Share

Bab 6. Pemaksaan

Penulis: SILAN
last update Tanggal publikasi: 2026-04-12 18:58:19

Dengan sorot mata tajam penuh perlawanan, Megan menatap Daniel.

“Lepaskan,” desisnya dingin.

Senyum tipis terangkat di bibir Daniel, bukan karena patuh, tapi karena tertarik. Ia berjongkok santai, membuka ikatan di kaki Megan satu per satu.

“Aku akan melepaskanmu,” ucapnya ringan, “tapi berjanjilah… kau tidak akan menyerangku atau membuat masalah.”

Megan mendengus pelan, memutar matanya penuh ejekan.

Janji?

Begitu tali terakhir terlepas, Megan bergerak.

Cepat.

Tanpa peringatan.

Ia meloncat dari tempat tidur dan langsung berlari ke arah pintu. Bahkan sebelum Daniel sepenuhnya berdiri, tubuhnya sudah menghilang keluar ruangan.

Di belakangnya, Daniel hanya berdecak pelan.

Bukan kesal.

Lebih seperti… menikmati.

Langkah Megan menggema di lorong panjang. Matanya bergerak liar, mencari jalan keluar. Adrenalin mengalir deras di nadinya.

Keluar. Aku harus keluar.

Namun langkahnya terhenti.

Di depannya, penjaga.

Lebih dari satu.

Mata mereka langsung tertuju padanya.

“Berhenti!”

Megan tidak berpikir dua kali.

Ia menyerang.

Gerakannya cepat, tajam, penuh insting. Tubuhnya berputar menghindari sergapan pertama, tangannya menghantam leher salah satu penjaga. Yang lain mencoba menahan, namun Megan lebih gesit.

Pukulan. Tendangan.

Benturan keras terdengar di lorong.

Ia bukan gadis lemah dalam perkelahian seperti ini. Sejak kecil, ia belajar bertahan. Bertarung. Hidup di dunia ini tidak akan cukup tanpa seni beladiri, terlebih kehidupan di kota besar yang rawan terhadap kriminal.

Dan sekarang, itu semua terpakai.

Satu penjaga jatuh.

Disusul yang kedua.

Yang ketiga mencoba menyerang dari belakang, Megan berbalik cepat, siku menghantam wajahnya, diikuti tendangan yang menjatuhkannya ke lantai.

Hening.

Nafas Megan terengah, dadanya naik turun cepat. Rambutnya berantakan, matanya masih menyala oleh adrenalin.

Tiga orang terkapar di lantai.

Dan di ujung lorong, Daniel berdiri.

Bersandar santai, tangan terlipat di dada, menyaksikan semuanya seperti menonton pertunjukan yang sudah ia prediksi akan terjadi.

Ia mengangkat alisnya. Lalu… tertawa pelan.

“Inilah alasannya,” ucapnya, langkahnya mulai mendekat, suaranya sarat kepuasan. “Setelah melihat kemampuanmu barusan… aku semakin yakin.”

Mata Megan menyipit tajam.

“Kau ini sebenarnya siapa?!” bentaknya.

Namun alih-alih menjawab, Daniel justru mendekat lebih jauh.

Terlalu dekat.

Tangannya melingkar di pinggang Megan, menariknya dengan kuat, posesif. Tubuh mereka nyaris menempel. Megan tersentak, mencoba mendorongnya, tapi cengkeraman itu terlalu kokoh.

Kepala Daniel sedikit menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Megan.

“Siapa aku…” bisiknya rendah, menggetarkan, “tidak penting untukmu.”

Nafas Megan tercekat.

“Yang penting,” lanjutnya, semakin menekan, “kau bekerja denganku… atau adikmu yang akan membayar harganya.”

Ancaman itu kembali.

Lebih tajam. Lebih dalam.

Tangan Megan mengepal, tubuhnya menegang oleh amarah yang tak bisa ia lampiaskan.

Namun sebelum ia sempat melawan, sebuah suara lain memotong suasana.

“Wanita mana lagi yang kau bawa kali ini, Daniel?”

Langkah ringan terdengar.

Refleks, Megan menoleh.

Seorang wanita yang lebih tua berdiri tak jauh dari mereka, sorot matanya tenang… namun penuh penilaian.

Tapi hal yang mengejutkan, Daniel tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia justru menarik Megan lebih dekat, mempererat pelukannya seolah menandai kepemilikan.

“Wanitaku,,” ucapnya santai.

Detik itu juga, mata Megan membelalak.

Apa?!

Namun wanita itu hanya mengangguk ringan, seolah tak terlalu peduli. Ia melewati mereka begitu saja, duduk di sofa dengan elegan.

“Setidaknya kau masih tahu batasanmu,” katanya datar. “Aku tidak akan ikut campur.”

Hening.

Megan masih terpaku.

Otaknya mencoba mencerna semuanya, ancaman, penculikan, pertarungan… dan sekarang… pria ini mengklaim ia wanitanya begitu saja.

Megan menoleh tajam ke samping.

Menatap Daniel.

Kesal. Marah. Bingung.

Namun pria itu, hanya menyeringai.

Dan entah kenapa… itu jauh lebih menyebalkan daripada semua ancaman yang ia lontarkan sebelumnya. 

“Wanitaku?” desis Megan lirih, nada suaranya pelan… tapi tajam, seperti pisau yang siap melukai.

Daniel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, seringai tipis masih menghiasi wajahnya seolah menikmati reaksi Megan.

“Kau bercanda, kan?” lanjut Megan, kini berusaha melepaskan diri dari pelukannya. “Lepaskan aku, dasar gila.”

Namun Daniel tidak bergeming.

Cengkeramannya justru menguat sedikit, cukup untuk membuat Megan sadar, ini bukan candaan.

“Jangan bergerak terlalu liar,” bisiknya rendah, nyaris tak terdengar orang lain. “Kalau kau ingin tetap aman… mainkan peranmu.”

Megan menegang.

“Aman?” ia tertawa sinis. “Kau menculikku, mengancam adikku, dan sekarang menyuruhku berpura-pura jadi kekasihmu? Kau menyebut ini aman?”

Daniel sedikit memiringkan kepala, menatapnya seolah Megan baru saja mengatakan sesuatu yang menggelikan.

“Untuk ukuran posisimu sekarang,” jawabnya tenang, “ya. Ini jauh lebih aman dibanding alternatif lainnya.”

Mata Megan menyipit tajam. “Kau benar-benar menyebalkan.”

“Dan kau terlalu keras kepala,” balas Daniel cepat.

Tatapan mereka beradu.

Panas.

Tegang.

Tak ada yang mau mengalah.

Dari sofa, wanita tadi menyilangkan kaki dengan elegan, memperhatikan mereka seperti menonton pertunjukan.

“Menarik,” gumamnya. “Sudah lama aku tidak melihatmu membawa seseorang dengan… energi seperti ini, Daniel.”

Megan langsung menoleh. “Siapa dia?”

“Bukan urusanmu,” jawab Daniel datar.

Wanita tua itu tersenyum tipis. “Kasar sekali. Kau tidak pernah berubah.” Ia menatap Megan dari ujung kepala hingga kaki. “Namamu?”

Megan terdiam sejenak. Ia melirik Daniel, lalu kembali ke wanita itu.

“…Megan.”

“Hmm,” wanita itu mengangguk pelan. “Berani juga.”

“Lebih tepatnya, terpaksa,” sahut Megan dingin.

Senyum wanita itu sedikit melebar, seperti menikmati jawaban tersebut.

“Sudah cukup,” potong Daniel tiba-tiba.

Tangannya yang masih melingkar di pinggang Megan perlahan mendorongnya untuk berbalik menghadapnya.

“Kita belum selesai bicara.”

Megan mendengus. “Aku tidak punya apapun lagi untuk dibicarakan denganmu.”

“Oh, sebaliknya,” ujar Daniel pelan, matanya menajam. “Kau punya banyak hal yang harus kau dengar.”

Ia mendekat sedikit, cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa semakin sempit.

“Mulai sekarang,” lanjutnya, “kau akan tinggal di sini.”

“Apa?!” Megan langsung menyahut, emosinya meledak. “Tidak! Aku tidak akan...”

“Kau tidak punya pilihan,” potong Daniel dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 83. Pertarungan

    Megan masih berusaha melepaskan ikatan Adrian ketika suara langkah kaki mulai terdengar dari balik kepulan asap. Suara itu semakin dekat, bercampur dengan suara api yang menjilat sisa-sisa kayu di sekitar mereka. Ia menoleh panik, lalu kembali fokus pada tali di tangan adiknya."Adrian, bertahan sebentar lagi. Aku akan membawamu keluar dari sini." Suara Megan panik, tetapi tangannya tetap bergerak cepat meskipun jari-jarinya gemetar. Ia tidak peduli pada luka kecil di telapak tangannya akibat serpihan kaca. Yang ada di pikirannya hanya satu, membawa Adrian keluar hidup-hidup."Aku... baik-baik saja. Jangan khawatir." Adrian mencoba tersenyum, tetapi wajahnya yang pucat justru membuat Megan semakin cemas. Tubuhnya masih lemah, ditambah ledakan barusan membuat nafasnya semakin berat.Daniel segera berjongkok di depan mereka. "Sudah. Ikatannya terlepas. Sekarang kita pergi." Nada suaranya terdengar tegas, nyaris tanpa emosi, tetapi tatapan matanya terus memperhatikan keadaan Adrian dan M

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 82. Menyerahkan stempel

    Megan memejamkan mata. Setidaknya satu hal yang paling ia takutkan belum terjadi. Adrian masih hidup. Namun cara Sierra mengatakannya membuat Megan tahu bahwa keselamatan Adrian hanya bergantung pada keputusan yang akan ia ambil.Tidak berselang lama, pesan singkat dari Sierra masuk."Datanglah ke gudang lama keluarga Bosch. Satu jam. Sendirian."Megan menatap layar ponselnya dengan nafas berat. Tidak ada lagi suara Sierra, tetapi ancaman wanita itu masih terasa jelas di kepalanya. Daniel mengambil napas panjang sebelum memandang Megan."Aku akan pergi." Megan berbicara dengan suara pelan, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia tidak peduli seberapa berbahayanya tempat tersebut. Tidak peduli berapa banyak orang yang mungkin menunggunya. Selama Adrian berada di sana, ia akan datang."Tidak." Jawaban Daniel terdengar tegas. Tatapannya langsung berubah keras ketika melihat Megan mulai membuka tasnya."Daniel...""Kau tidak akan pergi sendirian."Daniel menggenggam pergelangan tangan Megan,

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 81. Misi penyelamatan

    Adrian terus meronta, tetapi semakin ia berusaha melepaskan diri, semakin kuat tali itu menekan pergelangan tangannya. Nafasnya memburu, tubuhnya terasa lemah setelah obat bius yang Sierra berikan masih meninggalkan efek."Sial..." gumamnya sambil menundukkan kepala. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya dibawa ke tempat itu. Namun ingatannya masih dipenuhi potongan-potongan samar, terakhir kali yang ia ingat, anak buah Daniel menemaninya saat proses keluar dari rumah sakit.Dan sekarang, ia justru berada di tangan Sierra sebagai tawanan, Adrian yakin kalau wanita licik itu pasti mengincar Megan."Tidak akan aku biarkan kau menyakiti Megan," geram Adrian.Tiba-tiba terdengar suara langkah dari balik pintu.Adrian langsung mengangkat kepala. "Sierra?"Tidak ada jawaban.Pintu besi itu terbuka perlahan. Namun bukan Sierra yang muncul. Seorang pria masuk membawa sebuah nampan berisi makanan dan sebotol air. Ia meletakkannya di meja kecil di samping Adrian tanpa mengucapka

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 80. Adrian dalam bahaya

    "Sierra bergerak, dia menculik Adrian."Kalimat Daniel terdengar sederhana, tetapi dampaknya seperti menghantam dada Megan dengan keras. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam, seolah otaknya menolak memahami apa yang baru saja didengarnya."Apa?" suara Megan akhirnya keluar, nyaris berbisik. "Apa maksudmu menculik Adrian?"Daniel langsung meraih pergelangan tangannya. "Kita pergi sekarang. Orangku kehilangan jejaknya beberapa menit lalu. Sierra menggunakan orang lain untuk membawa Adrian keluar dari rumah sakit. Mereka memutus semua kamera di lantai tempat adikmu dirawat."Megan menarik tangannya dengan panik. "Kau bilang orangmu mengawasi Adrian. Lalu bagaimana mereka bisa membiarkannya diculik?"Daniel menatapnya tajam. "Karena ini bukan serangan biasa. Mereka sudah merencanakannya."Megan terdiam. Dadanya terasa sesak. Semua ketakutan yang selama dua bulan terakhir ia tahan akhirnya pecah dalam satu waktu. Ia pernah kehilangan kedua orang tuanya. Ia hampir kehilangan Adrian b

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 79. Membuka fakta

    Konferensi pers dilakukan dengan banyak sekali menghadirkan wartawan, sepertinya Andrew ingin semua orang tau kalau hari ini adalah waktunya ia bersinar kembali. Namun, harapannya itu mulai meragukan bahkan untuk dirinya sendiri setelah melihat Megan sudah berdiri di dekatnya, di depan semua wartawan yang Andrew undang. Bahkan, anak buahnya tidak bisa menghentikan Megan saat ini."Perkenalkan," suara Megan bergema di seluruh ruangan, jelas dan tegas. "Aku adalah putri sulung Giorgino Cornelius."Bisik-bisik mulai terdengar di antara para wartawan. Beberapa mulai mengangkat mikrofon lebih tinggi, bersiap menangkap setiap kata yang akan keluar dari mulut perempuan ini."Belasan tahun lalu, setelah pembantaian yang terjadi pada keluargaku, aku dan adikku, Adrian Cornelius, masih hidup. "Kalimat itu melayang di udara seperti bom yang siap meledak. Ruangan mendadak hening, lalu kembali dipenuhi bisik-bisik yang semakin keras."Belasan tahun aku dan adikku hidup di luar tanpa menggunakan

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 78. 1 hari sebelumnya

    Semua orang melihat ke sumber suara, yang tidak lain adalah Megan.Perempuan itu melangkah maju dari antara kerumunan, membawa sebuah kotak kayu dalam dekapannya. Kotak tua dengan ukiran rumit yang terlihat antik, seperti sesuatu yang disimpan selama bertahun-tahun di tempat tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk muncul.Megan berjalan dengan langkah mantap menuju panggung. Lampu-lampu sorot mulai bergeser, meninggalkan Andrew yang pucat dan beralih ke arahnya. Semua wartawan, semua kamera, semua mata di ruangan itu kini terfokus pada satu orang.Megan Cornelius.Sebelum Megan melihat para wartawan, ia melihat lebih dulu ke arah Andrew. Bibirnya melengkung membentuk seringai puas, senyum yang mengatakan bahwa kemenangan ada di tangannya.1 hari sebelumnya."Kau masih terlihat tenang, saat Andrew berhasil mengambil stempel itu?" suara Megan naik satu oktaf lebih tinggi.Daniel menoleh, ia baru saja keluar dari ruangan bersama seorang pria, tampak baru saja membicarakan sesuatu yan

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 1. Saat Pilihan Tidak Lagi Ada

    “Aku tidak punya uang.”Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Megan, nyaris tak terdengar.“Tapi adikmu butuh penanganan khusus, Megan,” kata Diana cemas, berusaha tetap terdengar tegar. “Kita tidak bisa menunda lagi. Kalau terlambat… kau bisa kehilangan Adrian.”Megan terdiam. Tangannya mengepal e

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 7. Daniel menjebaknya?

    Semalaman, Megan tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata… tanpa pernah benar-benar beristirahat.Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat, menjadi abu-abu muram, lalu disusupi cahaya pagi yang dingin. Namun di dalam kepalanya… semuanya tetap gelap.Daniel.Nama itu berputa

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 5. “Tak ada jalan kabur

    Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 4. Apa aku ketahuan?

    Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status