Home / Romansa / Fake Dating Dengan Bosku / Bab 4. kehilangan pacar dan uang

Share

Bab 4. kehilangan pacar dan uang

Author: Hazel R.Y.
last update publish date: 2026-03-18 18:02:10

"Hei, pelan-pelan," kata sepupunya, Zayden Wiguna, ketika Marcellino menenggak segelas wiski dalam waktu kurang dari satu menit. "Apakah kamu mencoba bunuh diri?"

"Aku sangat kesal. Harga diriku hancur berkeping-keping seperti sampah."

Beberapa waktu sebelumnya, Marcellino melihat Ivanka dan suaminya di sebuah acara amal. Ivanka tahu ia akan hadir di sana. Wanita itu mengenakan gaun yang sangat menggoda dan terus-menerus mengedipkan mata kepadanya.

'Egois,' batinnya geram. Ia hampir kehilangan kendali ketika Ivanka sengaja menempelkan dadanya ke lengannya saat meraih gelas anggur di atas meja. Wanita itu jelas menggodanya, dan ia merasa begitu rentan terhadap pesonanya sendiri.

"Jangan bodoh."

"Gadis itu memang jalang. Dia memperlakukan aku seperti mainan laki-lakinya." Marcellino berdiri dengan goyah sebelum akhirnya kembali duduk di kursi bar. "Sial!" gerutunya, lalu memesan segelas wiski lagi.

"Tidak. Beri dia bir," perintah Zayden kepada bartender.

Kepalanya terasa penuh dan kacau. Marcellino merasa bisa kehilangan kewarasannya kapan saja. Ia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, dan Zayden adalah satu-satunya orang yang benar-benar ia percaya. Sejak kembali menjalin hubungan dengan keluarga Wiguna beberapa bulan lalu, ia sering menghabiskan waktu bersama mereka, terutama dengan Zayden dan sepupunya yang lain, Arga Danurendra.

"Ini salahmu. Kau membiarkan dirimu diperlakukan seperti itu."

"Bagaimana aku bisa menahannya? Aku mencintainya," kata Marcellino dengan nada penuh penderitaan.

"Itu omong kosong. Kurasa kau bahkan tidak tahu apa itu cinta, Lino."

Marcellino mengerutkan kening dan menatapnya heran. "Tentu saja aku tahu. Cinta itu seperti ABC. Semudah itu."

"Benarkah? Oke, ceritakan padaku. Bagaimana kamu mendefinisikan cinta?"

"Ayolah, Zayden. Aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa itu cinta. Dan berhentilah bertingkah seperti profesor Sastra Inggris. Cinta adalah perasaanmu setiap kali melihatnya. Seperti yang kau rasakan dengan Rania."

"Seperti apa sebenarnya?"

"Seperti... kau ingin merobek pakaiannya dan menidurinya dengan kasar sampai dia meneriakkan namamu?"

Marcellino melihat kekecewaan jelas terpancar di wajah Zayden. Sepupunya itu kemudian meletakkan gelasnya dan berdiri.

"Aku pergi dari sini. Kau tidak berguna."

"Hei! Jangan tinggalkan aku, Kawan. Apa aku salah bicara?"

"Definisi cintamu salah total. Apa yang kau rasakan bukanlah cinta. Itu nafsu!" Zayden menatapnya tajam sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Maksudmu, aku tidak mencintai Ivanka?"

"Aku tidak tahu, cari tahu sendiri."

"Bagaimana?"

"Cinta itu tidak sesederhana bercinta." Zayden mengerutkan bibirnya, menatap Marcellino dengan serius. "Cinta adalah ketika kau tidak bisa berhenti memikirkannya. Kau ingin selalu berada di sisinya dan melakukan banyak hal bersama seperti pergi ke toko bahan makanan, menonton film, mencuci piring, tidur berdampingan, bukan hanya bercinta. Kau ingin menjadi alasan di balik senyumnya. Kau ikut bahagia saat dia bahagia dan ikut terluka saat dia bersedih."

"Hah?" Marcellino menatapnya kosong, jelas tidak menangkap maksud perkataannya.

"Kau masih belum mengerti juga, ya?" Zayden menepuk bahunya cukup keras hingga ia tersentak. "Cinta adalah kebodohan yang dilakukan hatimu ketika ia menolak mendengarkan otakmu yang berteriak menyuruhnya berhenti."

"Hah?" ulang Marcellino lagi, semakin bingung. Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan sepupunya itu?

Zayden menggeleng pelan, lalu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Kau benar-benar tidak paham soal cinta. Lebih baik kau tetap fokus pada perbankan dan keuangan saja."

***

"Ada saus di bibirmu." Freya mengulurkan tangan untuk menyeka noda saus lobster di sudut bibir Naufal.

"Tidak, tidak, aku akan melakukannya." Naufal menghindari sentuhannya dan segera menyeka mulutnya dengan serbet.

Freya memperhatikannya diam-diam. Naufal pasti sangat lapar, ia memesan terlalu banyak hidangan lobster, kaviar, sushi, daging sapi Kobe, keju pule, sundae Golden Opulence, dan sampanye. Semua itu termasuk menu paling mahal di restoran ini. Dalam hati, Freya bertanya-tanya berapa banyak yang harus ia keluarkan malam ini.

Namun ia segera menepis pikiran itu. Uang hanyalah uang. Bisa dicari kembali. Yang terpenting adalah mereka berdua. Fakta bahwa Naufal memesan sampanye membuatnya yakin mereka akan merayakan sesuatu malam ini.

Freya menyantap sundae emas mewah itu dengan sangat hati-hati. Bagaimana jika Naufal menyembunyikan cincin pertunangan di dalamnya? Ia tak ingin sampai menelannya tanpa sadar. Namun Naufal menghabiskan bagiannya terlalu cepat. Bahkan sebelum ia benar-benar menikmati rasa es krim berlapis emas yang harganya satu setengah juta itu, hidangan tersebut sudah tandas dalam hitungan detik.

"Aku kenyang sekali. Terima kasih. Ini enak sekali," ujar Naufal sambil bersandar di kursinya. Ia mengusap perutnya dengan ekspresi puas.

Freya tersenyum lembut. Dalam pandangannya, Naufal tampak menggemaskan seperti anak kecil. Matanya mulai terlihat mengantuk. Ia merasa senang telah membawanya ke restoran itu. Kebahagiaan Naufal selalu menjadi kebahagiaannya juga.

"Sama-sama. Apa pun untukmu, Sayangku." Freya mencoba meraih tangannya, tetapi Naufal menepisnya secara halus sambil meraih botol sampanye.

"Mau segelas lagi?"

"Um... tentu! Aku senang sekali." Hatinya berdebar. Ia yakin Naufal akan bersulang untuk masa depan mereka—pernikahan dan anak-anak yang suatu hari akan mereka miliki.

"Mari kita bersulang," kata Naufal sambil mengangkat gelasnya.

Freya tersenyum dalam hati. Ia tahu dugaannya benar.

"Untukmu, Freya, yang begitu luar biasa. Kamu cantik, baik hati, perhatian, dan penuh kasih sayang. Pria mana pun akan sangat beruntung memiliki kamu sebagai pasangan hidup suatu hari nanti."

Perkataan Naufal membuat hati Freya meleleh. Ia benar-benar tersentuh. Pujian itu terasa begitu tulus hingga pipinya memerah.

"Terima kasih, Naufal. Itu kata-kata terindah yang pernah kudengar. Aku merasa sangat dihargai."

"Sama-sama, Frey. Mari kita minum untuk masa depan. Semoga persahabatan kita berlanjut selamanya."

Persahabatan?

Freya sempat terdiam. Apa maksudnya? Namun ia mencoba berpikir positif. Bukankah banyak orang mengatakan bahwa agar pernikahan langgeng, pasangan harus menjadi sahabat satu sama lain? Mungkin itu yang dimaksud Naufal.

"Cheers." Ia membenturkan gelasnya ke gelas Naufal. Mereka tertawa bersama sambil mengenang momen-momen lucu yang pernah mereka alami.

Beberapa saat kemudian, Freya memberanikan diri bertanya, "Apa yang ingin kau katakan, Naufal? Kau bilang ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku."

Senyum Naufal perlahan memudar. Ia meletakkan gelasnya di atas meja, jemarinya mengusap tepian emas gelas itu dengan gelisah. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya... kau mungkin akan marah."

"Aku?" Freya mengangkat bahu santai. "Kau tahu aku tidak mudah marah. Katakan saja. Aku tidak akan marah."

"Janji?"

"Oke... janji." Ia menatap langit-langit sejenak, lalu tersenyum untuk meyakinkannya.

"Aku ingin putus denganmu, Freya."

Waktu seakan berhenti.

"APA!? Kenapa?" Suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. Ia merasa seperti terperangkap dalam mimpi buruk. Tubuhnya mendadak terasa dingin.

"Aku perlu fokus pada karierku."

"Apa maksudmu? Aku tidak pernah menghalangi kariermu. Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau. Aku tidak mengerti..."

"Itulah masalahnya. Kamu tidak mengerti aku, dan aku sendiri pun tidak mengerti diriku. Aku tidak tahu apa yang kuinginkan, dan selama aku merasa seperti ini, itu tidak adil bagimu. Kita perlu istirahat, Frey. Lebih baik kita berteman saja."

Freya terdiam. Rasa sakitnya terlalu dalam hingga tubuhnya terasa mati rasa. Seolah-olah ada sesuatu yang merobek dadanya dari dalam. Hatinya berdarah, hancur tanpa suara.

"Kamu baik-baik saja? Kamu masih bayar makanannya, kan?" tanya Naufal tak tahu malu.

Malam itu, Freya kehilangan dua hal sekaligus, pacarnya dan tujuh juta rupiah dari tabungannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 58. melanggar kontrak

    Detak jantung Marcellino seolah berhenti sesaat ketika pintu lift terbuka dan ia melihat Freya. Wanita itu menoleh lalu memberinya senyum kecil yang entah bagaimana mampu mengirimkan sensasi hangat ke seluruh tubuhnya.Tubuhnya langsung menegang. Pikirannya kembali kacau, jantungnya berdetak terlalu cepat, dan seluruh indranya terasa tidak terkendali. Reaksi itu selalu muncul setiap kali Freya berada di dekatnya.“Hai,” sapanya singkat sambil berusaha menghindari tatapan wanita itu.Sejak Sabtu malam, ia tahu segalanya telah berubah. Ya, ia tertarik pada Freya. Namun, perasaan itu sudah jauh melampaui sekadar ketertarikan fisik.Ia menginginkan Freya. Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga seluruh dirinya, pikiran, hati, dan jiwanya. Ia ingin menjaga wanita itu, membuatnya tetap berada di sisinya, menjadi bagian dari hidupnya. Dan yang lebih mengganggu adalah kenyataan bahwa ia tidak hanya menginginkan Freya. Ia menginginkan kebersamaan.Bangun dan tidur bersama setiap hari, makan bersama,

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 57. Freya menolak lagi

    Freya sangatlah seksi dan responsif. Inilah sosok yang Marcellino inginkan, kecantikan liarnya.Tubuhnya bereaksi dengan liar, membuatnya sangat bersemangat dan gugup pada saat yang bersamaan. Setiap dorongan lidahnya di dalam mulut Freya, dia menyambutnya, setiap kali ia menjilat area di belakang telinganya, gadis itu terengah-engah dan mengerang, dan ketika bibirnya mencium lekukan di lehernya, dia akan mengundangnya lebih banyak dan memberinya akses penuh yang ia butuhkan.Marcellino sudah menunggu hal ini terjadi, rasanya seperti selamanya. Ia sangat ingin mencium Freya dengan penuh hasrat, setiap inci tubuhnya, menyentuh setiap bagian sensitifnya dan melahapnya seperti sebuah pesta sampai terengah-engah dan meneriakkan namanya berulang kali.Marcellino tak percaya ia sudah sangat sabar, karena ia bukanlah orang yang sabar. Itu bukan sifatnya. Tapi demi Freya, ia ingin membuatnya merasa sangat istimewa dan diperhatikan.Marcellino ingin memperbaiki semuanya dengannya. Freya tidak

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 56. kau mau lagi?

    Aroma tubuhnya yang manis dan memabukkan menyelimutinya. Dia seperti obat, meninabobokannya ke dalam euforia.Saat bibir pria itu menyentuh bibirnya, jantungnya berdebar kencang seperti disambar petir.Ciuman itu terasa sangat lembut, berlama-lama seolah-olah mereka punya waktu tak terbatas.Rasa sakit yang panas di dalam diri Freya semakin intens dan seluruh bagian tubuhnya terasa geli.Menunggu... Ia ingin Marcellino menciumnya lebih keras, lebih dalam, dengan desakan yang menggebu-gebu, tapi pria itu lebih lambat dari kura-kura dan memperlakukannya seperti boneka porselen!Freya membuka bibirnya, mengundang dorongan lidahnya, tapi itu tidak terjadi. Ia bergerak lebih dekat padanya, tapi... sialannya sabuk pengaman mencegahnya terlalu dekat dengannya, dan sebelum ia bisa melepaskannya, Marcellino sudah berhenti menciumnya. Dia duduk di kursinya dan menyalakan mobil.Freya merasa bingung dan kecewa. Ia mengharapkan lebih."Hanya itu?" tanyanya dengan frustrasi.Marcellino menoleh, me

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 55. ciuman yang membuat ketagihan

    Para pria terang-terangan menatap Freya dengan kagum ketika mereka tiba di pesta. Awalnya Marcellino merasa tersanjung berada bersamanya, yang tampak begitu cantik memukau dalam gaun malam putih bertabur permata. Ia bisa melihat rasa iri di wajah para pria ketika menatap mereka. Mereka berharap bisa berada di posisinya. Namun suasana hati Marcellino dengan mudah berubah menjadi marah. Ia sama sekali tidak suka mereka menatap Freya dan memperkenalkan diri padanya. Rasa takut dan rasa tidak aman menguasai dirinya. Freya terpapar pada kelompok bujangan muda kaya itu yang menatapnya seperti hiasan di atas kue cupcake. Ia takut membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah kontrak mereka berakhir. Pasti akan banyak pria yang mengantre untuk menggantikan posisinya! Aishar Lewis ada di sana. Putra dari taipan maskapai penerbangan Malaysia, Tyler Lewis dan istrinya, Sarah Lewis. Penampilannya yang gagah dan menawan sebagai peternak menarik banyak wanita. Marcellino hanya

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 54. Cium aku sedalam-dalamnya

    Akhir pekan itu sungguh mengerikan bagi keluarga Marcellino. Rania hilang. Bersama dengan kepolisian dan tim penyelamat, ia membantu mencarinya. Zayden sangat terpukul, putus asa ingin menemukan istrinya.Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Freya dan Marcellino mengunjungi Rania di rumah sakit. Meskipun wanita itu masih terlihat sangat terkejut, setidaknya dia pulih dari pengalaman traumatisnya dan bayinya sehat.Ayah Freya juga pulih dengan baik. Setelah seminggu di rumah sakit, ia disarankan untuk pulang dan menjalani tahapan rehabilitasi serta sesi terapi fisik selama enam hingga delapan minggu. Dia sangat gembira dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, bisa berjalan dan menjalani kehidupan normal.Melihat Freya bahagia dengan keberhasilan operasi ayahnya, membuat Marcellino ikut bahagia. Rasanya sangat membahagiakan melihatnya selalu tersenyum. Freya seperti matahari, bersinar dan membuat hari-harinya lebih cerah.Marcellino tidak repot-repot menanyakan so

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 53. menjenguk ayah Freya

    Situasi ini terasa benar-benar gila bagi Marcellino. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu banyak bicara. Malam sebelumnya, neneknya terus menanyakan tentang Freya. Wanita tua itu ingin Freya kembali bergabung bersama mereka di akhir pekan. Awalnya, Marcellino hanya mengatakan bahwa Freya sedang cuti untuk bersama keluarganya. Namun, seperti biasa, Halimah tidak berhenti bertanya sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakan yang sebenarnya.Keesokan paginya, saat sarapan, Halimah kembali dengan ide baru yang jauh lebih merepotkan. Ia ingin bertemu keluarga Freya.“Kamu dan Freya sedang menjalin hubungan serius. Kalian bukan remaja yang hanya ingin bersenang-senang. Cepat atau lambat kalian akan menikah dan punya anak. Kita harus mendukung keluarga Freya. Mereka juga akan menjadi keluarga kita,” katanya.Marcellino mencoba menahan situasi. “Mereka butuh privasi saat ini, Nek. Ayahnya juga sedang dalam masa pemulihan setelah operasi.”Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang

  • Fake Dating Dengan Bosku   bab 6. ayo kita pura-pura pacaran.

    "Aku benci kamu! Dasar curang! Pembohong!"Air mata membanjiri wajah Freya, membuat pandangannya kabur dan suaranya tercekat. Rasa sakit itu begitu pekat, seolah mencekik dadanya setiap kali ia memikirkan Naufal.Bagaimana mungkin pria itu melakukan hal ini padanya?Selama dua tahun, Freya telah se

  • Fake Dating Dengan Bosku   Bab 5. sekarat karena patah hati

    Senin pagi itu suasana hati Marcellino sedang buruk. Kepalanya masih terasa berat akibat minuman semalam. Dalam perjalanan menuju kantor, ia sempat mampir ke Starbucks untuk membeli espresso dingin agar tetap terjaga.Ia harus melupakan Ivanka. Semua ini tidak bisa terus berlanjut. Jika dibiarkan,

  • Fake Dating Dengan Bosku   Bab 3. Freya merindukan kekasihnya

    Freya berlari keluar kantor dengan perasaan terguncang. Melihat bosnya melakukan aksi seksual sungguhan seperti binatang buas di atas mejanya agak menjijikkan namun... membangkitkan gairah. Dalam ingatannya, sosok pria itu tampak begitu kuat dan percaya diri dalam keadaan tanpa busana, mengingatka

  • Fake Dating Dengan Bosku   Bab 2. menjadi selingkuhan

    Marcellino terjatuh ke kursinya dengan napas berat. Persetan! Tubuhnya masih bergetar karena kelegaan dan kepuasan. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya saat setiap otot perlahan mulai mengendur. Namun rasa bersalah tetap menggantung di dadanya. Ia menyesal telah mengulang kesalahan yang sama.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status