LOGINLily menyentuh perangkat hitam yang menyerupai colokan dan berkedip lampu merah. Sebelum dia sempat bereaksi, Niel telah mengambilnya. Ekspresi pria itu tiba-tiba berubah serius.Sekalipun Lily lambat berpikir, dia juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan secara naluriah meraih tangan Niel.Niel menggenggam erat jari-jari Lily yang dingin dengan tangan yang satunya. Kehangatan telapak tangannya menembus kulitnya, mencoba menenangkan kepanikan yang mulai muncul.Sebelum dia selesai berbicara, mobil tiba-tiba berputar tajam. Ban berdecit saat bergesekan dengan tanah.Lily terhuyung tak terkendali ke satu sisi. Niel mengulurkan tangannya dan memeluknya erat-erat, menggunakan tubuhnya sebagai penyangga untuk menahan benturan dari pintu mobil.Pemandangan di luar jendela berlalu dengan cepat. Pintu masuk jalan raya yang semula menuju pinggiran kota telah jauh tertinggal di belakang. Mobil itu melaju kencang menuju jalan tua yang terpencil dan gelap."Kamu mengubah rute tanpa memberit
Kepala departemen ruang farmasi merasa kepalanya tiba-tiba berdengung. Saat melewatinya, dia melepaskan diri dari borgol polisi dan bergegas menghampirinya. "Kamu menyerahkan diri?"Polisi menyeretnya pergi dan dengan kasar mendorongnya kembali ke tempatnya. Kepala departemen ruang farmasi meronta-ronta dengan keras, matanya merah, menatap tajam wajah Bos Jamil yang tenang dan juga acuh tak acuh. Geraman rendah bagai binatang buas keluar dari tenggorokannya. "Pengkhianat! Demi pengurangan hukuman, kamu mengkhianati kami semua!"Bos Jamil merapikan kerah bajunya yang kusut, dan bahkan tidak menatapnya secara langsung.Kepala departemen ruang farmasi akhirnya dibawa pergi secara paksa oleh polisi. Meskipun dia enggan, dia hanya bisa mengaku di hadapan bukti yang sangat kuat.Lily sedang mengemasi barang-barangnya sambil bergumam sendiri, "Akhirnya, aku bisa meninggalkan tempat mengerikan ini!" Seolah teringat sesuatu, dia menoleh ke arah Niel, yang juga sedang mengemasi barang, dan mende
Semua orang tahu bahwa konferensi pers ini adalah penampilan publik pertama Grup Medis Sentosa sejak 'insiden obat palsu'. Ini juga merupakan pertarungan hidup dan mati dalam opini publik.Jason mengenakan setelan gelap yang rapi, berjalan dengan tenang ke podium. Dia tidak membawa naskah pidato. Sebaliknya, dia meletakkan sebuah dokumen tebal dengan mantap di atas meja. Suaranya dalam dan mantap, menggema di seluruh ruangan melalui mikrofon dengan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan, yang tetap tak berubah bahkan di tengah kesulitan."Sehubungan dengan rumor yang beredar di internet baru-baru ini tentang 'obat palsu Grup Medis Sentosa' dan upaya perlindungan hak yang dilakukan oleh keluarga pasien di Kabupaten Lawu, Grup Medis Sentosa ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada publik dan semua keluarga yang terkena dampak."Begitu kata-kata itu dilontarkan, suara jepretan kamera dan berbagai diskusi pun meletus dari antara para hadirin."Tapi, permintaan maaf nggak sama de
Ekspresi Pak Sofyan berubah drastis. Ketenangan yang sebelumnya dia pertahankan langsung runtuh. Dia berdiri tiba-tiba, kursi bergesekan dengan lantai dengan suara berderit. "Apa kalian sedang mencurigaiku?"Ruang rapat itu mendadak senyap. Semua orang menahan napas.Tatapan Jason kembali tertuju pada Pak Sofyan. Matanya begitu tajam seolah dia bisa melihat menembus ke dalamnya. "Yang aku curigai bukan hanya kamu saja."Departemen teknis dengan cepat menemukan alamat IP nomor telepon tersebut. Kota Bovia, Kabupaten Lawu.Pak Sofyan gemetar. Dia tahu dia tidak bisa mundur lagi."Dia rupanya.""Nggak disangka, Pak Sofyan! Ternyata kamu begitu pintar menyembunyikannya!"Menghadapi kemarahan dan penghinaan semua orang, wajah Pak Sofyan tampak pucat pasi, bibirnya gemetar, tetapi dia tidak mampu mengeluarkan suara. Seluruh tenaganya seolah-olah telah terkuras habis. Dia terkulai kembali di kursinya.Jason menatapnya dingin. "Apa ada hal lain yang ingin kamu katakan?""Aku ... aku nggak puny
Wajah Pak Sofyan merah padam, dan urat-urat di pelipisnya menonjol saat dituduh oleh kerumunan. Dia hanya bisa berkata dengan tak berdaya, "Pak Jason, aku telah difitnah! Aku belum pernah ke Kabupaten Lawu. Mana mungkin aku mengenal orang dari Kabupaten Lawu!"Jason mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya yang panjang, nadanya tidak menunjukkan kegembiraan maupun kemarahan. "Pak Andri juga belum pernah ke Kabupaten Lawu, tapi itu nggak berarti bahwa orang lain nggak akan mendatanginya."Pak Sofyan terdiam. Keringat dingin mengucuri tubuhnya.Jason mengubah postur tubuhnya, meletakkan satu tangan di dahinya, dan melanjutkan, "Awalnya, aku mengira ini hanya menyangkut kepentingan pribadi, tapi setelah diperiksa lebih teliti, ada beberapa masalah. Dia dan dua bawahannya nggak mungkin bisa menutupinya sepenuhnya. Hanya saja, aku nggak tahu siapa orang di belakangnya. Setelah insiden di Kabupaten Lawu, aku mulai memikirkan banyak hal. Rumor beredar bahwa obat palsu itu berasal dari Grup Me
Jason sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika layar ponselnya menyala. Dia berjalan ke meja, mengambilnya, dan melihat sebuah foto beserta penjelasan singkat yang dikirim oleh Billy.Pria itu dengan santai melemparkan handuk ke samping dan menghubungi nomor Anna. [Aku sudah kirim foto padamu. Periksa latar belakang orang itu, lalu sekalian beri tahu orang-orang di Grup Medis Sentosa untuk mengadakan rapat besok.]Setelah mengirim pesan, dia pergi ke kamar tidur utama di sebelah.Clara sudah tertidur dari tadi. Napasnya teratur dan dalam. Wanita itu sama sekali tidak menyadari ada orang yang masuk.Jason hanya menyalakan lampu tidur redup. Cahaya kuning hangat menyinari wajah wanita itu, membuat kulitnya tampak lebih putih dan lebih halus.Pria itu berjingkat ke samping tempat tidur. Pandangannya sejenak tertuju pada wajah Clara yang sedang tidur dengan tenang. Kedinginan dan kelicikan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh kelembutan.Dia duduk di tepi tempat tidur dan







