Share

Bab 6

Author: Mika Rani
Saat Mitzy kembali sadar, dia mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang sama sekali asing.

Kepalanya terasa sangat sakit, sementara kelopak matanya begitu berat sampai sulit dibuka. Setelah cukup lama menyesuaikan diri, pandangannya yang buram perlahan mulai fokus.

Itu adalah kamar yang sangat luas. Di atas kepala ranjang, tergantung sebuah lukisan minyak berukuran besar. Langit-langitnya polos, dengan lampu LED tersembunyi mengelilingi plafon yang saat ini tidak menyala. Di tengah langit-langit, tergantung sebuah lampu gantung berdesain sederhana yang memantulkan cahaya dingin dari kamar mandi.

Tirai berwarna abu-abu gelap tertutup rapat tanpa celah sedikit pun. Itu sepenuhnya menghalangi cahaya dari luar sehingga mustahil menebak apakah sekarang siang atau malam.

Mitzy duduk di atas ranjang. Saat selimut melorot, dia langsung menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan baju apa pun. Baju yang sebelumnya dia kenakan sudah dilepas dan dibuang begitu saja di lantai.

Untungnya, seprai di ranjang terlihat rapi. Selain sakit kepala, Mitzy tidak merasakan ketidaknyamanan lain pada tubuhnya.

Mitzy pun membungkuk dan hendak mengambil baju di lantai, tetapi tiba-tiba terdengar bunyi. Pintu kamar terbuka.

Ada seseorang masuk!

Jantung Mitzy langsung berdetak sangat kencang. Dia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan menatap ke arah pintu.

Sosok yang masuk membelakangi cahaya. Terlihat jelas bahwa itu adalah seorang pria bertubuh tinggi dan tegap. Saat dia melangkah makin dekat, wajahnya pun terlihat jelas. Kontur wajahnya tegas, sementara alis dan sorot matanya dingin. Itu Leeon!

Ini kamar Leeon?

Padahal yang memberinya obat jelas-jelas orang suruhan Valdo. Kenapa Mitzy justru dibawa ke kamar Leeon?

Mitzy benar-benar kebingungan.

Leeon mengenakan mantel gelap dengan potongan rapi. Di dalamnya, ada setelan jas yang tegap. Sambil berjalan masuk, dia melepas mantelnya dan melemparkannya ke sofa. Saat melirik sekilas, dia tiba-tiba melihat Mitzy di atas ranjang.

Berhubung di dalam kamarnya mendadak ada orang lain, alis Leeon langsung berkerut.

"Kenapa kamu ada di sini?"

Tatapan tajam Leeon tertuju padanya. Mitzy membungkus tubuhnya dengan selimutnya. Rambut panjangnya berantakan dan hanya memperlihatkan bahu putih di kedua sisi. Di atas karpet, berserakan sweter rajut, jin, dan ... satu set pakaian dalam berwarna terang. Semua itu tergeletak mencolok di dekat sepatu Leeon, seperti kelopak bunga yang gugur.

Jakun Leeon bergerak pelan. Dia mengalihkan pandangan dan melangkah menjauh sedikit.

"Mitzy." Leeon menyebut namanya kata demi kata. Suaranya terdengar sangat dingin ketika bertanya, "Trik apa yang lagi kamu mainkan?"

"Aku juga nggak tahu kenapa bisa ada di sini. Aku cuma ingat diriku dikasih obat."

"Dikasih obat?"

"Ya. Bisa nggak kamu ...."

"Nggak bisa!" Leeon langsung memotong perkataannya, lalu menolak dengan dingin, "Jangan mimpi. Aku nggak akan tidur dengan wanita bersuami."

Tidur?

Ternyata benar, saat seseorang benar-benar tak tahu harus berkata apa, yang keluar malah tawa.

Meski kepalanya terasa seperti mau pecah, Mitzy tetap tidak bisa menahan tawa kecil.

"Pak Leeon, jangan salah paham. Aku terkena obat bius, bukan obat perangsang. Selain itu, aku juga nggak berniat tidur denganmu."

Leeon terdiam.

"Maksudku, bisakah kamu berbalik badan sebentar? Aku mau pakai bajuku."

Leeon masih kehabisan kata-kata.

Suasananya jadi canggung.

Leeon mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu segera berbalik membelakangi Mitzy.

Mitzy bergegas memungut baju di lantai dan mengenakannya.

Dalam keheningan singkat itu, tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu yang keras dan mendadak dari kamar sebelah.

"Mitzy, dasar jalang! Sudah kuduga kamu nggak beres! Beraninya kamu ke sini untuk selingkuh! Buka pintunya! Cepat buka pintunya!"

Itu suara Valdo!

"Pasangan mesum sialan, cepat keluar! Aku mau lihat, pria liar mana yang berani menyentuh istriku! Buka pintunya! Kalian berdua cepat keluar!"

Dari kamar sebelah, segera terdengar teriakan marah seorang pria dan jeritan seorang wanita.

Mitzy langsung mengerti semuanya. Dari saat Chloe memberinya obat sampai adegan penangkapan basah yang heboh ini, semuanya adalah jebakan kotor yang disusun oleh Valdo. Hanya saja, entah di bagian mana terjadi kesalahan. Mitzy justru dikirim ke kamar Leeon.

Leeon pun dengan cepat memahami keseluruhan situasinya.

Pria itu berjalan mendekati dinding yang berbatasan dengan kamar sebelah dan menempelkan telinga sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin.

"Suamimu benar-benar berusaha keras supaya saat bercerai nanti kamu nggak mendapat apa pun," ucap Leeon yang dengan sengaja menekankan kata "suamimu".

Selama bertahun-tahun menikah dengan Valdo, Mitzy tidak pernah merasakan kebersamaan suami istri yang saling berbagi untung dan rugi. Namun saat ini, dia benar-benar merasa malu karena cara licik Valdo.

Tentu saja, Mitzy juga merasa takut.

Untung saja Mitzy dikirim ke kamar yang salah. Kalau tidak, sekarang ini dia pasti sudah dipermalukan oleh Valdo dan dihakimi oleh pria tak tahu malu itu dengan sikap yang seolah-olah paling benar.

Di kamar sebelah, Valdo segera menyadari bahwa dia salah orang.

"Apa-apaan ini? Orangnya mana? Bukannya Mitzy lagi selingkuh di sini? Mana orangnya? Mana?"

Keributan di luar terhenti sejenak.

"Di sini kok."

"Jangan-jangan salah kamar? Yang di sebelahnya?"

Langkah kaki penuh amarah itu mulai mendekat ke kamar Leeon.

Tok! Tok! Tok!

Valdo mulai menggedor pintu kamar Leeon.

Suara pukulan kasar itu seperti genderang perang yang menghantam jantung Mitzy.

"Buka pintunya! Mitzy, keluar kamu! Dasar pasangan mesum! Cepat keluar!"

Mitzy panik. Valdo adalah orang yang arogan dan keras kepala. Kalau dia sudah berniat membuka pintu ini, sekalipun harus membongkarnya, dia pasti akan melakukannya.

Mitzy tidak boleh tertangkap basah seperti ini. Sama sekali tidak boleh!

Mitzy mengangkat kepala sambil menatap Leeon.

"Tolong aku ...." ucap Mitzy pelan ke arah Leeon.

Leeon yang terseret ke dalam masalah ini terlihat sedikit tidak sabar, tetapi ekspresinya tetap tenang dan bahkan cenderung dingin.

Pria itu tidak langsung menjawab, juga tidak menunjukkan niat untuk membuka pintu atau melakukan apa pun. Dia hanya menatap Mitzy dengan diam.

"Kenapa aku harus membantumu?"

"Aku sekarang ada di kamarmu. Kita sudah terikat dalam satu masalah."

"Aku nggak menyentuhmu. Aku bukan selingkuhanmu. Sekalipun menerobos masuk, dia nggak bisa berbuat apa-apa padaku," kata Leeon dengan nada santai seolah tidak ada urusannya. "Justru kamu yang masuk ke kamarku tanpa izin. Ini sudah termasuk pelanggaran perdata. Tindakanmu ini merupakan perbuatan yang melanggar hukum."

Kalimat itu seperti air es yang disiramkan ke kepala Mitzy.

"Mitzy, kalau kamu nggak keluar sekarang, aku akan mendobrak pintunya! Aku akan biarkan semua orang lihat gimana kamu selingkuh diam-diam!"

Berhubung pintu tidak kunjung dibuka, Valdo makin yakin bahwa Mitzy ada di dalam kamar ini.

Di satu sisi adalah suami berengsek yang mengamuk seperti orang gila. Di sisi lain adalah mantan pacar yang justru menusuk dari belakang. Mitzy merasa dirinya benar-benar terpojok.

Baiklah, berhubung semuanya memaksa Mitzy seperti ini, jangan salahkan dia yang memilih hancur bersama!

Setelah berpikir sejenak, Mitzy tiba-tiba melangkah cepat ke depan Leeon. Dia berjinjit, mengaitkan kedua tangannya ke leher Leeon, lalu menempelkan bibirnya kuat-kuat ke kulit leher Leeon yang terpampang sebelum pria itu sempat bereaksi.

Bukan ciuman singkat, melainkan isapan kuat yang nekat, seolah-olah sedang mempertaruhkan segalanya.

Tubuh Leeon langsung menegang. Dia bisa merasakan sentuhan hangat dengan sedikit rasa perih di lehernya, serta aroma lembut dari tubuh Mitzy. Tindakan Mitzy ini benar-benar di luar dugaan!

"Mitzy! Kamu sudah gila?"

Leeon mendorongnya menjauh, tetapi sudah terlambat. Di lehernya, sebuah bekas kemerahan yang baru dan jelas perlahan muncul.

"Kamu memang nggak menyentuhku, tapi aku menyentuhmu. Sekarang, kamu adalah selingkuhanku," ucap Mitzy sambil terengah karena terlalu kuat tadi. Pipinya memerah tidak wajar. "Leeon, mau ikut tertangkap basah bersamaku atau membantuku, kamu pilih sendiri."

Mitzy menatap lurus ke mata Leeon. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir yang menantang.

Leeon mengangkat tangannya. Ujung jarinya menyentuh ringan bekas ciuman di lehernya.

"Bagus sekali," puji Leeon dengan suara rendah dan serak. "Mitzy, kamu benar-benar berani."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 50

    "Wah, hubungan kalian memang sangat akrab. Baru satu telepon saja, kamu langsung datang secepat ini." Di wajah Valdo tersungging senyum kemenangan, seolah rencananya telah berhasil.Mitzy langsung menyadari sesuatu. "Kamu yang suruh orang meneleponku?""Ya, aku yang suruh orang menelepon. Kalau nggak, gimana caranya aku bisa menemukan kamu yang begitu jago bersembunyi ini?"Setelah berhasil menemukan kembali Limy, Mitzy sudah memblokir semua kontak Valdo. Niatnya jelas. Sebelum perceraian resmi, dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Tak disangka, Valdo justru memaksanya muncul dengan cara seperti ini."Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."Mitzy berbalik dan hendak pergi, tetapi Valdo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan."Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" berontak Mitzy, tetapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Menyadari situasinya makin buruk, dia berteriak, "Tolong! Tolong!"Sayangnya, orang-orang di sek

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 49

    Leeon pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana ibu mertua Mitzy, Amanda, mendesaknya untuk melahirkan anak laki-laki. Itu sebabnya, dia tidak meragukan jawaban Mitzy sama sekali.Pria itu merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya, lalu memberi tahu Mitzy, "Hari ini, aku akan menyuruh orang menyiapkan surat gugatan. Besok, kita akan resmi mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.""Oke. Makasih, Pak Leeon. Kalau begitu silakan lanjut bekerja, aku pamit dulu."Sambil berkata demikian, Mitzy berdiri dan hendak pergi."Sudah selesai dimanfaatkan, mau langsung pergi?" Leeon mengulurkan tangan dan menarik Mitzy ke sisinya, lalu memaksa wanita itu duduk di atas pahanya. "Kamu anggap aku ini apa?"Mitzy merasakan paha keras Leeon yang bagaikan besi, serta perubahan pada tubuhnya.Astaga. Padahal sudah berlalu begitu lama, kenapa masih juga belum reda?Secara refleks Mitzy ingin melarikan diri, tetapi lengan Leeon melingkari pinggangnya dengan kuat dan menahannya agar tetap bera

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 48

    Mitzy sama sekali tidak menyangka Leeon akan melontarkan pertanyaan seperti itu.Alis dan mata Mitzy melengkung, sementara lesung pipinya terlihat samar saat dia tersenyum. "Pak Leeon, perlukah menanyakan hal yang begitu pribadi?""Tentu saja. Saat pengadilan menilai apakah hubungan emosional sudah benar-benar retak, mereka akan mempertimbangkan banyak faktor. Apakah hubungan suami istri sudah lama cuma tinggal nama adalah bukti penting untuk menunjukkan seberapa kuat keinginan kedua pihak untuk bercerai." Leeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Dia menatap Mitzy dengan sikap yang sangat rasional. "Kalau kamu nggak mau jawab, apakah aku boleh berasumsi bahwa hubungan kalian memang nggak harmonis?""Harmonis. Hubungan kami sangat harmonis. Selain saat masa menstruasi, hampir setiap hari bisa satu, dua, tiga, bahkan empat ronde. Detailnya nggak usah kujelaskan, takutnya nanti Pak Leeon malah minder.""Benarkah?" Leeon menggertakkan rahangnya,

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 47

    Hati Mitzy terasa seperti hancur mendengarnya.Limy memang dewasa sebelum waktunya. Justru karena anak itu terlalu pengertian, rasa perih di hati Mitzy menjadi makin dalam."Ibu, aku benci ayah. Perceraian itu bukan berarti ayah nggak mau aku dan Ibu lagi, tapi kita yang nggak mau dia," kata Limy sambil bersandar di pelukan Mitzy. Tangan kecilnya menangkup pipi Mitzy. "Ibu, waktu sendirian di Kota Herington, Ibu harus melindungi diri sendiri. Aku nggak mau melihat Ibu terluka lagi.""Ya," jawab Mitzy dengan suara tercekat sambil mengecup kening putrinya. "Limy, kamu juga harus menjaga diri dengan baik. Ibu sayang kamu.""Aku juga sayang Ibu."....Di perjalanan kembali ke kota, Mitzy terus menangis tanpa henti.Orang sering berkata bahwa cinta selalu disertai rasa berutang. Berhubung terlalu mencintai Limy, Mitzy justru kerap merasa telah berutang terlalu banyak pada anak itu. Identitas yang tak bisa dia ungkapkan dengan jujur, keluarga utuh yang tak mampu dia berikan, semuanya menjadi

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 46

    Tatapan Mitzy yang begitu berani dan terus terang membuat Leeon tiba-tiba merasa bahwa dirinya sangat konyol. Dia sungguh sudah gila, sampai-sampai coba mencari bukti bahwa dirinya pernah dicintai oleh Mitzy, bahkan bisa-bisanya dari anak yang wanita itu miliki bersama orang lain.Kalau Mitzy benar-benar pernah mencintainya, mana mungkin dia akan meninggalkan Leeon dengan begitu tegas, lalu menikah dan punya anak dengan pria lain?"Setelah anak itu sembuh, kirim dia pergi," ujar Leeon dengan nada dingin. "Aku nggak menerima transaksi beli satu gratis satu. Lagian aku juga nggak mau saat aku tidur denganmu, ada anak di samping yang merusak suasana."Transaksi.Tidur dengannya.Suasana.Kata-kata itu seperti diulang-ulang untuk mengingatkan Mitzy akan posisinya sekarang, bahwa kini dia hanyalah seseorang yang telah menjual dirinya sendiri dan tak lebih dari sekadar mainan.Mitzy menahan perih di dadanya, lalu mengangguk. "Tenang saja, Pak Leeon. Bahkan tanpa kamu katakan pun, aku akan me

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 45

    "Pak Leeon ...." Tatapan Mitzy penuh permohonan. Dia berharap Leeon sama sekali tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas di depan anak itu.Leeon menatapnya. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan genggaman tangannya."Mau sarapan apa? Aku suruh orang mengantarkannya."Mitzy akhirnya menghela napas lega. "Bubur saja."....Setelah menyemprotkan obat ke tenggorokan Limy, anak itu bilang ingin menonton "Peppo Pig". Ponsel Mitzy hampir kehabisan baterai, jadi dia membawa Limy turun ke bawah.Di ruang makan lantai bawah, Leeon sedang menyeduh kopi."Pak Leeon, boleh pinjam TV di rumahmu untuk menonton kartun sebentar?" tanya Mitzy."Remotnya ada di atas meja sofa.""Oke, makasih."Mitzy memutar "Peppo Pig" untuk Limy, lalu naik ke atas untuk membersihkan diri.Semalam, Mitzy sibuk mengurus Limy sampai kelabakan. Dia sama sekali tidak sempat merapikan diri. Untungnya saat Leeon menyuruh orang mengantar sarapan tadi, pria itu juga sekaligus meminta mereka membawakan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status