MasukJason sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika layar ponselnya menyala. Dia berjalan ke meja, mengambilnya, dan melihat sebuah foto beserta penjelasan singkat yang dikirim oleh Billy.Pria itu dengan santai melemparkan handuk ke samping dan menghubungi nomor Anna. [Aku sudah kirim foto padamu. Periksa latar belakang orang itu, lalu sekalian beri tahu orang-orang di Grup Medis Sentosa untuk mengadakan rapat besok.]Setelah mengirim pesan, dia pergi ke kamar tidur utama di sebelah.Clara sudah tertidur dari tadi. Napasnya teratur dan dalam. Wanita itu sama sekali tidak menyadari ada orang yang masuk.Jason hanya menyalakan lampu tidur redup. Cahaya kuning hangat menyinari wajah wanita itu, membuat kulitnya tampak lebih putih dan lebih halus.Pria itu berjingkat ke samping tempat tidur. Pandangannya sejenak tertuju pada wajah Clara yang sedang tidur dengan tenang. Kedinginan dan kelicikan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kelembutan.Dia duduk di tepi tempat tidur dan
Setelah dua hari berlalu, Markus baru mengetahui bahwa anak buah Bos Jamil telah ditangkap. Dia sangat tidak puas dengan cara Bos Jamil menyembunyikan masalah ini, seolah-olah sesuatu tiba-tiba lepas dari kendalinya, dan dia sangat tidak menyukainya.Ketika dia menampar Bos Jamil di depan staf KTV, tidak ada seorang pun yang berani melihat ataupun bersuara.Bos Jamil tidak mengangkat kepalanya, seolah menerima amarahnya tanpa meluapkannya.Kepala departemen ruang farmasi sangat puas melihatnya. Apalagi, dia baru saja dipermalukan oleh Bos Jamil beberapa hari yang lalu, dan sekarang akhirnya Bos Jamil menerima balasan setimpal. Begitu Markus kembali ke sofa dan duduk, dia bergegas untuk menyajikan air. "Pak Markus, jangan marah. Dia pasti nggak berani mengkhianati Anda. Redakan emosi Anda.""Aku nggak memperlakukanmu dengan buruk, 'kan?" Markus melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan kain pembersih lensa yang dibawanya. Pertanyaan itu dia tujukan pada Bos Jamil.Bos Jamil mengang
"Apa yang kamu pura-pu ...." Lily hendak menyelesaikan ucapannya ketika Niel menutup mulutnya dan menariknya ke dalam pelukannya. "Bos Jamil punya reputasi baik di Kabupaten Lawu, jadi dia nggak mungkin tipe orang yang akan melakukan hal seperti ini. Jangan sembarangan menuduhnya."Lily terkejut. Karena mulut ditutup, dia hanya bisa membelalakkan matanya.Kenapa Niel membela orang seperti ini!Billy juga terkejut selama beberapa detik. Dia tidak mengerti maksud Niel. Niel menatapnya dan memberi isyarat agar dia melepaskan kepala departemen ruang farmasi. "Pak Jason, kita nggak punya bukti, jadi memang kita yang salah karena datang secara gegabah. Maaf sudah datang mengganggu hari ini."Billy ragu untuk berbicara, tetapi kemudian berpikir bahwa Niel pasti sedang merencanakan sesuatu!Ya sudahlah. Jason memintanya untuk bersikap kooperatif dengan Niel, jadi dia hanya perlu perlu mengikutinya saja!"Bos Jamil, kalau begitu, kami nggak ganggu lagi."Bos Jamil mengangguk padanya.Niel meran
"Bos Jamil, bukankah kata-kata yang kamu ucapkan itu kurang pantas!" Wajah kepala departemen ruang farmasi itu tiba-tiba memerah. Dia menggertakkan giginya, dan nyaris berteriak, apa dia sudah gila!Ekspresi Bos Jamil tetap tenang. Jelas terlihat bahwa dia sudah lama mahir menangani situasi seperti itu. "Memangnya berita tentang peredaran obat palsu dari rumah sakit kalian itu bisa salah?""Kamu ...."Kepala departemen ruang farmasi sangat marah hingga dadanya naik turun hebat. Jarinya gemetar saat menunjuk ke arah Bos Jamil, tetapi dia tidak mampu mengucapkan kalimat lengkap untuk waktu yang lama. Dia tahu betul taruhannya. Begitu dipastikan bahwa obat palsu itu berasal dari rumah sakit, meskipun rumah sakit menanganinya, dia tetap tidak bisa lepas dari tanggung jawab.Kecuali dia mengungkapkan orang di balik layar.Namun, apa dia berani? Jawabannya tidak.Seolah-olah tidak menyadari kemarahan kepala departemen ruang farmasi, Bos Jamil berjalan lurus menuju Billy dan lainnya dengan ek
Sebelum dia sempat menyesap tehnya, asistennya bergegas masuk. "Bos, ada sesuatu yang terjadi. Kak Bagas ...." Melihat ada seseorang di sana, asisten itu berjalan ke sisi Bos Jamil dan berbisik, "Kak Bagas telah dibawa pergi oleh polisi. Dia dicurigai mencari gara-gara dan memprovokasi masalah. Ada beberapa saksi di tempat kejadian mengatakan bahwa dialah yang memulai keributan."Udara di kantor itu seolah membeku seketika."Mencari gara-gara dan memprovokasi masalah?""Itulah yang dinyatakan mereka untuk saat ini," jawab si asisten dengan hati-hati. "Pokoknya, mereka semua sudah dibawa pergi oleh polisi.""Siapa yang dibawa pergi oleh polisi?" Kepala ruang farmasi tiba-tiba berdiri, ekspresinya berubah. "Anak buahmu?"Sebelum Bos Jamil sempat menjawab, kepala departemen ruang farmasi mondar-mandir dengan gugup. "Bagaimana masalah ini bisa sampai ke polisi? Nggak bisa. Aku harus beri tahu Pak Markus."Saat dia hendak pergi, seseorang tiba-tiba menerobos masuk. Kedua pengawal yang berja
"Sekalipun kamu membunuhku, aku juga nggak akan mengkhianati tuanku!"Mendengar itu, Billy tertawa lebih lepas lagi. Bukannya melepaskan, dia malah mengerahkan tenaga dan mengangkat Bagas dari tanah, membuat kakinya menendang-nendang liar di udara."Aku suka sikapmu yang teguh dan gigih seperti itu."Sebelum dia selesai berbicara, Billy menendang perut Bagas dengan lututnya. Pukulan itu tidak dilancarkan dengan kekuatan penuh, tetapi cukup untuk membuat Bagas langsung meringkuk seperti udang, tersedak hebat dan nyaris memuntahkan cairan empedu.Rasa sesak napas dan kesakitan yang luar biasa mengubah wajah Bagas membiru, dan matanya menjadi merah. Apa yang disebut 'kesetiaan' sebelumnya tampak hancur di hadapan rasa sakit yang mendorongnya hingga batas fisik.Ketika melihat pemandangan ini, dan menyadari keseriusan masalah tersebut, orang-orang di sekitar mereka tidak berani bergerak, karena takut akan menjadi korban selanjutnya."Masih keras kepala." Billy melepaskan satu tangannya, me







