تسجيل الدخولAll Jasmine ever wanted was love… but in her world, love only exists to destroy. After four years in a loveless marriage forced by her mother, Jasmine finally signs her divorce papers—yet all she’s left with is a gaping wound in her heart. In a quiet coffee shop, she finds comfort in a magnetic stranger on the brink of his own divorce. One conversation turns into a soul-stealing kiss—wild, forbidden, and impossible to forget. But fate is cruel. Her perfect stranger is Galvin Walton, the impeccably attractive, ruthless billionaire husband of her flawless, vicious sister, Cashmere. Forced to spend Christmas at the Walton mansion, Jasmine is trapped, watching Galvin play the role of the perfect husband… while his hungry eyes follow only her. And the nightmare is only beginning. Edwin Monroe, her ex-husband, returns, claiming the divorce was never valid and she still belongs to him. When he notices the heat in Galvin’s gaze, his possessiveness becomes feral. Two powerful, obsessive men want her and hate each other. None of them is willing to lose. In a mansion where secrets are weapons, loyalty is a currency, and desire is the most dangerous game of all, Jasmine becomes the spark of a deadly obsession when all she wanted was a fresh start. That kiss was a promise of passion, but giving in won’t just shatter her family, ruin her future, and cost her everything… it will set the Walton dynasty ablaze and burn them all to the ground.
عرض المزيدKilau lampu kristal menyilaukan mata, memantulkan bayangan tubuh-tubuh bergoyang liar di lantai dansa yang lengket oleh tumpahan alkohol dan keringat. Musik elektronik mengguncang tulang belakang, bass-nya berdenyut seperti detak jantung sekarat. Asap rokok Cuban dan aroma parfum mahal bercampur menjadi racun memabukkan yang memenuhi setiap sudut ruangan VIP.
Valerie menyesuaikan nampan perak di tangannya yang mulai lembab.
“Fokus. Jangan sampai ada yang jatuh lagi.”
Ingatannya masih segar akan gajinya bulan lalu yang menguap begitu saja karena satu botol Dom Pérignon pecah.
Di salah satu sudut ruangan VIP, Zane Hardata bersandar di sofa kulit ular hitam impor dari Italia, lengannya yang berotasi terbentang di sandaran sofa. Kaus putih Tom Ford-nya yang harganya setara setahun gaji pelayan di sana-terbuka sedikit, memperlihatkan Dada bidangnya yang menggoda.
Matanya - biru pucat seperti es di kutub utara - menyapu ruangan dengan pandangan bosan seorang dewa yang lelah dengan persembahan manusia.
"Bos, perlu aku panggilkan perempuan?" Anton, pengawal setianya selama sepuluh tahun, membungkuk rendah.
Zane memutar cincin platinum di jari kelingkingnya. "Mereka semua sama, Anton. Murahan dan tidak tahu diri. Selalu merengek minta lebih saat kutinggalkan." Ucapnya dengan nada bosan.
Ia kemudian menenggak segelas whiskey, rasa pedasnya membakar tenggorokan, tapi tidak cukup untuk memuaskan dahaganya malam ini.
Lalu, dia melihat dia.
Seorang wanita dengan rambut hitam sebahu yang dikepang rapi, tubuh ramping dibalut seragam hitam ketat—seorang pelayan club.
Langkahnya gesit di antara kerumunan, nampan berisi minuman berkilauan di tangannya. Rambut cokelatnya yang dikepang longgar berayun di bahu, dan seragam hitam ketatnya menekuk lekuk tubuhnya yang ramping. Terlalu menggoda di mata Zane.
Bibirnya melengkung dalam senyum sinis.
Boleh juga.
Dari jauh, Zane terus memandanginya. Hingga wanita muda itu akhirnya mendekati mejanya.
“Dom Pérignon 2008, pesanan dari Tuan Jack untuk Tuan,” suaranya jernih, semakin menggugah sisi liar kelaki-lakian Zane.
Tanpa memberi peringatan, tangan besar Zane menyergap pergelangan Valerie, menariknya dengan paksa hingga tubuhnya terjatuh ke pangkuannya. Nampan dan gelas-gelas berjatuhan, pecah berantakan di lantai.
"Tuan—!" Valerie terkesiap, matanya membelalak.
Zane tertawa rendah, nafasnya menghangatkan kulit Valerie. "Duduk di sini. Aku butuh teman minum."
Valerie segera berusaha melepaskan diri, tangannya menekan dada Zane untuk menjauh. "Maaf, Tuan. Saya hanya mengantar minuman. Saya bukan—"
"Bukan apa?" Zane memotong, suaranya tiba-tiba dingin. "Kau pikir aku tidak tahu bahwa setiap barang di tempat ini ada harganya?"
Valerie menahan napas. Dia tidak boleh salah dalam bersikap. Dilihat dari ruangan tempat pria ini berada, sudah jelas dia adalah tamu VVIP di club ini—satu kesalahan, dan gajinya bisa lenyap lagi atau bahkan mungkin pekerjaannya yang akan lenyap.
" "Tuan, sepertinya Anda salah paham. Saya tidak—"
"Tidak? Tidak apa?" Zane menyeringai, jarinya mengaitkan rambut Valerie, menarik kepala itu mendekat. "Semua wanita di sini sama. Aku tahu ini hanya soal angka."
Rasanya lelah sekali Valerie mencoba menjelaskan bahwa dia bukanlah salah satu dari wanita yang ada di club ini- yang menawarkan tubuh mereka sebagai pelayanan extra. Dia pure hanya bekerja untuk mengantarkan minuman ke meja-meja saja. Hanya itu! Tidak lebih dan tidak kurang! Tapi si tuan kaya raya ini sangat bebal otaknya! Tidak mau menerima penjelasan apapun darinya!
"Ayo lah! Aku tahu semua wanita di sini sama. Ini hanya soal angka. Kau tinggal sebutkan saja berapa angka yang kau minta." Bisiknya membuat bulu kuduk Valerie merinding. Alarm bahayanya pun mulai menyala.
“Tuan, jika anda butuh wanita untuk menemani anda- saya akan panggilkan salah satu dari mereka. Anda duduk saja di sini.” Masih dengan sikap profesional, Valerie sebisanya menjelaskan pada Zane kalau dia bukanlah bagian dari mereka.
Zane mendesis, dia kesal. Tidak pernah ada yang berani menolaknya! Apalagi seorang pelayan klub malam.
Akhirnya Zane kehabisan kesabarannya untuk bermain-main dengan Valerie yang dikiranya sedang jual mahal kepadanya.
Dengan gerakan kasar, dia merogoh dompetnya dan melemparkan segepok uang ke arah wajah Valerie. Kertas-kertas itu menabrak wajah Valerie kasar lalu beterbangan, dan jatuh seperti hujan ke lantai.
"Apa itu cukup untuk membayar mu tidur bersamaku?" Lontarnya sombong.
Valeri sampai tersentak kaget saat lembaran uang dolar itu menghantam wajahnya.
Tentu saja dia merasa terhina! Malah sangat terhina!
Tapi lagi-lagi demi pekerjaannya di tempat ini, Valerie menekan dalam-dalam amarahnya.” Come on, Valerie! Dia bukan satu-satunya orang gila di tempat ini!” tukasnya dalam hati.
Valerie melepaskan pelan pegangan Zane, dan mulai memungut uang itu satu per satu.
Zane meringis miris melihatnya. Dalam pikirannya, dia tahu bahwa tidak ada wanita yang tahan bila melihat uang sebanyak itu. Termasuk wanita yang baru saja jual mahal padanya.
Tapi sayangnya perkiraan Zane keliru. Karena apa? Karena usai Valerie memungut uang yang berjatuhan ke lantai, dia malah mengembalikan semua uang itu pada Zane.
"Ini uang anda, tuan. Maaf, saya tidak menjual diri di sini." Ucapnya singkat, padat dan semakin membakar harga diri Zane.
“Berani sekali dia!!” Desis Zane terbakar amarah. Tidak pernah ada dalam sejarah hidup Seorang Zane Hardata, dia diperlakukan seperti ini. Dan Valerielah adalah satu-satunya wanita yang melakukan itu.
“Kau cukup mahal untuk sebuah barang murahan!!” Zane berdiri dengan gerakan mengancam, wajahnya gelap. Dia tidak terbiasa ditolak.
“Tapi tidak apa-apa! Aku suka yang menantang sepertimu! Membuatku semakin bergairah.” suaranya mendesis, langkahnya mendekat seperti harimau yang mengincar mangsa.
Dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan black card dari dompetnya—kartu hitam legendaris yang hanya dimiliki segelintir orang di dunia.
"Kalau uang cash tidak cukup, bagaimana dengan ini?"
Sebelum Valerie bereaksi, Zane menyelipkan kartu itu ke celah dadanya, tepat di balik seragam ketatnya. Sentuhannya sengaja kasar, merendahkan.
"Cukup untuk membelimu dan seluruh klub ini. Sekarang buka pakaianmu." bisiknya, mata birunya penuh penghinaan.
Valerie membeku. Darahnya mendidih. Tanpa pikir panjang, tangannya melayang—
Plak!
Tamparannya menggema di seluruh ruangan VIP.
Para bodyguard Zane langsung bergerak, tapi dia mengangkat tangan—isyarat untuk berhenti.
Wajah Zane sedikit miring akibat pukulan itu, tapi dia malah tersenyum.
"Berani sekali kau," bisiknya, jarinya mengusap bibir yang mulai memerah.
Tapi sebelum Valerie bisa berkata apa-apa, manajer klub sudah bergegas menghampiri.
"VALERIE! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriaknya, wajahnya pucat.
"Dia yang memulai—"
"Diam!" Manajer memotong, lalu membungkuk rendah ke arah Zane. "Maafkan kami, Tuan Hardata. Pelayan ini baru, dia tidak tahu aturan."
Zane tidak menjawab. Dia hanya menatap Valerie dengan pandangan dingin yang lebih menyakitkan daripada marah.
"Pecat dia," ucapnya singkat, lalu berbalik pergi.
Tidak ada ampun.
Manajer langsung menarik lengan Valerie. "Kau berakhir malam ini. Keluar!"
Valerie menggigit bibir, rasa malu dan kemarahan membara di dadanya.
Tapi sebelum dia pergi, Zane berhenti di pintu, tanpa menoleh.
"Kalau kau butuh pekerjaan... kartuku masih ada di bajumu."
“Aku tidak butuh kartu mu bahkan dirimu!” Valerie merobek kartu nama Zane dan melemparnya ke wajah Zane persis seperti Zane melemparkan uang ke wajah Valerie.
JasmineThe walls felt like they were closing in on me, and all the voices turned into static noise. Was there really footage from that night? The question plagued my mind as their murmurings continued.I blinked really hard, trying to ground myself and stay in the moment. It took everything inside me not to look at Galvin because it would one way or the other tip anyone off, since they keep staring at me like a hawk. “I can’t believe someone would be as clumsy as tipping over the entire shelf. One of the waiters had said he saw a masked male and later on a female walking out of the staff quarters…” Cashmere added.“And it's really worth ten million?” my mother’s voice came. “The invoice is still coming in, but that's the total so far,” Cashmere responded.“Do you think it was two people getting in on it?” Audrey chuckled. “I can imagine them running away from your cameras, I mean… give people some breathing space, Cash. I felt like I was attending a state's gala.” “If you had so m
JasmineI thought after everything I had been through with Edwin, I knew what pain was, and nothing could come remotely close to that. But I was wrong. I had confused night for day, and for the past twenty-four hours, I hadn’t left my room. My lips felt bruised and swollen from how passionate the kiss was. I could still feel the ghost of his touch on my neck, my jaw, and even faintly on my breast. My core still burned from the intensity of him, and God…I still wanted him. Who am I kidding? I kept holding the tears back as I lay naked on the bed facing the ceiling. Those few minutes with Galvin kept replaying in my mind like it was stuck on repeat. I had left the wine cellar that night, but still hid down there watching him pass and pretend to be in a happy marriage with the woman who planned to kill him. Not only was my heart heavy, and I felt like I was carrying a ton of weight pulling me down, but I was also upset, furious even. Why didn’t he refuse? Why would he agree so easil
Jasmine“What?” I spat back, the words slipping out of me defensively. Being called ‘That’ sounded like an insult, and it made me feel tethered back to Edwin. “Leave us,” he ordered the waiter, who only nodded and lowered his head as he walked past me. I paid no attention to him; my gaze was fixed on Galvin. I heard the large door shriek as it closed shut, leaving us both inside. Although I couldn’t quite see his eyes over the flickering, dim light and his mask, I could tell something had changed between us. He slowly took off his mask and brushed his fingers over his hair, slicking them back as he exhaled deeply. “If you aren’t stalking me, then how did you find your way down to this particular cellar at this particular time?” he asked coldly, taking a step forward. “You want me to believe it's a coincidence?” My heart hammered in my chest. “W… what are you talking about?” I stuttered, clenching my fist and refusing to step back. He walked until he was standing right in front
JasmineI hated every moment of it. Holding Edwin’s hand. The entire paparazzi. Seeing Galvin’s hand wrapped around Cashmere, I knew what she planned to do to him. I know Cashmere is a really proud person, but it didn’t make me feel less guilty about how I felt towards Galvin. But after what I saw, my mind somehow vindicated the urges I had, and I hated myself more for it. I could feel the heat rising to my throat as though all I had been keeping inside me just wanted to explode. I could barely breathe, and my heart thundered heavily in my chest. Everything seemed to fade around me. I clenched my fist, and it only tightened around Edwin’s palm, which snapped me out of my mental spiral. I only now realised I had been holding his hand for longer than I intended, and I yanked my hand away as if he would brand me if I held him any longer. We were close to the bar where there were fewer crowds, as everyone seemed busy looking for what to eat or drink, aside from the alcohol. “You wan
Galvin **Thanksgiving Night.**“Was it really necessary to invite the whole town’s elite and their families, Cash?” I asked, as Cashmere adjusted my tie. Just like every day, we become the perfect couple when there’s a crowd, and here we are standing at the entrance of the ballroom, greeting every
Jasmine. “This is my wife, Jasmine Monroe. The Angel I’ve been telling you about,” Edwin said, wrapping his arms possessively around my waist as he introduced me to Galvin. The surrounding air thickened instantly. I flinched from the shock of his gesture, not even his words. My gaze met Galvin’s
Jasmine“Mirror, mirror on the world, who’s the prettiest of them all?” “Me… Dad, me,” Blair’s voice echoed through the house as she screamed and ran around the kitchen. I had been standing in front of the freezer staring at the can of corn, not knowing why I was here in the first place. Glavin,
Jasmine“You should be ashamed of yourself! I thought you would do better!” My mother's voice vibrated off the kitchen tiles. “A woman who can’t keep her home?! Good thing your father is in his grave, he wouldn't have to carry the burden of a failure!” I slammed my fist on the sink. Suddenly, the l


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.