LOGINSamudra menghembuskan napanya kasar, lelaki itu tidak sedang dalam kondisi baik, memukul samsak boxing dengan membabi buta, meluapkan segala emosi yang mengganjal di dalam hatinya.
"Bang Sam...." Seorang perempuan memanggilnya, membuat atensi Samudra teralihkan, memandang perempuan yang memanggilnya sambil tersenyum lebar. "Iya? Ada apa, Sya?" Disya yang sedari tadi menyembulkan kepalanya dibalik pintu masuk, ikut menampilkan senyumnya, memperlihatkan sebuah nampan yang terdapat segelas minuman dingin untuk Abangnya. "Boleh Disya masuk?" Samudra tentu saja mengangguk, menghampiri Disya dan mengambil alih nampan yang masih dipegang oleh adiknya, mengajak Disya untuk duduk di salah satu sofa yang memang ada di ruangan itu. "Terima kasih," kata Samudra yang langsung meneguk minuman itu hingga habis setengahnya. Disya mengangguk sebagai balasan. "Abang lagi ada masalah ya, hm?" tanya Disya yang membuat Samudra mengernyitkan dahinya bingung. "Kata Mamah Gina, kalau Abang lagi ada masalah pasti mukul boxing, tadi Disya lihat muka Abang juga tegang banget, kaya orang marah." Samudra terkekeh, mencoba mencairkan suasana. "Masa Abang mukul samsak boxing sambil ketawa-ketawa, kan ngga ada yang lucu, Sya." Disya ikut terkekeh. Benar apa yang dikatakan Abangnya, tidak mungkin ada orang yang memukul samsak boxing sambil tertawa? Bukankah akan terlihat sangat aneh? Tapi Samudra memang saat ini sedang dalam keadan tidak baik-baik saja. "Mba Ais mau ke sini dulu ya, nanti?" tanya Disya. Samudra mengangguk sambil menyeka keringatnya. "Sengaja booking penerbangan besok lusa. Mau bagiin undangan ke beberapa temannya secara langsung katanya." Disya menganggukkan kepalanya mengerti. Naisya akan menikah dengan Nando, lelaki kelahiran Solo yang ditemuinya di London. Samudra kira, Naisya tidak akan pernah memutuskan untuk mempunyai hubungan dengan seseorang lagi setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Naisya lebih fokus dengan Kai akhir-akhir ini. Nando datang seorang diri ke rumah, memperkenalkan dirinya sendiri, langsung meminta ijin kepada Doni dan Samudra untuk menikahi Naisya. Terkejut? Tentu saja! Awalnya bahkan Samudra menentang dengan keras hal itu. Naisya juga tentu sangat terkejut, mereka berdua tidak menjalin hubungan yang serius katanya, hanya sebatas kenal satu sama lain. Namun, Nando meyakinkan seluruh keluarga jika dia akan selalu berusaha membahagiakan Naisya. Samudra tidak tahu percis jalan percintaan mereka bagaimana, yang pasti Nando benar-benar berusaha meyakinkan Naisya. "Ngga nyangka ya, Bang. Mba Naisya beneran mau nikah sama Mas Nando," komentar Disya. Samudra mengangguk, lalu menyunggingkan senyumnya. "Abang inget ngga, dulu Abang yang paling ketus sama Mas Nando, 'kan?" kata Disya sembari mengingat-ingat memori yang lalu sambil terkekeh pelan, menggoda Abangnya. "Abang sudah pernah kecolongan, tentang kamu, tentang Ais. Abang ngga mau itu terulang lagi...." Disya terdiam bungkam seketika. Kisah itu menjadi luka untuk banyak orang. Di sini Devan benar-benar satu-satunya orang yang paling brengsek, bukan? Lelaki itu memang sudah merencanakan semuanya. Parahnya dia tahu semua cerita tentang keluarga Disya? Lelaki itu memang sengaja menghancurkan kehidupan kedua adiknya. "Disya mau ijin keluar hari ini ya, Bang," ucap Disya mencoba mencairkan suasana yang langsung terasa hening karena ucapan Samudra. "Mau ke mana?" tanya Samudra cepat, menatap Disya penuh tanya. "Mau ke store, nanti sebentar lagi Fani jemput." Melihat Samudra yang sepertinya tidak yakin membuat Disya mengerucutkan bibirnya. "Disya ngga bohong. Nanti Fani jemput. Yumna, Alya juga di store kok," jelas Disya. "Oke!" Samudra mengangguk, lelaki itu setuju. Bukan tanpa alasan dia menjadi lelaki super protektif kepada kedua adiknya. Samudra hanya tidak ingin kejadian beberapa tahun silam terulang kembali. "Oh iya, Abang juga sore ini mau ke Bandung 'kan?" Samudra mengangguk. Dia hampir lupa dengan rencananya sore ini. Untung Disya mengingatkan. *** "Sam... " Samar suara seorang perempuan terdengar oleh telinga Samudra, lelaki itu segera menolehkan pandangannya, menatap seorang perempuan yang duduk di sampingnya. "Ya?" "Kamu bengong ya?!" dumel perempuan itu sembari memukul lengan Samudra. "Meskipun jalanan lagi sepi, tetep harus fokus, Sam! Aku ngga mau kenapa-kenapa ya!" lanjutnya, kali ini matanya juga sudah melotot marah. "Sorry...." Samudra mengelus lengan perempuan yang duduk di sampingnya lembut, lalu kembali fokus mengemudi. "Aku tadi lagi ngajak ngobrol kamu lho, kamu ngga denger?" Samudra membasahi bibirnya, pikirannya tadi benar-benar sedang dipenuhi oleh Naya. Siang tadi, Naya benar-benar membuat perasaan Samudra tak menentu. "Tuh kan! Bengong lagi, males ah!" Samudra kembali menatap perempuan yang ada di sampingnya. "Maaf ya, tadi kamu bilang apa? Apa yang mau kamu obrolin, hm?" Samudra menggenggam salah satu tangan perempuan itu, dengan tangan satunya yang masih memegang kemudi, Samudra menatap perempuan yang ada di sampingnya dengan tatapan lembut. "Tante Eni pasti bertanya tentang kelanjutan pernikahan kita... kita harus gimana?" tanyanya dengan bibir yang dikerucutkan. Raut wajah Samudra berubah seketika mendengar ucapan perempuan itu. Kembali mengalihkan pandangan ke jalanan yang dilaluinya. "Kamu mau gimana?" "Aku ikut kamu," katanya. Melalui sudut matanya, Samudra bisa melihat jika perempuan di sampingnya tertunduk dalam. Samudra kembali mengangguk. "Kita putuskan setelah rumah kita selesai seratus persen ya?" Perempuan itu mengangguk. "Kamu lapar? Ingin makan apa?" tanya Samudra mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sate!" jawabnya semangat sambil menunjuk penjual sate yang berada di pinggiran jalan. Samudra menampilkan senyumnya, mengacak bagian atas kepala perempuan di sampingnya sayang. Raina—calon istri Samudra. Perempuan yang dikenalnnya sewaktu masih mengenyam bangku kuliah. Raina dan Samudra—bukan rahasia umum lagi jika keduanya sering diberi julukan couple goals yang sesungguhnya. Semua karyawan di Rumah sakit, bahkan beberapa pasien, dan teman-teman keduanya sangat setuju jika mereka pada akhirnya menjadi pasangan. ***Malam mulai turun sepenuhnya di sekitar villa. Lampu-lampu taman menyala di sepanjang halaman, pantulan cahayanya berpendar di air kolam yang kini sudah sepi. Di dekat kolam, sebuah meja panjang sudah dipenuhi berbagai bahan untuk barbeque. Ada daging yang sudah dimarinasi, sosis, jagung, paprika, jamur, dan beberapa saus dalam mangkuk kecil. Husein sibuk menyiapkan panggangan, dibantu Samudra yang sesekali meniup bara agar apinya kembali menyala. Maya mengatur piring dan alat makan di meja, sementara Kai mondar-mandir membawa tusuk sate yang belum sempat dipanggang. Naya sendiri berdiri di samping meja, sibuk menata bahan makanan sambil sesekali mengambil foto. Malam itu, karena malam terakhir di villa, mereka akan membuatnya lebih terasa menyenangkan dengan acara barbeque. "Aunty Nay sibuk foto-foto terus!" dumel Kai menatap Naya sembari berkacak pinggang. "Apasih? Aunty Nay bantuin kok." Kai menggeleng-gelengkan kepala, membuat Naya memutar bola matanya malas. "Kamu
Cahaya matahari menyusup melewati gorden kamar yang masih tertutup, membentuk garis-garis tipis di lantai. Naya masih meringkuk di bawah selimut, sampai ketukan di pintu kamar membuatnya cukup terganggu. Naya tidak berniat membukakan pintu, pun sekedar bangun dari tidurnya, justru ia memilih semakin menaikan selimutnya hingga ke atas kepala, mencoba abai dengan suara panggilan dari Kai. Tetapi, Kai tidak berhenti, bocah itu masuk ke dalam kamar, naik ke kasur membangunkan Naya dengan cara menarik-narik selimutnya. Pagi-pagi sudah ribut mengajak joging katanya. Naya padahal sudah bilang ia tidak akan ikut dengan alasan tidak membawa pakaian joging, bocah itu tidak mau tahu, tetap dengan pendiriannya membawa ikut serta Naya untuk kegiatan pagi mereka. Lima belas menit kemudian perempuan itu ke luar dari kamar. Melihat Maya dengan setelan jogingnya, Husein yang sedang memakai sepatu, begitu pula dengan Samudra. Kembali menatap penampilannya, dres
Mobil akhirnya berhenti di halaman sebuah villa yang cukup jauh dari keramaian. Jalan menuju villa melewati banyak pepohonan besar, membuat suasananya lebih terasa sejuk dibandingkan jalanan kota yang mereka tinggalkam beberapa waktu yang lalu. Ketika baru memasuki villa, pandangan langsung tertuju pada hamparan air biru di tengah bangunan. Kolam renang memanjang itu dikelilingi oleh teras kayu dengan beberapa tanaman tropis, membuat batas antara ruang dalam dan luar terasa hampir tidak ada. Kamar-kamar berada di sisi villa, menggunakan kaca besar sebagai pintu yang mengarah langsung ke area kolam, di sisi lain ada ruang keluarga yang cukup luas, lengkap dengan sofa, televisi, bahkan satu perlengkapan karaoke membuat ruangan itu cocok untuk menghabiskan malam bersama. Tidak jauh dari sana terdapat meja biliar, berdiri di bawah lampu gantung yang memberikan suasana sedikit berbeda dari area keluarga. Sementara di sisi lainnya terdapat d
"Kok tumben, biasanya juga Papah mau berduaan terus sama Mamah, Nay ngga boleh ikut," kata Naya heran ketika Maya memberi tahu jika acara staycation agenda rutin sebulan sekali kedua orang tuanya kali ini, Naya diajak ikut bergabung. Maya mengangkat bahunya tidak tahu. "Papah yang bilang." Setelah mendapat informasi dari Mamahnya jika mereka akan pergi staycation, tentu saja Naya sangat bersemangat. Menyiapkan barang bawaanya dari semalam, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Kita cuman dua malam di villa itu, Nay. Koper kamu besar sekali," komentar Husein ketika melihat putri bungsunya sedang menuruni tangga di belakang Edi—security yang sedang membawa turun koper miliknya dari kamar. "Hehee... ngga papa dong, Pah! Keperluan Nay banyak banget jadi kalau pakai koper kecil ngga muat," jawab Naya. "Koper kita sama lho, tapi masuk barang-barang Mamah, Papah, Kai juga. Ini kamu... sebesar ini sendirian?" H
"Apa kesibukannya?" Samudra tidak langsung menjawab, terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Gina. "Di rumah," jawaban itu yang menurutnya pas untuk pertanyaam Mamahnya yang secara tidak langsung menanyakan pekerjaan Naya. "Pasti pintar masak?" "Tidak juga." Gina tertawa hambar, malah hampir seperti tertawa meremehkan. "Lalu apa yang dia bisa? Menghabiskan uang kedua orang tuanya?" "...." Samudra memilih diam, bukannya tidak bisa menjawab, lelaki itu hanya tidak ingin obrolan keduanya berakhir dengan perdebatan. "Tuhan sudah baik memberikan Raina kepada kamu, tetapi kamu memilih perempuan yang jelas-jelas akan merepotkanmu! Dia terlahir dari keluarga berada, tidak heran jika dia akan menjadi anak manja yang segala keinginannya harus dituruti, nanti." Samudra hanya mendengarkan. Gina sedari awal memang tidak setuju, bahkan ketika mengetahui putusnya hubungan pertunangannya dengan Raina karena Naya
Samudra kembali beberapa menit setelahnya dengan membawa goodie bag kecil di tangan. Keningnya mengernyit ketika tidak menemukan Naya di ruang tengah. "Naya ngambek, pergi ke kamar," kata Maya melihat kebingungan di mata Samudra. "Ketuk saja pintu kamarnya," titah Husein dengan tangan sibuk memegang iPad, sesekali menyeruput kopi yang tersedia. "Boleh?" tanya Samudra memastikan. Husein mengangguk. Lalu setelahnya Samudra menaiki tangga menuju ke kamar Naya. "Yang pintunya...." Maya menunjuk ke ujung lorong. "Sebelah kiri." Samudra mengangguk. "Baik, Bu." Lelaki itu melangkah menuju kamar Naya dengan wajah tenang, seolah-olah dia benar-benar baru pertama kali mengetahui letaknya. Di antara beberapa pintu yang tampak serupa, hanya satu yang berbeda. Sebuah rangkaian bunga kecil menggantung di bagian tengahnya, dengan papan nama sederhana bertu
"Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini
Kedua tangannya bergetar ketakutan, namun ia tetap memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, air matanya tidak berhenti menetes walaupun ia menahannya mati-matian. Naya merutuki dirinya sendiri ketika mengingat, dan tersadar atas apa yang telah ia katakan kepada Disya, tentang dirinya dan Samudra
"Belum balik?" Samudra segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sedari tadi dia perhatikan, ketika mendengar suara Wisnu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Samudra melirik Wisnu sebentar sambil berdehem pelan manjawab pertanyaannya, berbalik lalu melangkah pergi yang tentu l
Naya datang ke klub untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Tadinya Naya tidak berniat datang, namun salah satu temannya terus membujuk. Bahkan temannya itu merengek, mengatakan jika Naya sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya, banyak yang merindukannya. Mengingat sudah sekitar tig







