MasukMenatap layar handphone yang menampilkan postingan terakhir di salah satu akun sosial media miliknya. Bukan hanya story, tetapi postingan yang artinya siapapun yang melihat profil akun sosial media miliknya akan langsung melihat postingan foto tersebut. Senyuman lebar Mamah, Papah, Kai, dan Samudra yang berdiri di sampingnya, tangan kanan lelaki itu melingkar dengan apik di pinggangnya, membuat mereka berdua tampak benar-benar seperti pasangan. Keluarganya sudah melihat. Teman-temannya sudah melihat. Orang-orang yang mengenal Naya sudah tahu kalau ada seseorang bernama Samudra yang sekarang ada di dekatnya. Beberapa keluarga Ganendra mengkhawatirkan hubungan itu. Bagaimanapun mereka tahu tentang perang dingin antara Samudra yang adalah kakak dari Disya, dengan Devan. Disya sendiri pernah jadi bagian dari keluarga Ganendra sebelum pada akhirnya perempuan itu meminta berpisah karena kesalahan Devan. Tentu saja semua orang aka
Malam mulai turun sepenuhnya di sekitar villa. Lampu-lampu taman menyala di sepanjang halaman, pantulan cahayanya berpendar di air kolam yang kini sudah sepi. Di dekat kolam, sebuah meja panjang sudah dipenuhi berbagai bahan untuk barbeque. Ada daging yang sudah dimarinasi, sosis, jagung, paprika, jamur, dan beberapa saus dalam mangkuk kecil. Husein sibuk menyiapkan panggangan, dibantu Samudra yang sesekali meniup bara agar apinya kembali menyala. Maya mengatur piring dan alat makan di meja, sementara Kai mondar-mandir membawa tusuk sate yang belum sempat dipanggang. Naya sendiri berdiri di samping meja, sibuk menata bahan makanan sambil sesekali mengambil foto. Malam itu, karena malam terakhir di villa, mereka akan membuatnya lebih terasa menyenangkan dengan acara barbeque. "Aunty Nay sibuk foto-foto terus!" dumel Kai menatap Naya sembari berkacak pinggang. "Apasih? Aunty Nay bantuin kok." Kai menggeleng-gelengkan kepala, membuat Naya memutar bola matanya malas. "Kamu
Cahaya matahari menyusup melewati gorden kamar yang masih tertutup, membentuk garis-garis tipis di lantai. Naya masih meringkuk di bawah selimut, sampai ketukan di pintu kamar membuatnya cukup terganggu. Naya tidak berniat membukakan pintu, pun sekedar bangun dari tidurnya, justru ia memilih semakin menaikan selimutnya hingga ke atas kepala, mencoba abai dengan suara panggilan dari Kai. Tetapi, Kai tidak berhenti, bocah itu masuk ke dalam kamar, naik ke kasur membangunkan Naya dengan cara menarik-narik selimutnya. Pagi-pagi sudah ribut mengajak joging katanya. Naya padahal sudah bilang ia tidak akan ikut dengan alasan tidak membawa pakaian joging, bocah itu tidak mau tahu, tetap dengan pendiriannya membawa ikut serta Naya untuk kegiatan pagi mereka. Lima belas menit kemudian perempuan itu ke luar dari kamar. Melihat Maya dengan setelan jogingnya, Husein yang sedang memakai sepatu, begitu pula dengan Samudra. Kembali menatap penampilannya, dres
Mobil akhirnya berhenti di halaman sebuah villa yang cukup jauh dari keramaian. Jalan menuju villa melewati banyak pepohonan besar, membuat suasananya lebih terasa sejuk dibandingkan jalanan kota yang mereka tinggalkam beberapa waktu yang lalu. Ketika baru memasuki villa, pandangan langsung tertuju pada hamparan air biru di tengah bangunan. Kolam renang memanjang itu dikelilingi oleh teras kayu dengan beberapa tanaman tropis, membuat batas antara ruang dalam dan luar terasa hampir tidak ada. Kamar-kamar berada di sisi villa, menggunakan kaca besar sebagai pintu yang mengarah langsung ke area kolam, di sisi lain ada ruang keluarga yang cukup luas, lengkap dengan sofa, televisi, bahkan satu perlengkapan karaoke membuat ruangan itu cocok untuk menghabiskan malam bersama. Tidak jauh dari sana terdapat meja biliar, berdiri di bawah lampu gantung yang memberikan suasana sedikit berbeda dari area keluarga. Sementara di sisi lainnya terdapat d
"Kok tumben, biasanya juga Papah mau berduaan terus sama Mamah, Nay ngga boleh ikut," kata Naya heran ketika Maya memberi tahu jika acara staycation agenda rutin sebulan sekali kedua orang tuanya kali ini, Naya diajak ikut bergabung. Maya mengangkat bahunya tidak tahu. "Papah yang bilang." Setelah mendapat informasi dari Mamahnya jika mereka akan pergi staycation, tentu saja Naya sangat bersemangat. Menyiapkan barang bawaanya dari semalam, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Kita cuman dua malam di villa itu, Nay. Koper kamu besar sekali," komentar Husein ketika melihat putri bungsunya sedang menuruni tangga di belakang Edi—security yang sedang membawa turun koper miliknya dari kamar. "Hehee... ngga papa dong, Pah! Keperluan Nay banyak banget jadi kalau pakai koper kecil ngga muat," jawab Naya. "Koper kita sama lho, tapi masuk barang-barang Mamah, Papah, Kai juga. Ini kamu... sebesar ini sendirian?" H
"Apa kesibukannya?" Samudra tidak langsung menjawab, terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Gina. "Di rumah," jawaban itu yang menurutnya pas untuk pertanyaam Mamahnya yang secara tidak langsung menanyakan pekerjaan Naya. "Pasti pintar masak?" "Tidak juga." Gina tertawa hambar, malah hampir seperti tertawa meremehkan. "Lalu apa yang dia bisa? Menghabiskan uang kedua orang tuanya?" "...." Samudra memilih diam, bukannya tidak bisa menjawab, lelaki itu hanya tidak ingin obrolan keduanya berakhir dengan perdebatan. "Tuhan sudah baik memberikan Raina kepada kamu, tetapi kamu memilih perempuan yang jelas-jelas akan merepotkanmu! Dia terlahir dari keluarga berada, tidak heran jika dia akan menjadi anak manja yang segala keinginannya harus dituruti, nanti." Samudra hanya mendengarkan. Gina sedari awal memang tidak setuju, bahkan ketika mengetahui putusnya hubungan pertunangannya dengan Raina karena Naya
Naya mengusap air mata di kedua pipinya dengan kasar, menarik selimut dengan tujuan untuk menutup foto polaroid yang bertebaran di atas kasur, turun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja rias, mengambil bedak lalu memakaikan di wajahnya. "Nay, buka pintunya dulu, sayang." Naya menatap ke a
"Aku lebih milih wedding venue indoor, Kak! Coba bayangin kalau kita pilih wedding venue outdoor, tiba-tiba hujan deres gimana? Nggak mungkin kan kita nyari pawang hujan?" Nathan tidak mampu menahan gelak tawanya mendengar perkataan calon istrinya saat itu. Berbeda dengan Nathan, Naya memasang waj
+628xxxxxxxxxx |Disya sedang pergi ke Jogja, pertemuan akan dilakukan setelah Disya pulang dari sana. Naya mengulum bibirnya, hatinya merasa sedikit lega ketika Samudra menggiriminya pesan seperti itu. Setidaknya masih ada beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diri sebelum pertemuannya dengan Disya
"Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini







