LOGIN"Gila!"
Aryan, salah seorang teman dekat Killian yang sedang membuka ponselnya tiba-tiba saja berteriak keras dan menarik perhatian Killian. "Ada apa?" Bastian, salah satu teman dekat Killian yang lain. "Lo lihat nih!" Aryan menyodorkan ponselnya ke hadapan wajah Bastian. "Gue nggak nyangka, selama ini ternyata Kill backstreet sama tuh anak beasiswa!" Killian mengernyitkan dahinya samar. Anak beasiswa? Siapa yang dimaksud Aryan? Bastian mengernyitkan dahi. "Dia Aria Valencia kan? Adik tingkat kita yang terkenal itu, kan?" Killian langsung merampas ponsel Aryan dan melihat fotonya dan Aria tadi pagi terpampang di sana. Wajahnya yang terasa datar tanpa ekspresi itu terasa semakin menyeramkan. Bahkan, seperti ada hawa dingin yang menyebar dan membuat kedua temannya menggigil kedinginan. 'Kenapa foto gue sama dia bisa muncul di akun gosip kampus?' batin Killian. Padahal Killian yakin tidak ada yang melihat interaksi mereka sebelumnya, tapi kenapa bisa jadi begini ceritanya? Aryan tiba-tiba saja merangkul bahu Killian dengan wajah yang terlihat sok akrab. "Jadi, Kill-chan!" Itu adalah panggilan mengejek khas Aryan yang seorang WIBU akut untuk Killian Elgara. Killian meliriknya dari ekor mata. "Apa?" "Ada hubungan apa lo sama Aria, Kill-chan?" Bastian sampai ikut menggoda Killian dengan menaik-turunkan alisnya. Killian masih tetap tenang. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Dia mengembalikan ponsel Aryan kembali ke pemiliknya dan mengangkat bahunya ringan. "Nggak ada." "Oh, yaaaa!" Nada bicara Aryan benar-benar membuat Killian ingin menghantam kepalanya dengan sebuah kepalan tangan. Dia memang sangat mengesalkan. "Oh, yeaaah!" Bastian yang kadang masih setengah waras pun sampai ikut-ikutan menyudutkan Killian. Sayangnya, usaha mereka belum keras. "Hm." Aryan menoleh ke arah Bastian. "Aneh, nggak, sih, Bas?" Bastian mengangguk. "Aneh banget, Ar!" "Iya, kan? Kalau nggak ada hubungan apa-apa, kenapa mereka berangkat bareng segala?" "Hooh!" Bastian mengangguk setuju. "Mana pakai acara ngetem dulu di halte bus, tukeran hape pula, lagi ngapain coba mereka di sana?" Killian masih tetap tenang. Dia sama sekali tidak terusik oleh dua sahabat baiknya ini. "Iya, kan? Kalau emang nggak sengaja ngajak bareng, ya udah, bawa masuk aja, ngapain malah berhenti di halte bus segala?" "Naaahhh!" Bastian melirik Killian. Benar-benar tenang sekali. Sepertinya dia harus segera menambahkan minyak di atas api. "Jangan bilang, lo malu punya cewek kayak dia ya, Kill-chan?" Killian mulai meliriknya dengan mata hitam setajam elang dan hal itu membuat Bastian senang bukan main, karena sepertinya cara ini cukup berhasil. "Masa iya seorang Killian Elgara bisa malu kek gitu, Bas?" "Ya, siapa tahu aja, kan?" Bastian menyeringai senang saat mendengar dengkusan Killian. "Padahal Aria cantik banget, loh! Walaupun dandanannya biasa aja, tapi kecantikan alaminya udah lumer-lumer sampai nggak muat gitu!" Aryan mengernyitkan dahi. Tumben-tumbenan temannya ini memuji seorang gadis, tapi saat Bastian diam-diam menikmati perubahan ekspresi Killian. Aryan pun mulai termotivasi untuk menambahkan minyak dalam kobaran api. "Tumben lo muji-muji cewek kayak gitu, jangan bilang lo naksir sama dia lagi?" "Yaaa, gimana yaaa ... dia kan cantik alami, pinter, berprestasi lagi. Kurang apa lagi coba? Soal dia yang katanya orang miskin itu, kan harta masih bisa dicari, masih ada banyak harapan buat masa depan kita nanti!" Aryan bertepuk tangan heboh. "Ebuseeettt, kayaknya niat lo udah bulat banget nih!" Aryan menyenggol bahu Killian. "Jadi Kill-chan, kalau lo nggak ada hubungan sama dia, mending kasih aja dia ke Bastian kita!" Killian melirik kedua temannya secara bergantian, lalu dia fokus menatap Bastian. "Lo mau?" Bastian mengangguk, walau entah mengapa dia agak kaku. "Ambil aja, gue nggak peduli juga." Bastian syok, Aryan apalagi. Dia tidak menyangka balasan Killian akan sedingin ini. Aryan tiba-tiba saja mengerjap saat kedua matanya menemukan sosok Aria sedang diseret dan dikawal oleh tiga cewek lain di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Aryan mengernyitkan dahi. "Lo yakin, beneran nggak peduli sama Aria, Kill-chan?" "Enggak." "Padahal gue mau kasih tahu lo sesuatu sekarang soal dia," kata Aryan. "Apa?" Aryan menepuk bahu Killian dan menunjuk suatu arah di bagian selatan di mana Aria sedang dikawal oleh tiga orang sekarang. Ekspresi Killian masih tetap tenang, tapi tatap matanya menajam. "Kayaknya dia mau dibully, deh?" Bastian berkata setelah dia mengikuti arah telunjuk tangan Aryan. Killian berdecak. "Terus, kenapa lo cuma diam aja?" "Hah?!" Bastian mengerjap. Dia menatap Killian dengan tatapan bingungnya. "Emang gue harus ngapain?" "Samperin lah!" perintah Killian kesal sendiri melihat temannya ini jadi lola begini. Sedangkan Aryan melepaskan rangkulannya dan tertawa keras melihat drama yang sedang dimainkan Bastian berakhir menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. "Buat apa?" "Katanya naksir sama dia." Killian mengusap wajahnya. "Kalau lo suka sama dia, ya samperin lah, tolongin dan jadi pahlawannya!" "Idih, ogah!" cibir Bastian, tidak lagi melanjutkan dramanya. "Lo aja sana, kan lo cowoknya!" "Gue nggak peduli." Killian pun melangkah pergi, tanpa rasa bersalah sedikit pun dia meninggalkan kedua temannya yang kini saling bertatapan dengan ekspresi penasaran bukan main. "Aslinya mereka beneran pacaran nggak, sih?" tanya Bastian, heran kenapa Killian masih tetap tenang dan santai padahal dia sudah berulah sejak tadi. Aryan yang sudah berhenti tertawa mengangkat bahunya santai. "Entahlah, kayaknya sih enggak!" 'Lagian perbedaan mereka terlalu besar, jaraknya terlalu lebar.' *** Plakkk! Plakkk! Kedua pipinya terasa panas saat Claudia menamparnya begitu mereka berempat memasuki kamar mandi. Fara dan Mona bahkan mengusir penghuni lain, karena mereka ingin menyiksa Aria sampai puas di tempat ini. "Lo didiemin aja malah makin nggak tahu diri, ya!" teriak Claudia murka sembari menendang tulang kaki Aria dan membuatnya berlutut di depan mereka. "Kemarin lo nyium pipi dia! Terus tadi pagi apa?! Lo berangkat bareng dia, jalang!" "A-aku nggak sengaja ditawarin sama Kak Killian buat berangkat bareng— ahh!" Fara menjambak rambut Aria dan memaksanya untuk berdiri lagi, kemudian meneriakinya. "Killian itu milik kita! Harusnya lo sadar diri dan jauhin dia, bukannya malah ganjen mulu sama dia!" Lalu Fara menghantamkan kepala Aria ke tembok di sampingnya. Aria merasa kepalanya mulai nyut-nyutan, kakinya juga sakit. Dia kesulitan berdiri, tapi lagi dan lagi rambutnya ditarik dan dia dipaksa untuk berdiri di depan mereka. "Kayaknya yang kemaren dia nggak anggap serius ancaman kita deh, Cla!" Mona memainkan ponsel di sebelah tangannya yang lain. "Gimana kalau kita telanjangin dia, terus kita lelang di sosial media! Siapa tahu dia makin laku dan pelanggannya makin banyak sampai dia nggak ada pikiran buat gangguin Killian lagi ke depannya?" Claudia melirik Mona tajam. "Ide lo terlalu ekstrim, Mon." "Gue udah kesel banget sama dia tahu, Cla?" Mona mendorong Aria dengan kuat hingga tubuhnya ambruk dengan mengenaskan di lantai kamar mandi. "Semua cowok yang gue incer tiba-tiba aja naksir sama dia semua, loh! Apa-apaan coba!" "Apaan itu?" Fara menatap Mona dengan tatapan tidak percaya. "Iya, kan? Gue udah deketin tiga orang biar nggak rebutan Killian lagi sama kalian, tapi faktanya apa!" Mona menginjak perut Aria di bawah sana. "Mereka semua naksir sama nih cewek sialan!" Claudia memejamkan mata. "Kayaknya, kita emang harus bikin pelajaran yang serius buat dia." Dia menatap Fara. "Cari selang air atau gayung, kita guyur dia pakai air, lalu kita videoin dia dalam keadaan memalukan kayak gitu!" "Oke!" "Siap, Cla!" "J-jangan, Kak! Aku beneran nggak tahu semua itu, aku nggak sengaja, aku nggak tahu apa-apa!" Aria memelas. Dia mencoba membela dirinya, tapi Claudia menatapnya sinis. "Emang lo pikir, gue bakal peduli sama lo, gitu?" "Ayo, Cla! Kita mulai proyeknya sekarang!" 'Jangan salahin gue yang harus bertindak kejam, Aria Valencia!' batin Mona, penuh kebencian."Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it
"Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju
Mengingat bagaimana sifat Adikara soal uang, Killian yakin ayahnya sudah menyiapkan uang bulanan untuk Aria. Namun kenapa, Aria belum menerima uang yang harusnya sudah berada di tangannya?Killian : Di mana uang bulanan Aria?Adikara : Apa yang ingin kamu lakukan?Killian berdecak pelan. Rubah tua itu pasti berpikir jika dia akan menggunakan uang Aria untuk kepentingannya sendiri. Padahal, dia tidak membutuhkan uang itu sama sekali.Killian : Aria belum menerima uang bulanannya sedikit pun. Apa papa sengaja membuatnya miskin seperti itu?Adikara : Apa maksudmu? Jelas-jelas semuanya sudah papa atur sebelum pergi bulan madu.Killian : Faktanya, Aria memang belum mendapat uang bulanan sepeser pun dari papa.Adikara : Bagaimana bisa begitu?Killian : Bagaimana aku bisa tahu?Killian mendengkus kesal. Kalau dia tahu, dia tidak akan menanyakannya langsung pada rubah tua sialan ini!Adikara : Kalau begitu, coba kamu temui asisten pribadi papa di kantor. Papa menyerahkan semua urusan itu pada
Claudia menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tajam, wajahnya memerah, kedua tangannya mengepal.Dia membenci apa yang ada di hadapannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah dia dan kedua temannya dipanggil oleh Kaprodi dan diminta membuat klarifikasi formal tentang kasus mereka yang membully mahasiswa lain.Claudia langsung menemukan siapa orang yang sudah melaporkannya ke dosen, karena Claudia hanya pernah merundung satu orang selama beberapa bulan terakhir."Gue nggak nyangka, anak miskin itu rupanya berani juga!" desisnya pelan.Dalam klarifikasinya, Claudia menyangkal semuanya. Walaupun dosen sudah menyimpan barang buktinya, tapi semua itu hanya barang bukti dari masa lalu dan Claudia beralasan kalau dia sudah berubah sekarang.Oleh sebab itu, dalam waktu dekat ini dia tidak boleh gegabah dan menunjukkan banyak celah. Masalahnya, anak miskin itu sepertinya sengaja ingin membuatnya kembali berulah."Tunggu gue lepas dari pengawasan ini dan lo bakal abis di tangan
"K-kak!" cicit Aria pelan.Suaranya terdengar bergetar, kepalanya menunduk, memandangi tangan kanannya yang mulai dingin tapi masih bertautan dengan tangan kiri Killian.Killian yang mendengar panggilan Aria itu langsung menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh ke samping, menatap Aria yang wajahnya terlihat pucat."Kenapa?" Killian menatapnya lurus, tatap matanya begitu fokus yang menunjukkan jika dia tengah serius.Aria menelan ludahnya susah payah, keringat dingin mulai menetes pelan menuruni dahinya. "Apa Kak Killian tadi dengar sesuatu?"Sejenak, Killian terdiam. "Denger apa?"Aria menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, enggak, enggak ada apa-apa." Gadis itu meringis, tapi di dalam hati, dia kegirangan setengah mati, jika memang Killian tidak mendengar apa pun dari mulutnya tadi.Killian yang melihat itu menyeringai tipis. Dia menarik tangan Aria ke salah satu sudut lorong yang sepi, lalu mengurung tubuh adik tirinya itu ke tembok yang ada di belakangnya.Kejadiannya begi
Saat itulah suara Killian terngiang-ngiang di kepalanya. Aria mengepalkan kedua tangannya kuat, membulatkan tekadnya, sebelum mulai mengangkat kepala, dan balas menatap mereka.'Kalau lo cuma diem aja kayak gini, lo cuma bakal ngerepotin gue sama Revan.'Tidak. Aria tidak boleh merepotkan kedua kakak tirinya lagi. Mereka sudah berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri dari jerat Claudia dan antek-anteknya.Aria tidak boleh terus seperti ini. Dia harus berubah. Dia harus menjadi lebih kuat dan lebih berani agar dia tidak mudah ditindas lagi.Aria harus menjadi jauh lebih kuat lagi. Dengan begitu, usaha kakak tirinya tidak akan berakhir sia-sia begitu saja.BRAKKK"Jawab berengsek! Lo kagak tuli, kan?"Aria memejamkan matanya, menarik napasnya panjang, lalu mengingat baik-baik bagaimana ekspresi wajah Killian selama ini.Aria meniru ekspresi Killian. Dia mengikutinya. Dengan wajah datar dan tatapan yang terlihat meremehkan, dia membalas tatapan Elina."Dari sisi mana kamu melihatku







