LOGINSeorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.
Namun jelas, mengikutinya.
Darah Megan langsung berdesir dingin, panik.
Sial! Apakah ia ketahuan?
Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.
Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafasnya mulai memburu. Ia berbelok tajam, melewati tumpukan peti kayu, menembus jalur sempit yang hanya ia hafal.
Namun... Langkah kaki di belakangnya masih terdengar.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Berhenti.”
Suara itu terdengar dingin. Tegas. Memerintah.
Megan tidak menggubris, ia justru berlari lebih cepat.
Adrenalin menguasai tubuhnya, pikirannya hanya satu, kabur.
Ia melompat melewati pagar rendah, hampir terpeleset, namun tetap berdiri. Jantungnya seperti ingin meledak saat ia berusaha mencapai jalan utama, namun tiba-tiba...
Sebuah tangan mencengkram lengannya.
Kuat.
Tak terhindarkan.
Megan tersentak keras, tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya ditarik mundur. Ia mencoba meronta, memukul, bahkan menendang.
“Lepaskan aku!” teriaknya, panik mulai pecah tanpa bisa ia tahan.
Namun pria itu tidak bergeming.
Cengkeramannya seperti besi.
Dalam satu gerakan cepat, tubuh Megan diputar, punggungnya menabrak dada pria itu. Satu tangan menahan pergelangan tangannya, tangan lainnya menekan bahunya, membuatnya tak bisa bergerak.
“Sudah kubilang berhenti.”
Suara itu... tidak asing.
Nafas Megan tercekat.
Perlahan, dengan susah payah, ia menoleh.
Dan matanya membelalak.
Pria itu.
Pria dari pesta itu.
Daniel.
Ketakutan yang berbeda merayap di dadanya.
Bukan lagi sekadar tertangkap.
Ini… lebih buruk.
“Lepaskan aku…” bisiknya, kini lebih lemah, namun tetap berusaha melawan. Ia tidak ingin mengorbankan nyawanya untuk seseorang yang bahkan tidak ia tau akan menyuruhnya melakukan apa.
Daniel hanya menyeringai tipis.
“Sepertinya,” ucapnya pelan di dekat telinga Megan, “kau tidak mendengar apa yang aku katakan sebelumnya.”
Sebelum Megan sempat bereaksi, sebuah kain ditekan ke hidung dan mulutnya.
Aroma tajam langsung menyerang indera penciumannya.
Megan meronta, mencoba melepaskan diri, tapi tenaga di tubuhnya perlahan menghilang. Dunia di sekitarnya mulai berputar… kabur… gelap.
Hal terakhir yang ia rasakan adalah cengkraman pria itu yang semakin erat.
Lalu semuanya lenyap.
Dengan mudahnya Daniel membopong Megan tanpa perlawanan.
*
Kesadaran itu datang perlahan… seperti ditarik paksa dari kegelapan yang pekat. Kelopak mata Megan bergetar sebelum akhirnya terbuka.
Pandangan pertamanya kabur.
Putih.
Segalanya… putih.
Langit-langit, dinding, bahkan tirai tipis yang membingkai jendela, semuanya tampak bersih, terlalu bersih, seperti ruangan yang tidak tersentuh dunia luar. Indah… namun dingin. Asing.
Seketika kesadarannya terkumpul.
Dan tubuhnya menegang.
Tangannya... terikat di belakang punggungnya.
Nafas Megan tersendat. Ia mencoba bangkit, duduk dengan susah payah di atas ranjang empuk yang terasa kontras dengan situasinya. Pergelangan tangannya bergerak kasar, berusaha melepaskan ikatan yang menahan, meski rasa pusing masih berdenyut di kepalanya.
Apa yang terjadi…?
Ingatan terakhirnya menghantam, pelabuhan, kejaran, pria itu…
Daniel.
Belum sempat ia mencerna lebih jauh, seseorang berbicara menyadarkan lamunannya.
“Aku membawamu kemari bukan tanpa alasan.”
Suara itu.
Tenang.
Dalam.
Namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Megan menegang.
Ia menoleh tajam.
Dan disanalah pria itu. Duduk santai di kursi coklat seolah ini hanyalah pertemuan biasa, bukan penculikan. Bajunya masih rapi, sikapnya tenang, satu tangan menggenggam gelas berisi anggur merah yang ia putar perlahan sebelum meneguknya.
Seolah dunia berada sepenuhnya dalam kendalinya.
Kontras yang begitu kejam dengan keadaan Megan.
“Apa yang sebenarnya kau mau dariku?!” suara Megan pecah, penuh amarah yang bercampur panik. Wajahnya memerah, nafasnya tak stabil. “Aku tidak punya apapun yang bisa kau manfaatkan!”
Daniel tidak langsung menjawab.
Ia hanya meletakkan gelasnya dengan tenang.
Lalu berdiri.
Langkahnya pelan, terukur… namun terasa menekan. Setiap langkahnya membuat jantung Megan berdegup lebih keras.
Ia mendekat. Semakin dekat.
Sampai akhirnya berhenti tepat di hadapan Megan yang duduk terikat, tak punya ruang untuk mundur.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
Bukan senyum hangat. Lebih seperti… sesuatu yang menyimpan niat tersembunyi.
“Kau bisa dimanfaatkan,” ucapnya ringan.
Sebelum Megan sempat membalas, tangan Daniel terangkat mencengkeram dagu Megan, memaksanya mendongak.
Nafas Megan tercekat. Tatapan mereka bertemu.
Mata pria itu… tajam. Mengunci. Seolah membaca setiap ketakutan yang coba ia sembunyikan.
Dan itu membuat Megan semakin marah. Sekaligus… gelisah.
Seringai kecil muncul di wajah Daniel.
“Dengan wajahmu,” lanjutnya pelan, hampir seperti menilai sebuah barang berharga, “dan keterampilanmu dalam mencuri… kau bisa bergabung denganku.”
“Bergabung denganmu?!” Megan langsung menyahut, suaranya meninggi, emosi yang ia tahan akhirnya pecah. “Orang gila mana yang menawarkan pekerjaan dengan cara menculik seperti ini?!”
Daniel terkekeh rendah.
Suara itu… entah kenapa membuat bulu kuduk Megan meremang.
Ia melepaskan cengkeramannya, memberi Megan ruang, namun bukan kebebasan.
Kini mereka hanya saling menatap. Dan untuk pertama kalinya, Megan benar-benar memperhatikannya dari jarak sedekat ini.
Wajah itu… terlalu sempurna.
Garis rahangnya tegas, matanya kehijauan, dalam, hampir memikat. Posturnya tinggi, tegap, memancarkan aura dominasi yang tak perlu dipaksakan.
Berbahaya.
Namun… mempesona.
Jantung Megan berdegup tak karuan.
Bukan hanya karena takut. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya semakin bingung pada dirinya sendiri.
Kenapa…?
Kenapa orang seperti ini… menginginkannya?
“Apa yang sebenarnya kau lihat dariku…?” bisiknya lirih, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Daniel.
Tatapannya goyah untuk pertama kalinya. Di antara ketakutan, kemarahan, dan kebingungan, Megan sadar satu hal.
Ia tidak hanya terjebak secara fisik. Ia sedang ditarik masuk… ke dalam dunia pria itu.
Dan ia bahkan belum tahu, dunia macam apa sampai membuat pria seperti Daniel menawarkan pekerjaan yang membuat Megan penuh tanda tanya, jangan bilang kalau pria ini akan menjualnya?
Namun belum sempat ia berkata lebih jauh, Daniel lebih dulu berkata.
“Aku mau kau bekerja denganku,” ucap Daniel tenang, terlalu tenang untuk sebuah ancaman. Tatapannya menembus tanpa ragu. “Dan pastikan kau tidak berkhianat…”
Ia berhenti sejenak. Cukup lama untuk membuat jantung Megan seolah berhenti berdetak.
Lalu, dengan nada yang lebih rendah, lebih dingin ketika ia menambahkan.
“...atau adikmu yang akan menanggung akibatnya.”
Dunia Megan runtuh dalam sekejap.
Mata gadis itu membelalak lebar, nafasnya tercekat seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menghilang. Ketakutan yang selama ini ia tahan… akhirnya menemukan bentuknya.
Bukan lagi tentang dirinya.
Tapi Adrian.
Dia tahu…?
Bagaimana mungkin?
“Siapa kau sebenarnya…?” suara Megan merendah, bergetar tipis, penuh kecurigaan sekaligus ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan, pria ini sudah menyelidikinya.
Daniel menyeringai tipis.
Bukan sekadar percaya diri, melainkan seseorang yang tahu ia memegang kendali penuh.
“Siapa aku?” ulangnya santai. “Kau akan mengetahuinya… jika kau cukup patuh untuk bekerja denganku.”
Rahang Megan mengeras.
Tangannya mengepal kuat di balik ikatan, kukunya hampir melukai kulitnya sendiri. Amarah, takut, dan rasa tidak berdaya bercampur menjadi satu, bergejolak di dalam dadanya.
“Sialan…” gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan penuh racun. “Wajah setampan itu… ternyata hanya topeng yang menutupi sifat brengseknya.”
Malam turun perlahan di atas Venesia seperti tirai beludru biru yang ditaburi berlian. Lampu-lampu kuno mulai menyala satu per satu di sepanjang kanal, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang beriak pelan. Kota yang ramai di siang hari kini berubah menjadi dunia yang sunyi dan misterius, seolah-olah Venesia menarik napas panjang dan berbisik pada mereka yang masih terjaga.Daniel dan Megan berjalan bergandengan tangan menyusuri Calle Larga, sebuah jalan sempit yang hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Dinding-dinding bata tua yang lembap memancarkan aroma khas air laut dan tanah basah. Lampu jalan berbentuk lentera kuno menggantung di setiap sudut, menerangi jalan berbatu yang berkilauan karena embun malam. Di atas mereka, jemuran pakaian menjuntai dari jendela-jendela apartemen yang masih menyala, dan dari balik gorden tipis, mereka dapat mendengar suara tawa dan percakapan keluarga Italia yang sedang menikmati makan malam."Ini sangat berbeda dari siang hari,"
Seminggu telah berlalu sejak pagi yang penuh tawa di ruang tamu itu. Kini, matahari kembali terbit dengan cahaya keemasan yang menyapu jalanan beraspal menuju kampus. Adrian melangkah keluar dari rumah dengan langkah ringan, tas selempang menyilang di dada, dan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sejak ia bangun tidur. Udara pagi terasa segar, dan burung-burung berkicau seolah ikut merayakan hari pertamanya.Hari ini adalah titik balik. Setelah bertahun-tahun terhambat oleh berbagai masalah, setelah kekacauan keluarga yang hampir menghancurkan segalanya, Adrian akhirnya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Usianya masih sembilan belas, waktunya masih panjang, dan ia tidak ingin membiarkan masa lalu merampok masa depannya.Meskipun keputusan ini berarti ia akan jarang bertemu Megan. Daniel telah merencanakan misi liburan keliling dunia bersama Megan, sebuah perjalanan yang sudah lama mereka nantikan sebagai bulan madu. Adrian sama sekali tid
Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui celah gorden putih di ruang tamu rumah besar yang baru. Megan berdiri di hadapan Adrian dengan tangan bersilang di dada, menatap adiknya dengan sorot mata setengah waspada. Sejak pernikahannya dengan Daniel, Megan tidak pernah benar-benar tega meninggalkan Adrian sendirian. Bukan karena ia tidak percaya, tapi karena kebiasaan merawat adiknya selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari dirinya."Adrian, mulai hari ini kau jaga rumah. Pastikan kau tidak berbuat nakal yang membuat rumah ini hancur," ucap Megan dengan nada yang berusaha tegas, meskipun di sudut matanya ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Adrian menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada malas yang khas. "Lagipula untuk apa aku menghancurkan rumah ini? Rumah ini tidak punya utang padaku.""Aku hanya memperingatimu. Kau itu terkadang tidak tahu aturan kalau aku tidak ada," gerutu Megan, jari telunjuknya teracung seperti biasa. "Ingat waktu kau hampir mem
Beberapa bulan kemudian, langit membentang sempurna tanpa secercah awan. Matahari pagi menyinari halaman terbuka yang dipenuhi ratusan tangkai bunga segar. Mawar merah, lily putih, dan anggrek ungu tersusun dalam vas-vas kaca yang berkilauan, seolah ikut merayakan hari yang telah lama dinantikan. Rumput hijau terhampar lembut di bawah kaki para tamu, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma manis dari kelopak bunga yang baru mekar.Hari itu adalah puncak dari segala penantian Daniel. Bukan sekadar pesta, bukan sekadar seremoni. Itu adalah momen di mana semua rasa yang ia pendam selama belasan tahun akhirnya menemukan pelabuhannya. Di altar sederhana yang dihiasi anyaman dedaunan, Daniel berdiri dengan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Ia telah menunggu hari ini lebih lama dari yang ia kira sanggup ia lalui.Ia mengingat kembali masa-masa kelam tiga tahun pertama setelah Megan menghilang dari kehidupannya. Dulu, ia nyaris menyerah. Setiap hari ia mencari, bertanya, menelusuri jalan-jalan
Beberapa hari berlalu hingga akhirnya sidang digelar setelah seluruh bukti berhasil dikumpulkan. Bukti-bukti tersebut cukup kuat untuk memastikan keterlibatan Andrew dan Sierra dalam berbagai tindakan kriminal, mulai dari suap, kecelakaan yang disengaja, hingga upaya mengambil alih aset yang bukan menjadi hak mereka. Namun, ternyata masalah mereka jauh lebih besar dari yang Megan bayangkan.Sidang berlangsung tegang. Sierra berkali-kali berusaha membela dirinya dan mencari celah agar hukuman yang dijatuhkan kepadanya bisa diringankan. Ia menyangkal beberapa tuduhan, memberikan berbagai alasan, bahkan berusaha meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak sepenuhnya terlibat dalam semua kejahatan tersebut. Namun, semakin banyak bukti yang ditunjukkan, semakin sulit baginya untuk menghindar.Pada akhirnya, semua usahanya sia-sia.Sierra dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun tujuh bulan, sementara Andrew menerima hukuman delapan tahun. Hukuman Andrew lebih berat karena selain terlibat dalam
Dulu, selain membantu Megan melewati masa-masa sulit, Diana juga rela meluangkan waktunya untuk keluar-masuk rumah sakit demi menjaga Adrian. Saat itu keadaan Diana sendiri sebenarnya tidak jauh lebih baik. Ia bahkan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi tetap memilih membantu tanpa pernah mengeluh ataupun meminta imbalan apa pun. Karena itulah, ketika kini Megan memiliki cukup banyak uang, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Diana. Ia ingin memberikan sesuatu yang dapat mengubah kehidupan sahabatnya itu menjadi lebih baik.Megan menyerahkan sebuah kunci akses kepada Diana sambil tersenyum. “Sekarang, kau tidak perlu lagi membagi barang-barangmu dengan tempat tidur hanya untuk bisa beristirahat. Tempat ini cukup luas untuk menjadi tempat tinggal barumu,” ucap Megan.Tatapannya kemudian menyapu apartemen mewah yang baru saja ia belikan. Ia tidak membutuhkan tempat sebanyak ini untuk dirinya sendiri, sedangkan Diana selama ini justru hidup dalam ru
Semalaman, Megan tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata… tanpa pernah benar-benar beristirahat.Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat, menjadi abu-abu muram, lalu disusupi cahaya pagi yang dingin. Namun di dalam kepalanya… semuanya tetap gelap.Daniel.Nama itu berputa
Dengan sorot mata tajam penuh perlawanan, Megan menatap Daniel.“Lepaskan,” desisnya dingin.Senyum tipis terangkat di bibir Daniel, bukan karena patuh, tapi karena tertarik. Ia berjongkok santai, membuka ikatan di kaki Megan satu per satu.“Aku akan melepaskanmu,” ucapnya ringan, “tapi berjanjilah
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.
Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel







