LOGINTaksi online yang ditumpangi Laras akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya modern minimalis tiga lantai dengan pencahayaan hangat. Laras sempat tertegun beberapa detik di pinggir jalan, memandangi bangunan yang lebih mirip istana kecil itu sambil merapatkan jaketnya.
‘Ini rumah apa gedung kantoran? Gede banget!’ batin Laras terperangah.
Pagar otomatis bergeser pelan saat Laras mendekat. Di pintu utama rumah, sosok Nisa—sahabat karibnya—sudah berdiri semringah dengan kaus santai dan celana piyama. Gadis itu langsung berlari kecil menyambut Laras.
"Uti! Ya ampun, akhirnya sampai juga!" seru Nisa heboh, langsung memeluk Laras erat-erat sampai Laras sedikit kesulitan bernapas. "Kangen banget aku sama kamu. Kok bisa-bisanya nekat merantau sendirian nggak bilang-bilang dari jauh hari?"
Meskipun dua tahun berpisah jarak, tapi pertemanan keduanya masih sangat intens. Laras dan Nisa sering bertukar pendapat, baik ide cerita untuk novel online Laras, maupun tugas kuliah Nisa.
Laras tertawa pelan, membalas pelukan hangat sahabatnya. Rasa asing dan ketakutan yang menggelayutinya sejak turun di Terminal Pulo Gebang seketika terkikis. "Panjang ceritanya, Nis. Nanti aku ceritain deh."
"Sip! Yuk masuk. Kopermu sini aku bantu bawain," ujar Nisa antusias, mengambil alih koper Laras dan menuntunnya masuk ke dalam rumah berlantai marmer berkilau.
Laras melangkah ragu, menyapu pandangannya ke sekeliling interior rumah yang sangat elegan. Lampu gantung kristal di ruang tengah dan deretan lukisan mahal yang terpajang di dinding membuat Laras makin merasa 'kecil'.
"Rumah Mas-mu luas banget, Nis... Kamu nggak kesepian tinggal berdua aja?" bisik Laras canggung.
"Nggak berdua juga sih. Sering sendirian malah. Mas-ku kan sibuk banget, kadang cuma pulang buat tidur. Nah, malam ini kebetulan dia lagi ada di ruang kerja—"
Kalimat Nisa terpotong saat pintu berukir di lorong sebelah kanan mendadak terbuka.
Langkah kaki seorang pria terdengar santai namun berwibawa di atas lantai marmer. Pria itu baru saja keluar dari ruang kerjanya, mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga ke siku, memamerkan lengan kokoh serta jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Garis rahangnya tegas, parasnya tampan luar biasa.
Dan begitu cahaya lampu gantung menyinari wajah pria itu secara utuh, pasokan udara di paru-paru Laras seketika tersedot habis.
Deg!!!
Mata Laras membelalak lebar. Seluruh persendian di tubuhnya serasa lolos begitu saja. Dinding-dinding rumah mewah di sekelilingnya pun seolah berputar hebat.
‘M-Mas Arga?!’ batin Laras histeris, jantungnya berdegup liar seperti mau meledak.
Wajah itu... Garis rahang tegas itu, tahi lalat tipis di dekat alisnya, serta tatapan mata tajam yang biasa Laras pandangi berjam-jam lewat layar ponsel selama enam bulan terakhir.
Pria yang katanya kerja sebagai Manajer Pemasaran di Jakarta, pria yang baru saja dia blokir seluruh komunikasinya seminggu lalu... ternyata adalah Mas-nya Nisa.
Laras meremas ujung hoodienya rapat-rapat. Keringat dingin merembes cepat di pelipisnya.
‘Mati aku! Kok bisa Mas Arga itu kakak kandungnya Nisa? Nisa juga sih, nggak pernah cerita kalau nama kakaknya Arga! Kenapa bumi sempit banget, Gusti?!’
Sementara Laras yang dilanda kepanikan gila-gilaan sibuk menundukkan kepala sedalam mungkin demi menyembunyikan wajah, Nisa malah dengan polosnya justru tersenyum lebar.
"Eh, Mas! Baru kelar kerjanya? Sini bentaran gih!" tegur Nisa.
Pria itu bergumam tipis sebagai jawaban. Pandangan matanya yang dingin kemudian teralih, menatap gadis berpakaian tebal dan longgar yang berdiri sangat kaku di samping adiknya. Sudah seperti patung Pancoran saja.
Karena didorong rasa panik dan reflek bertahan hidup agar tidak dikenali, Laras makin merapatkan tubuhnya di belakang Nisa. Dengan suara yang diusahakan selirih mungkin, agak serak, dan sedikit bergetar, Laras menyapa canggung.
"Permisi... Mas… selamat malam…"
Langkah Arga yang hendak menuju dapur mendadak terhenti.
Pria itu menoleh. Alis tebalnya bertaut tipis. Ada getaran aneh yang mendadak menyengat indra pendengarannya saat nada suara selirih itu terucap dari bibir sang tamu.
Pemilik suara itu... terasa amat asing bagi matanya yang baru pertama kali bertemu, tetapi entah mengapa suara itu begitu akrab terdengar di telinganya. Ada sebuah ciri khas pada intonasi dan desah napas serak halus di ujung kalimat, yang langsung menarik perhatian Arga seketika.
Arga membalikkan badannya utuh, menyipitkan mata menatap Laras yang menunduk dalam-dalam.
"Mas, kok malah bengong di situ sih?" tegur Nisa tertawa kecil melihat abangnya yang biasanya cuek mendadak berdiri menatap temannya. "Kenalin, ini Uti, besty-ku dari Malang yang kubilang bakalan nemenin aku di sini,”
‘Uti?’ Arga membatin. Nama panggilan itu terasa asing baginya. Wanita bersuara sama yang ia kenal dulu bernama Larasati, gadis desa dari keluarga sederhana. Pria itu menatap tubuh berisi Laras dalam balutan kaus oversized dan celana kain longgar. Sangat berbeda dari foto-foto atau video tirus yang pernah dikirimkan sang mantan online.
Namun... insting di dalam dadanya menolak untuk acuh. Suara gadis ini benar-benar mengusik kepalanya. Ada rasa penasaran aneh yang mendadak timbul dan mendorong Arga untuk melangkah mendekat.
Arga mengikis jarak, berhenti tepat dua langkah di depan Laras yang makin menahan napas sampai dadanya sesak.
"Arga," ucap pria itu mengenalkan diri dengan suara berat dan dalamnya yang khas—suara yang sukses membuat bulu kuduk Laras meremang ketakutan.
Arga mengulurkan tangan tegapnya, menatap lurus pada pucuk kepala Laras yang masih enggan menengadah. "Selamat datang di rumah saya."
Laras menelan ludah dengan tenggorokan yang serasa sekering padang pasir. Dengan telapak tangan yang gemetar hebat dan napas terengah pelan, Laras terpaksa mengulurkan jemarinya, menyambut genggaman hangat pria yang paling ingin dia hindari di muka bumi ini.
"I-iya... Mas Arga..." bisik Laras gemetar.
Saat jemari mereka bersentuhan, Arga merasakan getaran halus dari tangan Laras. Tatapan Arga makin terkunci tajam pada wajah yang terus menunduk itu.
‘Dia bukan Laras. Tapi kenapa suaranya mirip banget?’
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari hangat yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Laras terbangun dengan napas lega luar biasa begitu mendengar suara ketukan pintu kamar dan pamitan dari Nisa."Ti! Aku berangkat kuliah duluan ya! Ada rapat UKM mendadak pagi ini, kamu sarapan sendiri nggak apa-apa, kan?" seru Nisa dari balik pintu.“Sendiri?” bisiknya pelan, "I-iya, Nis! Hati-hati di jalan ya!" sahut Laras setengah bersorak dalam hati.Begitu mendengar langkah kaki Nisa menjauh disusul deru sepeda motornya yang meninggalkan pekarangan rumah, Laras langsung melompat dari tempat tidur. Rasanya seperti baru saja mendapatkan pengampunan hukuman mati.‘Aman! Mas-Mas Baper itu pasti udah berangkat ngantor dari pagi-pagi buta kan, ya?’ batin Laras penuh kemenangan.Dengan santai Laras keluar dari kamar tamu. Hanya mengenakan kaus oblong oversized rumahan bertuliskan Malang Never Dies dan celana kain semata kaki, Laras melangkah riang menuju area dapur untuk mencari segelas air d
Pertanyaan Arga bergema rendah di ruangan yang temaram, sarat akan intimidasi pekat dan kehangatan yang memabukkan. Namun di kepala Larasati Putri, ucapan pria itu bukannya bikin melayang, melainkan memicu alarm bahaya tingkat nasional yang berbunyi sangat nyaring.Beban mental Laras seketika membumbung tinggi, meremukkan seluruh persendian di tubuhnya. Bayangan rasa insecure soal bentuk tubuh berisinya tanpa polesan filter kamera, ketakutan luar biasa melihat kekecewaan di mata Arga yang sempurna, hingga bayangan horor jika Nisa—sahabat karibnya—sampai tahu bahwa perempuan yang membuat Mas-nya stres berat seperti ODGJ semingguan ini adalah Laras... semuanya berputar bagai angin puting beliung yang memporak-porandakan otaknya.‘Nggak! Aku belum siap. Aku nggak mau ngaku sekarang. Gimana kalau dia ilfil pas lihat aku aslinya?!’ jerit Laras histeris dalam hati. Bibirnya terkunci rapat, enggan mengeluarkan sepatah kata pun untuk membenarkan prasangka Arga. Tatapan matanya bergetar liar,
Laras menoleh ragu ke arah sofa. Di sana, Arga sedang duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas kaki lainnya. Jemari tegapnya memegang ponsel apel tergigit terbaru. Cahaya remang dari layar pendar memantulkan garis wajah tegas dan rahang kokoh pria itu yang kini menatap lurus ke arah Laras, sambil memamerkan senyuman miring yang begitu jahil.Pria itu dengan sengaja mengetuk layar ponselnya, mematikan rekaman voice note tersebut, lalu berdiri perlahan mendekati Laras yang membeku bak patung es."Suara pacar online-ku yang kabur seminggu lalu," ucap Arga santai, suaranya terdengar begitu tenang, bernada rendah, sekaligus sangat mematikan. "Mirip banget sama suara kamu. Mungkin… pas lagi nggak serak-serak becek gitu?" Jdarrr! Tidak cuma jantung, isi kepala Laras rasanya ingin meletus saat itu juga. Ingin sekali Laras menjerit, menyadari Arga seperti sengaja mengatakan itu padanya. Otaknya mendadak blank total. Rasa malu, panik, merinding, dan terintimidasi bercampur aduk menjadi
Pria itu akhirnya menegakkan kembali tubuhnya yang jangkung, lalu melangkah santai meraih kunci mobil dan tas kerjanya menuju pintu depan."Mas berangkat kantor dulu, Nis," pamit Arga datar."Iya, Mas. Hati-hati di jalan!" sahut Nisa dari dapur.Namun baru berjalan lima langkah mendekati pintu utama, Arga mendadak menghentikan langkah. Pria itu memutar tubuhnya utuh, menatap ke arah meja makan di mana Laras tengah menghela napas panjang dan menyapu dadanya dengan rasa lega yang membuncah.Baru saja Laras mengira bahaya telah berlalu, akan tetapi pendengarannya mendadak menangkap kembali suara derap langkah sepatu yang mendekat.Arga melangkah kembali menyeberangi ruang makan. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai marmer membuat napas Laras yang baru saja terhela mendadak kembali tersangkut erat di tenggorokan.Pria itu berhenti persis di depan meja Laras. Melirik ke adiknya yang masih sibuk mencuci piring bekas makannya. Tanpa meminta izin atau memberikan tanda, Arga
Malam pertama di rumah megah itu dihabiskan Larasati Putri dengan mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar tamu. Bantal empuk dan sprei wangi lavender tak mampu menenangkan debar jantungnya yang seperti sedang maraton. Pikirannya dipenuhi satu nama… Arga.‘Duh Gusti... Gimana ceritanya aku malah nyetor nyawa ke rumah pacar online yang seminggu lalu kuputusin?!’ batin Laras histeris sambil menarik selimut menutup seluruh wajahnya sampai ke batas dada.Pikirannya kalut membayangkan kerapuhan penyamarannya saat ini. Beruntung sejak masa SMA di Malang dulu, Nisa sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan Uti, nama panggilan akrab dari keluarganya. Fakta bahwa Nisa dan Laras memang berteman sejak bangku SMA di Jawa Timur menjadi penyelamat sementara. Laras tidak perlu mengarang kebohongan soal latar belakang daerah asalnya di hadapan Arga, karena Nisa tentu sudah menceritakan bahwa sahabatnya ini adalah kawan lama dari masa sekolah mereka.Namun, ancaman terbesar kini jelas ada pada
Taksi online yang ditumpangi Laras akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya, berdiri kokoh sebuah rumah megah bergaya modern minimalis tiga lantai dengan pencahayaan hangat. Laras sempat tertegun beberapa detik di pinggir jalan, memandangi bangunan yang lebih mirip istana kecil itu sambil merapatkan jaketnya.‘Ini rumah apa gedung kantoran? Gede banget!’ batin Laras terperangah.Pagar otomatis bergeser pelan saat Laras mendekat. Di pintu utama rumah, sosok Nisa—sahabat karibnya—sudah berdiri semringah dengan kaus santai dan celana piyama. Gadis itu langsung berlari kecil menyambut Laras."Uti! Ya ampun, akhirnya sampai juga!" seru Nisa heboh, langsung memeluk Laras erat-erat sampai Laras sedikit kesulitan bernapas. "Kangen banget aku sama kamu. Kok bisa-bisanya nekat merantau sendirian nggak bilang-bilang dari jauh hari?"Meskipun dua tahun berpisah jarak, tapi pertemanan keduanya masih sangat intens. Laras dan Nisa sering bertukar pendapat, bai







