เข้าสู่ระบบ
Freya menepuk dahinya panik. "Astaga! Di mana ponselku?"
Ia lalu menggaruk kepalanya, membuat serpihan putih berjatuhan di atas setelan bisnis hitamnya seperti salju tipis. Ketombenya terasa semakin parah. Mungkin karena ia selalu mengikat rambutnya menjadi sanggul, dan gaya rambut itu sangat disukai pacarnya. Atau bisa jadi karena sampo baru yang akhir-akhir ini ia gunakan. Apa pun penyebabnya, saat itu ia tidak peduli. Ia hanya perlu menemukan ponselnya. Dengan gelisah, Freya mengobrak-abrik apartemennya yang berukuran lima puluh meter persegi. Ia melempar bantal, pakaian, majalah, dan berbagai barang lain seperti binatang buas yang kehilangan kesabaran. Di mana ia meletakkannya? Saat tiba di rumah, ia hanya sempat pergi ke kamar mandi, lalu melepas jaket dan merebahkan diri di tempat tidur. Tiba-tiba kesadaran menghantamnya. "Ya Tuhan... sepertinya aku meninggalkannya di kantor!" Ia segera melirik jam tangannya, sudah pukul enam sore. "Sialan. Aku harus mengambil ponselku sekarang. Naufal akan meneleponku nanti sekitar jam delapan." Naufal Saputra, pacarnya yang tampan dan menawan, adalah seorang reporter lapangan baru di salah satu stasiun televisi nasional. Saat ini Naufal berada di Yogyakarta untuk meliput kasus anak hilang. Pria itu sangat bersemangat terhadap pekerjaannya dan segala hal yang ia lakukan dalam hidup. Itulah alasan Freya selalu mendukungnya, ia yakin Naufal melakukan semua itu demi masa depan mereka. Freya bertemu Naufal dua tahun sebelumnya. Saat itu ia berusia dua puluh satu tahun dan baru saja lulus dari kursus kesekretariatan. Seorang teman memperkenalkan mereka di sebuah pesta ulang tahun. Freya langsung terpikat oleh penampilan Naufal yang maskulin. Rambutnya lurus berwarna hitam kecoklatan, mengingatkannya pada Leonardo Dicaprio muda. Matanya yang tajam dan menggoda serupa dengan milik Brad Pitt, sementara senyum sensualnya mengingatkan pada Zayn Malik. Mereka sempat berkencan sebelum akhirnya resmi menjalin hubungan. Memikirkan hal itu membuat Freya tersenyum. Naufal sempat mengatakan bahwa ia memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan saat kembali nanti. Dalam hati, Freya berharap itu adalah sebuah lamaran. Bayangan tersebut membuat jantungnya berdebar penuh kebahagiaan. Tanpa membuang waktu, Freya berlari keluar apartemen menuju kantor, ia kesal pada dirinya sendiri karena kecerobohannya. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan ponselnya? Benda itu bagian penting dari hidupnya. Freya berdiri di trotoar, menunggu taksi ketika tiba-tiba rintik hujan turun. "Astaga! Hujan! Brengsek." Dalam hitungan detik, setelan jas kerjanya mulai basah. Ia menatap jalan dengan frustrasi, bertanya-tanya ke mana perginya semua taksi saat ia sangat membutuhkannya. Setelah lima menit yang terasa lama, sebuah taksi akhirnya berhenti di depannya, dan Freya segera masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Sopir taksi itu menatap Freya tajam melalui kaca spion. "Mbak, tolong tetap duduk di satu sisi saja. Anda membasahi sarung jok kulit baru saya." Sopir taksi itu terdengar kesal, seolah menyesali keputusannya berhenti untuk menjemputnya. "Baik, Pak." Freya segera merapat ke sudut kursi dan duduk diam seperti kelinci basah. Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di depan Menara Pradana, dan Freya berlari menuju pintu masuk gedung. Selama dua tahun terakhir, ia bekerja di Pradana Holdings Company sebagai sekretaris pribadi CEO sekaligus pemiliknya, Marcellino Pradana. Pekerjaan itu sangat menekan. Atasannya terkenal menuntut, disiplin, memiliki ekspektasi tinggi, dan mudah marah. Tidak seorang pun berani membantahnya. Meski begitu, gajinya sangat besar jauh di atas standar rata-rata di Jakarta. Di lobi, kepala petugas keamanan menyapanya. "Anda sudah kembali, Bu Freya. Apakah Anda lupa membawa payung?" "Ha ha, itu lucu, dan aku meninggalkan ponselku di meja." Freya tersenyum singkat sebelum berjalan menuju lift. Lampu di lantai kantor masih menyala. Ia sedikit terkejut. Hmm… bosnya rupanya masih berada di gedung. Freya bergegas ke mejanya dan menghela napas lega saat melihat ponselnya tergeletak di atas map berwarna oranye. Syukurlah. Ia hendak pergi ketika sesuatu menarik perhatiannya. Apa ini? Matanya tertuju pada sehelai kain merah tipis yang tersangkut di tempat pensilnya. Dengan ragu, ia mengangkat benda itu setinggi mata. Bentuknya langsung membuatnya membeku, itu celana dalam model thong. Dengan refleks, Freya menjatuhkannya ke lantai, merasa jijik karena sempat menyentuh pakaian dalam orang lain. Ia segera membuka laci, mengambil sebotol alkohol, dan membersihkan tangannya dengan tergesa-gesa. Pertanyaan berputar di kepalanya. Celana dalam siapa itu? Siapa yang menaruh benda itu di mejanya? Baginya, hal itu sama sekali tidak lucu. Ia memutuskan akan melaporkannya ke Departemen Sumber Daya Manusia keesokan hari. Siapa pun pelakunya harus ditegur. Ia yakin atasannya tidak akan senang jika mengetahui kejadian tersebut. Freya menutup laci tepat saat ia mendengar seseorang mengerang seperti binatang yang terluka. Dia berhenti dan mendengarkan suara itu. Apakah suara itu berasal dari kantor Pak Marcellino? Freya mendekat ke pintu kantor Marcellino, menempelkan telinganya ke pintu, ketika tiba-tiba pintu itu terbuka dengan keras. Ups! Sial! Freya langsung terjatuh ke lantai, dan menatap punggung telanjang yang berkeringat milik Marcellino. Rahangnya ternganga. Pantat yang seksi sekali... Pandangannya terpaku pada tubuhnya yang panjang dan ramping. Dia tampak sangat kuat dan berotot, seperti binatang buas, dengan kasar dan liar mendorong alat kelaminnya masuk dan keluar dari... Freya mengedipkan mata beberapa kali. Ia harus pergi. Demi Tuhan. Bosnya sedang berhubungan seks di atas mejanya dan Freya menonton mereka seperti menonton pertunjukan film porno langsung. Lalu, ia mendengar wanita itu berteriak, "Lebih dalam, Sayang... Aku sedikit lagi sampai..." Tunggu. Logat itu terdengar familiar. Apakah itu Bu Ivanka? Oh-oh... Seseorang akan mendapat masalah. Mereka begitu sibuk berhubungan seks sehingga belum menyadari keberadaanya. Freya menutup pintu perlahan dan menghela napas lega. Ia meraih ponselnya dan berlari keluar kantor.Akhir pekan itu sungguh mengerikan bagi keluarga Marcellino. Rania hilang. Bersama dengan kepolisian dan tim penyelamat, ia membantu mencarinya. Zayden sangat terpukul, putus asa ingin menemukan istrinya.Semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Freya dan Marcellino mengunjungi Rania di rumah sakit. Meskipun wanita itu masih terlihat sangat terkejut, setidaknya dia pulih dari pengalaman traumatisnya dan bayinya sehat.Ayah Freya juga pulih dengan baik. Setelah seminggu di rumah sakit, ia disarankan untuk pulang dan menjalani tahapan rehabilitasi serta sesi terapi fisik selama enam hingga delapan minggu. Dia sangat gembira dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa, bisa berjalan dan menjalani kehidupan normal.Melihat Freya bahagia dengan keberhasilan operasi ayahnya, membuat Marcellino ikut bahagia. Rasanya sangat membahagiakan melihatnya selalu tersenyum. Freya seperti matahari, bersinar dan membuat hari-harinya lebih cerah.Marcellino tidak repot-repot menanyakan so
Situasi ini terasa benar-benar gila bagi Marcellino. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu banyak bicara. Malam sebelumnya, neneknya terus menanyakan tentang Freya. Wanita tua itu ingin Freya kembali bergabung bersama mereka di akhir pekan. Awalnya, Marcellino hanya mengatakan bahwa Freya sedang cuti untuk bersama keluarganya. Namun, seperti biasa, Halimah tidak berhenti bertanya sampai akhirnya ia menyerah dan mengatakan yang sebenarnya.Keesokan paginya, saat sarapan, Halimah kembali dengan ide baru yang jauh lebih merepotkan. Ia ingin bertemu keluarga Freya.“Kamu dan Freya sedang menjalin hubungan serius. Kalian bukan remaja yang hanya ingin bersenang-senang. Cepat atau lambat kalian akan menikah dan punya anak. Kita harus mendukung keluarga Freya. Mereka juga akan menjadi keluarga kita,” katanya.Marcellino mencoba menahan situasi. “Mereka butuh privasi saat ini, Nek. Ayahnya juga sedang dalam masa pemulihan setelah operasi.”Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang
Suasana ruang rapat terasa tegang ketika Nicholas Flamel menyampaikan tuntutannya.“Saya akan menanamkan sebagian besar investasi dalam proyek ini, oleh karena itu saya menginginkan bagian yang lebih besar dari laba bersih. Dua puluh lima persen. Itu syarat saya,” ujarnya dengan tatapan tajam, menyapu seluruh ruangan.Permintaan itu jelas berlebihan. Meskipun kehadiran Nicholas sangat penting dalam proyek infrastruktur bernilai ratusan miliar itu, tuntutan tersebut membuat suasana semakin memanas.“Tidak... dengar, Nicholas,” sahut paman Marcellino, Endra Wiguna. “Kami juga akan bekerja keras dalam proyek ini. Dana memang berasal darimu, tapi kami yang menjalankannya. Tidak masuk akal jika bagiannya sama.”“Kalian bahkan akan mendapat lima persen lebih banyak! Ini ideku, aku yang merancang semuanya, tapi justru mendapat bagian lebih kecil?” Isha Martinus, paman Marcellino lainnya ikut menyela dengan emosi.Perdebatan semakin memanas. Marcellino yang duduk di salah satu sisi meja hanya
Freya mulai merasakan hangatnya matahari berubah menjadi panas di kulitnya ketika suara Marcellino terdengar di dekatnya.“Kamu mulai memerah. Kulitmu akan terbakar jika terlalu lama berada di bawah sinar matahari.”Ia membuka mata dan mendapati pria itu berdiri di depannya. Tubuhnya masih terasa rileks setelah berenang, namun detak jantungnya langsung melonjak begitu melihat Marcellino.Tatapan pria itu lah yang membuatnya sulit bernapas dengan tenang. Pandangan Marcellino turun perlahan dari wajahnya, menyusuri tubuhnya tanpa berusaha menyembunyikannya, dan itu sama sekali tidak membantu menenangkan dirinya.Sejak ciuman semalam, perasaannya menjadi semakin rumit.Freya berdeham pelan, berusaha menguasai diri. “Itulah masalahku. Aku mudah terbakar sinar matahari, jadi harus sering pakai tabir surya.”Ia bangkit duduk, matanya langsung tertuju pada segelas jus jeruk dingin di tangan Marcellino. Tenggorokannya terasa kering, dan minuman itu tampak begitu menggoda.Tanpa menunggu lama,
Marcellino menatap kosong dokumen-dokumen yang tergeletak di atas mejanya. Tulisan dalam kontrak itu seolah kehilangan makna. Pikirannya dipenuhi bayangan Freya, dan terutama kata-kata yang ia ucapkan semalam. Ia tidak berpura-pura saat mencium.Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Marcellino sendiri tak mampu menjelaskan perasaan yang muncul saat mendengarnya. Awalnya ia terkejut dan terdiam, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Lalu, perlahan, muncul rasa lega seolah beban besar yang selama ini menekan dadanya tiba-tiba terangkat.Namun, ia memilih untuk tidak bereaksi saat itu. Ia sengaja menahan diri. Ia tidak yakin harus mengatakan apa. Sedikit saja salah langkah, ia bisa merusak hubungan mereka atau bahkan mempermalukan Freya.Dengan napas berat, ia kembali menatap kontrak di tangannya. Kali ini ia benar-benar membaca, memaksa dirinya fokus. Perlahan, pikirannya mulai bekerja kembali. Ia melirik jam. Sudah pukul sepuluh pagi. Freya pasti sudah bangun sekarang dan meli
Marcellino mengumpat pelan dalam hati. Baginya, situasi ini bahkan terasa lebih buruk daripada yang pernah ia alami bersama Ivanka.Ia berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menyikat gigi, menatap bayangannya sendiri. Rahangnya menegang, berusaha menahan emosi yang terus mendidih. Ia tahu ia harus tetap bersikap sopan. Ia tidak ingin merusak makan malam atau mengecewakan neneknya, yang sejak awal begitu antusias.Namun, pikirannya terus kembali pada Freya.Tangannya sedikit bergetar saat mengingat bagaimana gadis itu menciumnya dengan begitu penuh gairah, padahal semua itu hanyalah akting. Ia sempat percaya bahwa perasaan itu nyata, bahwa Freya benar-benar menginginkan ciuman itu… menginginkannya, sama seperti ia menginginkan Freya.Sial.Ia menekan tombol siram tanpa sengaja dengan cara yang salah, membuat air memercik ke pakaiannya. Ia menghela napas kesal, lalu melepas pakaian dan memutuskan untuk mandi.Air hangat yang mengalir di tubuhnya sedikit meredakan ketegangan. Namun,







