LOGINQuatre ans après avoir fui un passé qui a failli la détruire, Yvana Ravenscroft revient chez elle plus forte, couronnée de succès et prête à commencer un nouveau chapitre avec l'homme qu'elle aime. Mais au lieu d'une fête de fiançailles, c'est un cauchemar qui l'attend. Contrainte à un mariage d'intérêt pour le pouvoir et l'argent, Yvana se retrouve liée à Axel Royce, l'homme qui l'avait autrefois humiliée en public et détruit son estime de soi. Désormais milliardaire et doté d'un charme dangereux, Axel considère ce mariage comme une plaisanterie cruelle du destin. Yvana, quant à elle, le voit comme une guerre. Avec la haine comme fondement et un contrat de six mois comme seul bouclier, les deux protagonistes s'engagent dans un mariage bâti sur le ressentiment, les secrets et les blessures non résolues. Pendant ce temps, l'homme en qui Yvana a le plus confiance observe depuis l'ombre, et une autre femme refuse de laisser Axel partir, quel qu'en soit le prix.
View More“Maafkan aku, Nadia. Aku nggak bisa.” Jus jeruk yang di hadapanku segera kusesap untuk membasahi tenggorokan yang mulai mengering karena mendengar permintaan Nadia, teman SMA-ku.
Ini adalah pertemuan keduaku dengannya, setelah kami bertemu secara tak sengaja dalam suatu acara kantor.
Meski aku dan Nadia teman SMA, dahulu kami tak cukup dekat, namun, sebatas kenal satu sama lain. Aku kenal dia, dan dia pun mengenalku.
Tak kuduga, pertemuan kali ini, dia intens untuk membicarakan teman SMA sekaligus seseorang yang penah singgah namun juga melukaiku. “Ratih, Rizal sudah berubah. Dia minta maaf padamu,” ucap Nadia di sela keraguanku.
Bulan lalu, alumni SMA ku mengadakan reuni. Tentu saja, aku tak berminat untuk datang. Dan gara-gara reuni itu pula, kini Nadia datang dengan misinya.
Bukan tanpa alasan. Usiaku sudah nyaris kepala tiga dan statusku masih sendiri. Ini bukan karena pilihanku, tapi karena takdir memang mengharuskan aku bersabar.
Usia yang kian merangkak, dan tak kunjung datangnya jodoh, membuatku menarik diri dari pergaulan. Meski aku bergabung di grup WA sekolah, aku malas menanggapi percakapan di sana. Bahkan, notifikasi hingga ratusan aku biarkan saja, tanpa berniat membukanya.
Aku selalu dihinggapi ketakutan kalau-kalau dalam grup itu membicarakan tentang statusku. Meski aku tahu, itu bentuk perhatian mereka padaku. Namun, tentu saja, perasaan tak nyaman, membuatku memilih lebih baik untuk tidak berinteraksi. Aku memilih fokus pada karirku, meski semuanya hanya berjalan biasa saja.
Dan kedatangan Nadia dengan niat serius ingin menjodohkanku dengan Rizal, teman SMA kami, seolah membuka luka lama yang sudah kukubur dalam-dalam.
Memoriku kembali ke jaman putih abu-abu.
“Kamu tahu, kenapa Dewi menolakku?” Rizal berdiri di depanku dengan berkacak pinggang.
Suasana sekolah berangsur sepi. Hanya beberapa anak masih main basket di lapangan depan. Dan beberapa pengurus koperasi dan pengurus OSIS yang mungkin masih ada kegiatan.
Aku tak berani menatap pria yang kini menghalangi jalanku. Jantungku berdegup kencang. Ada rasa gugup menyelimuti, membuatku hanya dapat tertunduk. Selama ini, aku tidak pernah terlibat pembicaraan dengan Rizal. Bahkan, membayangkan berbicara dengannya saja, aku tak sanggup.
“Kalau diajak ngomong, lihat aku dong!” gertaknya.
Perlahan aku mendongak. Wajah Rizal memerah. Sepertinya dia menahan geram, membuat nyaliku semakin menciut. Aku hanya mampu menggeleng.
“Aku tahu kamu menyukaiku!” Ucapannya terdengar sinis. Saat aku menatapnya, terlihat sekali senyum miring di bibirnya, membuat hatiku semakin teriris.
“Kalau sampai alasan Dewi nolak aku, karena kamu, kamu akan tahu sendiri akibatnya!” ancamnya sambil menudingkan telunjuk tepat di depan wajahku, hingga membuat aku tersentak kaget.
Rizal membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan berjalan meninggalkanku. Dari langkahnya, terlihat sekali dia sangat marah.
Kakiku seolah tak bertenaga. Aku kira, dia mendatangiku untuk menitip salam pada Dewi karena aku sahabatnya. Rupanya, justru dia mengataiku. Apa Dewi memberitahukan perasaanku padanya? Atau, selama ini tingkah lakuku terbaca olehnya?
Aku menarik nafas dalam-dalam.
Apa salahku? Apa aku salah menyukainya? Bukankah cinta tak pernah salah? Andai bisa, mungkin aku juga tak ingin jatuh cinta padanya. Banyak lelaki yang lebih baik dari dia. Kenapa aku harus jatuh cinta padanya?
Sejak tragedy itu, tatapan permusuhan kerap aku terima dari sosok bernama Rizal. Tak sedikit pun senyum bersahabat aku terima. Ini sangat berbeda saat sebelum perasaannya ditolak oleh Dewi.
Dulu, sering dia menyapa. Dan itu juga yang membuatku semakin jatuh hati padanya. Rupanya, aku salah duga. Sapaan itu bukan untukku. Tapi, untuk sahabatku.
Hingga lima tahun berselang, aku bertemu lagi dengan Rizal. Tepatnya saat pernikahan Dewi.
Jantungku berdebar tak karuan, saat menyadari siapa yang sedang menarik kursi dan duduk di sebelahku. Pria yang sama, dengan lima tahun lalu, namun dengan penampilan yang 180 derajat jauh berbeda. Parasnya tak lagi dekil dan kerempeng. Tapi, menjadi pria yang menawan, dengan kulit bersih dan terawat. Inikah yang dimaksud Dewi tadi?
Pria itu segera menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan tangan bersedekap.
“Pasti kamu bahagia, temanmu itu sudah menikah.” Aku menatapnya, teringat ucapannya kala SMA. Kalau diajak bicara, harus melihat pada lawan bicara. Bibirnya terlihat miring, seolah sedang mengejek.
“Dia tak pernah menerimaku, karena kamu!” Punggungnya yang tadi menyandar kini sudah tegak. “Kamu hanyalah duri bagi sahabatmu sendiri. Kamu senang kalau Dewi menjauhiku. Padahal, kamu tak tahu, kalau sesungguhnya Dewi menjauhiku karena nggak enak sama kamu. Dia menolakku, karena kamu!” Telunjuknya masih mengarah padaku, persis lima tahun yang lalu.
“Nggak akan ada laki-laki yang bakal mau sama perempuan yang menjadi penghalang jodoh sahabatnya seperti kamu!” Volume ucapannya tidak terlalu keras, namun cukup jelas terdengar di telingaku.
Tubuhku seakan limbung mendengar ucapannya, andai aku tak duduk di kursi.
Rizal sudah berlalu, tapi, sakit dadaku karena ucapannya masih terasa, bahkan hingga kini.
Aku yang berusaha keras melupakannya, mengapa dia masih saja menyimpan dendam padaku? Mana mungkin aku masih mengharapkannya, meski penampilannya sudah jauh berbeda. Jumawa sekali dia.
Harga diriku seolah dihinakan oleh pria bernama Rizal.
Berkali aku mencoba melupakan, namun sungguh sulit. Berkali aku mencoba memaafkan, meski dia tak pernah minta maaf atas ucapannya itu. Namun, tajamnya sembilu, masih saja terasa menggores dalam dadaku.
Apa karena itu pula, diusiaku kini yang menjelang kepala tiga, masih belum bertemu jodoh. Apa karena aku masih dendam padanya?
“Sudah dua tahun dia menduda, Tih.” Ucapan Nadia mengembalikan kesadaranku dari puing-puing masa lalu. “Anaknya butuh sosok seorang ibu,” lanjut Nadia.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Nadia mungkin tak terlalu tahu tentang luka yang pernah Rizal torehkan padaku. Kecuali kalau Dewi atau Rizal sendiri yang bercerita padanya.
“Oh … jadi, dia mau menikah lagi untuk dijadikan baby sitter?” sahutku sinis. Aku seolah berubah menjadi bukan diriku, saat membicarakan Rizal. Pria yang pernah membuat hatiku menjadi berkeping-keping.
Sejenak Nadia tersentak. Aku yakin ia tak menyangka aku bisa berkata seperti itu.
“Bukan begitu, Tih. Dia tahu kamu belum menikah. Dia butuh pendamping yang setia, seperti kamu,” ujar Nadia.
“Nad, aku bukan setia. Tapi aku tak laku!” ujarku sarkas.
Kata-kata Rizal masih terngiang ditelingaku, saat dia menyumpahiku saat hari pernikahan Dewi saat itu. Bagaimana mungkin dia menyebutku setia? Jangan-jangan ada udang dibalik keinginannya menikah denganku. Bagaimana kalau ini semacam balas dendam yang belum usai? Dendam karena dia tak dapat menikah dengan Dewi?
Una semana después,Una lámpara de araña de cristal colgaba en el centro del camerino, iluminando todo el espacio.Yvana estaba sentada frente al tocador. Una brocha angular para rubor acariciaba sus mejillas. Dos maquilladoras permanecían a sus lados: una se encargaba de su maquillaje mientras la otra peinaba su cabello.—Dense prisa —dijo la señorita Frenzo, con la vista fija en su tableta.Las maquilladoras asintieron.En ese momento, unos suaves golpes sonaron en la puerta.—¿Quién es? —preguntó la señorita Frenzo, sin apartar la mirada de la pantalla.No hubo respuesta.La puerta se abrió.Axel.La señorita Frenzo levantó la cabeza de golpe.—¿Qui...?La palabra apenas salió de sus labios.—Axel Royce... —murmuró.Bajó lentamente la tableta.—Lo siento muchísimo, señor —dijo mientras se apresuraba a acercarse.Axel apenas la reconoció con un vistazo mientras caminaba hacia Yvana.Las maquilladoras se hicieron a un lado, todavía con las brochas en las manos.Mientras todos notaban
Au moment où Yvana entra dans la chambre, Axel la tira à l’écart. « D’où viens-tu ? » grinça-t-il, un muscle tressaillant dans sa joue.Il baissa la tête vers la sienne, réduisant la distance entre eux jusqu’à ce qu’elle puisse sentir la chaleur émanant de son corps. « Tu empestes un parfum masculin bon marché. »Yvana fronça les sourcils, sa mâchoire se serrant au point de lui faire mal. Son pouls martelait contre ses tempes. La fureur monta dans ses veines, rendant son regard injecté de sang.L’audace de cet homme. Il était la dernière personne qui avait le droit de questionner ses allées et venues.« Il semble que tu veuilles que tes parents te pleurent », dit-elle froidement.Axel haussa un sourcil. Ses yeux s’écarquillèrent légèrement avant qu’un rire sec ne s’échappe de ses lèvres. « Et qui est censé faire ça ? Toi ? »Son amusement ne fit qu’alimenter sa rage.Yvana lui envoya une gifle dans le ventre avec assez de force pour le faire reculer en titubant.L’expression arroga
La fête se termina dans un flou.Les jeunes mariés se retirèrent dans leur chambre.Au moment où la porte se referma derrière eux avec un déclic, Axel attrapa Yvana par la taille avant qu’elle ne puisse réagir.« Je sais que tu veux me tuer », dit-il.Un sourire penaud étira ses lèvres tandis qu’il l’attirait davantage contre lui.« Considère ceci comme une introduction à ce que je nous réserve. »Il baissa la tête et mordilla légèrement sa lèvre inférieure.Une chaleur traversa la poitrine de Yvana.Elle le repoussa de toutes ses forces, mais Axel ne bougea pas d’un pouce.Son sourire s’élargit.« Ce n’est pas parce que je t’ai laissée me frapper toutes ces fois que je suis faible. »Ses mains glissèrent jusqu’à ses fesses.Les yeux de Yvana se rétrécirent.« Je te tuerai moi-même », grinça-t-elle entre ses dents.Axel leva les yeux au ciel.« Oh, jolie Madame Axel Royce. »Un rictus tira le coin de ses lèvres.« Plus vite tu réaliseras que tu es à moi, mieux tu dormiras la nuit. »I
La célébration battait son plein tandis que les jeunes mariés et leurs parents s’avançaient sur la piste de danse. Une musique douce flottait dans la grande salle de bal tandis que les invités observaient avec des sourires et des verres levés.« Votre famille semble aimer danser toute la journée », remarqua Yvana en observant la foule avec peu d’intérêt.Axel laissa échapper un rire sec.« Alors vos parents doivent passer leurs journées à servir des tables. »Yvana ignora la pique.« Organiser une fête pour le mariage qu’ils ont acheté pour leur fils grossier. » Un sourire narquois étira ses lèvres.Pendant un bref instant, les sourcils d’Axel se froncèrent avant que l’expression ne disparaisse.« Tu sais », dit-il paresseusement, « c’est l’un des nombreux noms que les gens me donnent. »Un lent sourire apparut sur son visage.« Mais regarde à qui le monde entier t’associe. »Le dégoût traversa le visage de Yvana.« Juste six mois », lui rappela-t-elle sèchement. « Ne l’oublie pas. »
Le salon était plein à craquer d'invités venus de tout le continent. Le doux tintement des verres emplissait l'air, se mêlant à des murmures qui montaient et descendaient comme des vagues dans le vaste espace.Les serveurs s'activaient avec une précision discrète, portant en équilibre des plateaux
Au manoir Royce...« Je me fiche complètement de ce que vous avez arrangé. Je ne me marierai pas », tonna Axel, faisant trembler les domestiques.« Et nous ne vous avons pas demandé votre avis. Les arrangements ont déjà été pris », répondit froidement M. Royce.Axel se tourna vers sa mère, Mme Kath
Tout le monde éclata d'un rire moqueur et bruyant, pointant Yvana du doigt.« Quelle idiote de croire que moi, Axel Royce, je pourrais aimer une pauvre grosse idiote comme elle ! » dit Axel en se tenant le ventre, pris d'un fou rire.Yvana resta figée, fixant son reflet sur l'écran.Les larmes lui
La voiture s'arrêta brusquement devant le manoir Ravenscroft. Avant même que le moteur ne s'éteigne, la présence imposante de la demeure se fit sentir, massive et inquiétante. À l'entrée, le personnel, hommes et femmes, se tenait en rangs serrés, dos à dos, leurs uniformes noirs et blancs impeccabl






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.