Share

Bab 7

Author: Mika Rani
"Buka pintunya! Cepat buka pintunya!"

Di luar pintu, suara Valdo terdengar makin tidak sabar.

Leeon memberi isyarat pada Mitzy dengan matanya. Pria itu menyuruhnya bersembunyi di kamar mandi.

Mitzy mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi.

Leeon pun berbalik, lalu melangkah dengan tenang menuju pintu kamar yang terus digedor keras dan menarik pintu itu hingga terbuka.

Di luar, Valdo sudah mengangkat kaki dan hendak mendobrak pintu. Begitu pintu tiba-tiba terbuka, gerakannya langsung membeku di udara.

Leeon melirik Valdo, lalu melirik dua pria di belakangnya yang memegang ponsel. Mereka terlihat seperti sedang merekam. "Semuanya, ada keperluan apa kalian membuat keributan di depan pintu kamarku seperti ini?"

Valdo tidak menyangka orang yang membuka pintu adalah pria dengan aura begitu berkelas. Yang paling membuatnya terkejut adalah pria ini sama sekali tidak terlihat panik seperti orang yang tertangkap basah berselingkuh.

"Aku mencari istriku!" seru Valdo sambil melongok ke dalam kamar. "Mitzy, aku tahu kamu ada di dalam! Cepat keluar!"

Tidak puas hanya berteriak, Valdo bahkan berniat menerobos masuk.

Leeon mengangkat lengannya dan menghalangi jalan Valdo.

"Pak Valdo, masuk ke kamarku tanpa izin adalah tindakan ilegal."

Valdo menyipitkan mata dan menatap Leeon lebih saksama. "Kamu kenal aku?"

"Tahun lalu di Konferensi Pengusaha Tigessa di Lonndo, aku sempat bertemu Pak Valdo."

Konferensi Pengusaha Tigessa bukan acara yang bisa dihadiri sembarang orang. Valdo sendiri bisa ikut hanya karena menumpang nama besar ayahnya.

Dari situ, Valdo sadar bahwa pria di depannya jelas bukan orang biasa.

Sikap Valdo pun sedikit melunak. "Boleh tahu kamu siapa?"

Leeon mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkannya dengan santai.

Begitu melirik kartu itu, telapak tangan Valdo langsung berkeringat dingin.

Pria ini ternyata adalah pendiri Firma Hukum Scalate, Leeon!

Valdo pernah mendengar ayahnya menyebut nama ini. Dalam dunia hukum, Leeon bukan sekadar pengacara sukses, tetapi juga sosok dengan jaringan relasi yang sangat dalam. Selain para tokoh besar di bidang hukum dan pejabat penting di sistem peradilan, jaringannya juga menjalar rapi ke dunia keuangan, properti, teknologi, bahkan bidang-bidang yang lebih tertutup.

Leeon juga bukan sekadar penasihat hukum biasa. Dia lebih sering berperan sebagai "pembersih" dan "ahli strategi". Banyak kasus akuisisi lintas negara perusahaan besar serta konflik gelap antara dunia politik dan bisnis, akhirnya bisa berbalik arah lewat celah hukum atau bukti krusial yang dia temukan dan kendalikan.

"Ternyata kamu Pak Leeon dari Firma Hukum Scalate?" Sikap Valdo langsung berubah drastis. "Aduh, ini benar-benar salah paham besar. Maafkan aku. Aku nggak tahu yang menginap di sini adalah kamu!"

"Sekarang, apa Pak Valdo masih merasa istrimu ada di kamarku?" tanya Leeon dengan nada datar.

"Nggak kok. Wanita rendahan seperti dia, mana mungkin bisa membuatmu tertarik?" Valdo mundur dua langkah sebelum meminta maaf, "Maaf atas ketidaksopananku hari ini. Pak Leeon, tolong jangan dimasukkan ke hati ya."

Leeon mengangguk dan hendak menutup pintu, tetapi tiba-tiba Valdo melihat bekas ciuman samar di belakang kerah kemejanya.

Bekas itu merah segar dan jelas baru saja terbentuk.

"Tunggu, Pak Leeon," ucap Valdo dengan nada hati-hati sambil menunjuk lehernya. "Sepertinya, ada sesuatu di lehermu."

Leeon tidak berusaha menutupi. Dia malah memutar lehernya dan memperlihatkan bekas ciuman itu dengan terang-terangan. "Kenapa? Pak Valdo tertarik dengan urusan pribadiku?"

Tatapan Leeon begitu menekan. Itu langsung menghancurkan sisa niat menyelidik Valdo.

"Bukan begitu maksudku." Valdo buru-buru tersenyum canggung. "Aku nggak akan mengganggu istirahat Pak Leeon lagi. Permisi."

....

Mitzy bersembunyi di kamar mandi dan mendengar seluruh percakapan antara Leeon dan Valdo.

Siapa sangka, krisis yang membuat Mitzy luar biasa ketakutan itu bisa diselesaikan hanya dengan satu kartu nama dari Leeon.

Kejadian ini sekali lagi membuktikan bahwa pria miskin dulu itu sudah benar-benar berbeda sekarang.

"Keluar," kata Leeon.

Mitzy membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar.

Leeon berdiri di depan jendela besar.

"Pak Leeon, makasih sudah membantu," kata Mitzy.

Ucapan terima kasih itu diiringi rasa tidak enak hati.

Bagaimanapun, Mitzy tahu Leeon bukan membantu karena niat baik semata.

Benar saja, ekspresi Leeon sama sekali tidak berubah karena ucapan terima kasih darinya.

"Makasih?" Leeon tertawa pelan, lalu berbicara dengan nada mengejek, "Menyeretku ke masalah seperti ini, lalu cuma dibayar dengan satu kata terima kasih?"

"Ka ... kalau begitu, kamu maunya apa?"

Leeon melangkah mendekat. Dia perlahan menekan jarak di antara mereka.

"Aku nggak mau jadi selingkuhan tanpa imbalan."

Begitu kata-kata itu keluar, Leeon tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Mitzy dengan kuat. Rasa sakit membuat Mitzy meringis. Seketika, tenaga besar menariknya dengan kasar hingga wanita itu terjatuh ke atas ranjang di belakangnya.

Mitzy terkejut dan berusaha bangkit, tetapi Leeon sudah menindihnya. Pria itu bertumpu dengan satu lutut di tepi ranjang. Kedua tangannya menahan di sisi tubuh Mitzy dan mengurung wanita itu di bawah bayangannya.

"Apa yang kamu lakukan?" Mitzy mengulurkan tangan dan mendorong dadanya. "Bukannya kamu punya prinsip nggak tidur dengan wanita bersuami?"

"Memangnya prinsipku penting?" Leeon menatapnya dari atas. Tatapannya dipenuhi amarah karena dipermainkan dan rasa tidak suka karena dimanfaatkan. "Dulu saat ingin aku jadi pacarmu, kamu melakukan segala cara supaya aku mau. Hari ini, saat ingin aku jadi selingkuhanmu, kamu juga melakukan apa pun untuk menyeretku. Bukannya dari dulu selalu Nona Mitzy yang menentukan segalanya di antara kita?"

Aroma dingin bercampur hangat dari tubuh Leeon membuat kepala Mitzy berputar.

Wanita itu teringat masa lalu. Memang benar, dulu dialah yang lebih dulu menyukai Leeon dan dialah yang lebih dulu mendekati pria itu.

Kala itu, Leeon masih anak dari pembantu Keluarga Gozali. Pertemuan pertama mereka terjadi di taman rumah Keluarga Gozali. Hari itu, Mitzy sedang bermain frisbee dengan anjing Golden Retriever peliharaannya. Frisbee warna-warni itu melayang keluar jalur dan hampir mengenai Leeon yang datang mengantar obat untuk ibunya.

Leeon mengangkat tangan dan dengan mantap menangkap frisbee itu di udara.

Di bawah sinar matahari, Leeon mengenakan kemeja putih sederhana. Lengannya digulung sedikit sehingga garis lengannya terlihat rapi. Wajahnya tampan, sementara sorot matanya seperti danau yang dalam. Sekali melihatnya, Mitzy langsung jatuh hati.

Saat Leeon mengembalikan frisbee, ujung jari mereka bersentuhan tanpa sengaja. Mitzy merasakan aliran aneh menjalar di tubuhnya dan jantungnya bahkan berdegup kencang. Saat itu juga, dia memutuskan satu hal. Dia akan mengejar pria ini!

Sejak saat itu, Mitzy mulai mengejar Leeon ke mana-mana.

Pada awalnya, Leeon menolak dengan tegas. Dia tahu latar belakang keluarganya yang miskin tidak sebanding dengan Mitzy yang terhormat. Namun, Mitzy bukan tipe yang mudah menyerah. Penolakan Leeon justru membuatnya makin gigih.

Di kelas UUD pada hari Jumat, dosen selalu mendapati jumlah mahasiswa hadir satu orang lebih banyak dari seharusnya. Di kantin, Mitzy selalu kebetulan muncul di jam makan Leeon, kebetulan duduk di depannya, juga kebetulan mengambil lauk daging terlalu banyak dan membagi ke piring pria itu. Di bar tempat Leeon bekerja paruh waktu, Mitzy sering datang bersama teman-temannya, bahkan memesan minuman mahal tanpa ragu.

Selama tiga tahun, Mitzy seperti sinar matahari yang tak pernah pergi. Dia begitu keras kepala ingin menerobos hati Leeon yang tertutup. Pria itu menghindar, kesal, dan lelah, tetapi tanpa sadar terbiasa dengan kehadirannya. Hingga akhirnya, Leeon menyerah dan jatuh ke dalam pelukan Mitzy. Namun setelah bersama hanya tiga bulan, tepat saat cinta Leeon sedang menggebu-gebu, Mitzy tiba-tiba pergi, memutuskan hubungan mereka, dan bertunangan dengan pria lain.

Dunia Leeon hancur berantakan karena Mitzy. Bahkan, ibunya mengalami kecelakaan lalu lintas karena masalah mereka, serta kehilangan kedua kakinya dan menjadi cacat seumur hidup.

"Nona Mitzy, apa kamu sudah lupa gimana dulu kamu merayuku, tidur denganku, lalu membuangku begitu saja?" Leeon mencengkeram lehernya erat-erat. Sepasang matanya memerah, seakan-akan ada kebencian yang membara. "Tapi sekarang, situasinya sudah berbeda. Aku bukan orang yang bisa kamu pakai lalu buang sesuka hati lagi!"

"Lepaskan aku!"

Mitzy merasa lehernya hampir remuk. Dia mendorong Leeon dengan keras. Namun sebelum sempat turun dari ranjang, dia kembali ditarik dan ditahan di bawah tubuh Leeon.

"Kenapa kabur?" Leeon melepas dasinya, lalu membuka kancing kemeja satu per satu sambil berucap dingin, "Karena sudah telanjur dicap selingkuh, kalau nggak benar-benar selingkuh, bukannya semua ini jadi sia-sia?"

Mitzy melihat otot perut Leeon yang tegas. Kenangan lama seakan-akan terbuka kembali.

Enam tahun lalu, di musim panas yang pengap, dua tubuh muda berada di sebuah kamar sewaan tua. Ada ciuman yang kikuk, sentuhan yang ragu, dan penyatuan yang gegabah. Tanpa teknik, tanpa aturan. Semua kedekatan itu lahir murni dari cinta yang meluap.

Sekarang, posisi mereka masih sama, tetapi yang tersisa hanyalah kebencian.

"Leeon, aku nggak mau tidur denganmu!" Mitzy mendongak sambil menatap Leeon. "Apa kamu lupa? Enam tahun lalu aku bilang, aku sudah bosan tidur denganmu."

Kata-kata itu seperti mantra terkutuk. Leeon pun tersentak. Tangannya langsung berhenti karena seluruh gairahnya lenyap.

Leeon bangkit dari ranjang, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

Sementara Mitzy bergegas bangkit. Bajunya masih lengkap, tetapi dia merasa apa yang baru saja terjadi jauh lebih memalukan daripada saat dia ditelanjangi dan dibawa ke kamar ini.

"Pergi," usir Leeon dengan suara dingin.

Baiklah, itu memang keinginan Mitzy.

Mitzy turun dari ranjang dengan cepat. Namun sebelum sempat berdiri tegak, rasa pusing menyerangnya.

Bagian belakang kepala wanita itu yang terbentur saat diberi obat masih terasa nyeri. Tarikan kasar di atas ranjang tadi juga telah menguras seluruh tenaganya.

Pandangan mata Mitzy tiba-tiba gelap.

Mitzy pun pingsan. Sebelum benar-benar jatuh, dia melihat Leeon membuang rokoknya dan berlari ke arahnya dengan sangat cepat.

....

Malam yang gelap terbelah oleh tirai hujan. Rolls-Royce Cullinan melaju kencang di jalan basah yang sepi, bagaikan pedang tajam yang membelah kegelapan.

Leeon menggenggam setir dengan erat. Buku-buku jarinya sudah memutih.

Pandangan matanya berulang kali melirik ke kursi penumpang.

Mitzy masih tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang kurus tenggelam di jok kulit yang lebar. Kepalanya miring lemah ke arah jendela. Di bawah cahaya panel dashboard, wajahnya pucat seperti kertas.

"Mitzy," panggil Leeon.

Tidak ada jawaban.

"Mitzy! Bangun!"

Tetap sunyi.

Tenggorokan Leeon terasa mengencang tanpa alasan.

Pria itu menekan tombol telepon mobil dan menelepon Irvan Imanuel.

"Pak Leeon, kemarin baru ketemu, hari ini kamu sudah kangen?" Suara Irvan terdengar santai.

"Aku bawa seseorang ke rumah sakit. Tolong bantu tangani ya."

"Ada apa?" Begitu mendengar bahwa ini soal menyelamatkan seseorang, nada bicara Irvan langsung menjadi lebih serius.

"Nggak tahu pasti. Orangnya tiba-tiba pingsan."

"Oke. Kamu masuk lewat UGD."

Lima belas menit kemudian, Mitzy diserahkan pada Irvan.

Untungnya, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada masalah serius. Hanya gegar otak ringan akibat benturan.

Mitzy pun dipindahkan ke bangsal biasa.

Wanita itu terbaring di ranjang putih bersih dengan mata terpejam dan wajah yang masih pucat.

"Kapan dia bisa sadar?" tanya Leeon.

"Nggak pasti. Bisa saja sebentar lagi, bisa juga besok," jawab Irvan sambil melirik Leeon.

Kemeja mahal Leeon yang biasanya rapi itu kini kusut, bahkan satu kancingnya salah dikancingkan. Kerahnya terbuka longgar dan bekas ciuman di lehernya terlihat sangat mencolok.

Irvan tersenyum penuh arti. Dia melangkah ke sisi Leeon dan menyentuh bahunya dengan papan rekam medis yang ada di tangannya. "Hebat juga kamu, Leeon. Kupikir kamu panik karena ada orang sakit, ternyata karena kamu sendiri yang membuatnya masuk rumah sakit? Kalian mainnya begitu ekstrem?"

Mendengar itu, Leeon berbalik dan menatap Irvan dengan tajam. Dia jelas sedang memberi peringatan agar Irvan berhenti bicara.

Di sisi lain, Irvan seolah-olah tidak melihat apa pun. Dia malah tersenyum makin tengil. "Lihat dirimu, acak-acakan begini. Perangnya pasti seru. Tapi, setidaknya kamu sedikit lebih lembut dong. Lihatlah lehernya sampai merah semua. Etikamu di ranjang ...."

"Irvan, kalau mulutmu nggak bisa dipakai dengan benar, lebih baik dijahit saja." Suara Leeon tidak keras, tetapi tekanan yang dibawanya begitu kuat.

"Oke, ini salahku." Irvan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, tetapi mulutnya tetap tak bisa diam. "Aku kira kamu sudah melupakannya. Nggak disangka baru pulang dari luar negeri, kalian balikan lagi. Eh, tapi bukannya dia sudah menikah? Kamu jadi selingkuhan demi cinta?"

Leeon terdiam.

"Sobat, jangan gegabah. Merusak rumah tangga orang itu aib. Dengarkan nasihatku. Dengan kondisi dan statusmu sekarang, mau wanita seperti apa juga bisa dapat. Kita harus jaga batas. Apa pun boleh, yang penting jangan jadi selingkuhan."

"Bisa diam nggak?"

Leeon memijat pelipisnya yang berdenyut, lalu menatap Mitzy di ranjang. Saat tertidur, dia terlihat lembut dan tak berbahaya, sama sekali tidak cocok dengan kalimat kejam "aku sudah bosan tidur denganmu".

Namun kenyataannya, dulu Mitzy memang mengatakannya. Bahkan hari ini, dia mengulanginya lagi di depan Leeon.

Leeon tidak akan pernah lupa bagaimana enam tahun lalu harga dirinya dihancurkan, bagaimana perasaannya dipermainkan, dan bagaimana keluarganya terluka. Bagaimana mungkin dia akan balikan dengan Mitzy?

"Aku dan dia sudah nggak punya kemungkinan apa pun," ucap Leeon dengan nada dingin. "Bagiku, dia sudah mati sejak enam tahun lalu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 50

    "Wah, hubungan kalian memang sangat akrab. Baru satu telepon saja, kamu langsung datang secepat ini." Di wajah Valdo tersungging senyum kemenangan, seolah rencananya telah berhasil.Mitzy langsung menyadari sesuatu. "Kamu yang suruh orang meneleponku?""Ya, aku yang suruh orang menelepon. Kalau nggak, gimana caranya aku bisa menemukan kamu yang begitu jago bersembunyi ini?"Setelah berhasil menemukan kembali Limy, Mitzy sudah memblokir semua kontak Valdo. Niatnya jelas. Sebelum perceraian resmi, dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Tak disangka, Valdo justru memaksanya muncul dengan cara seperti ini."Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."Mitzy berbalik dan hendak pergi, tetapi Valdo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan."Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" berontak Mitzy, tetapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Menyadari situasinya makin buruk, dia berteriak, "Tolong! Tolong!"Sayangnya, orang-orang di sek

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 49

    Leeon pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana ibu mertua Mitzy, Amanda, mendesaknya untuk melahirkan anak laki-laki. Itu sebabnya, dia tidak meragukan jawaban Mitzy sama sekali.Pria itu merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya, lalu memberi tahu Mitzy, "Hari ini, aku akan menyuruh orang menyiapkan surat gugatan. Besok, kita akan resmi mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.""Oke. Makasih, Pak Leeon. Kalau begitu silakan lanjut bekerja, aku pamit dulu."Sambil berkata demikian, Mitzy berdiri dan hendak pergi."Sudah selesai dimanfaatkan, mau langsung pergi?" Leeon mengulurkan tangan dan menarik Mitzy ke sisinya, lalu memaksa wanita itu duduk di atas pahanya. "Kamu anggap aku ini apa?"Mitzy merasakan paha keras Leeon yang bagaikan besi, serta perubahan pada tubuhnya.Astaga. Padahal sudah berlalu begitu lama, kenapa masih juga belum reda?Secara refleks Mitzy ingin melarikan diri, tetapi lengan Leeon melingkari pinggangnya dengan kuat dan menahannya agar tetap bera

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 48

    Mitzy sama sekali tidak menyangka Leeon akan melontarkan pertanyaan seperti itu.Alis dan mata Mitzy melengkung, sementara lesung pipinya terlihat samar saat dia tersenyum. "Pak Leeon, perlukah menanyakan hal yang begitu pribadi?""Tentu saja. Saat pengadilan menilai apakah hubungan emosional sudah benar-benar retak, mereka akan mempertimbangkan banyak faktor. Apakah hubungan suami istri sudah lama cuma tinggal nama adalah bukti penting untuk menunjukkan seberapa kuat keinginan kedua pihak untuk bercerai." Leeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Dia menatap Mitzy dengan sikap yang sangat rasional. "Kalau kamu nggak mau jawab, apakah aku boleh berasumsi bahwa hubungan kalian memang nggak harmonis?""Harmonis. Hubungan kami sangat harmonis. Selain saat masa menstruasi, hampir setiap hari bisa satu, dua, tiga, bahkan empat ronde. Detailnya nggak usah kujelaskan, takutnya nanti Pak Leeon malah minder.""Benarkah?" Leeon menggertakkan rahangnya,

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 47

    Hati Mitzy terasa seperti hancur mendengarnya.Limy memang dewasa sebelum waktunya. Justru karena anak itu terlalu pengertian, rasa perih di hati Mitzy menjadi makin dalam."Ibu, aku benci ayah. Perceraian itu bukan berarti ayah nggak mau aku dan Ibu lagi, tapi kita yang nggak mau dia," kata Limy sambil bersandar di pelukan Mitzy. Tangan kecilnya menangkup pipi Mitzy. "Ibu, waktu sendirian di Kota Herington, Ibu harus melindungi diri sendiri. Aku nggak mau melihat Ibu terluka lagi.""Ya," jawab Mitzy dengan suara tercekat sambil mengecup kening putrinya. "Limy, kamu juga harus menjaga diri dengan baik. Ibu sayang kamu.""Aku juga sayang Ibu."....Di perjalanan kembali ke kota, Mitzy terus menangis tanpa henti.Orang sering berkata bahwa cinta selalu disertai rasa berutang. Berhubung terlalu mencintai Limy, Mitzy justru kerap merasa telah berutang terlalu banyak pada anak itu. Identitas yang tak bisa dia ungkapkan dengan jujur, keluarga utuh yang tak mampu dia berikan, semuanya menjadi

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 46

    Tatapan Mitzy yang begitu berani dan terus terang membuat Leeon tiba-tiba merasa bahwa dirinya sangat konyol. Dia sungguh sudah gila, sampai-sampai coba mencari bukti bahwa dirinya pernah dicintai oleh Mitzy, bahkan bisa-bisanya dari anak yang wanita itu miliki bersama orang lain.Kalau Mitzy benar-benar pernah mencintainya, mana mungkin dia akan meninggalkan Leeon dengan begitu tegas, lalu menikah dan punya anak dengan pria lain?"Setelah anak itu sembuh, kirim dia pergi," ujar Leeon dengan nada dingin. "Aku nggak menerima transaksi beli satu gratis satu. Lagian aku juga nggak mau saat aku tidur denganmu, ada anak di samping yang merusak suasana."Transaksi.Tidur dengannya.Suasana.Kata-kata itu seperti diulang-ulang untuk mengingatkan Mitzy akan posisinya sekarang, bahwa kini dia hanyalah seseorang yang telah menjual dirinya sendiri dan tak lebih dari sekadar mainan.Mitzy menahan perih di dadanya, lalu mengangguk. "Tenang saja, Pak Leeon. Bahkan tanpa kamu katakan pun, aku akan me

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 45

    "Pak Leeon ...." Tatapan Mitzy penuh permohonan. Dia berharap Leeon sama sekali tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas di depan anak itu.Leeon menatapnya. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan genggaman tangannya."Mau sarapan apa? Aku suruh orang mengantarkannya."Mitzy akhirnya menghela napas lega. "Bubur saja."....Setelah menyemprotkan obat ke tenggorokan Limy, anak itu bilang ingin menonton "Peppo Pig". Ponsel Mitzy hampir kehabisan baterai, jadi dia membawa Limy turun ke bawah.Di ruang makan lantai bawah, Leeon sedang menyeduh kopi."Pak Leeon, boleh pinjam TV di rumahmu untuk menonton kartun sebentar?" tanya Mitzy."Remotnya ada di atas meja sofa.""Oke, makasih."Mitzy memutar "Peppo Pig" untuk Limy, lalu naik ke atas untuk membersihkan diri.Semalam, Mitzy sibuk mengurus Limy sampai kelabakan. Dia sama sekali tidak sempat merapikan diri. Untungnya saat Leeon menyuruh orang mengantar sarapan tadi, pria itu juga sekaligus meminta mereka membawakan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status