LOGINAprès que ma vingtième demande de lien mental ait été ignorée par mes parents, j'ai foncé vers le Conseil des affaires de la meute. Le rapport médical en main, j'ai lancé sans préambule : « Bonjour, je veux renoncer à mon identité au sein de la meute... et IMMÉDIATEMENT ! » Dix minutes plus tard, mes parents ont fait irruption dans la salle, traînant ma sœur adoptive Elsa. Tous les trois avaient l'air terrifié. Mon père, un Bêta, les crocs apparents et les griffes frémissantes, s'est avancé en hurlant : « Tu n'es qu'une enfant gâtée en quête d'attention ! Arrête ton numéro, tu me fais honte ! » Ma mère, médecin légiste de la meute, a arraché mon rapport, y a jeté un coup d'œil et a ricané : « Tu as falsifié ça juste pour qu'on s'intéresse à toi ? Tu as toujours été une menteuse pathologique. » Elsa, accrochée à leurs manches, sanglotait : « C'est de ma faute… Je devrais pas insister pour organiser cette cérémonie de transformation… Je suis désolée, mais Jennifer, arrête de mentir pour manipuler la culpabilité de papa et maman ! » Je me suis calmement essuyé le sang qui coulait de mon nez, me suis redressée et ai répété à la conseillère : « Je n'ai plus de famille depuis longtemps. Effacez toutes mes traces du registre de la meute. Mes funérailles sont dans trois jours, et je veux pas les retarder. »
View MoreDapur kecil itu berbau bawang merah dan cucian yang belum sempat selesai. Dindingnya mengelupas di beberapa bagian, sedangkan langit-langitnya menghitam di sudut-sudut karena bocor. Jam di atas pintu menunjukkan pukul 06.42 pagi.
Bumi duduk di kursi plastik dekat kompor. Kaos lusuhnya sudah sedikit basah di bagian punggung karena keringat meski pagi belum benar-benar panas. Di depannya, di atas meja makan dari kayu lapuk, tergeletak sebuah amplop cokelat yang sudah agak lecek. Ia meletakkannya pelan, lalu menyeruput kopi hitam yang mulai dingin. Tari membuka pintu dapur dengan rambut masih basah dan muka belum sepenuhnya siap bicara. Pandangannya langsung jatuh ke amplop itu. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil amplopnya, membuka, dan menghitung cepat dengan jemarinya. “Cuma segini?” tanyanya akhirnya. Suaranya datar, tapi dinginnya terasa. Bumi menunduk sedikit. “Iya, ini bayaranku untuk beberapa editan minggu ini. Kau pun tahu, pekerjaan editor sangatlah murah.” Tari menghela napas sambil menyandarkan punggung ke lemari es. “Gas melon naik lagi, Bumi. Minyak juga. Kau harus memikirkan pekerjaan lain yang bayarannya tinggi. Gak bisa kau mengandalkan kerja sebagai editor saja. Ada untungnya kita belum diberi anak, bisa repot kalau begitu. Mikirlah seperti yang lain... lihat suaminya Nina, suami Ania... kok bisa mereka makmur. Mungkin karena mereka itu mikir dan gak malas, pandai cari peluang, pandai cari relasi. Kadang aku minder kalau ngumpul sama Nina dan Ania.” “Bersabarlah, Tari. Aku juga selalu berusaha. Aku juga sudah tanya-tanya ke suaminya Nina dan Ania tentang kemungkinan pekerjaan untukku.” “Ya, mungkin suami Nina dan Ania juga bisa merasakan bahwa kau itu tak punya semangat, makanya mereka tak memberi peluang. Jangankan memberi, mungkin untuk mencarikan pun mereka sudah malas... cukup hanya dengan melihat penampilanmu yang tak meyakinkan.” Bumi tidak menjawab. Ia tahu, jawaban apa pun yang diucapkannya pagi akan tetap salah. “Salahku dulu, kenapa aku hanya memandang fisik... dan nyatanya, dengan kaos dan kemeja butut seperti itu, kau tak lagi terlihat gagah. Benar kata orang, miskin itu kejahatan... paling tidak, kejahatan di dalam rumah tangga.” Tari menatap lantai sesaat, seperti menahan sesuatu, tapi ia memilih melanjutkan. Kata-kata itu sudah terlanjur di ujung lidahnya, dan pagi itu terasa terlalu pengap untuk menahan apa pun. Bumi tetap diam. Ia hanya memutar-mutar gelas kopinya yang semakin dingin, menelan semua ucapan yang merendahkannya itu setiap hari. “Oya, ibuku kemarin nelpon. Nanyain kamu kerja apa sekarang. Aku jawab masih sama. Ibu cuma ketawa kecil. Kamu tahu maksudnya, kan?” “Ya, aku mengerti. Kuharap kau bersabar. Untuk saat ini, hanya pekerjaan editor inilah yang bisa kulakukan. Penerbit-penerbit ini sudah mempercayai pekerjaanku, Tari. Aku tahu, mereka membayar kecil. Tapi kalau sabar sedikit lagi—” “Sabar? Udah berapa lama kamu minta aku sabar? Tiga tahun? Anak tetangga kita yang baru nikah setahun aja udah bisa beli mobil dari gajinya. Lha, kita? Motor tuamu yang itu-itu saja.” Bumi memejamkan mata sebentar. Kopinya kini benar-benar hambar. “Kita harus bersyukur, Tari... kita masih punya rumah ini, peninggalan ayah dan ibuku, meski kecil dan sudah butut.” Tari tidak menjawab, tak juga memandang Bumi. Ia masuk ke kamar tanpa pamit. Tak lama kemudian terdengar suara pintu lemari dibuka keras, lalu ditutup lagi. Suara benda jatuh. Entah sengaja, entah tidak. Bumi menatap dinding dapur yang mengelupas. Ada bekas noda air di sana, bercak cokelat yang perlahan melebar. Ia mendadak merasa kecil sekali. --- Malam harinya, Tari berbaring dan berselimut di sofa ruang tengah dengan lampu temaram menyala. Di pangkuannya ada ponsel, tapi matanya tidak fokus. Ia menggulir media sosial tanpa benar-benar membaca apa-apa. Bumi keluar dari kamar, membawa selimut tipis dan bantal kecil. Ia berjalan menuju sofa. “Kenapa kau tidur di sini, bukannya di kamar? Biar kutemani, deh di sini.” Tari tidak menoleh. Ia lantas beranjak membawa bantal dan selimutnya ke kamar saat Bumi baru saja berbaring di atas tikar di bawah sofa. Langkahnya cepat. Ketika pintu kamar tertutup cukup keras, Bumi hanya menghela napas. Bumi membaringkan diri perlahan. Udara dingin menyusup dari sela ventilasi yang rusak. Ia menarik selimut sampai ke dagu, menatap langit-langit rumah yang tak pernah benar-benar gelap. “Tari...” seru Bumi, tak terlalu keras tetapi cukup untuk terdengar dari dalam kamar. “Kamu masih ingat waktu kita pertama kali menempati rumahku ini? Kamu bilang kamu suka walau kecil. Katamu, yang penting kita bisa tertawa bersama di dalamnya.” Bumi menunggu. Namun, jawaban Tari tak juga datang. Keheningan hanya diisi oleh suara nyamuk dan dengung lemari es yang tua. Ia memejamkan mata. Malam ini terlalu sunyi untuk rumah sekecil ini. Bumi menatap langit-langit rumahnya yang abu-abu kusam. Dulu, cat ini putih. Dulu, Tari bilang warna putih membuat ruangan kecil terasa lebih lega, lebih lapang, seperti masa depan mereka. Ia memejamkan mata, dan kenangan pun menyeruak seperti air yang merembes dari retakan atap. Dulu, justru Tari yang lebih dahulu jatuh cinta kepadanya. Bumi masih ingat bagaimana Tari mengusulkan menikah cepat setelah mereka resmi pacaran kurang dari setahun. Tari bilang, ia tak butuh waktu lama untuk mengenal orang yang membuatnya merasa pulang. "Bagiku, kamu itu rumah, Bumi," kata Tari saat itu, duduk di kursi ini juga, sambil tersenyum malu dan menggenggam tangan Bumi. Rambutnya diikat seadanya, dan wajahnya tanpa riasan. "Rumahnya kecil, reyot, dan... kadang bocor," Bumi bercanda waktu itu. Tari tertawa keras, matanya menyipit. "Tapi hangat. Dan aku gak butuh yang besar, asal kamu gak pergi ke mana-mana." Kini kursi itu berderit pelan saat Bumi bergeser. Suara tawa Tari yang dulu tak asing, kini terasa seperti gema dari lorong yang jauh sekali. Tiba-tiba, ponsel Bumi bergetar di meja. Sebuah pesan masuk dari teman lamanya, Reza—sesama editor yang kini mulai merambah penulisan skenario. Reza: Bro, gimana kerjaan lo? Dengar-dengar, penerbit Gama udah potong honor ya? Bumi: Iya. Udah dua bulan ini. Katanya pemasukan menurun. Aku juga udah tanya-tanya ke penerbit lain. Reza: Duh, kita ini ya… kerjaan invisible tapi dituntut perfect. Bikin penulis terlihat pintar, tapi gak kelihatan siapa yang bikin. Bumi: Hehe. Kadang merasa cuma bayangan orang lain. Tapi ya... ini yang aku bisa. Reza: Lo kuat juga, Bum. Gue salut. Gue udah mulai ambil kerjaan lain. Jadi asisten penulis sinetron. Gak ideal sih, tapi lumayan lah buat asap dapur. Bumi terdiam lama sebelum membalas. Bumi: Gue pertimbangkan deh, mungkin waktunya nyoba jalan lain. Ia meletakkan ponsel. Di dinding dapur, bercak noda cokelat di pojok atas makin lebar. Di pojok jendela, tanaman kaktus pemberian Tari—yang dulu begitu segar—kini layu. Batangnya menciut, tapi masih berdiri. Seperti dirinya. --- Malam makin larut. Bumi masih terbaring di bawah sofa, menatap cahaya temaram yang menggantung. Ventilasi bocor menyusupkan angin dingin. Suara dari kamar hening, tak ada gerakan. Pelan-pelan, ia berbicara pada dirinya sendiri. "Aku tahu aku bukan pria ideal, Tari. Tidak mapan, tidak pandai bicara. Tapi... dulu kamu yang bilang gak butuh yang sempurna, kan?" Napasnya terasa berat. "Aku juga tidak tahu... kapan tepatnya kita mulai berubah. Kapan kamu mulai berhenti percaya. Atau... kapan aku mulai mengecewakan." Ia memejamkan mata. "Kadang, aku juga tanya ke diri sendiri... kenapa aku tidak berusaha lebih keras. Kenapa aku takut keluar dari dunia yang aku kenal. Mungkin... karena aku terlalu nyaman menyandarkan diri padamu. Karena kamu dulu begitu yakin, dan aku pikir keyakinan itu cukup buat kita berdua." Hening. Hanya suara kipas angin tua yang berdetak pelan di sudut ruangan. "Aku capek, Tari. Tapi aku juga tidak mau kalah, tidak mau menyerah. Bukan buat orang lain, bukan buat membuktikan kepada keluargamu atau temanmu Nina, Ania, tapi buat kamu... yang dulu begitu percaya kepadaku." Dan malam pun terus berjalan, membawa tubuh letih itu dalam tidur yang gelisah.Dès qu'Elsa a vu mes parents revenir, elle a raccroché précipitamment son téléphone.Puis, elle s'est précipitée vers eux avec une voix doucereuse à faire vomir : « Qu'est-ce qui se passe, papa, maman ? Jennifer vous a encore énervés ? »Mais avant qu'elle ne termine sa phrase, mon père l'a attrapée à la gorge et l'a soulevée : « Tu continues à nous mentir ? C'est toi qui as tué Jennifer, et tu as l'audace de faire comme si de rien n'était ? »Ma mère a serré les poings et l'a frappée violemment dans le dos, sanglotant à fendre l'âme : « Toutes ces années de notre amour et de notre confiance... et c'est comme ça que tu nous remercies ? »Elsa, étranglée, roulait des yeux révulsés. Et une fois relâchée, elle s'est effondrée au sol, jouant l'innocente : « C'est Jennifer qui m'a piégée ! Elle m'en a toujours voulu. Vous le savez bien, elle est experte en manipulation ! »« Tu refuses toujours d'avouer ? » a rugi mon père en la traînant dans le salon.Il lui a jeté la caméra dans les mains
Un silence de mort s'est installé.Puis soudain—« Quoi ? Qu'est-ce que vous racontez ? » La voix de mon père tremblait, presque incohérente, « Qu'est-il arrivé à ma fille ? »Pour la première fois, une véritable panique est apparue dans leurs yeux. « Jennifer est vraiment... morte ? » a murmuré ma mère d'une voix rauque, presque inaudible, « Elle était vraiment empoisonnée par l'argent ? Nous... nous l'avons jugée trop vite... »Sans un mot, mon père s'est transformé en loup et a bondi dehors, ma mère sur ses talons. Ils ont couru désespérément vers le cimetière.« Vous arrivez trop tard », a dit le gardien d'un ton solennel, « Votre fille est morte il y a plusieurs heures. Elle avait choisi une tombe, mais ne pouvait même pas la payer, elle n'avait pas une seule pièce d'argent. »« Tu mens ! » a rugi mon père, la colère étouffant son chagrin, « C'est encore un de ses mensonges, n'est-ce pas ? »Dans sa fureur, il a attrapé le gardien par le col et a déchiré sa chemise.« C'est la
Après m'avoir donné un coup de pied, elle s'est retournée avec un sourire victorieux, comme si elle avait déjà gagné.Mais elle ignorait qu'un micro-caméra, cachée dans un coin par mes soins, avait tout enregistré.J'ai repris conscience bien plus tard.Chacun de mes os me faisait souffrir, et ma louve respirait à peine. Tremblante, je me suis relevée, chaque inspiration ressemblant à une torture. D'une voix à peine audible, j'ai essayé, avec ma dernière force, de contacter William par notre lien mental : « Viens récupérer la caméra... Vois la vérité de tes propres yeux... »Je savais que c'était mon dernier jour. Je le sentais dans mes os.Mais même dans la mort, j'emporterais ce masque de mensonges en enfer avec moi !Je me suis enfoncée dans la tempête. Malgré mes jambes qui menaçaient de céder, je ne me suis pas arrêtée.La nuit a englouti petit à petit ma silhouette chancelante.J'ai traîné mon dernier souffle jusqu'au cimetière. D'une voix si faible qu'elle était presque inaudibl
« Jamais ! Je ne reviendrai jamais ! Je tiens ma parole ! »Je me suis tournée et ai quitté ce lieu rempli de souvenirs, jurant d'effacer tout cela de mon cœur.Le vent a avalé ma silhouette, ne laissant que le chant aigu du vent comme épitaphe.Finalement, j'ai trouvé une grotte abandonnée, couverte de poussière et jonchée de détritus.Sous la lumière pâle de la lune, de vieux souvenirs sont remontés soudainement à ma mémoire.Oui… je me souvenais maintenant, avant qu'Elsa n'arrive, j'avais été vraiment heureuse. À l'époque, mes parents prenaient soin de moi.C'était juste qu'ils étaient trop occupés par leur travail, personne ne pouvait me garder à la maison. Alors, on m'avait envoyée à la campagne, vivre avec mes grands-parents.Je me suis rappelée encore le jour de notre séparation, ma mère me prenant doucement le visage entre ses mains, les yeux pleins de tristesse.Elle avait caressé ma joue et avait murmuré : « Chérie, dès que j'aurai fini cette mission, je viendrai te chercher.
Elsa a pâli instantanément à mes mots.Elle s'est précipitée vers moi, a attrapé ma main et, d'une voix tremblante et pitoyable, a imploré : « Désolée, Jennifer, j'ai oublié que j'étais allergique aux noix… »« J'étais tombée du toit quand j'étais petite, et après ça, ma mémoire ne va jamais bien. T
Je ne suis pas revenue par nostalgie, mais pour ramasser les quelques pauvres affaires qui me restaient. Mais dès que j'ai franchi la porte, j'ai compris qu'il n'y avait rien ici qui mérite d'être retenu.J'avais toujours vécu dans le débarras, le coin le plus minuscule, le plus humide et le plus so
Il y a dix jours, j'étais tombée dans une mine d'argent et j'avais été contaminée par de la poudre d'argent corrosive. Le guérisseur m'a fortement recommandé de me faire soigner à l'infirmerie.Cependant, à mon arrivée, on m'a appris que tous les guérisseurs avaient été envoyés sur le front. Ouais,






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.