Share

Tatapan Maut

Author: MJoy Ganteng
last update publish date: 2026-10-09 12:26:30

Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.

‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.

Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. 

Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.

Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada dirinya sendiri.

Satu-satunya alibi dan benteng pertahanan yang Laras miliki saat ini adalah menyembunyikan nada suara aslinya rapat-rapat. Dia harus menahan diri agar tidak mengeluarkan suara khas yang biasa memanjakan telinga Arga di telepon. 

Ditambah lagi, penampilan Laras dengan balutan pakaian oversized super longgar berhasil menyembunyikan lekuk tubuh berisi dan kebohay-annya. Tanpa filter kamera tirus yang biasa menipu di layar ponsel, Laras berharap Arga benar-benar menganggapnya sebagai orang asing yang kebetulan hanya punya kemiripan suara tipis.

Bersuara serak, pura-pura sakit tenggorokan, dan irit. Itu strategi andalan Laras yang harus dikunci rapat-rapat di kepala, hingga matanya tertidur lelap karena kelelahan.

Keesokan paginya, Laras melangkah ragu keluar dari kamar tamu setelah memastikan Nisa sudah bangun lebih dulu. Bau wangi mentega yang meleleh dan aroma kopi segar yang pekat menyeruak hangat di area ruang makan berkonsep open space yang langsung menyatu dengan dapur bersih.

Namun, langkah kaki Laras mendadak sekaku batu begitu pandangannya menangkap sosok di balik meja makan marmer panjang tersebut.

Di sana, Arga sudah duduk rapi. Pria itu mengenakan kemeja putih kasual yang lengan bagian bawahnya sedikit tergulung hingga memperlihatkan jam tangan hitam mewah dan urat-urat tegas di lengan bawahnya. 

Jemari tegapnya memegang cangkir kopi hitam yang masih berasap tipis, sementara pandangannya terfokus serius pada layar laptop di depannya. Ketampanannya di bawah paparan sinar matahari pagi yang menerobos jendela kaca besar benar-benar terlampau mengintimidasi untuk ukuran pria biasa di mata Laras.

‘Gila! Seger bener nih mata dikasih sarapan beginian!’ decaknya kagum dalam hati, ‘Dilihat dari videocall aja udah bikin ngiler, ini malah dikasih aslian no filter-filter club!’

"Pagi, Uti. Sini sarapan dulu!" panggil Nisa semringah dari balik konter dapur, sembari meletakkan piring berisi roti panggang isi keju yang masih hangat.

Laras berjalan amat pelan, menundukkan pandangannya serendah mungkin ke lantai. "P-pagi, Nis..." bisiknya super serak, seperti orang habis konser semalam suntuk.

Gerakan jemari Arga di atas papan ketik laptop seketika terhenti.

Pria itu pelan-pelan menengadah. Matanya yang tajam bak elang langsung terkunci pada sosok Laras yang berjalan menunduk dan buru-buru duduk di kursi paling ujung—mengambil jarak sejauh dan seaman mungkin dari posisi Arga.

"Suaramu kenapa, Ti?" tanya Nisa polos dengan kening berkerut. Gadis itu berjalan mendekat sambil menatap penasaran pada sahabatnya. "Konser 10 album di mimpi?"

Kalau tidak ada Arga di sana, mungkin Laras akan langsung menyambung guyonan bestienya itu. Tapi sekarang, mana mungkin.

Laras berdeham pelan yang dipaksakan, memegangi lehernya dengan ekspresi berpura-pura kesakitan yang sangat meyakinkan. "Kena... angin malam di bus kemarin kali, Nis. Leherku berasa gatal banget... suaraku mendadak hilang gini," bisiknya lirih, benar-benar menahan desah napasnya agar tak meniru nada bicaranya yang asli. 

Dia sama sekali tidak berani mendongak untuk menatap ke arah Arga.

Arga tidak bersuara. Pria itu hanya menyandarkan punggungnya yang tegap ke sandaran kursi kayu jati, menyesap kopi hitamnya perlahan-lahan. Namun, sepasang matanya yang dingin tak pernah lepas mengevaluasi gestur tubuh Laras yang tampak makin tegang, kaku, dan gelisah di tempatnya.

"Oh, gitu… pantesan." Nisa manggut-manggut percaya. "Nanti kuambilin obat radang di lemari obat.”

“Udah habis, Nis," potong suara berat Arga mendadak, memecah kecanggungan yang pekat di meja makan. Pria itu menurunkan cangkir kopinya lalu menutup laptopnya pelan. "Biar Mas beli yang lebih bagus nanti, sekalian pulang ngantor.”

Deg!

Laras menelan ludah dengan susah payah. ‘Bisa biasa aja cara ngomongnya nggak sih? Jantungku lompat nih!’ batinnya meronta histeris.

"Wah, thanks, Mas!" puji Nisa tanpa rasa curiga sedikitpun, lalu kembali sibuk mengoleskan selai di atas rotinya.

Sepanjang sesi sarapan pagi itu, Laras merasa seperti sedang diinterogasi di dalam ruang sidang tanpa kata-kata. Setiap kali dia hendak mengambil potongan roti atau meminum air hangat dari gelasnya, Laras bisa merasakan sepasang mata Arga terus-menerus menatap ke arahnya. 

Tatapan yang bukan sekadar melihat, melainkan seperti sedang menguliti dan meneliti setiap gerak-gerik kecil dari tubuhnya.

Bahkan ketika Arga berdiri hendak mengambil botol air mineral di kulkas, pria itu tidak memilih jalur yang kosong. Arga sengaja berjalan memutar, melintasi bagian belakang kursi yang diduduki Laras. Langkah kakinya pelan dan mantap. 

Aroma parfum woody-citrus yang mahal, elegan, dan sangat maskulin seketika menguar kuat, menginvasi seluruh indra penciuman Laras hingga bulu kuduk di lehernya meremang hebat.

‘Masih pakai varian pilihanku ternyata…’ batin Laras terharu.

Arga dengan sengaja berhenti tepat di samping kursi Laras. Pria itu mengulurkan tangannya yang tegap untuk mengambil botol mineral yang kebetulan berada di atas meja tak jauh dari piring Laras, membuat jarak fisik di antara mereka terkikis habis hingga hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

Laras menahan napas sepenuhnya. Jemari tangannya meremas kuat-kuat ujung kaus oversized yang longgar hingga kainnya kusut.

Pria bertubuh tinggi itu menunduk sedikit, posisinya sejajar dengan telinga Laras yang kini terbukti memerah padam. Arga meletakkan sebelah telapak tangannya di belakang sandaran kursi Laras, secara tidak langsung mengurung gadis bertubuh berisi itu dalam aura intimidasi yang sangat pekat dan mendominasi.

"Obatnya mau yang dikunyah atau diminum pakai air hangat aja, Uti?" bisik Arga pelan, tepat di samping telinga Laras.

Intonasi suara berat yang begitu dekat, cara Arga menyebut nama panggilannya dengan nada rendah yang penuh tekanan, serta aura kehadiran pria itu yang begitu pekat sukses membuat Laras gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. 

Seluruh sarafnya menegang ketakutan. Dia sungguh takut jika penyamarannya terbongkar saat itu juga di depan Arga, membuatnya menyadari siapa Uti yang sebenarnya.

"I-iya... M-Mas Arga… terserah Mas aja," cicit Laras dengan sisa-sisa suaranya yang tertahan dan tertutup serak di tenggorokan. Dia sama sekali tidak berani mendongakkan kepala walau hanya satu sentimeter.

Arga tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Pria itu justru sengaja menahan posisinya selama beberapa detik, mengamati hembusan napas Laras yang memburu, bahunya yang naik-turun menegang, dan kepanikan luar biasa yang terpancar jelas dari leher gadis itu yang merona merah.

Sudut bibir Arga terangkat tipis, membentuk senyuman misterius yang sangat tipis. Rasa penasaran yang semula bergejolak di dadanya kini perlahan berganti menjadi sebuah permainan pikiran yang menggoda. 

‘Menarik…’

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Money Angel
setor nyawa nggak tuh!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Bibir Pemancing Gemas

    Pagi hari menyapa dengan sinar matahari hangat yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Laras terbangun dengan napas lega luar biasa begitu mendengar suara ketukan pintu kamar dan pamitan dari Nisa."Ti! Aku berangkat kuliah duluan ya! Ada rapat UKM mendadak pagi ini, kamu sarapan sendiri nggak apa-apa, kan?" seru Nisa dari balik pintu.“Sendiri?” bisiknya pelan, "I-iya, Nis! Hati-hati di jalan ya!" sahut Laras setengah bersorak dalam hati.Begitu mendengar langkah kaki Nisa menjauh disusul deru sepeda motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Laras langsung melompat dari tempat tidur. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pengampunan hukuman mati.‘Aman! Mas-Mas Baper itu pasti udah berangkat ngantor dari pagi-pagi buta kan, ya?’ batin Laras penuh kemenangan.Dengan santai Laras keluar dari kamar tamu. Hanya mengenakan kaus oblong oversized rumahan bertuliskan Malang Never Dies dan celana kain semata kaki, Laras melangkah riang menuju area dapur untuk mencari segelas air d

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Adu Domba Tengah Malam

    Pertanyaan Arga bergema rendah di ruangan yang temaram, sarat akan intimidasi pekat dan kehangatan yang memabukkan. Namun di kepala Larasati Putri, ucapan pria itu bukannya bikin melayang, melainkan memicu alarm bahaya tingkat nasional yang berbunyi sangat nyaring.Beban mental Laras seketika membumbung tinggi, meremukkan seluruh persendian di tubuhnya. Bayangan rasa insecure soal bentuk tubuh berisinya tanpa polesan filter kamera, ketakutan luar biasa melihat kekecewaan di mata Arga yang sempurna, hingga bayangan horor jika Nisa—sahabat karibnya—sampai tahu bahwa perempuan yang membuat Mas-nya stres berat seperti ODGJ semingguan ini adalah Laras... semuanya berputar bagai angin puting beliung yang memporak-porandakan otaknya.‘Nggak! Aku belum siap. Aku nggak mau ngaku sekarang. Gimana kalau dia ilfil pas lihat aku aslinya?!’ jerit Laras histeris dalam hati. Bibirnya terkunci rapat, enggan mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan prasangka Arga. Tatapan matanya bergetar liar,

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Terperangkap

    Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es."Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" Jdarrr! Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Jebakan

    Pria itu akhirnya menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung, lalu melangkah santai meraih kunci mobil dan tas kerjanya menuju pintu depan."Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar."Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Tatapan Maut

    Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada

  • Ex Pacar Online: Jangan Lari, Ayo Nikah!   Bukan Dia

    Taksi online yang ditumpangi Laras akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya modern minimalis tiga lantai dengan pencahayaan hangat. Laras sempat tertegun beberapa detik di pinggir jalan, memandangi bangunan yang lebih mirip istana kecil itu sambil merapatkan jaketnya.‘Ini rumah apa gedung kantoran? Gede banget!’ batin Laras terperangah.Pagar otomatis bergeser pelan saat Laras mendekat. Di pintu utama rumah, sosok Nisa—sahabat karibnya—sudah berdiri semringah dengan kaus santai dan celana piyama. Gadis itu langsung berlari kecil menyambut Laras."Uti! Ya ampun, akhirnya sampai juga!" seru Nisa heboh, langsung memeluk Laras erat-erat sampai Laras sedikit kesulitan bernapas. "Kangen banget aku sama kamu. Kok bisa-bisanya nekat merantau sendirian nggak bilang-bilang dari jauh hari?"Meskipun dua tahun berpisah jarak, tapi pertemanan keduanya masih sangat intens. Laras dan Nisa sering bertukar pendapat, bai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status