Share

BAB 4: SKENARIO KEMATIAN

Author: Square Pena
last update publish date: 2026-01-25 06:24:31

Blok C.

Di Lapas ini dikenal sebagai "Kandang Hyena". Tempat di mana narapidana kelas kakap, pembunuh, pemerkosa, dan bandar narkoba dicampur menjadi satu adonan kekerasan yang membusuk.

Baru lima menit Elang melangkah masuk ke sel barunya yang berukuran 4x6 meter dan dihuni dua puluh orang, upacara penyambutan itu langsung dimulai.

Tanpa basa-basi, seorang napi bertubuh gempal dengan tato naga melilit di leher, Baron, menendang dada Elang hingga terpental menabrak jeruji besi.

Bugh!

Napas Elang tercekat. Tapi anehnya, dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai dingin yang lengket.

"Heh, anak baru! Kau pikir ini hotel?" Baron mencengkeram kerah baju Elang, mengangkatnya seperti boneka kain. "Kudengar kau pembunuh wanita? Cuih! Banci!"

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi Elang. Sudut bibirnya pecah. Darah segar mengalir.

Para napi lain bersorak, menanti perlawanan. Tapi Elang hanya diam. Matanya kosong, menatap nanar ke arah ember wc di pojok ruangan. Dia tidak merasakan sakit di pipinya. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan bayangan Siska yang mendesah nikmat di bawah tubuhnya, lalu menusuknya dari belakang keesokan harinya.

"Pukul aku lagi!" batin Elang pasrah.

Baron yang merasa diremehkan karena Elang tidak berteriak, mulai beringas. Dia melayangkan tinju bertubi-tubi ke perut dan rusuk Elang. Elang meringkuk seperti udang, menerima setiap hantaman sebagai hukuman atas kebodohannya sendiri.

"Mati kau, Bangsat!"

Saat Baron hendak menginjak kepala Elang, suara pentungan memukul jeruji besi menghentikan segalanya.

Trang! Trang! Trang!

"MUNDUR SEMUA!"

Pintu sel terbuka kasar. Sipir Toba, petugas jaga bertubuh tegap dengan wajah kaku, masuk sambil mengayunkan tongkat karet. Dia mendorong Baron hingga mundur ke tembok.

"Kau lagi, Baron! Mau kumasukkan ke sel tikus, hah?!" bentak Sipir bernama dada Toba.

Toba melihat Elang yang terkapar babak belur. Dengan kasar, dia menarik lengan Elang, menyeretnya keluar dari sel.

"Ke klinik! Sekarang!"

Sepanjang lorong, Elang berjalan tertatih-tatih diseret Toba.

"Kau bodoh atau apa?" bisik Toba tajam, namun nadanya tidak sekejam sipir lain. "Kenapa tidak melawan? Badanmu tegap. Kalau kau diam saja, mereka akan memakanmu hidup-hidup!"

Elang tidak menjawab. Dia hanya menatap lantai.

"Buat apa melawan? Hidupnya sudah selesai."

***

Kejadian itu berulang selama seminggu penuh.

Setiap kali Elang dikeroyok saat jam makan siang, Toba datang melerai.

Setiap kali kepala Elang dibenamkan ke bak mandi umum, Toba muncul meniup peluit.

Setiap kali Elang tidur, selimutnya disulut dengan rokok, Toba memindahkan Elang ke sel isolasi sementara demi keamanannya.

Elang adalah mayat hidup yang berjalan, dan Toba adalah satu-satunya malaikat penjaga yang mencegah nyawanya melayang.

Namun, sore itu, Toba dipanggil menghadap. Di ruang Kepala Keamanan Lapas yang ber-AC dingin, Sipir Toba berdiri tegak. Di hadapannya, Komandan Rusdi sedang menghisap cerutu tebal, kakinya naik ke atas meja. Di atas meja itu, ada amplop tebal yang isinya menyembul sedikit—lembaran merah uang tunai.

"Toba, Toba ...!" Rusdi menghembuskan asap rokok ke wajah anak buahnya itu. "Saya dengar kamu rajin sekali jadi pahlawan buat Napi 9821 itu?"

Toba mengerutkan kening. "Siap, Ndan. Napi Baron dan anak buahnya mencoba membunuhnya. Sudah tugas saya menjaga ketertiban."

Rusdi tertawa kekeh. Tawa yang terdengar seperti gesekan amplas kasar. Dia menurunkan kakinya, menatap Toba dengan tatapan mengintimidasi.

"Dengar baik-baik, Toba! Tugasmu adalah menjaga agar tidak ada napi yang kabur. Bukan menjaga nyawa mereka!"

Rusdi melempar sebuah berkas ke arah Toba. Itu berkas medis Elang.

"Ada titipan pesan dari 'atas'. Orang-orang besar di luar sana tidak mau tangannya kotor. Mereka tidak minta kita membunuh anak itu. Itu terang-terangan."

Rusdi mendekatkan wajahnya, suaranya melirih penuh ancaman.

"Mereka ingin anak itu putus asa. Biarkan dia disiksa. Biarkan dia diperkosa mentalnya. Biarkan dia merasa dunia ini begitu kejam sampai dia sendiri yang mengambil tali celananya dan menggantung lehernya di teralis besi."

Mata Toba membelalak. "Siap! Maksud Komandan? Kita membiarkan pembunuhan di dalam lapas terjadi?"

"Bukan pembunuhan!" bentak Rusdi. "Itu seleksi alam! Bunuh diri karena depresi! Laporan rapi, kita bersih, dan rekening kita gendut!"

Rusdi menunjuk hidung Toba. "Kalau sekali lagi saya lihat kamu menolong anak itu, besok pagi seragammu saya copot dan pensiunmu hangus! Mengerti?!"

Toba mengepalkan tangannya erat-erat di samping pinggang. Rahangnya mengeras. Dia punya istri dan dua anak yang masih sekolah. Dia butuh pekerjaan ini.

"Siap mengerti, Ndan!"

***

Malam harinya. Jam bebas di area rekreasi blok.

Elang duduk sendirian di pojok, menatap tembok kosong. Tiba-tiba, bayangan besar menutupi cahaya lampu di atasnya. Baron dan lima anak buahnya datang lagi. Kali ini, mereka membawa sikat gigi yang ujungnya sudah diasah runcing menjadi senjata tajam.

"Nah, anak manis," seringai Baron, memamerkan gigi kuningnya. "Sipir kesayanganmu sedang shift jaga di pos depan. Tidak ada yang akan menolongmu sekarang."

Elang mendongak. Di ujung lorong, dibalik jeruji pembatas area rekreasi, dia melihat Sipir Toba berdiri.

Mata mereka bertemu.

Ada tatapan memohon di mata Elang yang lelah. Sebersit harapan terakhir bahwa pria berseragam itu akan meniup peluitnya dan menyelamatkannya lagi.

Namun, Toba membuang muka.

Sipir itu berbalik badan, membelakangi kejadian itu, dan pura-pura memeriksa gembok sel lain. Dia menutup telinganya, mengabaikan hati nuraninya demi perintah atasan.

Pesan itu jelas, "Kamu sendirian, mampus!

Elang terpaku. Harapan terakhirnya padam. Dia melihat Baron mengangkat sikat gigi runcing itu, mengincat matanya.

"Pegang tangannya! Kita butakan matanya dulu biar seru!" perintah Baron.

Dua orang memegangi lengan Elang. Elang tidak meronta. Dia melihat ujung runcing itu mendekat.

"Inikah akhirnya?" batin Elang. "Mati konyol di tangan preman kampung? Sementara pembunuh aslinya bebas berkeliaran di luar sana?"

Saat ujung senjata itu tinggal satu inci dari bola matanya, sesuatu meledak di dalam otak Elang. Bukan rasa takut. Bukan kepasrahan.

Tapi amarah.

Amarah yang selama ini dia kubur. Bayangan dirinya hidup sia-sia tanpa bisa melakukan apa-apa padahal bukan salahnya. Dia membayangkan bagaimana jika ada orang lain bernasib sama seperti dirinya?

Dunia menginginkannya mati sia-sia?

"Persetan dengan dunia!"

Ujung sikat gigi itu berhenti mendadak. Bukan karena Baron berhenti, tapi karena sebuah tangan yang berlumuran darah menahannya. Tangan Elang. Cengkeramannya begitu kuat hingga sikat gigi plastik itu patah di genggaman Baron.

Elang mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak masuk penjara, matanya tidak lagi kosong. Mata itu menyala merah, lapar, dan buas.

"Kalian mengganggu tidurku!" geram Elang dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Baron meremang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 89 PEMAKAMAN TANPA NISAN -TAMAT-

    Pemakaman Rahasia, Pinggiran Jakarta - (Keesokan Harinya).Hujan gerimis belum juga berhenti, seolah langit Jakarta ikut menangisi kepergian sang hantu penuntut keadilan.Suara cangkul yang menghantam tanah basah terdengar berirama. Dimas dan dua mantan napi dari Blok Hitam sedang menutup lubang lahat itu dengan tanah merah. Otot lengan mereka tegang, tapi tidak ada yang mengeluh. Di mata mereka, pria di dalam peti kayu itu bukan sekadar bos, melainkan dewa penyelamat.Di pinggir liang lahat, Larasati berlutut di atas lumpur. Gaun hitamnya kotor. Dia tidak memedulikannya. Air mata terus mengalir di pipinya yang pucat, tangannya gemetar mengusap gundukan tanah yang baru saja selesai dipadatkan."Maafkan Ibu, Nak..." isak Larasati, suaranya nyaris habis. "Ibu baru memelukmu sebentar... kenapa kau buru-buru pergi..."Tidak ada batu nisan berukir nama di sana. Hanya ada sebuah patok kayu polos.Secara hukum, Elang Dirgantara sudah ma

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 88 KEADILAN YANG DIBAYAR DARAH

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.15 WIB.DOR!Suara letusan pistol kaliber 9mm itu membelah deru angin dari baling-baling helikopter.Bagi Elang, waktu seolah berjalan dalam gerak lambat. Di tengah sisa tenaganya yang sudah habis dan otot jantung yang mulai robek karena efek obat, insting jalanan Napi 9821 mengambil alih untuk terakhir kalinya.Dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia melihat arah laras pistol Sanjaya yang terkunci lurus ke dahi Larasati.Dengan sisa tenaga paling dasar yang dia miliki, Elang memutar tubuhnya yang kaku. Dia menarik bahu Larasati, membanting wanita itu ke aspal, dan menjadikan punggung serta dadanya sebagai tameng hidup.JLEB!Peluru itu tidak mengenai Larasati.Peluru panas itu menembus punggung kiri jas hitam Elang, merobek tulang rusuk rapuh Elister, dan bersarang tepat di bilik jantung aslinya—jantung yang memompakan kehidupan kedua baginya."Ugh!"Tubuh

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 87 WAJAH ASLI SANG HANTU

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.10 WIB.Cahaya putih dari lampu sorot helikopter polisi membutakan pandangan. Angin puting beliung dari baling-baling menerbangkan debu, pecahan kaca, dan rintik hujan ke udara.Di angkasa, bukan hanya helikopter polisi yang mengitari atap gedung itu. Tiga buah drone kamera beresolusi tinggi milik stasiun TV berita nasional melayang dekat, menyorotkan lensa mereka dengan lampu merah yang berkedip tanda siaran langsung.Seluruh Indonesia sedang menahan napas menonton adegan ini.Sanjaya tertawa serak, meski lehernya menempel pada bilah pisau berdarah milik Elang."Kau tamat, Elang," bisik Sanjaya di sela deru angin. "Jutaan orang sedang menontonmu sekarang. Kalau kau menggorok leherku, kau akan dicatat sejarah sebagai teroris gila yang membunuh Ketua Mahkamah Agung. Turunkan pisaumu. Hukum manusia akan melindungiku!"Dari pengeras suara helikopter polisi, suara Toba kembali menggema keras.

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 86 KONFRONTASI DI ATAP

    Helipad Gedung Mahkamah Agung - Pukul 08.05 WIB.Angin puting beliung buatan dari baling-baling helikopter AgustaWestland menyapu atap beton itu. Suara mesin jetnya memekakkan telinga, menenggelamkan raungan sirine polisi jauh di jalanan bawah sana.Sanjaya—sang Ketua Mahkamah Agung yang kini menjadi buronan—mendorong kursi roda Barata dengan kasar menuju pintu helikopter yang terbuka. Dua pengawal elitnya menyeret Larasati yang meronta-ronta dan menangis."Cepat! Masukkan mereka!" teriak Sanjaya pada pilot.Tapi langkah mereka terhenti.Di ambang pintu akses tangga, Elang berdiri. Kemeja hitamnya basah oleh keringat dan darah. Dua pistol Glock di tangannya memuntahkan peluru.DOR! DOR!Dua pengawal yang menyeret Larasati ambruk dengan lubang di kepala mereka. Larasati jatuh berlutut di aspal helipad, menutupi telinganya.Sanjaya memucat. Dia bersembunyi di balik kursi roda Barata, menjadikan pria tua yang sakit

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 85 MENYERBU ISTANA HUKUM

    Jalan Medan Merdeka Utara - Pukul 07.55 WIB.Truk logistik seberat 12 ton itu melolong buas. Pedal gas diinjak rata dengan lantai kabin. Jarum speedometer bergetar di angka 100 km/jam.Di kursi kemudi, Elang menatap lurus ke depan. Kaca depan truk yang sudah dilapisi baja anti-peluru mulai berderak saat rentetan tembakan dari penembak jitu di atap Gedung Mahkamah Agung menghujaninya.Peluru-peluru itu hanya meninggalkan bekas putih di kaca. Elang tidak berkedip. Jantungnya berdetak secepat mesin diesel di bawah kakinya. Obat bius militer dari Kara bekerja sempurna. Dia tidak merasakan takut, tidak merasakan sakit. Dia merasa seperti dewa perang.Di depan sana, barikade beton dan puluhan penjaga bersenjata laras panjang memblokir gerbang utama istana hukum tersebut."Truk itu tidak mau berhenti! Tembak bannya! Tembak!" teriak komandan jaga dengan panik.Terlambat.BRAAAAKKK!!!Bumper perusak truk itu menghantam b

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 84 HARI PENGHAKIMAN

    Safe House Phoenix - Pukul 05.30 WIB. Jarum suntik berbahan baja itu menembus kulit dada Elang, tepat di atas tulang rusuknya. Tangan Dokter Kara bergetar hebat saat menekan pendorong suntikan itu. Cairan kental berwarna kuning keemasan—koktail painkiller dosis militer kelas berat yang dicampur dengan stimulan jantung ilegal—mengalir masuk ke aliran darah Elang. Elang memejamkan mata. Rahangnya mengeras hingga ototnya menonjol. Sensasi awalnya adalah rasa panas yang membakar pembuluh darah, seperti disiram cairan timah. Namun, beberapa detik kemudian, rasa sakit yang menyiksa organ dalamnya selama berbulan-bulan ini lenyap seketika. Dada yang tadinya sesak kini terasa lapang. Otot-otot Elister yang rapuh tiba-tiba dipenuhi tenaga yang meledak-ledak. Tubuhnya tidak lagi merasakan lelah, takut, atau nyeri. Saraf rasa sakitnya telah dimatikan total. "Selesai," bisik Kara, menarik jarumnya dan memb

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 5: PERLAWANAN DI BALIK JERUJI

    Darah menetes dari telapak tangan Elang yang sobek karena menahan sikat gigi tajam itu. Rasa perihnya luar biasa, tapi anehnya, rasa sakit itu justru menjernihkan pikirannya yang selama ini keruh.Di detik-detik antara hidup dan mati itu, waktu seolah melambat. Hening.Suara bising sorakan para nap

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 3: PENGKHIANATAN TERAKHIR

    Pagi itu, selasar Rutan terasa lebih dingin dari biasanya. Ketika sipir memanggil nomornya untuk kunjungannya dalam dua hari ini, jantung Elang berdegup kencang. Bukan siapa-siapa lagi yang dia harapkan, melainkan satu wajah yang menghantui tidurnya semalam.Dan doanya terkabul.Di balik kaca pemba

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   BAB 2 SISA-SISA HARAPAN

    Bau apek dinding beton dan aroma pemutih lantai yang menyengat menyambut Elang di ruang kunjungan Rutan. Ini adalah tempat transit sementara sebelum dia dipindahkan ke Lapas dengan keamanan maksimum untuk para pembunuh kelas kakap. Di balik kaca pembatas yang tebal, dua wajah familiar menatapnya d

  • Elang (Pembalasan Sang Putra Terbuang)   Bab 1 Kambing Hitam

    "Terdakwa Elang, atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap korban Vania Angel, Majelis Hakim memutuskan..." Suara Hakim Ketua yang serak membelah keheningan ruang sidang yang pengap. Di kursi pesakitan, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun duduk dengan punggung tegak, meski kedua tangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status