubuh, dan lapisan kalus yang menebal di hati.Elang bukan lagi pemuda kurus yang menangis di ruang sidang.Di usia 28 tahun, dia telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Tubuhnya padat, setiap inci ototnya dipahat oleh ribuan push-up dan latihan beban tubuh ekstrem di gudang kapel. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya sedingin es kutub.Selama lima tahun, di bawah bimbingan Hendra, Elang telah menyerap segalanya.Dia belajar anatomi tubuh manusia—bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menghancurkan.Dia belajar bahasa sandi dunia bawah tanah.Dia belajar strategi bisnis kotor dari cerita masa lalu Hendra.Dan malam ini, adalah malam kelulusannya.***Jam 02:00 dini hari. Hujan badai mengguyur atap seng penjara, menciptakan keributan alami yang sempurna untuk menyamarkan suara langkah kaki.Di gudang ka
Ruang kerja Kepala Keamanan Lapas (KPLP) malam itu terasa seperti oven, meski AC menyala penuh. Komandan Rusdi mondar-mandir dengan keringat dingin membasahi seragamnya. Telepon di mejanya baru saja ditutup, tapi suara ancaman dari ujung sana masih terngiang jelas."Kami membayar Bapak bukan untuk memelihara hewan peliharaan. Kami dengar dia masih hidup, bahkan masuk blok gereja? Bapak mau bermain-main dengan Keluarga Dirgantara?"Rusdi gemetar. Dia tahu siapa yang menelepon."Malam ini. Harus selesai malam ini! Buat seolah dia depresi dan gantung diri. Jangan ada bekas kekerasan. Atau... Bapak yang akan kami gantung!"Rusdi membanting gagang telepon. Dia tidak punya pilihan. Baron gagal. Kekerasan fisik terlalu berisiko meninggalkan jejak visum jika keluarga panti asuhan itu nekat menuntut. Dia butuh cara yang bersih."Toba!" teriak Rusdi.Sipir dengan tubuh jangkung itu masuk dengan wajah lelah. "Siap, Ndan!"Rusdi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah botol kecil tak berlabel b
Tiga bulan berlalu di Blok F.Bagi sipir dan napi lain, Elang hanyalah sukarelawan Gereja. Pemuda kurus yang rajin mengepel lantai kapel dari ujung ke ujung, menunduk hormat saat berpapasan dengan orang lain, dan menghabiskan waktunya membaca Alkitab tua di sudut ruangan.Mereka salah besar.Elang tidak menunduk karena takut. Dia menunduk untuk menyembunyikan matanya yang terus merekam. Kapel itu posisinya strategis, berhadapan langsung dengan lapangan utama tempat para napi berjemur dan—seringkali—berkelahi.Di balik kaca jendela kapel yang berdebu, Elang bukan sedang berdoa. Dia sedang belajar. Dia sedang membedah anatomi kekerasan.Siang itu, keributan pecah lagi di lapangan. Baron dan komplotannya sedang "memberi pelajaran" pada seorang napi kasus narkoba yang telat membayar uang perlindungan.Elang berhenti mengepel. Dia berdiri diam di balik tirai, matanya menyipit fokus."Baron selalu memulai dengan tangan kanan," batin Elang, menganalisis. "Pukulan lebar. Kuat, tapi lambat. Sa
Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para napi menghilang, digantikan oleh sebuah suara lembut dari masa lalu yang menyeruak masuk ke kepalanya. Suara Bude Ratih, ibu asuhnya di panti, saat Elang kecil menangis karena dipukuli anak jalanan."Kenapa Tuhan jahat, Bu? Kenapa Elang selalu kalah?"Bude Ratih mengusap kepala Elang yang benjol, tersenyum teduh di bawah lampu panti yang remang."Gusti Allah tidak jahat, Ngger (Nak). Dia hanya sedang menempa besinya biar jadi pedang tajam. Ingat, Nak... Tujuan kita hidup di dunia ini bukan untuk menang di mata manusia, tapi mengumpulkan bekal untuk pulang.""Pulang ke mana?""Ke hadapan-Nya. Di sana, kebenaran tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau kamu mati sekarang dalam keadaan menyerah dan pu
Blok C.Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.Bugh!Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket."Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"Plak!Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di poj
Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pembatas, duduk seorang gadis dengan gaun terusan berwarna krem. Rambutnya digerai indah, wajahnya dipoles make-up tipis.Melihatnya, dada Elang sesak oleh campuran rasa rindu dan sakit. Gadis ini yang kemarin bersaksi memberatkannya. Tapi, hati kecil Elang yang bodoh masih mencari pembenaran.pElang duduk, mengangkat gagang telepon dengan tangan gemetar."Siska?" bisik Elang. Suaranya penuh harap. "Aku tahu kamu akan datang. Katakan padaku kau baik-baik saja, kan?"Namun, tidak ada air mata di mata Siska. Hanya ada tatapan dingin yang asing. Tatapan menghakimi."Aku datang bukan untuk basa-basi, El," suara Siska terdengar datar dari seberang telepon. Dia tidak menyapa balik. "Aku butuh kejelasan







