LOGINPesan suara itu langsung menimbulkan kehebohan di dalam grup tersebut.Wajah Nyonya Winardi merah padam karena marah.[Manda! Jangan sembarangan menuduhku! Suamiku sangat baik padaku!]"Oh ya?" Manda mengirim pesan suara lagi, nadanya sedikit menggoda. "Kalau begitu, katakan padaku, siapa model muda yang bersama suamimu di hotel tahun lalu? Apa perlu aku mengunggah fotonya di obrolan grup agar semua orang bisa menilai?"Begitu kata-kata itu dilontarkan, grup tersebut langsung menjadi hening.Nyonya Winardi tampak gemetar. Dia tidak menyangka Manda bahkan mengetahui hal ini.Dia merahasiakan perselingkuhan suaminya karena takut ditertawakan. Siapa sangka, Manda masih memiliki fotonya!"Nyonya Winardi, aku sarankan agar kamu mengawasi suamimu dengan baik. Jangan biarkan dia terus-menerus melirik wanita lain. Alih-alih membuang waktu mengurusi masalah orang lain, kamu seharusnya lebih memperhatikan keluargamu. Jangan sampai mempermalukan Keluarga Winardi."Selesai mengatakan itu, Manda me
Manda menimbulkan kehebohan di kalangan para nyonya, terutama tentang perubahannya. Benar saja, dalam perjalanan pulang, banyak nyonya mengiriminya pesan menanyakan rahasia 'peremajaan' dirinya, membuatnya sibuk membalas pesan di sepanjang jalan.Sopir mengantar Clara ke vila di dekat perairan. Setelah berpamitan dengan Manda, dia keluar dari mobil dan menunggu sampai mobil itu pergi sebelum melangkah melewati gerbang.Ada banyak perhiasan berharga di atas meja ruang tamu, dan pelayan sedang mendatanya.Melihat kepulangannya, pelayan bergegas maju dan berkata, "Nyonya, Anda sudah kembali."Clara mengangguk sedikit, pandangannya menyapu perhiasan di atas meja yang berkilauan di bawah cahaya. "Ini ....""Nyonya Manda yang mengirim semua ini. Dia bilang Anda bisa memilih beberapa barang yang Anda sukai dan mengembalikan sisanya. Nyonya Manda juga bilang kalau Anda menyukai semuanya, Anda boleh menyimpannya."Clara mengusap pelipisnya karena kepalanya tiba-tiba berdenyut.Dia tidak kekuran
"Terus, aku bagaimana?"Clara terkejut, lalu mengulurkan tangan dan mencubit pipi pria itu. "Kamu ya? Bukankah aku telah menemanimu beberapa hari terakhir ini? Apa masih belum cukup?"Pria itu meraih tangannya dan mencium telapak tangannya. "Nggak cukup.""Jason!" seru Clara kaget, secara naluriah menarik tangannya kembali, tetapi pria itu menggenggamnya terlalu erat, dan bahkan menempel ke wajahnya."Kamu galak padaku." Mata pria itu memancarkan tatapan polos, tetapi menyerupai seorang penyihir pria yang menggoda. "Malam ini, kamu harus menebusnya.""..."Siapa yang sanggup menahannya!Sore harinya, Manda datang menjemputnya.Dia masuk ke dalam mobil. Harus diakui, sejak Manda mengubah gaya rambutnya, bahkan pakaiannya pun tidak bergaya 'konservatif' seperti dulu lagi. Benar saja, mengubah gaya hidup sering kali menjadi 'obat' mujarab untuk peremajaan diri!"Kenapa? Apa penampilanku aneh hari ini?"Clara menggelengkan kepalanya. "Nggak aneh, sangat cocok untuk Ibu!"Dia tidak melebih-
"Sembarangan! Siapa yang periksa ponselmu?"Jason melepas celemeknya dan meletakkannya di atas meja, lalu bersandar di sofa, menopang tangannya di sandaran kursi, sementara wanita itu berada dalam pelukannya."Kamu boleh periksa ponselku kapan saja, dan lihatlah apa yang ingin kamu lihat. Nggak perlu malu-malu."Clara menggigit bibirnya. "Barusan ayahmu menelepon!""Dia bilang apa?""Dia bilang ibumu ribut mau bercerai dengannya.""..."Jason terduduk di sofa di sampingnya, mengusap dahinya dengan tak berdaya sambil tertawa.Clara duduk di atas pria itu, lalu menarik kerah bajunya. "Memangnya lucu?"Pria itu merangkul pinggangnya. Senyum di matanya masih terukir, tetapi kini diwarnai dengan aura berbahaya. Suaranya rendah dan serak, "Mengingat kepribadian ayahku, bukankah itu hal yang bagus kalau dia khawatir ibuku akan bercerai dengannya? Sebaliknya, kamu ...."Dia dengan lembut mengusap pipi wanita yang sedikit memerah itu dengan ujung jarinya. Nadanya santai dan terkesan agak main-m
Bibir Manda berkedut hebat. Dia membanting sendoknya. "Charles, apa maksudmu? Kamu curiga aku selingkuh?"Otot rahang Charles berkedut. Dia kemudian memalingkan wajahnya. "Sehabis pulang berbelanja dengan Clara, kamu bukan hanya mengubah penampilanmu dan melakukan manikur, kamu bahkan mengabaikanku beberapa hari terakhir ini. Mana mungkin aku nggak banyak berpikir?"Bukannya dia tidak tahu bahwa ada banyak pengusaha kaya dan istri-istri pejabat tinggi di kalangan sosialnya yang berselingkuh. Baik pria maupun wanita, begitu mencapai usia tertentu, jika pernikahan mereka tidak bahagia dan mereka memiliki koneksi keluarga atau uang berlebih, sulit bagi mereka untuk tidak berselingkuh.Selain itu, baru-baru ini beredar rumor bahwa istri salah satu rekan kerjanya memiliki selingkuhan. Pria itu baru berusia dua puluh tahun, muda, tampan, kuat, dan pandai merayu serta menyenangkan wanita kaya.Dia sendiri tidak pernah repot-repot untuk memiliki selingkuhan. Dia tidak punya waktu ataupun energ
"Nyonya Winardi?" Jason terkekeh pelan, seolah sedang membicarakan seseorang yang tidak penting. "Mungkin dulu dia ingin menikahi ayahku, tapi karena nggak berhasil, dia menganggap ibuku sebagai duri dalam dagingnya."Clara terkejut dan ingin sekali mendengar gosip menarik ini. "Sungguh ada hal seperti itu?""Aku tebak saja.""..."Jason merangkul bahunya. Melihat hal itu, sopir diam-diam mengangkat sekat pembatas.Clara merendahkan suaranya. "Kamu mau apa?""Bukankah hanya Keluarga Winardi saja? Ibu bahkan nggak peduli, tapi kamu malah ambil pusing." Jason pura-pura marah dan berkata dengan nada cemberut, "Sejak punya anak, kamu nyaris nggak punya waktu untukku. Hari ini belanja dengan Ibu, besok mengurus anak, jadi kapan kamu punya waktu untukku?"Clara tertegun sejenak, lalu mendorong dadanya dengan lembut. "Apa orang super sibuk sepertimu juga mau perhitungan soal ini denganku?""Sepertinya kamu kesal karena aku nggak punya waktu untuk menemanimu." Mata pria itu menyipit membentuk







