Mag-log inDengan sorot mata tajam penuh perlawanan, Megan menatap Daniel.
“Lepaskan,” desisnya dingin.
Senyum tipis terangkat di bibir Daniel, bukan karena patuh, tapi karena tertarik. Ia berjongkok santai, membuka ikatan di kaki Megan satu per satu.
“Aku akan melepaskanmu,” ucapnya ringan, “tapi berjanjilah… kau tidak akan menyerangku atau membuat masalah.”
Megan mendengus pelan, memutar matanya penuh ejekan.
Janji?
Begitu tali terakhir terlepas, Megan bergerak.
Cepat.
Tanpa peringatan.
Ia meloncat dari tempat tidur dan langsung berlari ke arah pintu. Bahkan sebelum Daniel sepenuhnya berdiri, tubuhnya sudah menghilang keluar ruangan.
Di belakangnya, Daniel hanya berdecak pelan.
Bukan kesal.
Lebih seperti… menikmati.
Langkah Megan menggema di lorong panjang. Matanya bergerak liar, mencari jalan keluar. Adrenalin mengalir deras di nadinya.
Keluar. Aku harus keluar.
Namun langkahnya terhenti.
Di depannya, penjaga.
Lebih dari satu.
Mata mereka langsung tertuju padanya.
“Berhenti!”
Megan tidak berpikir dua kali.
Ia menyerang.
Gerakannya cepat, tajam, penuh insting. Tubuhnya berputar menghindari sergapan pertama, tangannya menghantam leher salah satu penjaga. Yang lain mencoba menahan, namun Megan lebih gesit.
Pukulan. Tendangan.
Benturan keras terdengar di lorong.
Ia bukan gadis lemah dalam perkelahian seperti ini. Sejak kecil, ia belajar bertahan. Bertarung. Hidup di dunia ini tidak akan cukup tanpa seni beladiri, terlebih kehidupan di kota besar yang rawan terhadap kriminal.
Dan sekarang, itu semua terpakai.
Satu penjaga jatuh.
Disusul yang kedua.
Yang ketiga mencoba menyerang dari belakang, Megan berbalik cepat, siku menghantam wajahnya, diikuti tendangan yang menjatuhkannya ke lantai.
Hening.
Nafas Megan terengah, dadanya naik turun cepat. Rambutnya berantakan, matanya masih menyala oleh adrenalin.
Tiga orang terkapar di lantai.
Dan di ujung lorong, Daniel berdiri.
Bersandar santai, tangan terlipat di dada, menyaksikan semuanya seperti menonton pertunjukan yang sudah ia prediksi akan terjadi.
Ia mengangkat alisnya. Lalu… tertawa pelan.
“Inilah alasannya,” ucapnya, langkahnya mulai mendekat, suaranya sarat kepuasan. “Setelah melihat kemampuanmu barusan… aku semakin yakin.”
Mata Megan menyipit tajam.
“Kau ini sebenarnya siapa?!” bentaknya.
Namun alih-alih menjawab, Daniel justru mendekat lebih jauh.
Terlalu dekat.
Tangannya melingkar di pinggang Megan, menariknya dengan kuat, posesif. Tubuh mereka nyaris menempel. Megan tersentak, mencoba mendorongnya, tapi cengkeraman itu terlalu kokoh.
Kepala Daniel sedikit menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Megan.
“Siapa aku…” bisiknya rendah, menggetarkan, “tidak penting untukmu.”
Nafas Megan tercekat.
“Yang penting,” lanjutnya, semakin menekan, “kau bekerja denganku… atau adikmu yang akan membayar harganya.”
Ancaman itu kembali.
Lebih tajam. Lebih dalam.
Tangan Megan mengepal, tubuhnya menegang oleh amarah yang tak bisa ia lampiaskan.
Namun sebelum ia sempat melawan, sebuah suara lain memotong suasana.
“Wanita mana lagi yang kau bawa kali ini, Daniel?”
Langkah ringan terdengar.
Refleks, Megan menoleh.
Seorang wanita yang lebih tua berdiri tak jauh dari mereka, sorot matanya tenang… namun penuh penilaian.
Tapi hal yang mengejutkan, Daniel tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia justru menarik Megan lebih dekat, mempererat pelukannya seolah menandai kepemilikan.
“Wanitaku,,” ucapnya santai.
Detik itu juga, mata Megan membelalak.
Apa?!
Namun wanita itu hanya mengangguk ringan, seolah tak terlalu peduli. Ia melewati mereka begitu saja, duduk di sofa dengan elegan.
“Setidaknya kau masih tahu batasanmu,” katanya datar. “Aku tidak akan ikut campur.”
Hening.
Megan masih terpaku.
Otaknya mencoba mencerna semuanya, ancaman, penculikan, pertarungan… dan sekarang… pria ini mengklaim ia wanitanya begitu saja.
Megan menoleh tajam ke samping.
Menatap Daniel.
Kesal. Marah. Bingung.
Namun pria itu, hanya menyeringai.
Dan entah kenapa… itu jauh lebih menyebalkan daripada semua ancaman yang ia lontarkan sebelumnya.
“Wanitaku?” desis Megan lirih, nada suaranya pelan… tapi tajam, seperti pisau yang siap melukai.
Daniel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, seringai tipis masih menghiasi wajahnya seolah menikmati reaksi Megan.
“Kau bercanda, kan?” lanjut Megan, kini berusaha melepaskan diri dari pelukannya. “Lepaskan aku, dasar gila.”
Namun Daniel tidak bergeming.
Cengkeramannya justru menguat sedikit, cukup untuk membuat Megan sadar, ini bukan candaan.
“Jangan bergerak terlalu liar,” bisiknya rendah, nyaris tak terdengar orang lain. “Kalau kau ingin tetap aman… mainkan peranmu.”
Megan menegang.
“Aman?” ia tertawa sinis. “Kau menculikku, mengancam adikku, dan sekarang menyuruhku berpura-pura jadi kekasihmu? Kau menyebut ini aman?”
Daniel sedikit memiringkan kepala, menatapnya seolah Megan baru saja mengatakan sesuatu yang menggelikan.
“Untuk ukuran posisimu sekarang,” jawabnya tenang, “ya. Ini jauh lebih aman dibanding alternatif lainnya.”
Mata Megan menyipit tajam. “Kau benar-benar menyebalkan.”
“Dan kau terlalu keras kepala,” balas Daniel cepat.
Tatapan mereka beradu.
Panas.
Tegang.
Tak ada yang mau mengalah.
Dari sofa, wanita tadi menyilangkan kaki dengan elegan, memperhatikan mereka seperti menonton pertunjukan.
“Menarik,” gumamnya. “Sudah lama aku tidak melihatmu membawa seseorang dengan… energi seperti ini, Daniel.”
Megan langsung menoleh. “Siapa dia?”
“Bukan urusanmu,” jawab Daniel datar.
Wanita tua itu tersenyum tipis. “Kasar sekali. Kau tidak pernah berubah.” Ia menatap Megan dari ujung kepala hingga kaki. “Namamu?”
Megan terdiam sejenak. Ia melirik Daniel, lalu kembali ke wanita itu.
“…Megan.”
“Hmm,” wanita itu mengangguk pelan. “Berani juga.”
“Lebih tepatnya, terpaksa,” sahut Megan dingin.
Senyum wanita itu sedikit melebar, seperti menikmati jawaban tersebut.
“Sudah cukup,” potong Daniel tiba-tiba.
Tangannya yang masih melingkar di pinggang Megan perlahan mendorongnya untuk berbalik menghadapnya.
“Kita belum selesai bicara.”
Megan mendengus. “Aku tidak punya apapun lagi untuk dibicarakan denganmu.”
“Oh, sebaliknya,” ujar Daniel pelan, matanya menajam. “Kau punya banyak hal yang harus kau dengar.”
Ia mendekat sedikit, cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa semakin sempit.
“Mulai sekarang,” lanjutnya, “kau akan tinggal di sini.”
“Apa?!” Megan langsung menyahut, emosinya meledak. “Tidak! Aku tidak akan...”
“Kau tidak punya pilihan,” potong Daniel dingin.
Malam turun perlahan di atas Venesia seperti tirai beludru biru yang ditaburi berlian. Lampu-lampu kuno mulai menyala satu per satu di sepanjang kanal, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang beriak pelan. Kota yang ramai di siang hari kini berubah menjadi dunia yang sunyi dan misterius, seolah-olah Venesia menarik napas panjang dan berbisik pada mereka yang masih terjaga.Daniel dan Megan berjalan bergandengan tangan menyusuri Calle Larga, sebuah jalan sempit yang hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Dinding-dinding bata tua yang lembap memancarkan aroma khas air laut dan tanah basah. Lampu jalan berbentuk lentera kuno menggantung di setiap sudut, menerangi jalan berbatu yang berkilauan karena embun malam. Di atas mereka, jemuran pakaian menjuntai dari jendela-jendela apartemen yang masih menyala, dan dari balik gorden tipis, mereka dapat mendengar suara tawa dan percakapan keluarga Italia yang sedang menikmati makan malam."Ini sangat berbeda dari siang hari,"
Seminggu telah berlalu sejak pagi yang penuh tawa di ruang tamu itu. Kini, matahari kembali terbit dengan cahaya keemasan yang menyapu jalanan beraspal menuju kampus. Adrian melangkah keluar dari rumah dengan langkah ringan, tas selempang menyilang di dada, dan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sejak ia bangun tidur. Udara pagi terasa segar, dan burung-burung berkicau seolah ikut merayakan hari pertamanya.Hari ini adalah titik balik. Setelah bertahun-tahun terhambat oleh berbagai masalah, setelah kekacauan keluarga yang hampir menghancurkan segalanya, Adrian akhirnya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Usianya masih sembilan belas, waktunya masih panjang, dan ia tidak ingin membiarkan masa lalu merampok masa depannya.Meskipun keputusan ini berarti ia akan jarang bertemu Megan. Daniel telah merencanakan misi liburan keliling dunia bersama Megan, sebuah perjalanan yang sudah lama mereka nantikan sebagai bulan madu. Adrian sama sekali tid
Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui celah gorden putih di ruang tamu rumah besar yang baru. Megan berdiri di hadapan Adrian dengan tangan bersilang di dada, menatap adiknya dengan sorot mata setengah waspada. Sejak pernikahannya dengan Daniel, Megan tidak pernah benar-benar tega meninggalkan Adrian sendirian. Bukan karena ia tidak percaya, tapi karena kebiasaan merawat adiknya selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari dirinya."Adrian, mulai hari ini kau jaga rumah. Pastikan kau tidak berbuat nakal yang membuat rumah ini hancur," ucap Megan dengan nada yang berusaha tegas, meskipun di sudut matanya ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Adrian menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada malas yang khas. "Lagipula untuk apa aku menghancurkan rumah ini? Rumah ini tidak punya utang padaku.""Aku hanya memperingatimu. Kau itu terkadang tidak tahu aturan kalau aku tidak ada," gerutu Megan, jari telunjuknya teracung seperti biasa. "Ingat waktu kau hampir mem
Beberapa bulan kemudian, langit membentang sempurna tanpa secercah awan. Matahari pagi menyinari halaman terbuka yang dipenuhi ratusan tangkai bunga segar. Mawar merah, lily putih, dan anggrek ungu tersusun dalam vas-vas kaca yang berkilauan, seolah ikut merayakan hari yang telah lama dinantikan. Rumput hijau terhampar lembut di bawah kaki para tamu, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma manis dari kelopak bunga yang baru mekar.Hari itu adalah puncak dari segala penantian Daniel. Bukan sekadar pesta, bukan sekadar seremoni. Itu adalah momen di mana semua rasa yang ia pendam selama belasan tahun akhirnya menemukan pelabuhannya. Di altar sederhana yang dihiasi anyaman dedaunan, Daniel berdiri dengan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Ia telah menunggu hari ini lebih lama dari yang ia kira sanggup ia lalui.Ia mengingat kembali masa-masa kelam tiga tahun pertama setelah Megan menghilang dari kehidupannya. Dulu, ia nyaris menyerah. Setiap hari ia mencari, bertanya, menelusuri jalan-jalan
Beberapa hari berlalu hingga akhirnya sidang digelar setelah seluruh bukti berhasil dikumpulkan. Bukti-bukti tersebut cukup kuat untuk memastikan keterlibatan Andrew dan Sierra dalam berbagai tindakan kriminal, mulai dari suap, kecelakaan yang disengaja, hingga upaya mengambil alih aset yang bukan menjadi hak mereka. Namun, ternyata masalah mereka jauh lebih besar dari yang Megan bayangkan.Sidang berlangsung tegang. Sierra berkali-kali berusaha membela dirinya dan mencari celah agar hukuman yang dijatuhkan kepadanya bisa diringankan. Ia menyangkal beberapa tuduhan, memberikan berbagai alasan, bahkan berusaha meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak sepenuhnya terlibat dalam semua kejahatan tersebut. Namun, semakin banyak bukti yang ditunjukkan, semakin sulit baginya untuk menghindar.Pada akhirnya, semua usahanya sia-sia.Sierra dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun tujuh bulan, sementara Andrew menerima hukuman delapan tahun. Hukuman Andrew lebih berat karena selain terlibat dalam
Dulu, selain membantu Megan melewati masa-masa sulit, Diana juga rela meluangkan waktunya untuk keluar-masuk rumah sakit demi menjaga Adrian. Saat itu keadaan Diana sendiri sebenarnya tidak jauh lebih baik. Ia bahkan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi tetap memilih membantu tanpa pernah mengeluh ataupun meminta imbalan apa pun. Karena itulah, ketika kini Megan memiliki cukup banyak uang, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Diana. Ia ingin memberikan sesuatu yang dapat mengubah kehidupan sahabatnya itu menjadi lebih baik.Megan menyerahkan sebuah kunci akses kepada Diana sambil tersenyum. “Sekarang, kau tidak perlu lagi membagi barang-barangmu dengan tempat tidur hanya untuk bisa beristirahat. Tempat ini cukup luas untuk menjadi tempat tinggal barumu,” ucap Megan.Tatapannya kemudian menyapu apartemen mewah yang baru saja ia belikan. Ia tidak membutuhkan tempat sebanyak ini untuk dirinya sendiri, sedangkan Diana selama ini justru hidup dalam ru
Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel
Sepanjang hari, jantung Megan tak pernah tenang. Setiap langkah di belakangnya terasa seperti ancaman. Ia yakin sekali saja tertangkap, semuanya berakhir.Namun malam datang… dan tak ada yang mencarinya.Di ruangan sempit, uang berhamburan di atas meja. Trix dan Byne tertawa ringan.“Banyak hari in
Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.







