Home / Romansa / Emergency Couple / Chapter 6: Si Gadis

Share

Chapter 6: Si Gadis

Author: Anaa
last update publish date: 2024-10-18 23:19:41

Naya menundukkan wajahnya dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan, kedua tangannya saling menggenggam erat.

"Diminum dulu," seorang perempuan memakai jas dokter membawakan segelas air hangat untuk Naya.

Naya menerimannya, dan dengan segera meneguknya. "Te—terima kasih...."

Perempuan di sebelahnya mengangguk. "Kami belum bisa menghubungi keluarganya, karena gadis itu tidak membawa dompet, atau handphone sama sekali, kita juga belum mengetahui identitasnya. Kita akan menunggu gadis itu siuman"

Naya mengangguk, kembali meneguk air hangat yang tadi diberikan kepadanya, walaupun tidak terlalu berpengaruh untuk meredakan perasaan ketakutannya.

"Hey... tenanglah," ucap si dokter menggenggam tangan Naya lembut.

"A—aku... aku ingin peluk..." 

Perempuan itu segera membawa Naya ke dalam dekapannya, mengusap punggung Naya lembut berharap ketakutannya sedikit mereda.

"Apa dia akan baik? Dia—"

"Kamu coba tenangkan diri kamu dulu, ya...."

Naya mengangguk dalam dekapannya. Matanya terpejam, mencoba menenangkan dirinya, saat matanya terbuka ia bisa melihat dari beberapa orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit, ada seorang lelaki jangkung yang demi Tuhan sangat ingin Naya hindari sedang berjalan menuju ke arahnya dengan senyum yang terus dia edarkan ke setiap orang yang berpapasan dengannya.

Hingga... manik mata keduanya bertemu.

Naya semakin mengeratkan pelukannya, air mata yang sedari tadi ia tahan, pada akhirnya jatuh juga melewati pipinya.

"Kita berdo'a saja semoga gadis itu segera siuman."

Naya sudah tidak lagi fokus dengan ucapan perempuan yang sedang memeluknya, fokusnya tertuju pada lelaki yang berjarak kisaran dua meter dari posisinya berdiri.

"Sam? Lo udah baik-baik aja?" suara seorang lelaki membuat tatapan keduanya teralihkan. Perempuan yang sedang memeluk Naya melepaskan pelukannya, menengokkan wajahnya ke belakang.

"Kamu sudah sedikit tenang?" tanyanya yang sudah kembali menatap Naya.

Naya menanggapinya dengan hanya mengangguk pelan.

"Aku ijin nemuin tunangan aku dulu ya," katanya. Setelah mendapat anggukkan dari Naya, perempuan itu berdiri dari duduknya. Tidak berniat memperhatikan, namun obrolan ketiga orang di sana mampu Naya dengar.

Naya melirik sekilas Samudra yang juga menatapnya. Hanya beberapa detik kerena Samudra mengalihkan pandangan menatap lelaki di sampingnya.

"Gue baik, Nu," jawab Samudra.

"Keluarga lo, gimana keadaannya?" tanya Wisnu lagi.

"Kita masih dalam suasana berduka, tapi it's oke... kita harus berusaha ikhlas."

Keluarga Samudra tentu saja sedang dalam keadaan berduka, karena beberapa hari yang lalu adik, juga calon suami dari adiknya baru saja meninggal dunia.

"Kamu sudah masuk kerja?" tanya Raina.

Samudra kali ini menatap Raina yang berada di hadapannya. "Iya, di rumah justru malah semakin teringat dengan Ais."

Raina memandang Samudra dengan raut sedih, mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap lengan Samudra, menunjukkan bahwa ia mencoba memahami keadaan Samudra.

Suara pintu ruangan yang dibuka membuat mereka mengalihkan pandangannya. Satu orang dokter dan satu perawat keluar dari dalam ruangan. Naya yang melihatnya segera berdiri, menghampiri keduanya. "Bagaimana keadaannya, Dok?"

"Ada yang harus saya sampaikan tentang pasien di dalam, Dokter Raina."

Raina yang merasa dipanggil segera menghampiri rekannya. Meninggalkan Samudra dan Wisnu yang juga kini memperhatikan.

"Pasien sudah siuman, bayi dan ibunya selamat. Sepertinya ia masih syok, gadis itu hanya diam tidak bergeming di pembaringan."

"Bayi?" Naya jelas terkejut. Kakinya benar-benar lemas.

***

Seharian ini yang dilakukan oleh Naya adalah duduk, menemani gadis yang sama sekali tidak mau berbicara sejak ia tersadar. Naya sudah berusaha. namun gadis itu malah bungkam, memejamkan matanya, jika sudah jam makan ia makan, jika waktunya minum obat dia meminumnya tanpa ada penolakan, setelah selesai dengan itu, ia langsung memejamkan matanya, entah serius tidur atau pura-pura, yang pasti ia mengabaikan keberadaan Naya.

"Sudah mau bicara?" tanya Naya.

"Ini sudah larut malam, pergilah!"

Naya menampilkan senyum. Akhirnya gadis itu mengeluarkan suaranya.

"Setidaknya kamu harus memberitahu nama kamu, tempat tinggal, dan beri tahu aku nomor salah satu keluargamu yang bisa aku hubungi," kata Naya panjang lebar.

"Keluargaku tidak boleh ada yang tahu tentang kejadian ini." Suaranya pelan, tidak ada nada marah, kesal, dan semacamnya. Gadis itu berucap dengan sangat tenang. "Besok aku akan pulang," lanjutnya.

"Kamu dilecehkan, bagaimana mungkin setenang ini?!"

Gadis itu sedari tadi tidak mau menatap manik Naya, pandangannya lurus ke depan ke satu titik.

"Kamu menangis tadi, menyebut nama laki-laki itu. Kamu tentu kenal dengannya 'kan? Ayo kita laporkan poli—" ucapan Naya langsung terhenti ketika gadis itu menatap tepat di manik matanya, kali ini ada kilat marah yang bisa Naya lihat.

"Kamu tidak usah ikut campur dengan urusanku!"

Naya menghela napasnya. "Polisi sudah ada di luar, mereka akan meminta keteranganmu."

"Untuk apa memanggil polisi?!"

"Supaya lelaki itu ditangkap, dia sudah melecehkanmu—"

"Aku tidak dilecehkan, kau tuli!" Gadis itu melotot menatap Naya, wajahnya jelas terlihat tidak nyaman menatap ke arah pintu dan Naya bergantian.

"Kamu jelas-jelas menangis memberontak—"

"Itu benar-benar bukan urusanmu! Demi Tuhan jangan panggil polisi ke sini, kamu apa-apaan?"

Naya menelan ludahnya gugup. "Aku—"

Gadis itu menggeleng, ia menangis,  air matanya mengalir melewati pipinya. "Jangan bilang kalian sudah menghubungi keluargaku? Aku akan benar-benar bunuh diri!" Gadis itu benar-benar histeris.

Naya bungkam.

"Kamu yang akan bertanggung jawab atas kematianku!" Dengan secepat kilat gadis itu mengambil pisau yang ada diatas nakas, dan langsung mengarahkan pisau tajam itu ke pergelangan tangannya.

"Tidak!" jelas hal itu membuat Naya menjerit ketakutan. Mencoba meraih pisau itu, namun dengan cepat si gadis turun dari baringannya, melepas paksa jarum infus yang tertancap di tangannya, lalu melangkah mundur menghindari Naya yang berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah pucat.

"Kamu akan bertanggung jawab atas kematianku, aku bersungguh-sungguh!"

Naya menggeleng, ia sudah menangis sekarang. "Tidak, aku mohon jangan lakukan itu!"

"Tidak! Kami tidak menghubungi keluragamu, jangan lakukan itu!"

Gadis itu menatap Naya dengan tatapan sendu. "Sungguh—kamu tidak bohong? Keluargaku... keluargaku tidak mengetahuinya?"

Naya mengangguk cepat. Setelah itu, Naya bisa melihat gadis itu terduduk di atas lantai, tangisnya pecah, pisaunya terjatuh ke lantai. Naya dengan sigap langsung menghampirinya, membawa gadis itu ke dalam pelukan.

"Aku lebih baik mati jika mereka tahu semua ini. Kamu orang asing, tidak pernah mengerti bagaimana perasaanku jika ada di posisi seperti ini, kamu harusnya tidak usah ikut campur!" teriak gadis itu histeris, mencoba melepaskan diri dari pelukan Naya.

"Maafkan aku... maaf... aku minta maaf...." Naya menangis mengusap punggung gadis yang ada di dekapannya.

"Kamu tidak pernah tahu bagaimana perasaanku!" Gadis itu masih memberontak, namun Naya masih setia memeluknya. Menggumamkan berpuluh-puluh kata maaf. Untuk beberapa saat keduanya masih dalam posisi yang sama, tangan gadis itu yang sedari tadi memberontak untuk melepaskan pelukan Naya, kini mulai sedikit tenang.

"Aku tidak akan memberitahu keluargamu." Naya mengusap air mata gadis itu dengan kedua tangannya saat pelukannya sudah terlepas.

"Ayo kembali ke kasur, lihat tanganmu berdarah," ucap Naya menyentuh pergelangan tangan gadis itu. Tadi, si gadis mencabut paksa jarum infusnya, tentu saja tangannya kini berdarah.

"Aku akan panggilkan dokter," kata Naya, lalu membantu si gadis untuk berdiri. Namun, belum sepenuhnya si gadis berdiri, seseorang ikut serta membantu memapah tubuh gadis itu.

"Biar saya bantu," ucap Samudra.

Naya jelas kembali terkejut ketika melihat Samudra. Sejak kapan lelaki itu ada di ruangan ini?

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Emergency Couple   Chapter 34: Kali Ini, Beritahu Aku

    "Kok tumben, biasanya juga Papah mau berduaan terus sama Mamah, Nay ngga boleh ikut," kata Naya heran ketika Maya memberi tahu jika acara staycation agenda rutin sebulan sekali kedua orang tuanya kali ini, Naya diajak ikut bergabung. Maya mengangkat bahunya tidak tahu. "Papah yang bilang." Setelah mendapat informasi dari Mamahnya jika mereka akan pergi staycation, tentu saja Naya sangat bersemangat. Menyiapkan barang bawaanya dari semalam, memastikan tidak ada yang tertinggal. "Kita cuman dua malam di villa itu, Nay. Koper kamu besar sekali," komentar Husein ketika melihat putri bungsunya sedang menuruni tangga di belakang Edi—security yang sedang membawa turun koper miliknya dari kamar. "Hehee... ngga papa dong, Pah! Keperluan Nay banyak banget jadi kalau pakai koper kecil ngga muat," jawab Naya. "Koper kita sama lho, tapi masuk barang-barang Mamah, Papah, Kai juga. Ini kamu... sebesar ini sendirian?" H

  • Emergency Couple   Chapter 33: Setara?

    "Apa kesibukannya?" Samudra tidak langsung menjawab, terdiam beberapa saat untuk menjawab pertanyaan Gina. "Di rumah," jawaban itu yang menurutnya pas untuk pertanyaam Mamahnya yang secara tidak langsung menanyakan pekerjaan Naya. "Pasti pintar masak?" "Tidak juga." Gina tertawa hambar, malah hampir seperti tertawa meremehkan. "Lalu apa yang dia bisa? Menghabiskan uang kedua orang tuanya?" "...." Samudra memilih diam, bukannya tidak bisa menjawab, lelaki itu hanya tidak ingin obrolan keduanya berakhir dengan perdebatan. "Tuhan sudah baik memberikan Raina kepada kamu, tetapi kamu memilih perempuan yang jelas-jelas akan merepotkanmu! Dia terlahir dari keluarga berada, tidak heran jika dia akan menjadi anak manja yang segala keinginannya harus dituruti, nanti." Samudra hanya mendengarkan. Gina sedari awal memang tidak setuju, bahkan ketika mengetahui putusnya hubungan pertunangannya dengan Raina karena Naya

  • Emergency Couple   Chapter 32: Diberi Ruang

    Samudra kembali beberapa menit setelahnya dengan membawa goodie bag kecil di tangan. Keningnya mengernyit ketika tidak menemukan Naya di ruang tengah. "Naya ngambek, pergi ke kamar," kata Maya melihat kebingungan di mata Samudra. "Ketuk saja pintu kamarnya," titah Husein dengan tangan sibuk memegang iPad, sesekali menyeruput kopi yang tersedia. "Boleh?" tanya Samudra memastikan. Husein mengangguk. Lalu setelahnya Samudra menaiki tangga menuju ke kamar Naya. "Yang pintunya...." Maya menunjuk ke ujung lorong. "Sebelah kiri." Samudra mengangguk. "Baik, Bu." Lelaki itu melangkah menuju kamar Naya dengan wajah tenang, seolah-olah dia benar-benar baru pertama kali mengetahui letaknya. Di antara beberapa pintu yang tampak serupa, hanya satu yang berbeda. Sebuah rangkaian bunga kecil menggantung di bagian tengahnya, dengan papan nama sederhana bertu

  • Emergency Couple   Chapter 31: Bukan Karena Es Krim

    Tidak melakukan sesuatu yang berarti, kegiatan sehari-hari Naya hanya berdiam di rumah, bangun tidur sesukanya, makanan sendiri sudah siap tersaji tinggal menyantap, berleha-leha, bermain dengan Kai jika bocah itu ada di rumah, berdiam diri di garden rooftop ditemani milk shake vanilla, atau hot chocolate dan beberapa makanan junkfood lainnya yang sedang ingin Naya makan. “Lo sih yang paling untung, Nay. Enak ya jadi pengangguran, tapi duit ngalir teroooss!”Naya memang seharusnya merasa beruntung. Tidak perlu bangun pagi untuk bekerja, tidak perlu memikirkan uang, bahkan semua kebutuhannya sudah tersedia. Namun, ada kalanya semua kemudahan itu justru terasa membosankan.Kembali menyuapkan burger ke dalam mulutnya, tangannya sibuk menggulir layar handphone. Perempuan itu sedang duduk di salah satu bean bag yang ada di garden rooftop sore ini. Melihat-lihat postingan terbaru teman-teman. Okta—salah satu temannya beberapa hari yang lalu sedang berlibur ke Bali kata Stevani, Na

  • Emergency Couple   Chapter 30: Kepingan Yang Hilang

    Setelah menyampaikan niatnya Samudra tidak langsung pergi dari rumah, sempat mengobrol bersama Husein di halaman samping dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa camilan sore. Hujan juga menguyur kota, tadi. Jadi kedua orangtuanya menyarankan Samudra untuk tetap tinggal. Bahkan lelaki itu ditawari untuk ikut makan malam bersama sebelum pamit pulang ke rumah.Perihal lamaran memang belum mendapat jawaban pasti, tetapi bukan berarti orang tua Naya abai atau membenci Samudra. Lagipula lelaki itu bukan sosok asing di keluarga Ganendra. Kedua orang tua Naya hanya perlu diyakinkan jika meraka tidak salah akan menyerahkan putri bungsunya kepada Samudra."Cerita apa aja sama Mamah, Papah?" tanya Naya ketika keduanya sudah berada di parkiran. "Cerita kita udah tidur bareng juga?" lanjut Naya sarkas yang berhasil membuat Samudra menoleh menatapnya."Tidak."Naya mengganguk lalu memalingkan muka menatap kearah lain, seperti enggan bertatapan dengan lelaki itu. "Aku kira Dokt

  • Emergency Couple   Chapter 29: Tahap Awal

    "Username aja 17, eh ternyata umurnya udah 36 tahun. Gue ngga nyangka ya selera lo malah jauh banget dari seorang Nathan ke Samudra—ralat Om Samudra!" "Stev!" Naya lagi-lagi merengek. "Udah dong, ngeroasting mulu ih, ngga berhenti-berhenti." Stevani mendelik menatap Naya beberapa saat, lalu kembali menatap ke depan memperhatikan jalanan yang dilaluinya, tangannya sibuk memegang stir, tetapi mulutnya sedari tadi tidak bisa diam berkomentar ini dan itu tentang Samudra. "Ya gue ngga habis pikir aja, Nay. Lo bukan seorang fatherless, bukan juga dari keluarga broken home. Kenapa harus Samudra yang umurnya jauh lebih tua? Sepemahaman gue cewe-cewe fatherless atau ngga broken home yang biasanya nyari cowok yang lebih tua karena dia butuh sosok laki-laki dewasa yang bisa diandelin di hidupnya. Lah lo... keluarga cemara parah, tajir—apa yang kurang?" Naya masih cemberut, Stevani ini benar-benar tidak berhenti sedari tadi, sibuk

  • Emergency Couple   Chapter 7: Kilas Balik

    Naya datang ke klub untuk menghadiri acara ulang tahun temannya. Tadinya Naya tidak berniat datang, namun salah satu temannya terus membujuk. Bahkan temannya itu merengek, mengatakan jika Naya sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temannya, banyak yang merindukannya. Mengingat sudah sekitar tig

  • Emergency Couple   Chapter 5: Rencana Kejam

    "Kenapa Nenek ngga minta gue buat jadi suami lo ya, Rai?" dumel Widi di sela menikmati makanannya. Membuat beberapa orang di meja makan terkekeh mendengar ucapan lelaki itu kecuali—Samudra. "Nenek mau cucu menantu seorang dokter bukan artis seperti kamu, Wid!" jawab Didi asal yang semakin membuat

  • Emergency Couple   Chapter 4: Couple Goals

    Samudra menghembuskan napanya kasar, lelaki itu tidak sedang dalam kondisi baik, memukul samsak boxing dengan membabi buta, meluapkan segala emosi yang mengganjal di dalam hatinya. "Bang Sam...." Seorang perempuan memanggilnya, membuat atensi Samudra teralihkan, memandang perempuan yang memanggil

  • Emergency Couple   Chapter 3: Ayo Kita Menikah!

    Menatap beberapa lelaki remaja yang sedang asyik bertanding basket, sesekali gelak tawa juga sorak kemenangan terdengar dari mereka saat salah satu rekan timnya berhasil memasukkan bola basket ke dalam ring. "Ayo sayang, semangat!" teriak remaja perempuan yang sedang duduk di bangku penonton, meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status