MasukAda kehangatan menyusup ke dalam hati Clara. Dia membalas genggaman tangan ibunya, lalu menjawab dengan lembut, "Aku tahu. Ibu juga harus jaga diri baik-baik."Sembari berbicara, dia tak lupa mengingatkan Victor dan Najeela. "Kak, Kakak Ipar, aku serahkan Ibu dan Ayah pada kalian."Hubungan kakaknya dengan Najeela telah dikonfirmasi, jadi hanya masalah waktu sebelum dia mengubah panggilannya."Jangan khawatir." Victor mengangkat tangannya dan meletakkannya di bahu adiknya, lalu mengalihkan pandangannya ke Jason. "Perlakukan adikku dengan baik."Meski ekspresi Jason tampak datar, dia tetap menunjukkan rasa hormat. "Tanpa diingatkan, aku juga akan memperlakukannya dengan baik."Setelah Keluarga Irawan pergi, rumah kembali tenang.Clara menatap lampu mobil yang menjauh, dan tenggelam dalam pikirannya.Jason menyisir rambutnya ke samping. "Capek?""Sedikit.""Kalau begitu, ayo istirahat lebih awal."Clara terdiam sejenak, lalu menoleh. "Menginap di sini?"Jason terkekeh. "Toh, bukannya ngg
Setelah acara selesai, tiba waktu untuk jamuan keluarga. Karena yang datang hanyalah kerabat dan teman dekat, tanpa ada orang luar, jadi suasananya sangatlah santai.Alex dan Charles minum beberapa gelas anggur, lalu tiba-tiba mulai membahas bisnis. Sementara itu, Nyonya Naura dan Manda beserta adiknya berkumpul bersama, mengobrol tentang pengalaman mengasuh anak sambil menenangkan anak.Kedua keluarga tampaknya telah melupakan dendam masa lalu mereka, dan kelihatan sangat akrab.Jason lebih tidak perlu disebut lagi. Dia tetap berada di sisi Clara sepanjang waktu dan menggantikannya minum anggur.Yang tidak memahami situasi akan mengira mereka berdua telah 'rujukan', dan satu-satunya yang pantas menjadi menantu Keluarga Horman hanyalah Clara.Tepat di saat itu, Clara tiba-tiba menerima pesan dari Niel.Dia meletakkan sendoknya, mencondongkan tubuh ke arah Jason dan mengatakan sesuatu, lalu bangkit dan meninggalkan meja.Di luar gerbang, Niel berdiri di depan mobil, tanpa menunjukkan ni
Di kamar anak-anak, seorang pengasuh sedang menghibur Luna, dan pengasuh lainnya menghibur Elara. Lily berdiri di samping, tampak seperti telah melakukan kesalahan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ketika melihat Clara masuk, dia segera melangkah maju sambil memasang wajah menyesal. "Kakak Ipar, aku cuma ingin menggendong mereka. Siapa sangka, mereka berdua malah dibuat nangis olehku!"Pengasuh itu menjelaskan dengan pasrah, "Nyonya Clara, Nona Lily tadinya menggendong Luna. Karena Luna baru saja tertidur, dan tiba-tiba diangkat seperti itu, dia pun mulai rewel dan kakaknya juga ikut terbangun."Lily mengerutkan bibirnya, dan bergumam pelan, "Aku nggak tahu mereka baru saja tertidur. Kalau aku tahu, aku nggak akan menggendong mereka."Clara menggendong Elara. Gadis kecil itu melambaikan tangannya dan mengoceh, yang membuat hatinya seketika luluh."Siapa suruh kamu begitu pintar memilih? Kamu malah menggendong Luna. Dia rewel kalau dibangunkan, dan setelah itu, akan sulit untuk ditenan
Alex sangat mementingkan perayaan satu bulan. Bagaimanapun juga, itu adalah cucu-cucunya.Clara terdiam sejenak. Dia belum membahas perayaan satu bulan dengan Jason. Dia juga tidak tahu harus bagaimana merayakannya."Ayah, lihat betapa khawatirnya Ayah. Elara dan Luna adalah anak-anaknya Jason. Mana mungkin dia nggak mengatur perayaan satu bulan untuk anaknya sendiri? Kalau seorang ayah sepertinya nggak bisa menangani masalah ini dengan baik, kita bisa membawa anak-anak ini kembali ke Keluarga Irawan dan membesarkan mereka sendiri. Aku rasa Keluarga Horman juga nggak akan berani mengatakan apa pun." Victor membaringkan Luna kembali ke tempat tidur, dan menggunakan mainan untuk membuatnya tertawa.Mendengar itu, Alex mengangguk. "Benar juga. Kalau Keluarga Horman berani mengabaikan hal ini, kita akan kembali ke Hulga untuk merayakannya! Keluarga Irawan masih mampu membesarkan anak-anak ini! Haha."Clara mengusap pelipisnya dengan pasrah. Ayah beserta kakaknya benar-benar mendukungnya un
"Aku menghormati pendapatmu tentang menikah kembali. Aku nggak akan memaksa."Clara berinisiatif mencium pipinya.Pria itu tertegun. Pupil matanya sedikit menyempit. Sentuhan lembut di pipinya seperti nyala api kecil yang langsung menyebar ke hatinya.Jakun Jason bergerak naik turun. Pengendalian diri yang selama ini dia pertahankan runtuh di saat itu juga. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya untuk memegang bagian belakang kepala wanita itu, dan memperdalam ciumannya. Matanya dipenuhi emosi yang telah lama dia tekan, suaranya rendah dan serak. "Kalau kamu terus seperti ini, aku nggak akan bisa menahan diri lagi."Telinga Clara memerah. "Meski nggak boleh, bukan berarti aku nggak bisa membantumu ...."...Setelah kembali dari Huldoria, Jason menemani Clara di rumah selama tiga hari sebelum kembali ke perusahaan. Billy memberitahunya tentang permintaan Clara yang menyuruhnya menangani Bayu sekeluarga. Jason juga memintanya untuk menanganinya sesuai keinginannya, tetapi juga menambahkan
Clara bersandar di sandaran kepala tempat tidur, dan dengan santai bermain ponsel. Ketika dia mendengar suara, dia sedikit mendongak. Jason baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh bagian atasnya telanjang, tetesan air menetes dari rambut hitamnya yang sedikit berantakan, mendarat di tulang selangkanya, menyebar ke dadanya, dan akhirnya mengalir ke pinggang dan perutnya lalu menghilang dari pandangan.Mata Clara tertuju padanya, dan pandangannya tiba-tiba tidak bisa teralihkan.Jelas-jelas, dia telah melihat tubuh pria itu berkali-kali, tetapi bentuk tubuhnya memang sangat enak dipandang!Di saat Clara tenggelam dalam pikirannya, pria itu sudah berdiri di samping tempat tidur. Bayangan besar menghalangi pandangannya.Dia terkejut. Jason mencondongkan tubuh lebih dekat padanya. "Apa aku perlu mendekat agar kamu bisa melihat dengan jelas?"Clara kehabisan kata-kata.Pria ini makin tidak tahu malu seiring bertambah usianya!"Aku nggak lihat lagi, nggak lihat lagi ...." Clara menggunakan b







