Home / Romansa / Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta / Eps. 4 Hari Biasa yang Tidak Biasa

Share

Eps. 4 Hari Biasa yang Tidak Biasa

Author: Peter Samudra
last update Last Updated: 2026-03-05 00:19:34

Whroom! Whroom! “Helloow epribadeeeh!”

Beberapa saat kemudian, gue sampai di tempat kerja—Garageboy. Sebuah barbershop dengan jiwa bengkel klasik. Begitu pintu dibuka, aroma pomade bercampur wangi oli sintetis menyapa. Lampu-lampu kuning temaram, plat nomor antik, mural mesin, dan dekorasi ala montir bikin tempat ini terasa seperti waktu yang membeku di masa 70-an.

Ya, kebetulan selera gue dan pemiliknya sama persis. Target costumer kami adalah mereka yang peduli sama penampilan: anak muda, orang dewasa, bahkan bapack-bapack gagal move on yang masih merasa jiwanya lahir tahun 2000-an. Semua diterima, semua dipoles jadi versi terbaik diri mereka.

Hari ini gue masuk shift pagi, dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Setelah itu, giliran si pemilik yang jaga bersama anak magang—Anto, perantau dari desa.

Kerja di Garageboy itu fun, tidak ada kata lain. Setiap tamu dapat durasi satu jam—bukan hanya sekadar potong rambut, tapi untuk diperlakukan seperti manusia yang datang membawa cerita. Kapster tidak diburu waktu. Quality over quantity. Itu moto kami.

Mayoritas pelanggan datang via reservasi. Jadwal selalu penuh, terutama hari Sabtu. Marketing? Hanya mulut ke mulut. Tapi ternyata itu cukup—mungkin karena pemiliknya eksis abis, sangat kebalikan dari gue yang lebih cocok jadi NPC di dunia nyata.

Dalam seminggu, kami cuma libur hari Minggu. “Saatnya menghabiskan waktu bersama keluarga,” kata si pemilik—wajar, orangnya baru menikah, dan istrinya tengah mengandung. Jadi setiap Senin, ia datang dengan senyum lebih cerah dari biasanya.

Beberapa jam telah berlalu, dan tamu terakhir akhirnya pamit. Artinya, gue bisa mengistirahatkan tubuh ini walau hanya sebentar. Gue pun menjatuhkan diri di kursi hidrolik, memejamkan mata sambil membiarkan otot-otot yang sedari tadi tegang perlahan melunak.

Lagi enak-enaknya bengong, tiba-tiba—“Woy, Dra! Ngelamun jorok ya lo?” teriak Dimas, si pemilik garageboy yang hobi bikin orang kaget, sambil menepuk pundak gue dengan gulungan majalah.

Refleks gue menyentak. “Ah, ngagetin aja lo! Jam berapa sih ni? Kok lo udah nongol?” tanya gue, heran. “Yee, mabok darat nih bocah. Liat dong jam berapa!” jawabnya sambil menunjuk jam dinding. Ternyata sudah hampir pukul 4 sore.

“Makanya jangan bengong mulu. Lagi mikirin apaan sih?” lanjutnya sambil merapikan rambut di depan kaca bak presenter gosip Sabtu pagi.

“Hmm… ini, Dims… sebenernya gue lagi ada masalah.” Gue mengehela napas panjang. “Hah! Masalah? Anak gadis mana yang lo buntingin?” ceplos Dimas otomatis. “Jiah! Kok anak gadis?!” protes gue. “Lhooo… jadi udah janda?” balasnya cepat.

Cumiii! Bukan! Nggak ada hubungannya sama bunting-buntingan. Emangnya elo!” Gue memelotot. “Trus apaan dong?” Akhirnya ia serius.

“Belakangan ini… ada hal yang gue pikirin terus. Dan kayaknya itu bikin penyakit lama gue kumat,” ucap gue lirih. Raut wajah Dimas langsung berubah. “Serius, Dra?” tanyanya memastikan. Gue mengangguk. “Gejalanya sama persis kayak dulu,” lanjut gue.

Dimas bersedekap. “Kalo kata gue… mendingan lo periksa ke dokter aja deh. Jangan sampai lo balik pake obat-obatan itu lagi.” Gue terdiam sejenak. Berpikir di dalam kepala. Beberapa kilas balik dari masa lalu tiba-tiba datang tak diundang.

“Dra!” seru Dimas menyadarkan gue. Gue terhenyak, kembali ke realita. “I—iya… nanti gue cek, Dims. Yaudz… gue balik dulu ya,” pamit gue bergegas pergi.

Sesampainya di rumah, gue mendapati Vero sedang asyik ngobrol dengan Ibu di depan TV. “Eh, ada Vero,” sapa gue sambil mengacak rambutnya yang sering tersembunyi di balik trucker hat itu. “Lo nginep?” tanya gue. “Iya. Biasalah, home alone,” jawabnya datar ala robot dengan baterai lemah.

Kenal dari satu setengah tahun lalu, entah karena rumah kami dekat atau memang jodoh pertemanan, Vero nyariiis tiap hari mampir ke rumah gue. Kadang sampai menginap dan tidur di kamar Diana.

Orang tuanya terlalu sibuk kerja dan sering dinas keluar kota. Anak tunggal, rumah sepi—ya wajar ia mencari kehangatan keluarga di rumah gue.

“Diana belum balik, Ma?” Gue melongok ke pintu kamar adik gue. “Belumlah. Jangan samain kayak kamu yang naik motor. Adikmu naik angkutan umum. Makanya lama,” jawab Ibu sambil mendengus. “Hmm… Jakarta oh Jakarta. Kasian, nanti tua di jalan si Diana,” gumam gue sambil menuju dapur.

Selesai ngobrol sebentar, gue langsung masuk kamar. Niat mandi sih ada… tapi daya tarik kasur jauh lebih kuat. Magnet level iblis. Bruk! Dalam lima detik gue sudah tergeletak seperti ikan paus yang kelelahan. “Rebahan bentar nggak dosa kan,” gumam gue dalam hati.

Tiba-tiba, pintu terbuka. “Dra! Lagi ngapain lo?” seru Vero dengan senyum usilnya. Gue langsung melompat bak atlet lompat galah, bergegas menyelimuti badan bagian atas.

“Ro! Main masuk aja!” Refleks gue lempar guling ke arahnya. Ia justru cengengesan. “Yaelah, gitu aja kaget. Untung gue mantan kiper. Lo pasti lagi aneh-aneh ya barusan.” Gue mendengus. Hari ini gue sudah difitnah dua kali.

“Eh cumi! Pria juga punya privasi tau!” protes gue. “Yaelah, kita kan pernah berenang bareng. Sama aja,” balasnya tidak peduli. “Nggak sama, Ro! Itu di kolam renang. Ini di kamar!” Tatapannya langsung memicing. “Kono sukebe!” ledeknya ala-ala Dandere dalam Anime. Dasar cabul!

Btw, lo mau apa ke kamar gue?” tanya gue menatap serius. “Gue mau minta tolong. Lo jarang banget main ke butik sih!” protesnya dengan wajah cemberut.

“Lagi ruwet, Ro.” Gue menghela napas. Mendadak teringat akan sesuatu. “Ruwet kenapa?” Vero merapat. “Ya, ada deh.” Gue mengelak. “Yah… padahal baru mau gue kasih kerjaan. Tapi kayaknya performa lo lagi nggak bagus, yaudah deh.” Dengan ekspresi kecewa Vero beranjak pergi, tapi langsung gue tahan.

“Hah?! Kerjaan?! Nggak, gue baik-baik aja kok!” Gue tersenyum lebar. Seketika semangat gue meluap-luap seperti ponsel habis di-charge seharian. “Kerjaan apaan?! Waktunya bebas kan?! Rate-nya perak, emas, atau berlian nih?!”

Kali ini Vero yang mendengus. “Giliran nyium bau cuan langsung waras lo.” Gue terkekeh, diikuti kedua alis gue yang joget naik-turun.

Akhirnya Vero menjelaskan soal event kolaborasi brand pakaian yang mau digelarnya. Salah satu vendor yang dipilihnya batal mendadak, waktu mepet, dan ia butuh orang yang bisa dipercaya. “Jadi apa yang bisa gue bantu?” tanya gue memastikan. “Lo kerjain materi promonya. Lo kan jago,” pujinya membuat gue malu seketika.

“Tapi… gue kan otodidak.” Tiba-tiba gue ragu. “Yang gue butuhin kreativitas lo, Dra. Bukan akademis lo.” Gue berpikir sejenak. “Yaudah, kirim email semua bahannya aja. Gue kerjain secepatnya.” Senyum lega Vero muncul. “Yang penting selesai, Dra. Kalo bisa bagus itu bonus.”

“Gampang. Ntar gue pake jurus kloning bayangan—kage bunshin no jutsu. Biar kayak dikerjain sepuluh orang.” Vero tertawa ngakak. “Pokoknya, kalo acara nanti ini berhasil. Ke depannya lo bakalan dapet banyak project kayak gini lagi, Dra,” lanjutnya, membuat gue semakin bersemangat.

Gue jadi langsung membayangkan naik kendaraan mewah dengan seekor singa di kursi penumpang ala-ala sultan Dubai. Lalu menghadiri acara-acara bergengsi dengan 5 bodyguard yang mengelilingi. Duduk bersama artis-artis dunia seperti Keanu Reeves, Shah Rukh Khan, Kwon Ji-Yong, Cak Lontong.

“Wah, nggak sabar gue jadi miliarder!” teriak gue, membayangkan uang berjatuhan dari plafon kamar. “Eh, Dra. Berkhayal boleh, tapi jangan kebablasan. Lo mau menyusul pasien RSJ mana?” Vero geleng-geleng kepala keheranan.

Tiba-tiba Diana datang. “Seru amat! Kalian ngetawain apa?” Vero menyeringai. “Kakakmu abis makan kecubung, Din. Otaknya keaduk,” jawabnya usil. Gue langsung manyun. Realita hidup: tidak semanis angan-angan.

“Oh, ya, Din… tadi macet banget ya?” tanya gue penasaran. “Ya, gitu deh. Udah macet, desek-desekan lagi,” keluhnya. “Besok Kakak anterin ya?” Diana hendak menutup pintu. “Enggak usah. Diana sendiri aja,” sahutnya sebelum menghilang ke kamarnya.

Vero bangkit, menepuk bahu gue. “Semangat ya, Dra. Gue percaya lo bisa.” Begitu ia keluar, bulu halus gue langsung merinding. “Yah… mulai lagi.”

Korean-gers—komunitas nonton drakor bentukan Ibu, Diana, Vero, dan beberapa tetangga sekitar rumah—sudah siap assemble di ruang keluarga. Dalam hitungan menit, rumah gue bakal berubah jadi bioskop drakor dengan intensitas teriakan setingkat konser K-pop.

“Harusnya gue jualan popcorn aja biar cepet kaya,” gumam gue pasrah.

Di rumah ini, Vero sudah seperti anak tengah bagi ibu gue. Ia dua tahun lebih muda dari gue, dan dua tahun lebih tua dari Diana. Orang luar pasti berpikir bahwa kami adalah tiga bersaudara. Yang unik? Vero itu memiliki butik khusus menjual pakaian wanita, tapi style-nya tomboy abis: flanel, jeans, trucker hat. Katanya sih, ia lebih nyaman berpakaian seperti itu.

Kecintaannya pada fashion dimulai sejak kecil saat nonton Miss Universe. Ia terpukau oleh gaun-gaun yang berkilau bak sihir panggung. Dari kagum jadi hobi. Dari hobi jadi bakat. Dan dari bakat, kini jadi mata pencaharian.

Orang tuanya kaya dan sukses—ayahnya konsultan pariwisata, ibunya profesor keliling seminar. Dengan modal itu, wajar ia bisa membuka butik. Tapi konsekuensinya adalah kekosongan—sendiri di rumah yang hanya sebagai tempat singgah bagi kedua orang tuanya.

Kadang gue berpikir… uang itu memang penting. Tapi betul kata orang: Tidak semua yang bersinar itu emas. Dan tidak semua yang kaya itu bahagia.

“Duit-duit… kau adalah cobaan hidup yang paling pahit.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 20 Eksperimen Hati

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 19 Dopamin Bernama Sonya

    Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 18 Hari yang Ribut Bersamanya

    Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 17 Pria yang Tidak Boleh Dicintai

    “Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 16 Ketika Dunia Menolakku

    KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 15 Akar dari Segala Ketakutan

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status