LOGIN"Kak ...."
"Hm?" Aria menatap Killian yang sedang menggendongnya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih karena Kakak sudah menyelamatkanku sebelumnya." "Gue cuma nggak sengaja salah masuk toilet aja. Lo nggak perlu berterima kasih kayak gitu ke gue," balas Killian cuek, kepalanya berpaling ke arah lain dan saat itulah dia mendengar suara mahasiswa lain yang mulai berisik. Aria ikut memandangi sekitarnya dan suara-suara itu menyadarkan Aria pada masalah baru yang mungkin saja akan dihadapinya besok. Aria menundukkan kepala, tangannya tanpa sadar sudah mencengkeram bagian depan kaus yang Killian gunakan dan hal itu menarik perhatian Killian secara diam-diam. "Apa yang lagi lo pikirin?" Aria menggeleng dengan cepat. "E-enggak, enggak ada apa-apa kok, Kak." Setelah mengenalnya cukup lama, Killian tahu Aria sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Laki-laki itu mendengkus pelan. "Lo khawatir sama ucapan mereka?" Killian menatap kerumunan yang sejak tadi terus saja memandangi mereka berdua dengan wajah penasaran. Aria menganggukkan kepala. "Aku takut, aku bakal bikin masalah baru buat Kakak." "Emang siapa yang berani bikin masalah sama gue di sini?" Killian mendengkus lagi. Aria terdiam. Ucapan Killian ada benarnya. Killian adalah kakak kelas yang dihormati oleh banyak orang. Walaupun hormatnya tidak ditunjukkan secara terang-terangan, tapi bukti bahwa sebagian besar mahasiswa mengikuti dan mau mendengarkannya ada di mana-mana. "Lagian, mereka semua cuma orang asing, Aria. Lo nggak perlu khawatir soal pandangan mereka ke kita. Mending lo fokus sama diri lo sendiri sekarang." Aria terdiam cukup lama, sebelum mengangguk patuh. "Baik, Kak." Killian membawanya menuju ruang kesehatan, lalu dia meletakkan tubuh Aria ke atas ranjang. "Lo rebahan aja dulu, gue cariin baju ganti buat lo!" Tanpa menunggu jawaban Aria, Killian berbalik pergi dan langsung menghubungi kakak kandungnya yang juga ada di kampus ini. Killian bisa saja menghubungi kedua temannya tadi, tapi dia merasa gengsi. Selain itu, Bastian tadi bilang kalau dia memiliki perasaan pada Aria. Jika dua orang itu nantinya berjodoh, bukankah Bastian akan berakhir menjadi adik iparnya? 'Gue males banget bayangin iparan sama dia,' batin Killian. "Van!" sapa Killian, langsung begitu panggilan telepon mereka tersambung. Tidak ada respon apa pun di seberang panggilan. "Oi!" Masih diam, tidak ada suara apa pun yang terdengar di seberang sana. Killian mengecek panggilan yang masih berlangsung di seberang. "Jadi bisu lo sekarang, hah?!" "Ck!" Suara decakan mulai terdengar di seberang sana. "Harusnya lo sadar diri kenapa gue cuma diam aja dari tadi." "Kenapa emangnya?" Killian terlihat sangat cuek sekali menanggapi ucapan kakak ketiganya itu. "Gue masih kakak kandung lo btw dan lo manggil gue kayak gitu?" "Biasanya juga gimana?" Killian mendengkus pelan. "Minimal, kalau lo nggak mau manggil gue 'kakak', lo bisa manggil gue 'bapak'. Gue masih dosen lo di sini, Killian!" geram Revan Sabara, kakak nomor tiga Killian. "Pengen banget lo dianggap tua sama gue ya, Van?" "SIALAN LO YA!" Sosok di seberang sana terdengar marah. "Dasar adik nggak tahu sopan santun! Bisa-bisanya lo ngomong kayak gini ke gue!" Killian memutar bola matanya tak peduli. "Semua itu nggak penting, ada yang jauh lebih penting sekarang." "Ohhh, apa yang jauh lebih penting dari sopan santun lo yang hilang entah ke mana itu—" "Salah satu mahasiswi lo sekaligus adik tiri kita baru aja dibully sama mahasiswi lain, bajunya basah semua dan sekarang dia butuh baju ganti. Sebagai seorang dosen dan kakak tiri yang baik, harusnya lo tahu kan apa yang harus lo lakuin sekarang?" "Lo minta gue nganterin baju ganti buat dia?" "Tepat." Killian tersenyum samar, kakaknya ini ternyata jauh lebih peka darinya. "Kenapa nggak lo aja yang pergi ngambilin baju ganti buat dia?" "Gue harus jaga dia. Siapa tahu pembully-nya bakal balik lagi buat ngancam dia biar nggak lapor ke dosn, kan?" dalih Killian. padahal dia hanya terlalu malas beranjak pergi dari sana sana. "Temen-temen lo kan ada?" "Gue sendirian, mereka nggak ada di sini, karena gue nggak sengaja nyelametin dia tadi." "Oke." Revan mendesah kasar. "Sekarang, lo ada di mana?" "Ruang kesehatan, jangan lupa bawa baju ganti cewek secepatnya, ya!" Setelah itu, Killian mematikan panggilan tanpa pamitan pada kakak ketiganya itu. Dia kembali masuk ke dalam, melihat Aria yang duduk di atas ranjang tanpa berusaha pindah sedikit pun. "Kenapa nggak rebahan aja?" tanya Killian, mendekati Aria dan mengecek suhu keningnya. Agak panas, apa mungkin dia demam? Aria terkejut sejenak dengan tindakan tiba-tiba Killian, tapi gadis itu bisa memahaminya. "Nanti kasurnya jadi basah semua, Kak. Nggak enak sama petugasnya." "Ya biarin aja, itu urusan orang-orang bagian kesehatan Aria." "Aku yang enggak enak, Kak." "Enakin aja, apa susahnya." Killian menarik kursi, lalu duduk di sana dengan nyaman. "Baju gantinya bentar lagi sampai. Kakak ketiga yang bakal bawa bajunya ke sini." Aria mengangguk mengerti. "Terima kasih, Kak. Maaf, aku sudah merepotkan kalian semua." Aria menundukkan kepalanya. Dia benar-benar telah merepotkan keluarga barunya. Dia merasa tidak enak pada mereka. Padahal, rencananya, dia akan menjadi adik tiri yang tidak dianggap oleh mereka berempat, tapi .... "Gue udah bilang, lo nggak perlu berterima kasih sama gue, kan?" Aria menggeleng pelan. "Aku masih tetap harus berterima kasih sama Kakak." Aria mendongak, menatap Killian yang sedang memperhatikannya dalam diam. "Kalau kakak nggak nyelamatin aku tadi, mungkin semua ini akanjadi semakin lebih buruk lagi. Jadi, aku harus berterima kasih sama kakak!" "Gimanapun juga, sekarang lo itu adek tiri gue. Bokap udah nyuruh gue buat jagain lo selama lo kuliah, jadi gue bakal merepotkan diri buat jagain lo selama kuliah di sini." Killian mendengkus kesal. "Kalau lo emang mau berterima kasih, bilang makasih ke bokap gue aja." Aria menggeleng pelan. "Walaupun papa yang nyuruh kakak, tapi kakak bisa aja tetap tidak peduli dan pura-pura tidak melihatku, kan?" "Siapa yang tahu, pas udah pulang nanti lo bakalan ngadu sama bokap gue, kan?" "Aku nggak akan ngelakuin itu." Aria menggelengkan kepala. "Aku nggak mungkin ngerepotin papa dan kakak-kakakku." "Kalau lo emang nggak mau ngerepotin kami, harusnya lo mulai berpikir gimana cara ngelawan mereka semua saat ini." Aria mengerjapkan kedua matanya, kepalanya mendongak, menatap Killian dengan tatapan tidak percaya. "Kalau lo cuma diam dan pasrah dibully kayak gitu waktu lo dibully, yang ada bully-annya semakin menjadi. Lo harus belajar gimana cara melawan balik, lo harus belajar gimana cara membela diri yang baik. Kalau lo cuma diam aja kayak gitu, mereka bakal datang lagi dan lagi cuma buat gangguin lo seumur hidup lo nanti." Itu benar. Ucapan Killian memang benar, tapi dia melawan balik? Apakah dia bisa melakukannya? "Apa yang masih bikin lo ragu? Apa yang bikin lo takut, Aria?" Killian menatap adiknya lurus. "Lo nggak sendirian di dunia ini, Aria. Ada gue, ada kakak tiri lo yang lain, lo bisa melalui ini dengan mudah kalau lo mau mengandalkan kami." "A-apa ...."Kak Alva : Selamat siang, Aria!Aria : Selamat siang, Kak Al!Kak Alva : Apa kamu sudah memutuskannya?Aria : Memutuskan apa, Kak?Kak Alva : Bukannya kamu mau beli apartemen? Apa kamu sudah memutuskan mau beli apartemen di mana?Aria sontak meringis pelan ketika membaca pesan masuk dari kakaknya. Dia memang ingin membeli unit apartemen, tapi dia ingin membelinya menggunakan uang tabungannya sendiri, bukannya dibelikan oleh kakak pertamanya ini.Walaupun Aria tahu, harga sebuah unit apartemen bisa mencapai milyaran rupiah, tapi dengan uang saku sebulan seratus juta, ditambah nanti kalau dia sudah bekerja ... Aria rasa semua itu tidak akan mustahil untuk jadi realita.Aria : Aku akan membelinya sendiri dengan uangku, Kak. Aku akan menabung setiap hari hingga bisa membelinya.Tidak ada jawaban cepat yang datang. Aria pun menghela napasnya lega. "Apa sifat orang kaya memang seperti ini, ya?"Alicia yang juga berada di ruangan itu menoleh ke Aria. "Kenapa, Aria?"Aria menggeleng pelan. "T
"Kak!""Hm?""Aku rasa, ada yang salah dengan isi kepala Kak Al."Ucapan itu berhasil Rexan tersedak dan langsung menatap Aria horor. "Kamu bertemu Alva?"Aria mengangguk dengan wajah bingung yang terlihat lucu. "Kapan dan di mana kamu bertemu dengannya?" Rexan terlihat kaget sekaligus panik sekarang."Tadi pagi, Kak, di rumah. Kak Al pulang dan dia berencana untuk tinggal sementara waktu, Kak," jelas Aria.Rexan mengernyitkan dahi. Seorang Alva Nagara Putra yang mandiri dan sangat peduli dengan harga diri mana mungkin mau tinggal di rumah orang tuanya begini?!"Apa orang itu benar-benar Alva?" Rexan mengernyitkan dahinya curiga. Dia tidak yakin, pria ditemui Aria adalah kakaknya. "Alva yang aku kenal tidak akan mau tinggal di rumah orang tuanya apa pun yang terjadi."Aria mengerjapkan kedua matanya dengan wajah polos yang begitu menggemaskan. "Dia benar-benar Kak Al, kok.""Ohh, ya? Dari mana kamu tahu kalau dia adalah Alva?""Wajahnya mirip kalian, selain itu Kak Killian juga terli
Aria terkejut melihat sosok pria dewasa memakai kemeja dan celana rapi sedang duduk di kursi meja makan. Bukan karena kehadirannya yang tiba-tiba, tapi karena dia berani duduk di kursi milik kepala keluarga.'Apa dia Kak Al?'Aria memperhatikan wajah tampan itu dengan teliti. Pria itu memang terlihat mirip dengan kakak tirinya yang lain. Tentu saja dalam versi yang lebih dewasa dari dua kakak kembarnya.Apakah pria tampan itu benar-benar kakak pertamanya?"Selamat pagi, Kak Al!" Aria memutuskan untuk menyapa, karena rasa penasaran pada pria yang duduk si seberang meja.Pria yang sejak tadi hanya memejamkan matanya dengan ekspresi wajah datar itu akhirnya mau membuka matanya. Dia menoleh ke arah Aria dan saat itu dia terkejut melihat rupa adik tirinya."Kamu ...." Alva Nagara Putra menelan kembali kalimatnya.Sedangkan Aria memiringkan kepalanya, kedua matanya mengerjap, menunjukkan kebingungan yang nyata. "Aku kenapa, Kak?"Alva menggeleng. "Lupakan. Di mana Killian?"Aria menoleh ke
Aria masih terdiam. Dia tampak merenungi kelakuannya yang telah menghabiskan dua puluh juta dalam hitungan menit saja. Walaupun laptop memang menjadi salah satu barang yang dia perlukan untuk kuliah, tapi harusnya dia tidak perlu membeli laptop yang mahal itu, kan?Aria menghembuskan napasnya berat. Setelah keluarganya bangkrut beberapa tahun lalu, Aria memang tidak pernah lagi menghabiskan uang sebanyak itu.Bahkan, dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu lagi dalam beberapa tahun terakhir, hingga Aria lupa ... kalau dulu dia pernah menjadi anak orang kaya juga."Kenapa?" Killian tampak geli melihat ekspresi Aria sejak tadi. "Jangan bilang, lo masih nggak ikhlas ngeluarin uang buat beli laptop itu, ya?"Aria mengulum senyum getir. Dia ingin menganggukkan kepala, tapi dia takut menyinggung perasaan kakaknya. Apalagi Aria sekarang telah menjadi bagian dari keluarga Putra, hanya dua puluh juta bagi keluarga ini jelas bukan nominal seberapa."Kalau lo masih nggak ikhlas, gue bisa gan
Setelah makan malam dan menyuruh Aria untuk istirahat di kamarnya, ketiga tuan muda keluarga Putra berkumpul di ruang keluarga."Jadi, Aria sebenernya sakit apa?"Killian memang bertanya, tapi tatapan matanya sejak tadi tertuju pada layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan, karena tangannya tak kunjung berhenti bergerak mengusap layar."Entahlah." Rexan mengembuskan napas berat. "Gue juga nggak tahu."Tangan Killian berhenti bergerak, kepalanya mendongak, menatap sang kakak yang terkenal sebagai seorang dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit tempat Aria dirawat sebelumnya dengan tatapan heran."Kenapa bisa nggak tahu?""Karena psikiaternya nggak mau ngasih tahu." Rexan balas menatap Killian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan."Bukannya lo yang punya rumah sakit itu?""Hm." Rexan mengangguk."Kenapa lo nggak dikasih tahu?""Karena itu termasuk privasi pasien." Rexan tersenyum masam. "Psikiaternya nggak mau ngasih tahu gue, karena emang Aria nggak ngizinin gue buat tahu
"Kamu yakin mau langsung pulang?"Rexan tampak tidak senang mendengar kabar kalau Aria sudah diperbolehkan untuk pulang. Padahal, dia berharap Aria akan menginap selama satu atau dua hari ke depan untuk observasi lebih lanjut, tapi Aria malah menolaknya.Aria menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Lagian aku udah baik-baik saja sekarang."Tentu saja Aria mau pulang secepatnya. Jika dia sampai dirawat, bukankah keluarga barunya akan menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatannya?Lagi pula, Alicia bilang tidak masalah kalau Aria mau pulang sekarang. Asalkan dia berjanji akan kembali lagi jika sesuatu terjadi atau mungkin Aria perlu konsultasi mengenai kondisi terbarunya."Jangan berbohong, Aria. Aku tidak mau melihatmu pingsan lagi dengan alasan tidak jelas seperti tadi." Rexan menatap adik tirinya lurus.Aria hanya mengulum senyum menenangkan. "Kak Alicia sudah memberiku obat tadi, kan? Obat itu sudah lebih dari cukup untuk mengatasi semua masalahku, Kak."Rahang Rexan menegang, ekspr







