Home / Romansa / Emergency Couple / Chapter 5: Rencana Kejam

Share

Chapter 5: Rencana Kejam

Author: Anaa
last update publish date: 2024-08-31 22:16:41

"Kenapa Nenek ngga minta gue buat jadi suami lo ya, Rai?" dumel Widi di sela menikmati makanannya. Membuat beberapa orang di meja makan terkekeh mendengar ucapan lelaki itu kecuali—Samudra.

"Nenek mau cucu menantu seorang dokter bukan artis seperti kamu, Wid!" jawab Didi asal yang semakin membuat Widi mendengus sebal.

"Padahal aku lebih keren dari Samudra," ucap Widi sembari menyisir rambutnya sok keren.

"Ih! Jijik!" Raina memandang Widi dengan geli, melempar kue sus yang sudah dibungkus rapih ke arah Widi, makanan itu beruntungnya bisa dengan sigap Widi tangkap.

"Rai, ngga baik lempar-lempar makanan!" kata Eni memperingati.

Widi menjulurkan lidahnya meledek Raina yang kena omel Tantenya.

"Maaf, hehehe...." Raina terkekeh pelan.

"Jadi kapan, kalian menikah?" tanya Widi menatap Samudra dan Raina bergantian.

"Kita mau tunggu rumah kita bisa ditempati seratus persen, rencana kita kan setelah menikah mau langsung tinggal di Bandung." Raina menjelaskan, kedua tangannya sibuk membereskan piring kotor. Mereka baru saja selesai makan malam.

Widi mengangguk. "Sam, kasih info ya kalau ngga jadi nikahin Raina," kata Widi menatap Samudra dengan kedua alis yang digerakkan naik turun.

"Apaansih, Wid?" Raina kembali memanyunkan bibirnya membuat Widi langsung mengeluarkan gelak tawa. "Jangan di dengerin manusia aneh ini, Sam!" lanjut Rania.

Samudra hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.

"Ini udah malam, kamu harus berangkat biar bisa istirahat dulu di rumah, besok pagi kamu ada shift 'kan?"

Besok akan ada acara peringatan satu tahun Nenek Raina yang telah meninggal. Akan ada acara di rumah Tante Raina. Samudra tidak bisa menghadiri acara itu karena urusan pekerjaan, dia hanya menyempatkan dirinya untuk mengantar Raina.

"Aku pulang ya," kata Samudra mengusap bagian atas rambut Raina dengan senyum yang menghiasi bibirnya.

"Iya, hati-hati. Kabarin kalau sudah nyampe rumah. Atau diperjalanan mau aku temenin?"

Samudra mengernyit bingung. "Temenin gimana?"

"Lewat telepon!" Raina menunjukkan handphone yang dipegangnya sambil terkekeh pelan.

"Alah bucin!" sindir Widi.

Samudra, Didi, dan Eni tertawa mendengar ucapan Widi.

"Tidak usah, kamu juga harus istirahat," kata Samudra.

Raina mengangguk.

Samudra masuk ke dalam mobilnya setelah selesai berpamitan.

Eni mengusap sudut matanya yang berair setelah mobil milik Samudra tidak terlihat, membuat Didi yang berada di sampingnya mengernyit bingung. "Kok nangis?"

"Aku terharu aja, Mas. Samudra baik ya, dia keliatan sayang banget sama Raina, semoga Samudra memang yang terbaik buat Raina."

Raina menatap Eni dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Tante..."

Eni terkekeh pelan, namun air matanya tidak bisa dibendung. "Semoga Kak Ani diatas sana ngga bakalan marahin aku. Anaknya sudah aku temani sampai menemukan pasangan hidupnya," kata Eni. Raina melangkah memeluk Tantenya dengan erat.

"Makasih ya, sudah menjadi pengganti Ayah dan Ibu, Rai sayang sama kalian."

Oke, suasana berubah menjadi haru sekarang. Widi masih terdiam di tempat berdirinya semula, memperhatikan ketiganya—Raina, Eni, dan Didi yang sedang berpelukan.

"Kalaupun calon suami Raina aku, pasti kehidupannya akan sangat bahagia."

"Widi Ih!"

Widi terkekeh. Lelaki itu hanya ingin merubah suasana agar tidak terlalu terharu. Apalagi posisi mereka yang masih berada di depan pintu gerbang rumah.

"Baiklah! Nanti saja nangis-nangisnya di dalam, malu kalau ada Mang Jaja keliling."

***

Samudra dan Raina menuruti permintaan terakhir Neneknya. Bahwa mereka akan menikah. Cincin pertunangan sudah melekat di jari manis keduanya, itu artinya mereka adalah sepasang kekasih yang sudah resmi bertunangan.

Cinta?

Baik Raina dan Samudra tidak pernah mengungkapkan kalimat-kalimat seperti itu. Mereka menjalani hubungan dengan seadanya.

"Tadinya Nenek mau jodohin Raina sama Widi, tapi sepertinya kalau mereka berdua menikah sering sekali adu mulut, kamu tahu sendiri kan, Widi sangat suka menjahili Raina, tidak akan berhenti sampai Raina menangis kesal."

Samudra terkekeh kedua tangannya masih menggenggam tangan Nenek Raina yang tidak tersemat jarum infus, mencoba mendengarkan dengan seksama setiap perkataan yang dilontarkan oleh perempuan baya itu.

"Nenek juga suka sama Wisnu. Tapi kamu sama saja kaya Widi." Nenek Raina memanyunkan bibirnya menatap Wisnu yang sedang berkutat dengan laptopnya duduk di atas sofa.

Tidak menjawab, Wisnu hanya mengernyit bingung.

"Wisnu kalau lagi sama Raina bawaanya marah-marah mulu, kalian juga sering banget berantem, adu mulut karena hal sepele. Nenek ngga mungkin jodohin kamu sama Raina."

Samudra yang mendengarnya kembali terkekeh. "Memang Nek, Wisnu kalau sama Raina bawaannya kaya lagi PMS mulu."

"Sialan lo!" umpat Wisnu.

"Jadi, cuman kamu yang Nenek yakin bisa bahagiain Raina, Sam."

Samudra yang asyik meledek Wisnu lansung terdiam seketika, begitu juga dengan Wisnu yang langsung merubah mimik wajahnya menatap Nenek Raina.

"Menikah dengan Raina, mau?"

Samudra tidak menolak—lebih tepatnya lelaki itu tidak bisa menolak permintaan Nenek Raina.

Raina—perempuan itu tidak sedang dekat dengan siapapun, dan memang sedari dulu Raina tidak pernah mempunyai hubungan dengan lelaki manapun. Hanya Samudra, Wisnu—teman kuliahnya dulu, dan Widi—teman masa kecilnya di Bandung—Raina dekat dengan teman lelaki hanya dengan mereka bertiga.

Pun dengan Samudra, dia tidak sedang menjalani hubungan percintaan dengan perempuan manapun. Jadi, mereka berdua setuju, lagipula ini disebut-sebut sebagai keinginan terakhir Nenek Rania. Tidak ada masalah, dan tidak ada alasan untuk menolak. Hubungan mereka sudah berumur dua tahun sekarang, dan tentu ini menjadi berita baik untuk semua orang.

Tapi, perasaan menerima itu berubah ketika Samudra melihat Naya di acara pernikahan Zara dan Nathan. Bagi Samudra, menyaksikan Naya yang menangis karena mantan kekasihnya menikah belum cukup, masih ada kebencian yang berkobar, dan rasanya dia ingin lagi, dan lagi, melihat Naya lebih mengenaskan di depan matanya.

Menikah dengan Naya sepertinya akan menarik.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Emergency Couple   Chapter 41: Undangan Pernikahan

    "Nay, lo dapet dari mana sih modelan kaya gini?" tanya Sisil heboh, maniknya masih fokus menatap layar handphone milik Naya yang menampilkan beberapa potret foto pertunangannya dengan Samudra. "Buset, Sil! Kaya ngga pernah liat langsung aja. Ngeliatin fotonya gitu banget," cibir Laras menjitak bagian atas kepala Sisil sampai membuat perempuan itu mengaduh sakit. "Aduh.... justru karena belum puas ngeliat langsung, jadi gue gini banget ngeliatin fotonya," jawab Sisil ketus. "Yeuu ngga boleh kaya gitu lo, Sil! Dokter Sam kan udah punya Naya, jangan berani-berani rebut cowo orang ya!" Okta ikut mengompori, bahkan menyentil kening Sisil dengan cukup keras sampai kening perempuan itu memerah. "Ih kampret! Sakit tahu!" Sisil makin cemberut. Naya terkekeh pelan melihat tingkah mereka. Jujur ia merindukan su

  • Emergency Couple   Chapter 40: Persiapan Pernikahan

    Naya kira acara pertunangannya akan berlangsung dengan cukup sederhana, hanya dihadiri beberapa keluarga besar dan beberapa kerabat dekatnya. Tetapi, dugaannya salah. Acara pertungan diadakan cukup mewah, walaupun berlatar di kediaman Husein Ganendra tetapi mengundang ratusan tamu untuk ikut menyaksikan acara pertunangan. Tidak hanya keluarga besar dan teman dekat Naya, tetapi beberapa kerabat Husein dan Maya juga ikut hadir. Naya tahu, ini adalah acara pertunangan pertama yang keluarganya gelar, sepertinya kedua orang tuanya yang malah begitu excited mempersiapkan acara, untuk pemilihan dekorasi, catering dan segala macamnya Maya sendiri yang mengatur, walaupun sebelumnya meminta pendapat kepada Naya sebelum memutuskan pilihan. Naya tidak banyak berkomentar, sejujurnya ini bukan pertunangan yang ia impikan, jadi bagaimanapun konsep pertunangannya tidak akan berpengaruh apapun untuk dirinya.

  • Emergency Couple   Chapter 39: Satu Keputusan, Lagi

    "Saya rasa ini tidak adil." Naya melirik Samudra dengan alis terangkat satu, wajahnya ketus. Tidak adil? Lelaki itu bicara tentang keadilan apa. Jika bicara tentang keadilan harusnya di sini Naya yang mengatakan itu. Sejak awal, hubungan ini tidak adil untuk dirinya.Segalanya. "Saya kira, saya sudah cukup berusaha untuk mendapatkan restu kedua orang tua kamu, restu keluarga kamu. Tetapi apa yang kamu lakukan tadi, kamu tidak berusaha sedikitpun untuk membuat Mamah saya percaya pada hubungan kita, dan membuatnya memberi restu." Samudra kembali menjelaskan, dengan pandangan lurus ke depan menatap jalanan yang sedang dilalui. Keduanya sedang berada di dalam mobil, menuju kediaman keluarga Ganendra untuk mengantar Naya pulang setelah selesai dengan acara dinner bersama Gina. "Hubungan kita?" Naya tertawa sumbang, sampai membuat Samudra menoleh untuk beberapa saat sebelum kembali fokus dengan kemudinya. "Sejak kapan ini jadi hubungan

  • Emergency Couple   Chapter 38: Dinner

    Menatap layar handphone yang menampilkan postingan terakhir di salah satu akun sosial media miliknya. Bukan hanya story, tetapi postingan yang artinya siapapun yang melihat profil akun sosial media miliknya akan langsung melihat postingan foto tersebut. Senyuman lebar Mamah, Papah, Kai, dan Samudra yang berdiri di sampingnya, tangan kanan lelaki itu melingkar dengan apik di pinggangnya, membuat mereka berdua tampak benar-benar seperti pasangan. Keluarganya sudah melihat. Teman-temannya sudah melihat. Orang-orang yang mengenal Naya sudah tahu kalau ada seseorang bernama Samudra yang sekarang ada di dekatnya. Beberapa keluarga Ganendra mengkhawatirkan hubungan itu. Bagaimanapun mereka tahu tentang perang dingin antara Samudra yang adalah kakak dari Disya, dengan Devan. Disya sendiri pernah jadi bagian dari keluarga Ganendra sebelum pada akhirnya perempuan itu meminta berpisah karena kesalahan Devan. Tentu saja semua orang aka

  • Emergency Couple   Chapter 37: Staycation - III

    Malam mulai turun sepenuhnya di sekitar villa. Lampu-lampu taman menyala di sepanjang halaman, pantulan cahayanya berpendar di air kolam yang kini sudah sepi. Di dekat kolam, sebuah meja panjang sudah dipenuhi berbagai bahan untuk barbeque. Ada daging yang sudah dimarinasi, sosis, jagung, paprika, jamur, dan beberapa saus dalam mangkuk kecil. Husein sibuk menyiapkan panggangan, dibantu Samudra yang sesekali meniup bara agar apinya kembali menyala. Maya mengatur piring dan alat makan di meja, sementara Kai mondar-mandir membawa tusuk sate yang belum sempat dipanggang. Naya sendiri berdiri di samping meja, sibuk menata bahan makanan sambil sesekali mengambil foto. Malam itu, karena malam terakhir di villa, mereka akan membuatnya lebih terasa menyenangkan dengan acara barbeque. "Aunty Nay sibuk foto-foto terus!" dumel Kai menatap Naya sembari berkacak pinggang. "Apasih? Aunty Nay bantuin kok." Kai menggeleng-gelengkan kepala, membuat Naya memutar bola matanya malas. "Kamu

  • Emergency Couple   Chapter 36: Staycation - II

    Cahaya matahari menyusup melewati gorden kamar yang masih tertutup, membentuk garis-garis tipis di lantai. Naya masih meringkuk di bawah selimut, sampai ketukan di pintu kamar membuatnya cukup terganggu. Naya tidak berniat membukakan pintu, pun sekedar bangun dari tidurnya, justru ia memilih semakin menaikan selimutnya hingga ke atas kepala, mencoba abai dengan suara panggilan dari Kai. Tetapi, Kai tidak berhenti, bocah itu masuk ke dalam kamar, naik ke kasur membangunkan Naya dengan cara menarik-narik selimutnya. Pagi-pagi sudah ribut mengajak joging katanya. Naya padahal sudah bilang ia tidak akan ikut dengan alasan tidak membawa pakaian joging, bocah itu tidak mau tahu, tetap dengan pendiriannya membawa ikut serta Naya untuk kegiatan pagi mereka. Lima belas menit kemudian perempuan itu ke luar dari kamar. Melihat Maya dengan setelan jogingnya, Husein yang sedang memakai sepatu, begitu pula dengan Samudra. Kembali menatap penampilannya, dres

  • Emergency Couple   Chapter 22: Calon Suami

    +628xxxxxxxxxx |Disya sedang pergi ke Jogja, pertemuan akan dilakukan setelah Disya pulang dari sana. Naya mengulum bibirnya, hatinya merasa sedikit lega ketika Samudra menggiriminya pesan seperti itu. Setidaknya masih ada beberapa hari lagi untuk mempersiapkan diri sebelum pertemuannya dengan Disya

  • Emergency Couple   Chapter 16: Bioskop

    "Bagaimana kalau kita menonton hari ini?" "Menonton apa?" "Kita berangkat ke bioskop aja, nanti bisa pilih langsung filmnya di sana 'kan?" "Aku sama Om Sam, rencananya akan menonton film Spider-Man, tapi tidak tahu kapan. Om Sam sangat sibuk akhir-akhir ini." Senyum Naya yang sedari terbit kini

  • Emergency Couple   Chapter 11: Ancaman Samudra

    Kedua tangannya bergetar ketakutan, namun ia tetap memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, air matanya tidak berhenti menetes walaupun ia menahannya mati-matian. Naya merutuki dirinya sendiri ketika mengingat, dan tersadar atas apa yang telah ia katakan kepada Disya, tentang dirinya dan Samudra

  • Emergency Couple   Chapter 8: 'Mari Kembali Asing'

    "Belum balik?" Samudra segera mengalihkan pandangan dari seseorang yang sedari tadi dia perhatikan, ketika mendengar suara Wisnu yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Samudra melirik Wisnu sebentar sambil berdehem pelan manjawab pertanyaannya, berbalik lalu melangkah pergi yang tentu l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status