Início / Romansa / Emergency Couple / Chapter 1: Hari Pernikahan

Compartilhar

Emergency Couple
Emergency Couple
Autor: Anaa

Chapter 1: Hari Pernikahan

Autor: Anaa
last update Data de publicação: 2024-08-31 07:30:31

"Aku lebih milih wedding venue indoor, Kak! Coba bayangin kalau kita pilih wedding venue outdoor, tiba-tiba hujan deres gimana? Nggak mungkin kan kita nyari pawang hujan?"

Nathan tidak mampu menahan gelak tawanya mendengar perkataan calon istrinya saat itu. Berbeda dengan Nathan, Naya memasang wajah serius, dengan sengaja perempuan itu memukul lengan berotot calon suaminya. "Aku serius, Kak! Kok malah ketawa sih?!" Naya memanyunkan bibirnya.

"Hahaha... iya-iya kita nikahnya indoor aja," ucap Nathan masih tidak berhenti untuk tertawa, beruntungnya kali ini tawanya tidak sekeras tadi.

Naya mengagguk pelan. Tangan kanan Nathan bergerak untuk mengelus rambut perempuan yang duduk di sampingnya dengan lembut. "Nanti, kamu ngga bakalan berubah pikiran lagi, nih?"

Naya menatap Nathan lalu menggelengkan kepalanya. "Ini keputusan aku yang terakhir, aku.... janji," kata Naya dengan nada suara sangat pelan diakhir kalimatnya, seolah dirinya juga tidak sepenuhnya yakin dengan ucapannya beberapa detik yang lalu.

"Baiklah." Nathan mengangguk lalu mengecup pelipis Naya cepat. Sebenarnya lelaki itu juga tidak terlalu yakin dengan kalimat yang dikatakan oleh Naya. Pasalnya pemikiran Naya kadang masih berubah-ubah. Bisa saja hari ini mengatakan A, besoknya B.

Mereka berdua sedang duduk di salah satu caffe, mengobrol santai membahas rencana pernikahan mereka yang sebenarnya belum ditentukan tanggalnya. Beberapa hari yang lalu keduanya menghadiri pernikahan kerabat Nathan, pesta pernikahannya diadakan outdoor, dan sepulangnya dari sana Naya langsung heboh menginginkan pernikahan outdoor juga. Namun, saat mereka kembali berbincang beberapa hari setelahnya, Naya berubah pikiran. Begitu terus sampai-sampai membuat Nathan pusing sendiri, tapi dia begitu memaklumi sifat Naya yang masih labil, lagipula pernikahan mereka sepertinya masih jauh mengingat Naya yang masih kuliah saat itu.

"Nay."

Naya sedikit terperanjat. Mengalihkan pandangannya dari figura foto prewedding berukuran besar yang berada di dekat pintu masuk gedung. Naya menatap pemilik suara yang memanggilnya, berhasil membuat Naya kembali sadar dari lamunannya mengingat kejadian beberapa tahun silam.

"Kamu mau masuk, atau tunggu di mobil saja?" tanya Maya menyentuh lengan putrinya dengan lembut. Sudah hampir lima kali Maya menanyakan pertanyaan yang sama kepada Naya.

"Aku jauh-jauh ke sini, buat datang di acara pernikahan Kak Nathan, Mah. Ayo masuk!" Naya menampilkan senyum manis. Kedua tangannya merangkul lengan papa dan mama yang mengapitnya di tengah-tengah.

Husein mengelus lembut rambut putrinya sembari tersenyum. Lalu, ketiganya melangkah memasuki gedung.

"Tuan dan Nyonya Ganendra, apa kabar?" Sudah tidak salah lagi, saat ketiganya baru memasuki gedung ada beberapa orang yang langsung menyapa mereka. Sudah hal biasa memang, jika keluarga mereka mendatangi sebuah acara ada saja yang mengenali mereka.

"Baik, Pak Fajar bagaimana kabarnya?" Husein membalas uluran tangan lelaki di depannya.

Obrolan basa-basi mereka berlanjut begitu saja, Naya tidak memperhatikan obrolan, perempuan itu sedang mengontrol dirinya.

Gedung luas dengan atap tinggi itu sudah disulap sedemikian rupa sehingga terlihat sangat cantik, banyak lampu, bunga, dan pernak-pernik lainnya yang menghiasi tempat itu, dengan warna yang didominasi oleh warna gold terkesan mewah dan elegan. Naya menggigit bibir bawahnya kuat, ada rasa sakit yang menjalar di dadanya saat menatap sekeliling, apalagi saat kedua netranya menatap pasangan pengantin yang berdiri di pelaminan dengan senyum terlukis di bibir keduanya, menyalami tamu undangan yang hadir untuk memberikan selamat juga do'a untuk pernikahan mereka.

"Mah, Pah. Aku ketemu temen-temen dulu, ya," ucap Naya dengan suara pelan.

Maya dan Husein yang sedang mengobrol dengan beberapa orang yang ada di meja itu, serempak menatap putri bungsunya. "Mau Mamah temani?" tanya Maya menatap Naya dengan raut khawatir.

Naya menampilkan senyumnya sambil terkekeh pelan. "Nggak usah, Nay bukan anak kecil lagi, Mah," rengeknya manja.

Setelah mendapat ijin dari kedua orang tuanya, Naya langsung beranjak dari meja VVIP yang disediakan. Berjalan, menjauh melewati kerumunan tamu undangan yang hadir, perempuan itu meremas permukaan dadanya dengan kuat. 'Tidak! Jangan menangis sekarang,' Naya bermonolog di dalam hatinya. Pandangannya sudah berkabut karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya, langkahnya semakin lebar agar ia cepat-cepat keluar dari gedung itu.

Hembusan napas berat keluar dari hidung Naya setelah ia berhasil keluar dari sana. Naya mencoba menghirup udara banyak-banyak, mencoba menormalkan gejolak sakit dalam dadanya, memejamkan mata, bulir bening itu menetes, dan dengan cepat perempuan itu menghapusnya.

Bugh!

Naya tidak sengaja menabrak seorang lelaki di depannya saat sedang berjalan, mengelus keningnya yang lumayan sakit, wajahnya yang sedari tadi menunduk, semakin menunduk dalan sambil bergumam kata, "Maaf." Kakinya kembali melangkah, namun lengannya tiba-tiba ditarik, hingga membuat Naya kembali berada di tempatnya semula.

"Setidaknya, tatap lawan bicaramu jika berbicara." Naya dengan refleks mendongakkan wajahnya, suara familiar yang tidak lagi ingin Naya dengar kini terdengar oleh indranya. Lelaki yang hampir tiga tahun ini ia hindari sudah berada di depannya, kaki Naya mundur sehingga pegangan lelaki itu terlepas. Jantungnya berdetak tidak karuan, lututnya mendadak lemas, Naya takut.

"Mm—maaf," lirihnya, lagi. Naya menundukkan wajahnya dalam, hendak kembali melangkah. Namun lagi-lagi lelaki itu membuat langkahnya terhenti karena dia sudah merangkul bahu Naya.

"Kamu belum bertemu dengan kedua mempelai, kenapa ingin cepat-cepat pergi? Ayo saya antar!" katanya sedikit berbisik.

Tubuh Naya kembali bergetar, air matanya benar-benar tidak bisa dibendung kali ini. "A—aku ingin pergi," ujar Naya tergagap.

Acuh, lelaki itu tetap membawa Naya kembali berjalan memasuki gedung.

"Do—dokter Sam... a—aku mohon...."

Samudra menghentikan langkahnya. Menunduk, menatap wajah Naya yang memasang ekspresi memohon. Itu tidak mempan, lelaki itu tetap membawa Naya masuk, bahkan melangkah menuju pelaminan. Ingin memberontak, namun tangannya dicengkram kuat oleh Samudra, sakit, dan perih. Untuk berteriak? Naya tidak ingin menjadi pusat perhatian.

"Dokter Sam...."

Samudra menghentikan langkahnya. Menyentuh dagu Naya yang masih senantiasa menangis supaya mendonggak menatap manik matanya. Kedua tangannya menangkup pipi Naya, mengusap jejak air mata di sana. "Kamu tidak boleh terlihat menyedihkan dihadapan mantan tunanganmu!" suara Samudra terdengar sangat pelan, namun terkesan seperti mengejek.

Memejamkan mata, Naya menjauhkan wajahnya agar elusan Samudra di pipinya terlepas. Naya jijik, tidak sudi disentuh oleh lelaki itu.

Rahang Samudra mengeras, kembali menarik paksa lengan Naya untuk berjalan menuju pelaminan. Perempuan itu menggeleng kuat, mencoba melepaskan cekalan Samudra. "Kau kembali ke kota ini untuk menghadiri pernikahan mantan tunanganmu 'kan? Lalu kenapa kau ingin pergi, huh? Mari kita temui mereka terlebih dahulu." Lelaki itu kembali berbisik.

"T—tunggu!"

Melihat Samudra yang sepertinya tidak mau mendengar ucapannya, Naya kembali berbicara, "Biarkan aku memperbaiki riasanku."

Berhenti. Langkah Samudra terhenti, menuruti permintaan Naya kali ini.

Mengusap kedua pipinya kasar, langsung merogoh tas yang dibawanya untuk mengambil barang yang dibutuhkan untuk menutupi jejak air matanya. Naya tidak ingin Nathan melihatnya habis menangis.

Memakai bedak, juga kembali mengoleskan blush-on di pipinya. "Tidak perlu mengantar ke pelaminan, aku bisa sendiri!" kata Naya yang sudah kembali memasukkan barang-barang itu ke dalam tas, setelah selesai menggunakanya. Suaranya kali ini terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

"Yakin?" Samudra menampilkan smirk.

Naya mengangguk, tanpa berniat untuk menatap lawan bicaranya sama sekali. Meninggalkan Samudra, tungkai perempuan itu kembali melangkah, menarik kedua sudut bibirnya agar senyumnya terlukis. Menghampiri meja VVIP yang baru beberapa menit lalu ia tinggalkan. Mengajak kedua orang tuanya untuk menyalami kedua mempelai.

Kedua tangannya diapit oleh lengan Mamah dan Papahnya saat berjalan menuju pelaminan, Naya hanya menampilkan senyum lebar yang sebenarnya dipakasakan itu. Kedua orang tuanya seperti mengerti apa yang sedang Naya rasakan, bagiamana pun, Nathan sudah hampir akan menjadi menantu mereka kalau saja tiga tahun silam Naya tidak membatalkannya secara sepihak.

Memakai tuxedo berwarna khaki, dengan gaya rambut andalannya; slicked back. Nathan Adelino selalu terlihat sangat tampan, tapi hari ini berkali-kali lipat lebih tampan.

"Happy wedding," ucap Naya mengulurkan tangan kanannya.

Wajah Nathan seperti terkejut saat kedua nertanya bertubrukan dengan manik Naya , namun dengan cepat lelaki itu menampilkan senyumnya dan membalas uluran tangan Naya.

"Thanks, Nay."

Naya kembali mengangguk. Husein dan Maya mengucapkan selamat juga kepada kedua mempelai, mendo'akan juga agar pernikahan mereka selalu bahagia. Basa-basi yang berujung pada sesi berfoto bersama, setelahnya beranjak pergi dari pelaminan, memberikan kesempatan tamu undangan lain untuk memberikan selamat.

"Are you oke?"

Naya menatap Maya lalu memberengut kesal. "Mah, aku baik-baik aja kok. Lagipula ini pilihanku. Mamah tahu, ini yang terbaik untuk kita berdua," kata Naya.

Maya tersenyum kecil lalu mengusap rambut Naya yang digelung. Menghembuskan napas lega, ketika mendengar jawaban putri bungsunya.

"Tante Hani, dan Om Leo nanyain kamu tadi, Nay. Mau bertemu?"

Naya mengalihkan pandangannya kepada Husein, lalu mengangguk kuat. Sepertinya tidak mungkin jika Naya bisa pergi dari tempat ini sekarang.

'Baiklah! Simpan air matamu, Nay!' Naya membatin.

***

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Emergency Couple   Chapter 43: Tentang Video

    Bukan hal yang mudah membawa Naya ke luar dari klub. Samudra tidak mungkin sampai menyeretnya, lelaki itu membopong tubuh Naya masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya berpamitan pergi kepada teman-teman Naya. Beruntungnya Naya tidak berteriak, ia hanya menggerutu dan merengek kecil meminta untuk diturunkan. "Nanti temen-temen aku nyariin.... mau ke mana sih?" tanya Naya ketika mobil sudah berada dalam perjalanan. "Saya sudah pamit sama mereka." Naya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Eumm.... nanti Kak Nathan juga marah kalau aku ngga dijagain temen-temen...." Samudra seketika langsung menoleh menatap Naya yang duduk di sampingnya ketika nama Nathan disebut. Nathan dan Zara memilih untuk tidak ikut bergabung ke klub dengan alasan Zara yang sedang dalam kondisi mengandung. Naya jelas sudah dalam pengaruh alkohol sekarang, bicaranya mulai melantur, kadang bergumam dan merengek tidak jelas. Samudra mencoba mengabaikan apapun yang dikatakan oleh Naya. "Kak Nathan...." Naya tampak me

  • Emergency Couple   Chapter 42: Sebelum Malam Berakhir

    Suasana klub jauh lebih ramai dari caffe Rainbow, musik berdentum keras memenuhi ruangan, gemerlap lampu warna-warni yang cahayanya bergerak menyorot ke segala sisi, juga sorakan para pengunjung yang memenuhi lantai dansa. "Habis ini mau ke mana? Gue punya ide!" Setelah obrolan panjang di caffe, rupanya hal itu tidak cukup untuk seseorang bernama Satria. Lelaki itu menyarankan mengunjungi klub alih-alih langsung pulang meskipun jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Di awal, Naya sempat menolak untuk ikut ketika Okta, Sisil, Laras terus membujuk karena mereka sudah tergiur dengan ajakan Satria sebelumnya. "Ayolah Nay, udah lama juga kita ngga ke klub sama lo. Itung-itung party sebelum lo married hehe..." "Lagian ada Dokter Sam, dia juga ikut, biar bisa jagain lo, aman kan?!" Kira-kira seperti itu rayuan mereka. Ketika Naya menggeleng untuk menolak, teman-temannya malah sengaja memohon-mohon kepada Samudra agar ik

  • Emergency Couple   Chapter 41: Undangan Pernikahan

    "Nay, lo dapet dari mana sih modelan kaya gini?" tanya Sisil heboh, maniknya masih fokus menatap layar handphone milik Naya yang menampilkan beberapa potret foto pertunangannya dengan Samudra. "Buset, Sil! Kaya ngga pernah liat langsung aja. Ngeliatin fotonya gitu banget," cibir Laras menjitak bagian atas kepala Sisil sampai membuat perempuan itu mengaduh sakit. "Aduh.... justru karena belum puas ngeliat langsung, jadi gue gini banget ngeliatin fotonya," jawab Sisil ketus. "Yeuu ngga boleh kaya gitu lo, Sil! Dokter Sam kan udah punya Naya, jangan berani-berani rebut cowo orang ya!" Okta ikut mengompori, bahkan menyentil kening Sisil dengan cukup keras sampai kening perempuan itu memerah. "Ih kampret! Sakit tahu!" Sisil makin cemberut. Naya terkekeh pelan melihat tingkah mereka. Jujur ia merindukan su

  • Emergency Couple   Chapter 40: Persiapan Pernikahan

    Naya kira acara pertunangannya akan berlangsung dengan cukup sederhana, hanya dihadiri beberapa keluarga besar dan beberapa kerabat dekatnya. Tetapi, dugaannya salah. Acara pertungan diadakan cukup mewah, walaupun berlatar di kediaman Husein Ganendra tetapi mengundang ratusan tamu untuk ikut menyaksikan acara pertunangan. Tidak hanya keluarga besar dan teman dekat Naya, tetapi beberapa kerabat Husein dan Maya juga ikut hadir. Naya tahu, ini adalah acara pertunangan pertama yang keluarganya gelar, sepertinya kedua orang tuanya yang malah begitu excited mempersiapkan acara, untuk pemilihan dekorasi, catering dan segala macamnya Maya sendiri yang mengatur, walaupun sebelumnya meminta pendapat kepada Naya sebelum memutuskan pilihan. Naya tidak banyak berkomentar, sejujurnya ini bukan pertunangan yang ia impikan, jadi bagaimanapun konsep pertunangannya tidak akan berpengaruh apapun untuk dirinya.

  • Emergency Couple   Chapter 39: Satu Keputusan, Lagi

    "Saya rasa ini tidak adil." Naya melirik Samudra dengan alis terangkat satu, wajahnya ketus. Tidak adil? Lelaki itu bicara tentang keadilan apa. Jika bicara tentang keadilan harusnya di sini Naya yang mengatakan itu. Sejak awal, hubungan ini tidak adil untuk dirinya.Segalanya. "Saya kira, saya sudah cukup berusaha untuk mendapatkan restu kedua orang tua kamu, restu keluarga kamu. Tetapi apa yang kamu lakukan tadi, kamu tidak berusaha sedikitpun untuk membuat Mamah saya percaya pada hubungan kita, dan membuatnya memberi restu." Samudra kembali menjelaskan, dengan pandangan lurus ke depan menatap jalanan yang sedang dilalui. Keduanya sedang berada di dalam mobil, menuju kediaman keluarga Ganendra untuk mengantar Naya pulang setelah selesai dengan acara dinner bersama Gina. "Hubungan kita?" Naya tertawa sumbang, sampai membuat Samudra menoleh untuk beberapa saat sebelum kembali fokus dengan kemudinya. "Sejak kapan ini jadi hubungan

  • Emergency Couple   Chapter 38: Dinner

    Menatap layar handphone yang menampilkan postingan terakhir di salah satu akun sosial media miliknya. Bukan hanya story, tetapi postingan yang artinya siapapun yang melihat profil akun sosial media miliknya akan langsung melihat postingan foto tersebut. Senyuman lebar Mamah, Papah, Kai, dan Samudra yang berdiri di sampingnya, tangan kanan lelaki itu melingkar dengan apik di pinggangnya, membuat mereka berdua tampak benar-benar seperti pasangan. Keluarganya sudah melihat. Teman-temannya sudah melihat. Orang-orang yang mengenal Naya sudah tahu kalau ada seseorang bernama Samudra yang sekarang ada di dekatnya. Beberapa keluarga Ganendra mengkhawatirkan hubungan itu. Bagaimanapun mereka tahu tentang perang dingin antara Samudra yang adalah kakak dari Disya, dengan Devan. Disya sendiri pernah jadi bagian dari keluarga Ganendra sebelum pada akhirnya perempuan itu meminta berpisah karena kesalahan Devan. Tentu saja semua orang aka

  • Emergency Couple   Chapter 6: Si Gadis

    Naya menundukkan wajahnya dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan, kedua tangannya saling menggenggam erat."Diminum dulu," seorang perempuan memakai jas dokter membawakan segelas air hangat untuk Naya.Naya menerimannya, dan dengan segera meneguknya. "Te—terima kasih

  • Emergency Couple   Chapter 5: Rencana Kejam

    "Kenapa Nenek ngga minta gue buat jadi suami lo ya, Rai?" dumel Widi di sela menikmati makanannya. Membuat beberapa orang di meja makan terkekeh mendengar ucapan lelaki itu kecuali—Samudra. "Nenek mau cucu menantu seorang dokter bukan artis seperti kamu, Wid!" jawab Didi asal yang semakin membuat

  • Emergency Couple   Chapter 4: Couple Goals

    Samudra menghembuskan napanya kasar, lelaki itu tidak sedang dalam kondisi baik, memukul samsak boxing dengan membabi buta, meluapkan segala emosi yang mengganjal di dalam hatinya. "Bang Sam...." Seorang perempuan memanggilnya, membuat atensi Samudra teralihkan, memandang perempuan yang memanggil

  • Emergency Couple   Chapter 3: Ayo Kita Menikah!

    Menatap beberapa lelaki remaja yang sedang asyik bertanding basket, sesekali gelak tawa juga sorak kemenangan terdengar dari mereka saat salah satu rekan timnya berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring. "Ayo sayang, semangat!" teriak remaja perempuan yang sedang duduk di bangku penonton, meng

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status