تسجيل الدخولNiel menatapnya. "Apa Nona Elena punya waktu untuk makan malam bersama?"Secercah kejutan melintas di mata wanita bernama 'Elena Ciputra' itu, tetapi dia dengan senang hati menerima ajakannya.Keduanya baru saja keluar ketika Lily tiba di tempat kerja.Dia merasa gugup sekaligus penuh harap. Dia tampak mondar-mandir di luar kantor Niel, memikirkan bagaimana dia harus masuk dan menyapanya, ketika Dilon membuka pintu dan keluar.Setelah Dilon menjadi asisten Niel di Hulga, dia pun mengikuti Niel ke tempat kerja di Kota Joria."Kak ... Kak Lily, kamu sudah keluar dari rumah sakit?"Lily mengangguk. "Ya!" Pandangannya tanpa sengaja menyapu ke dalam kantor, tetapi dia tidak melihat siapa pun. "Di mana Niel?""Dia ...." Dilon tampak ragu untuk mengatakannya."Dia kenapa?"Lily samar-samar merasakan bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan Dilon."Profesor Niel ... keluar dengan seorang wanita. Dia bilang mau pergi makan."Mendengar itu, bulu mata Lily yang panjang menyembunyikan keterkejutan d
Mendengar itu, Najeela menundukkan matanya dan tersenyum.Selama ini, dia telah menerima banyak perhiasan dari pria, tetapi perhiasan-perhiasan itu lebih mirip upaya terang-terangan untuk menyenangkan hatinya. Jika terlalu mahal, mereka tidak tega memberikannya. Jika terlalu murah, mereka takut dia tidak akan menyukainya.Setelah banyak pertimbangan, mereka hanya memberinya perhiasan dengan gaya-gaya terbaru yang sedang tren. Tidak ada yang benar-benar berusaha untuk memilihkan sesuatu yang cocok untuknya.Oleh karena itu, meskipun 'tanda cinta' Victor juga berupa perhiasan, tetapi langsung terlihat jelas bahwa perhiasan itu dipilih secara cermat.Namun seolah teringat sesuatu, dia mengerutkan bibir. "Aku nggak punya apa pun untuk kuberikan padamu saat ini, tapi ...."Sebelum Victor sempat bereaksi, Najeela tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman di pipi pria itu.Victor tampak membeku di tempat.Tiba-tiba muncul riak di matanya yang tenang, kegembiraan yang tak terlukiskan diam-diam tumbu
Malam harinya.Clara menerima pesan dari Najeela, yang memintanya untuk datang ke rumahnya.Dia mulanya mengira ada urusan mendesak yang harus diurus. Siapa sangka, begitu datang ke sana dan membuka pintu, dia tampak terkejut.Ruang tamu didekorasi dengan cerah dan penuh seremonial, dengan berbagai hidangan enak tersaji di atas meja panjang."Kalian lagi ...."Najeela merapikan gelas-gelas anggur dan peralatan makan di atas meja. "Kami lagi membuat perayaan untukmu!""Untukku?" tanyanya dengan bingung. "Apa hari ini semacam hari istimewa?"Victor membawa hidangan-hidangan itu keluar dari dapur. "Untuk merayakan keberhasilan eksperimen kalian."Clara terdiam sejenak, lalu bergumam pelan, "Ini baru permulaan. Kalian terlalu berlebihan!"Najeela terkekeh dan berjalan menghampirinya. "Sebenarnya, ini juga nggak berlebihan. Hari ini kan juga hari ulang tahunmu."Dia terperanjat.Lalu, menatap Victor.Hari ulang tahunnya ....Sebenarnya, dia tidak tahu tanggal lahirnya yang sebenarnya.Dulu,
Namun, hanya sesaat, wajah Lily kembali tenang. Dia bertanya sambil tersenyum, "Kamu libur hari ini?"Dilon meletakkan buket bunga di meja samping tempat tidur, lalu duduk di kursi yang ada di sebelahnya, dan mengangguk. "Laboratorium nggak sibuk hari ini, jadi Profesor Niel mengizinkanku cuti."Saat menyebut nama Niel, mata Lily kembali berbinar penuh berharap, tetapi melihat ekspresi ragu-ragu Dilon, dia langsung menebak hasilnya.Mungkin karena tidak ingin kehilangan muka di depan orang luar, Lily mencibir dan berkata dengan nada mengejek dirinya sendiri, "Lupakan saja. Sekalipun dia tahu, dia juga nggak akan peduli dengan hidup matiku.""Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Dilon."Aku baik-baik saja.""Terus, kenapa dirawat di rumah sakit?"Lily bersandar di sandaran kepala tempat tidur dan berkata dengan tenang, "Aku sendiri yang ingin dirawat di rumah sakit untuk diobservasi."Dilon tidak bertanya lagi.Lagi pula, jawabannya sudah jelas.Setelah sekian lama, dia baru perlahan be
Lily membeku. Dia berdiri terpaku di tempat.Ironisnya, kata-kata itu justru membuatnya tersadar.Sebenarnya dia tidak mabuk. Dia hanya ingin mencari alasan yang tidak masuk akal untuk pergi menemui Niel.Namun, tidak ada orang yang memahaminya."Kamu nggak mengerti," kata Lily perlahan, lalu berbalik dan berjalan ke sisi Dilon. Dia mengambil tas dan ponsel dari tangan pria itu. "Terima kasih sudah menemaniku beberapa hari terakhir ini.""Kak Lily, kamu ....""Aku nggak mabuk. Aku bisa pulang sendiri." Lily mengeluarkan tisu basah dari tasnya, menghapus lipstik dan riasannya, lalu berjalan ke pinggir jalan untuk memanggil taksi.Dilon memperhatikan Lily masuk ke dalam mobil dan pergi. Tangannya tanpa sadar mengepal di sisi tubuhnya, dan wajahnya memperlihatkan ekspresi sedih ....Lily tidak ingat jam berapa dia sampai di rumah. Dia hanya ingat dia muntah-muntah di kamar mandi. Melihat riasan wajahnya yang berantakan di cermin, dan juga wajahnya yang pucat karena begadang semalaman, kat
"Sebenarnya, aku sudah tahu apa yang dipikirkan kakakku." Clara menyela dan berkata sambil tersenyum, "Sekarang aku nggak perlu jadi mak comblang lagi. Semuanya berjalan lancar. Aku sangat gembira."Najeela agak bingung. "Kok aku merasa seperti terjebak dalam rencana kalian kakak beradik?""Kalau begitu, kamu nggak bisa melepaskan diri lagi." Clara berjalan ke sisinya. "Lagian, ayahku sudah menerimamu!"Najeela tiba-tiba terkejut."Kapan kamu beri tahu hal ini pada Ayah?" Victor mengerutkan kening."Aku cuma ingin menguji Ayah. Aku juga sudah janji pada Ayah kalau aku akan bawa kakak iparku pulang!""Bu ... bukankah ini terlalu buru-buru ...."Bertemu orang tua?Tunggu, mereka baru saja mengonfirmasi hubungan, dan sekarang sudah sampai pada tahap bertemu orang tua?Mendengar itu, Clara segera menenangkannya. "Nggak perlu buru-buru. Aku nggak bermaksud mendesak kalian untuk menikah. Hubunganmu dengan kakakku baru saja dimulai, jadi pelan-pelan saja!"Victor menoleh ke arah Najeela, yang







