LOGINPagi ini, rumah kami penuh aroma roti tawar gosong—hasil eksperimen Ibu yang selalu bertekad menciptakan sarapan hotel berbintang, tapi selalu berakhir jadi bintang jatuh. Di tengah kekacauan yang hangat itu, Diana tiba-tiba melintas seperti mobil Formula One tanpa permisi. Nguuueeeng!
“Eh, mau ke mana? Santai dulu, masih ada waktu,” ucap gue sambil menahan lengannya. Kamera imajiner mendadak nge-zoom wajah gue yang lagi bingung setengah ngantuk. “Ish, Kak, aku harus berangkat sekarang. Kalo nggak bisa telat,” jawab Diana, sambil mengikat tali sepatunya yang dari tadi kabur-kaburan itu.
“Iya, kamu ini apa-apaan sih! Adiknya mau berangkat kok ditahan-tahan,” komentar Ibu sambil geleng-geleng, rambutnya ikut bergoyang dramatis seperti iklan sampo—padahal beliau belum menyisir.
“Nggak bakal telat! Kak Andra anterin kamu. Udah siap nih, mode ‘abang ojol’ ON,” ucap gue, berpose sambil menjepit helm di pinggang. “Ah, nggak usah, Kak.” Nada suaranya menolak, tapi matanya melirik jam dengan kecemasan yang terlalu mencolok. Gue menghela napas. “Ni anak kenapa sih… dikasih enak kok malah kabur kayak dikejar cicilan.”
Begitu gue selesai merapikan pakaian—dengan kecepatan ala pesulap ganti kostum di balik tirai—gue langsung mengejar Diana. “Udah, buruan naik!” seru gue, menoleh kanan-kiri. Takut orang-orang sekitar berpikir gue begal karena dempet-dempet anak gadis sendirian di trotoar.
“Ish! Kenapa sih Kak Andra maksa banget!” heran Diana. Wajahnya cemberut. “Ya, kamu juga… kenapa nggak mau banget!” balas gue, mencurigai sesuatu. Kamera spion motor menangkap wajah Diana yang salah tingkah. Akhirnya ia naik juga. Dengan posisi duduk yang… entah kenapa bertolak belakang menghadap semesta.
“Ya jangan hadap belakang juga lah, Din. Yang bener.” Diana langsung memutar badannya. Gue mengintip dari kaca spion. “KAKINYA JUGA!” Astagaaa…
Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kerja Diana yang terletak di lambung kota. Yang mana jaraknya hanya lima menit dari jantung kota yang tepat berada di atasnya. Dan saat ini, kami masih terjebak macet di usus besar. Sepertinya ada truk sampah terguling di ujung jalan sana. Baunya begitu menyengat—semriwing hingga ke ubun-ubun kepala.
Selama perjalanan, ada yang aneh. Diana gelisah. Matanya berkedip-kedip seperti lampu sein yang butuh diservis. “Kamu kenapa sih? Kok kayak orang panik gitu?” tanya gue. Spion memantulkan wajahnya yang berusaha tersenyum… tapi gagal total. “Hah? Panik? Nggak kok.” Kebohongannya sudah level karyawan magang yang ditanya bos, “Siapa yang pake mesin fotokopi terakhir?”
“Din…” suara gue melembut. Kamera mendekat, musik ambience masuk. “Kakak tau kita nggak sedekat dulu. Tapi Kakak tetep mau jadi orang yang bisa kamu andalkan. Kalau ada apa-apa, cerita ya?” Diana menelan ludah. “Iya, Kak…” Hanya dua kata, tapi terdengar seperti seseorang yang sedang menyembunyikan meteor di belakang punggungnya.
Untuk mencairkan suasana, gue mulai membuka topik, “Kata Mama, kamu kerja di perusahaan Korea ya? Gedung tinggi di Sudirman sana kan? Pantes Mama bangga banget, tiap hari kamu kerja sama Oppa-Oppa Korea.” Raut wajahnya langsung berubah. Kecemasannya justru meledak.
“Kamu kenapa sih?” heran gue, memperhatikan kaki kanannya yang terus menjahit di foot step motor, Naik-turun, berulang-ulang hingga si bandit bergetar.
“Nggak apa-apa, Kak. Udah buruan, nanti Diana telat!” teriaknya, karena ramainya suasana jalan. “Bukannya apa-apa, Din. Masalahnya kakimu itu geter terus, Kakak jadi susah ganti gigi.” Diana langsung membeku. “Lagian juga masih jam segini. Emang kamu yang ngepel lantai gedungnya!” canda gue, meledeknya. “CEPET!” Sebuah cubitan mendarat di pinggang. Kamera goyang dramatis ala telenovela. “Aduuuh! Sakit, Din!”
Setelah beberapa saat, “Kak, Diana turun di depan aja ya.” Refleks gue bertanya, “Lho, kenapa nggak tepat di depan gedung kantormu aja?” Ia menatap jalan lurus, wajahnya penuh rahasia. “Hmm… mau mampir dulu ke suatu tempat.” Gue mengangguk, masih bingung. Diana turun, dan kamera mengikuti langkah kakinya yang ragu-ragu. “Ati-ati ya,” ucap gue. “Eh, helmnya jangan lupa dicopot.” Ia tersenyum tipis. Senyum yang bukan senyum. Lalu pergi.
Waktu masih menunjukkan pukul 7.30 pagi. Gue berdiri di samping motor, ngetap-ngetap helm pakai ujung jari. “Mau ngapain gue di sisa waktu ini…” gumam gue sambil menatap ke kejauhan. “Oh, ya! Ke tempat Abay aja, sekalian ngomongin kerjaan!” tiba-tiba gue teringat project dari Vero.
Whroom… whroom! Akhirnya gue sampai juga di depan rumah kos Abay—sebuah kos-kosan legendaris yang berada di dalam gang sempit, di tengah kawasan gedung-gedung tinggi yang tampak seperti mau menelan gang itu kapan saja. Dengan semangat gue mengetuk pintu kamarnya. Tok-tok! “Bay, Abaaay! Lo ada di kamar, nggak?” Sunyi. Gue coba lagi. Tok-tok! “Bay, lo udah makan belum? Makan bareng yok?”
Tiba-tiba… BRAAK! Dengan dramatis, Abay melompat keluar dari jendela yang baru saja ia seruduk sendiri. Seperti adegan film aksi. Slow motion. Debu berterbangan. Cahaya matahari membingkai siluetnya. Tampak jelas ekspresi pura-pura bangun tidurnya yang sudah pantas ikut ajang festival film nasional. Minimal dapat nominasi “Aktor Bangun Tidur Paling Menghebohkan.”
“Dasar lo, Bay. Giliran soal makan, langsung nyaut,” protes gue. “Ish, orang gue baru bangun,” elaknya, padahal jelas-jelas rambutnya sudah tersisir rapi.
Kemudian kami berjalan menuju warkop dekat kos. Pagi itu aromanya campuran kopi, gorengan, dan perjuangan hidup orang-orang mencari rezeki. Tanpa aba-aba, Abay langsung memesan: “Bang, saya pesen mie goreng dua bungkus dijadiin satu ya. Telornya dua, yang satu dicampur, yang satu lagi balikin aja ke induknya. Cabe rawit empat. Nasinya dipisah—takut berantem kalo disatuin. Minumnya, es jeruk manis.”
Gue langsung menatapnya seperti sedang mengamati makhluk mitologi. “Bay… ini sarapan, bukan lebaran. Lo ngerayain kemenangan atas apa?” Ia menghela napas. “Udah biasa, Bro,” jawabnya santai. “Lo nggak pesen?” tanyanya bingung. “Hmm, saya kopi hitam manis aja deh, Bang.”
“Kasih kopinya aja, Bang, manisnya udah di saya soalnya,” canda Abay lagi. Abang penjual langsung pamit ke belakang. Mungkin migrain.
Setelah itu Abay mulai serius. “Tumben lo mampir pagi-pagi gini, emang lo nggak gawe?” Gue garuk-garuk kepala. “Gue kepagian. Abis anterin Diana ke tempat kerjanya.” Tangan Abay yang hendak menyomot gorengan terhenti. “Wuih, nganterin? Mau jadi kakak idaman nih ceritanya.” Gue mendengus. “Ya, seenggaknya gue udah berusaha jadi kakak yang baik.” Abay berseru, “Dari dulu harusnya!”
“Gue juga ada rencana mau beliin dia motor. Kasian kalo naik angkutan umum terus. Lama-lama gue perhatiin Diana makin mirip dendeng, tipis!” Abay tersedak, lalu tertawa ngakak. “Terus, lo butuh bantuan gue buat apa?” tanyanya penasaran. “Gue dapet project dari Vero. Dan kayaknya nggak ke-handle kalo gue kerjain sendiri.” Dahi Abay langsung mengerut. “Project apaan?” Gue menatapnya. “Catwalk.”
“CATWALK?!” Abay langsung menatap gue seolah ia tidak percaya bahwa gue baru saja menang lotre. “Iya, acara fashion. Kita yang desain materi promo—digital dan cetak, visual, media press release, semuanya,” jelas gue menjabarkan.
Abay menggeleng diikuti hembusan napas panjang. “Ngomongnya yang lengkap dong! Kirain tadi gue yang disuruh jadi modelnya.” Gue meliriknya. Sepertinya kepercayaan dirinya makin menanjak sampai puncak menara SUTET.
“Jadi… lo yang desain, gue yang urusan cetak-cetakan, gitu?” Abay memastikan. “Betul.” Jempol gue terangkat. “Ah, itu gampang.” Tersenyum Abay tampak percaya diri. “Iya, gampang. Masalahnya, acaranya tuh akhir MINGGU DEPAN.” Seketika mie dalam mulutnya menyembur keluar seperti semprotan parfum murah. BLEGHH!
“Ini PROJECT RORO JONGGRANG apa gimana sih?!”
Gue mengangkat kedua pundak. Abay menghela napas. “Tapi ya udahlah, gue juga lagi butuh duit. Rezeki mana boleh ditolak,” lanjutnya menatap kosong ke udara.
“Emang lo butuh buat apaan?” tanya gue penasaran. “Ya, buat beli tas sama buku-buku anak-anak didik gue.” Gue tertegun. “Lo aja masih susah, Bay. Sempetnya mikirin orang lain.” Ia cuma senyum kecil. Terkadang gue lupa jika Abay itu baiknya level Malaikat magang.
Setelah hening sesaat. “Oh, iya. Gue denger sekolah kita mau ngadain reuni…” celetuknya tiba-tiba. “Terus?” jawab gue datar. “Katanya lo masih nyari Joana. Gimana kalo dia muncul di reuni itu?”
PFFFTTT!
Tanpa aba-aba, kopi hangat yang baru gue seruput langsung gue semburkan ke wajahnya. Abay merintih, “ADUH! Gile lo, muka gue rasa ampas kopi dah!” Mata gue memicing. “Rasain! Siapa suruh nyebut nama itu sembarangan.” Sambil menyeka wajahnya dengan tisu gulung di meja, Abay berkata, “Kalo lo masih kesel… artinya lo masih mikirin dia…”
“Eh, KADAL! Ini kopi belum abis! Mau gue ulang?!” Abay cuma melet-melet sambil mengunyah mie porsi kolosalnya itu. Lalu tentu saja… “Bang! Ini semua dia yang bayar ya!” teriaknya sambil menunjuk wajah gue.
“Gimana ceritanya yang dibayarin makannya lebih banyak daripada yang bayarin!” gerutu gue meliriknya. Ya, tapi memang seperti itulah Abay, si kadal. Alias ka-gak mo-dal.
Dengan sejarah hidupnya yang penuh luka, gue kadang maklum kenapa ia jadi begitu. Hidupnya dari dulu sudah rumit. Orang tuanya bercerai saat dia SMA, hak asuh jatuh ke ayahnya. Tapi tak lama kemudian ayahnya menikah lagi dan sibuk dengan keluarga barunya. Ibunya pun menyusul menikah dengan duda beranak dua.
Perlahan, Abay seperti terlupakan—bukan karena mereka jahat, tapi karena fokus mereka mengalir ke rumah tangga masing-masing. Merasa canggung dengan situasi itu, Abay memilih tinggal terpisah. Untungnya ia terbiasa mandiri dan cukup tegar menghadapi dunia yang penuh dengan manusia-manusia egois.
“Abay… seperti namanya, ia adalah anak yang terabaikan,” pikir gue dalam hati, menyayangkannya.
Dan satu hal yang gue yakini bahwa gue lebih paham daripada keluarganya sendiri, yaitu fakta bahwa Abay itu adalah anak yang genius. Jenis manusia langka yang rasanya perlu dilestarikan, kalau perlu diteliti.
Bagaimana tidak. Anak sepertinya yang tidak pernah diawasi bisa tumbuh dengan baik dan berprestasi di sekolah. Kini… untuk hidup, ia kerja online menjaga server klien luar negeri lewat tiga layar komputer yang menyala nonstop. Harusnya ia bisa kaya, tapi karena masih mengajar anak-anak jalanan yang ia sayangi, Abay menolak kontrak penuh dan hanya ambil freelance saja. Penghasilannya jadi tidak menentu, tapi ia tidak peduli. Katanya, ia ingin melakukan hal yang membuatnya bahagia—bukan sekadar membuatnya kaya.
Ah, hingga kini gue masih gemas jika memikirkan hal ini. Tapi… itu adalah jalan hidup yang ia pilih dan kemauannya sendiri. Jadi… sebagai teman gue hanya bisa mendukungnya.
Setelah sarapan, waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi. Masih ada 30 menit sebelum gue memulai shift kerja. “Hmm, beli minuman dingin dulu deh.”
Gue pun mampir ke kedai kopi tepat di sebelah barbershop. Sambil menunggu pesanan, pikiran gue tiba-tiba melayang pada kalimat sialan Abay tadi. Tentang Joana. Dan gue mendapati diri gue bergumam pelan, “Hmm… Joana…”
***
Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn
Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp
Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri
“Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe
KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin
Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu







