Share

Bab 7: Arkael De Razel

Author: Ghazala Rizu
last update Last Updated: 2025-11-27 03:23:22

Namanya Arkael. Bangsawan negeri Etheria dan juga calon penerus penyihir utama kerajaan ini. Badannya cukup proposional. Tinggi dengan short torso, bagian atas badannya terlihat pendek karena kakinya sangat panjang. Kulitnya putih, mungkin lebih putih dari Elara. Rambut hitam legam senada dengan matanya. Ia memakai kacamata bulat, sekilas mengingatkan Elara pada tokoh Harry Potter tapi versi Asia timur. Wajahnya kecil jika dibandingkan dengan bahunya yang lebar. Ah, melihat dia mengingatkannya pada karakter manhwa yang dulu sering ia baca. Secara keseluruhan pria itu menarik.

Tapi Lara tahu benar, Arkael tidak akan bisa ditakdirkan dengan Elara.

Tapi sekarang Elara bukan Elara yang sesungguhnya.

Tatapan mereka bertemu. Lara gugup dan berusaha mengedarkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindar dari tatapan pria itu.

“Lara, kau tahu, pria itu yang memakai jas hitam itu,” sahut Lioren, merujuk pada Arkael, “Gosipnya ia berhasil melewati ujian internal para penyihir istana, loh!” Lara bisa merasakan betapa semangatnya Lioren menceritakan Arkael.

“Oh ... begitukah? Dia jago dong?” sahut Lara asal. Ia terlalu gugup dengan pandangan Kael tadi, hingga tidak sempat memikirkan kata-kata yang lebih tepat untuk menanggapi kakaknya yang bersemangat itu.

“iya! Dia...” belum sempat Lioren menyelesaikan ucapannya, pria yang tidak ingin Lara temui itu malah menghampiri mereka.

“Selamat malam, Arkael” Lioren berusaha memulai percakapan.

“Selamat malam Putri Lioren,” sahutnya ramah. Suaranya dalam, pelan namun tegas. Lalu ia menatap Lara, entah kenapa pandangannya malah membuat Lara tambah gugup.

“Selamat malam Arkael, Aku A..Eh, Elara.” Sahut Lara berusaha ramah. Tapi bukannya menjawab, Kael malah menatapnya dalam. Alisnya berkerut sekilas ia menggerakkan lehernya ke kanan kiri seolah mencari sesuatu. Entah apa, Lara tidak tahu.

“Kenapa?”

“Kau benar Elara ‘kan?”

“Hah?” Lara kaget bukan main. Kalau ada orang yang tahu kalau ia bukan Putri sesungguhnya, bisa jadi ini hari terakhirnya hidup. “Tentu saja! Kau bercanda ya! Hahahaha”

Ketawa karir, namanya.

“Maaf tapi, aku sama sekali tidak bisa mendeteksi chakra di badanmu.” Sahut Kael. “Biasanya, orang yang masih hidup selalu memiliki Chakra yang mengelilingi tubuhnya. Beberapa terlihat kuat, dan beberapa lagi terlihat redup.” Lanjutnya, “Semakin kuat chakranya, semakin sehat atau ilmu sihirnya besar. Jika redup, biasanya ada tiga penyebabnya,” Pertama karena badannya lemah, biasanya orang tua selalu redup cakranya. Kedua, manusia yang dari lahir tidak bisa menggunakan sihir. Tapi ia tetap punya cakra karena ia masih hidup. Ketiga, orang yang terkena kutukan. Tapi meskipun redup, cakranya masih bisa aku deteksi. Tapi kamu...” Kael malah menyentuh dahinya. Sekilas Lara pikir kepalanya akan ditoyor, tapi pria itu melanjutkan ceramahnya, “Aku sama sekali tidak bisa mendeteksi cakramu. Kamu seperti mati, Putri Elara.”

Lioren yang mendengarnya tiba-tiba merinding. Ia bisa merasakan buku kuduknya berdiri saat Kael bilang bahwa adiknya ini seperti mati. Selama hidupnya, ia tidak pernah berbicara dengan Arkael lebih dari lima kata. Fakta bahwa Kael bisa berbicara begitu banyak itu bisa jadi karena situasi Elara ini memang benar-benar serius, atau ... Elara menjadi satu-satunya wanita yang mampu mendapatkan perhatian seorang Arkael.

“Putri Lioren,”

“Eh? i..iya?”

“Apa perlu aku berbicara dengan penyihir utama tentang kondisi Putri Elara?” Tanya Lioren. Lioren tidak bisa langsung menjawab. Ia benar-benar tidak tahu harus apa.

“Mungkin aku harus berbicara dulu pada ayahanda, Kael.”

“Baiklah, aku tunggu kabarnya ya. Kalau begitu, permisi.” Baru saja Kael membalikkan badannya, Lara menahannya. Ia meraih siku Kael, memaksanya berbalik.

“Tunggu! Hm, Kael... kalau nih, kalau...” Lara malah gugup. Ia tidak tahu benar alasan ia bisa segugup ini tuh apa. Apakah fakta bahwa ia dibilang seperti mayat hidup, ketakutannya jika ketahuan, atau tatapan bola mata hitam legamnya Kael yang sangat tajam, mirip seperti mata rubah. “Kalau aku tidak mau diperiksa oleh para penyihir bagaimana? Apa aku akan baik-baik saja? Apa ada yang perlu aku khawatirkan?”

Kael yang memang alergi dengan phisycal touch, memegang tangan Elara, bermaksud menyingkirkannya. Tapi ia malah merasakan hangat di tangannya. Ia merasakan ada panas chakra di tangan Elara. Karena penasaran, Kael memegang kedua tangan Lara, membalikkan lengannya, lalu memijat-mijat lengannya seolah mencari adanya pembuluh darah disana. Lara yang merasa tingkah laku Kael mulai aneh pun kaget. Ia berniat menarik lengannya tapi raut wajah Kael yang terlihat khawatir malah membuatnya diam.

“Ke ... kenapa kael? Ada yang salahkah?”

“Kau masih hidup, Elara ... tapi Chakramu selemah orang yang hampir mati. Saking kecilnya, chakramu terperangkap diantara pembuluh darah.” Mulut Kael terbuka, tapi ia mengatupkan bibirnya kembali, seolah menahan mulutnya untuk berbicara.

“Putri Lioren, bisakah kita berbicara sebentar?” Kael menghampiri Lioren. Di belakangnya, Lara berniat mengikuti mereka, tapi Kael melarangnya, “Kamu diam disini, jangan ikut. Pergilah makan sesuatu.” Perintahnya. Alhasil Lara duduk di sofa, sedikit merajuk karena ia tidak diajak. Seolah dia hanyalah anak kecil yang tidak boleh ikut pembicaraan orang dewasa.

***

Lioren dan Kael berdiri di balkon, agak sedikit jauh dari tempat Lara duduk. Lioren tahu benar bahwa Kael mungkin akan membicarakan Lara, tapi dadanya bergemuruh gugup. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bisa berbicara dan berduaan saja dengan si unapproachable Arkael De Razel.

“Putri Lioren, anda mungkin tidak terlalu dekat dengan putri Elara, tapi...” Kael membenarkan kacamatnya dengan tangan kirinya, seolah menandakan apa yang ia mau bicarakan ini hal yang sangat serius. “Sepertinya putri Elara perlu pengawasan ekstra.”

“Kenapa? Apa Lara terkena kutukan atau...”

“Dengan chakra selemah itu, ia bisa mati kapan saja, putri.” Kael membungkukkan badannya, sikunya bertengger di balkon. Angin malam menyapa rambutnya, membuatnya terlihat lebih berantakan dan ... tampan. Semakin tampan di mata Lioren. “Bukan hanya itu, jika ia merasa tertekan sedikit saja ...” Tatapan Kael terkunci pada Lioren, “jaringan chakranya yang lemah bisa berbalik menyerang jantungnya. Ia bisa jatuh koma lagi, atau bahkan langsung meninggal saat itu juga. “

Lioren kaget, bingung dan terpesona secara bersamaan. Karena itu, ia hanya bisa diam, berusaha mencerna apa yang baru saja Kael katakan. “Jadi, intinya adikku itu kondisinya seperti orang yang sedang sakit keras, begitu?” Ujar Lioren setelah isi kepalanya tersusun. “Tapi hari ini ia sangat segar, sama sekali tidak terlihat sakit.” Ya, hari ini adalah hari dimana Lara yang muram itu bisa tersenyum tulus, bahkan terkikik ringan. Hal yang tidak akan bisa Lioren lihat dari sosok Lara yang biasanya.

Kael memijat hidungnya, kalau boleh jujur ia juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Orang yang normal biasanya tidak akan sanggup berdiri dengan kondisi chakra seperti itu. Dada mereka akan terasa sangat sakit, atau kepala mereka akan terasa mau meledak setiap saat. Tapi jika dilihat dari wajah Lara ... Kael tidak bisa melihat kesakitan di sana.

“Maaf putri, tapi ilmuku masih terbatas. Sepulang dari sini aku akan diskusikan dengan para petinggi dan professor. Mungkin saja mereka menemukan jawabannya.” Ucap Kael. Matanya tidak sengaja menangkap bayangan Lara dibalik jendela. Lalu ia kembali menatap Lioren, “Aku akan mengabarimu lagi jika aku sudah mempunyai jawaban yang pasti.” Kael mundur satu langkah dan membungkuk sedikit, “Kalau begitu, sampai jumpa lagi, selamat malam.”

Kael bergegas pergi dari pesta itu, dan Lioren masih terdiam. Fakta bahwa adiknya sakit, dan pria yang selama 10 tahun ini ia sukai diam-diam akhirnya mau berbicara padanya membuatnya sedikit kalut.

Sekarang Lioren bingung, kepada siapa ia menitipkan Lara?

Ibundanya jelas-jelas membenci Lara. Sedangkan ayahnya? Beliau sangat sibuk, dan sudah pasti ia akan bertindak berlebihan jika tahu bahwa salah satu anak kesayangannya sakit keras.

Bukannya Lioren cemburu, tapi ketika ayahanda bertindak berlebihan, ada pihak lain yang cemburu.

Yaitu ibundanya dan antek-anteknya.

Mereka akan membuat hidup Lara makin sulit dan sebenarnya Lioren selalu mengetahuinya. Hanya saja ia tidak berani mengatakan apapun. Ia terlalu takut untuk berhadapan dengan ibundanya. Beliau akan melakukan apapun demi tujuannya. Dan Lioren tahu benar menjadi musuh ibundanya sama seperti menggali kuburan sendiri.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 15 : Izin

    Setelah perdebatan alot antara mereka , Lara dan Kael, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu dengan yang mulia paduka sore ini. Berdua. Kenapa? Karena Lara terlalu takut untuk menemui paduka sendiri. Pertama karena ingatan Elara tentang paduka itu hanya sedikit, dan kedua, ia takut apa yang dilakukanya bisa memancing kemarahan permaisuri. Hal itu jelas akan sangat menyulitkan dirinya sendiri. Selain itu, Kael akan bertugas menjadi orang yang menemani Lara nanti ke pasar, jadi lara rasa kael harus, wajib, wajib sekali ikut dalam misinya meminta izin paduka. "Jadi apa yang membuat kalian berdua mengunjungiku?" tanya paduka pada mereka berdua. Lara yang hanya melirik Kael dengan ujung matanya hanya diam,seolah meminta Kael yang berbicara saja. 'Untuk merayakan kesembuhannya, Putri Elara ingin berjalan-jalan keluar istana, tuan. Ia ingin berkeliling ke pasar.' Ucap Kael tenang. Arkael terlalu sering berurusan dengan tetuanya di menara, jadi ia terbiasa untuk menutup kegugupan

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 14: Daftar keinginan Lara

    Setelah Cornell pergi dari kamarnya, Lara teringat lagi dengan list yang akan dia buat. gadis itu menyiapkan pensil dan buku catatanya, Lalu menulis: 'daftar keinginanku' diatasnya. 1. Jalan-jalan ke pasar. 2. Coba buat macaroon 3. Berjalan-jalan keliling istana tanpa rasa takut 4. Hidup menua disini. Lara termenung saat menuliskan keinginan keempatnya. Hidup menua ditempat ini seolah menjadi awal misinya saat ia hidup kembali di dunia ini. Dunia fiksi dimana ia seharusnya sudah mati di awal kehidupan. Harusnya, Putri Elara tidak pernah terbangun dalam koma dan mati saat itu. lalu kematiannya berubah menjadi katalis dalam cerita ini. Jika ia mati, maka Lioren akan memberontak dan melawan sang permaisuri. Luca akan tergeser kedudukannya dan digantikan oleh Lioren sebagai ratu di negara ini. Di cerita aslinya, Lioren akan menghukum semua orang yang menyebabkan kematian Elara, kecuali ibunya. Sang Permaisuri akan diturunkan dari kedudukannya dan dipulangkan ke kampung

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 13: Ketakutan Elara

    Buat saja daftarnya. Itu kata Kael. Dan dengan santainya Lara mengikuti perkataan pria itu. ya, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya terbersit sedikit rasa pesimis, tapi ia tetap senang. Setidaknya di dunia ini ada yang mau mendengarkan keinginan-keinginan bodohnya tanpa menghakiminya. 'Aku juga pernah membuat daftar keinginanku, dulu...' lirih Lara dalam hati. Tapi bukunya dibaca oleh adiknya, lalu ia perlihatkan catatan itu pada ayahnya. Dan ayahnya hanya tertawa tanpa berkata apapun. Dulu, gadis itu masih kelas 10 SMA. masih banyak mimpi-mimpi yang ada di benaknya. Ia masih memiliki rasa optimis saat itu. Kalimat 'Kau akan mencapainya kalau bekerja keras' itu benar-benar ia yakini. Tapi semuanya berubah saat ibundanya tiada. Ayah ketagihan Judi, membuatnya terlilit dalam hutang yang tak kunjung lunas. Adiknya bekerja, tapi adik semata wayangnya itu, yang ia harap bisa sedikit membantunya itu malah memutuskan hubungannya dengan keluarga. Entah apa yang dipikirkannya, t

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 12: kamu harus tahu

    Lara terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering. Suara batuknya cukup keras membuat Kael yang sedari tadi menunggunya bangun di kursi dekat ranjangnya berinsiatif memberinya minum. Tanpa banyak berkata Lara langsung duduk di bagian headboard kasurnya dan minum. "Terimakasih," ujarnya pelan. Entah kenapa suaranya terasa menghilang. Memelan, dan rasanya sakit sekali. "Jangan banyak bicara dulu. Chakra di sekitar tenggorokanmu tidak stabil." Kael menyimpan gelas Lara di meja di samping kasurnya, "Aku sudah meminta dokter kerajaan untuk membuatkan vitamin supaya imunmu membaik." Lara hanya mengangguk pelan. ia sama sekali tidak mengerti dengan sistem dunia ini bekerja. Apa itu chakra? kenapa istana ini punya dokter dan penyihir juga? apa memang lumrah di dunia ini untuk percaya pada penyihir? pikirnya. karena terlalu sakit untuk bicara, Lara mengambil pensil dan buku tulis dari lacinya lalu menulis beberapa kalimat yang sangat ingin ia tanyakan pada si penyihir men

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 11: Tentang putri Elara

    "Sebenarnya permaisuri memang selalu mengunjungi kami, tuan." Arkael masih diam. Menunggu Cornell berbicara lebih banyak lagi. "Sejak Putri masih kecil, permaisuri kerap datang kesini hanya untuk menyiksa ibunya. Putri Cecilia." Cornell menghela nafas, tiba-tiba ia mengingat mendiang Cecilia, "Sepertinya permaisuri menyimpan dendam pada Putri Cecilia. Entah apa, tapi beliau tidak bisa benar-benar membunuhnya." "Lalu?" "Tapi perlahan kesehatan beliau terus menurun dan akhirnya meninggal dunia." Kael diam mendengar itu. Tidak mungkin seluruh proses penyiksaan itu tidak berefek untuk Elara. Kael masih diam menunggu Cornell berbicara lagi. Namun otaknya masih tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana trauma yang dialami putri Elara. "Aku yakin putri pasti mengalami trauma karenanya," Sahut Kael. "Betul tuan, Putri selalu meminum obat agar tidak sesak nafas jika ia mau bertemu permaisuri. Nafasnya menjadi pendek tiap kali putri melihat permaisuri." "Apakah ada hal lain sela

  • Elara: Terlahir Kembali Dengan Penuh Luka   Bab 10: Kenapa?

    Lara bangun dengan posisi tengkurap. Punggungnya sakit karena beberapa tusukan jarum dan rasanya ia terlalu lelah untuk sekedar menangis. Jadi begini rasanya jadi tokoh yang disiksa di sinetron-sinetron itu? pikirnya. Lara berpikir, bagaimana dulu Elara hidup ya... apakah ia akan menangis di pagi harinya, atau berakhir mengisolasi diri seperti yang selalu ia lakukan (sebagai Elara). kalau Lara ... ia marah. Ia tak terima diperlakukan seperti ini. Tapi jelas tidak mungkin untuk langsung mendatangi permaisuri dan menamparnya. Ya kalau begitu ceritanya hidupnya akan tamat dan novel ini akan berjalan sesuai alur lamanya. Tapi sekarang 'kan Adelia - yang ada di dalam tubuh Elara, ini sangat sekali ingin hidup. Adelia - yang mendeklarasikan dirinya sebagai Lara- ini hanya terdiam sambil menunggu obat yang akan di bawakan oleh Cornell. Punggungnya sakit, tentu saja. Tapi hatinya tidak sesedih itu untuk menangis. Entah karena ia sudah tahu bahwa ia akan disiksa cepat atau lambat, atau h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status