Beranda / Mafia / Falling for the Mafia’s Embrace / Bab 7. Daniel menjebaknya?

Share

Bab 7. Daniel menjebaknya?

Penulis: SILAN
last update Tanggal publikasi: 2026-04-12 18:59:20

Semalaman, Megan tidak benar-benar tidur. Ia hanya memejamkan mata… tanpa pernah benar-benar beristirahat.

Langit di luar jendela perlahan berubah dari hitam pekat, menjadi abu-abu muram, lalu disusupi cahaya pagi yang dingin. Namun di dalam kepalanya… semuanya tetap gelap.

Daniel.

Nama itu berputar tanpa henti. Pria asing yang menculiknya. Mengancam nyawa adiknya. Dan dengan begitu mudah… mengklaimnya sebagai miliknya. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.

Ia bahkan tidak mengenalnya. Hanya dua pertemuan singkat, namun cukup untuk menghancurkan hidupnya.

Tangannya mengepal kuat di atas selimut. Kabur.

Satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Megan bangkit perlahan, langkahnya ringan menuju pintu. Jantungnya berdebar keras, harapan kecil menyelinap di dadanya.

Satu langkah lagi, dan ia bebas.

Namun… wajah Adrian muncul. Lemah. Tak berdaya.

“…atau adikmu yang akan menanggung akibatnya.”

Langkah Megan terhenti.

Nafasnya tercekat, harapan itu hancur sebelum sempat ia genggam.

Dengan rahang mengeras, ia berbalik. Kakinya terasa berat saat melangkah keluar kamar, turun ke ruang utama.

Dan disanalah, ia mendengar suara itu.

“Rias dia secantik mungkin,” ujar Daniel dingin. “Aku tidak mau ada satupun detail yang mengecewakan malam ini.”

Megan mendekat, keningnya berkerut.

“Apa lagi sekarang?” suaranya tajam. “Kita tidak sedekat itu dan kau—”

Belum selesai, sebuah jari menekan bibirnya. Dunia Megan seolah berhenti.

Refleks, ia menepis tangan itu dengan kasar. “Jangan sentuh aku.”

Matanya menyala, penuh amarah. Daniel hanya tersenyum tipis, seolah semua perlawanan itu… menarik.

“Sebaiknya kau diam,” ucapnya datar. “Tugasmu yang sebenarnya dimulai hari ini.”

Nada suaranya berubah, lebih rendah, lebih berbahaya.

“Gunakan tanganmu itu… untuk mengambil sesuatu yang aku butuhkan.”

Mata Megan membelalak.

“Jadi ini tujuanmu?!” suaranya meninggi. “Kau menculikku hanya untuk menjadikanku pencuri?!”

Daniel mendekat. Tenang. Mengintimidasi.

“Bukankah kau memang sudah menjadi pencuri?” katanya ringan.

Kalimat itu, menampar tanpa ampun. Megan terdiam tak bisa membantah, karena itu… benar.

Daniel tersenyum, puas.

“Siapkan dirimu,” lanjutnya santai. “Ini akan lebih besar dari yang biasa kau lakukan.”

Ia pergi.

Meninggalkan Megan dalam diam yang menekan, dan satu kesadaran yang semakin jelas, ia sudah masuk terlalu jauh.

Malamnya… Megan berdiri di tengah pesta mewah, menyamar sempurna di balik topeng yang ia pakai.

Gaun elegan membungkus tubuhnya. Rambutnya tertata rapi,, berbaur sempurna dengan para tamu elit lain, ini adalah pesta topeng termewah yang pernah Megan hadiri, namun bukan itu inti poin malam ini.

Sorot matanya tajam, mencari target dan ia menemukannya.

Seorang pria dengan cincin mahal di jarinya, nafas Megan melambat, langkahnya teratur, dekat… semakin dekat…

Satu gerakan cepat, cincin itu berpindah.

Berhasil.

Namun...

“Hey! Tanganku—!”

Sial.

Kepanikan meledak.

Megan langsung berlari.

Langkahnya cepat, menabrak orang-orang, menerobos lorong, mengabaikan teriakan di belakangnya. Suara sepatu menghantam lantai, jantungnya berpacu liar. Ia melompat melewati pagar pembatas, nyaris terpeleset, hampir jatuh dari tangga marmer yang licin.

Tangannya berpegangan di detik terakhir, satu langkah lagi, ia bisa saja mati.

Namun ia terus bergerak, terus berlari sampai berhasil melewati pintu belakang di balik gedung yang sepi, menuju jalanan gelap.

Namun pengejaran belum berhenti.

Langkah kaki di belakangnya semakin banyak.

Semakin dekat.

Megan menoleh sekilas, dan itu kesalahan, seseorang hampir menangkapnya.

Ia berputar cepat, menendang perut pria itu, lalu berlari lagi tanpa arah dalam keadaan panik menguasai. Nafasnya tersengal, kakinya mulai lemah.

“Ke mana… aku harus pergi…?” gumamnya cemas kebingungan disertai panik menguasai.

Dan saat itu...

DOR!

Suara tembakan memecah malam, Megan membeku.

Tubuhnya menegang.

Peluru nyaris melewati sisi wajahnya.

Sedikit lagi, ia akan mati.

Matanya membelalak, perlahan… ia menoleh.

Dan yang ia lihat, membuat darahnya terasa dingin.

Daniel.

Berdiri di tengah kekacauan.

Matanya tajam. Tangannya memegang senjata.

Di sekelilingnya, orang-orang bertarung.

Brutal.

Tanpa ampun.

Daniel bergerak cepat, menjatuhkan satu orang… dua… tanpa ragu.

Seolah kekerasan adalah bagian dari dirinya.

Megan terpaku.

Tak bisa bergerak.

Tak bisa berpikir.

Dan di tengah kekacauan itu, mata Daniel bertemu dengannya.

Langsung, mengunci.

Senyumnya perlahan muncul… bukan menyelamatkan.

Tapi, seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.

Dan saat Megan mencoba mundur, seseorang dari belakang mencengkeram bahunya dengan keras.

“Ketemu kau.” Suara itu dingin.

Asing.

Berbahaya.

Nafas Megan terhenti, tangannya refleks mencoba melawan... namun terlambat.

Cengkeraman itu terlalu kuat, dan dari sudut matanya ia melihat lebih banyak orang mendekat.

Mengurungnya.

Tidak ada jalan keluar.

Tidak ada Daniel yang bergerak menolongnya.

Hanya tatapan pria itu dari kejauhan… yang tetap tenang.

Seolah… ini semua memang bagian dari rencananya.

Dan untuk pertama kalinya, Megan benar-benar tidak tahu…

...apakah ini akhir dari hidupnya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 94. Tamat

    Malam turun perlahan di atas Venesia seperti tirai beludru biru yang ditaburi berlian. Lampu-lampu kuno mulai menyala satu per satu di sepanjang kanal, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang beriak pelan. Kota yang ramai di siang hari kini berubah menjadi dunia yang sunyi dan misterius, seolah-olah Venesia menarik napas panjang dan berbisik pada mereka yang masih terjaga.Daniel dan Megan berjalan bergandengan tangan menyusuri Calle Larga, sebuah jalan sempit yang hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Dinding-dinding bata tua yang lembap memancarkan aroma khas air laut dan tanah basah. Lampu jalan berbentuk lentera kuno menggantung di setiap sudut, menerangi jalan berbatu yang berkilauan karena embun malam. Di atas mereka, jemuran pakaian menjuntai dari jendela-jendela apartemen yang masih menyala, dan dari balik gorden tipis, mereka dapat mendengar suara tawa dan percakapan keluarga Italia yang sedang menikmati makan malam."Ini sangat berbeda dari siang hari,"

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 93. Kehidupan baru

    Seminggu telah berlalu sejak pagi yang penuh tawa di ruang tamu itu. Kini, matahari kembali terbit dengan cahaya keemasan yang menyapu jalanan beraspal menuju kampus. Adrian melangkah keluar dari rumah dengan langkah ringan, tas selempang menyilang di dada, dan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sejak ia bangun tidur. Udara pagi terasa segar, dan burung-burung berkicau seolah ikut merayakan hari pertamanya.Hari ini adalah titik balik. Setelah bertahun-tahun terhambat oleh berbagai masalah, setelah kekacauan keluarga yang hampir menghancurkan segalanya, Adrian akhirnya memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Usianya masih sembilan belas, waktunya masih panjang, dan ia tidak ingin membiarkan masa lalu merampok masa depannya.Meskipun keputusan ini berarti ia akan jarang bertemu Megan. Daniel telah merencanakan misi liburan keliling dunia bersama Megan, sebuah perjalanan yang sudah lama mereka nantikan sebagai bulan madu. Adrian sama sekali tid

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 92. Kehangatan keluarga

    Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui celah gorden putih di ruang tamu rumah besar yang baru. Megan berdiri di hadapan Adrian dengan tangan bersilang di dada, menatap adiknya dengan sorot mata setengah waspada. Sejak pernikahannya dengan Daniel, Megan tidak pernah benar-benar tega meninggalkan Adrian sendirian. Bukan karena ia tidak percaya, tapi karena kebiasaan merawat adiknya selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari dirinya."Adrian, mulai hari ini kau jaga rumah. Pastikan kau tidak berbuat nakal yang membuat rumah ini hancur," ucap Megan dengan nada yang berusaha tegas, meskipun di sudut matanya ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Adrian menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada malas yang khas. "Lagipula untuk apa aku menghancurkan rumah ini? Rumah ini tidak punya utang padaku.""Aku hanya memperingatimu. Kau itu terkadang tidak tahu aturan kalau aku tidak ada," gerutu Megan, jari telunjuknya teracung seperti biasa. "Ingat waktu kau hampir mem

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 91. Pernikahan

    Beberapa bulan kemudian, langit membentang sempurna tanpa secercah awan. Matahari pagi menyinari halaman terbuka yang dipenuhi ratusan tangkai bunga segar. Mawar merah, lily putih, dan anggrek ungu tersusun dalam vas-vas kaca yang berkilauan, seolah ikut merayakan hari yang telah lama dinantikan. Rumput hijau terhampar lembut di bawah kaki para tamu, dan angin sepoi-sepoi membawa aroma manis dari kelopak bunga yang baru mekar.Hari itu adalah puncak dari segala penantian Daniel. Bukan sekadar pesta, bukan sekadar seremoni. Itu adalah momen di mana semua rasa yang ia pendam selama belasan tahun akhirnya menemukan pelabuhannya. Di altar sederhana yang dihiasi anyaman dedaunan, Daniel berdiri dengan tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Ia telah menunggu hari ini lebih lama dari yang ia kira sanggup ia lalui.Ia mengingat kembali masa-masa kelam tiga tahun pertama setelah Megan menghilang dari kehidupannya. Dulu, ia nyaris menyerah. Setiap hari ia mencari, bertanya, menelusuri jalan-jalan

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 90. Sidang dan Hadiah

    Beberapa hari berlalu hingga akhirnya sidang digelar setelah seluruh bukti berhasil dikumpulkan. Bukti-bukti tersebut cukup kuat untuk memastikan keterlibatan Andrew dan Sierra dalam berbagai tindakan kriminal, mulai dari suap, kecelakaan yang disengaja, hingga upaya mengambil alih aset yang bukan menjadi hak mereka. Namun, ternyata masalah mereka jauh lebih besar dari yang Megan bayangkan.Sidang berlangsung tegang. Sierra berkali-kali berusaha membela dirinya dan mencari celah agar hukuman yang dijatuhkan kepadanya bisa diringankan. Ia menyangkal beberapa tuduhan, memberikan berbagai alasan, bahkan berusaha meyakinkan hakim bahwa dirinya tidak sepenuhnya terlibat dalam semua kejahatan tersebut. Namun, semakin banyak bukti yang ditunjukkan, semakin sulit baginya untuk menghindar.Pada akhirnya, semua usahanya sia-sia.Sierra dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun tujuh bulan, sementara Andrew menerima hukuman delapan tahun. Hukuman Andrew lebih berat karena selain terlibat dalam

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 89. Balas Budi

    Dulu, selain membantu Megan melewati masa-masa sulit, Diana juga rela meluangkan waktunya untuk keluar-masuk rumah sakit demi menjaga Adrian. Saat itu keadaan Diana sendiri sebenarnya tidak jauh lebih baik. Ia bahkan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi tetap memilih membantu tanpa pernah mengeluh ataupun meminta imbalan apa pun. Karena itulah, ketika kini Megan memiliki cukup banyak uang, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Diana. Ia ingin memberikan sesuatu yang dapat mengubah kehidupan sahabatnya itu menjadi lebih baik.Megan menyerahkan sebuah kunci akses kepada Diana sambil tersenyum. “Sekarang, kau tidak perlu lagi membagi barang-barangmu dengan tempat tidur hanya untuk bisa beristirahat. Tempat ini cukup luas untuk menjadi tempat tinggal barumu,” ucap Megan.Tatapannya kemudian menyapu apartemen mewah yang baru saja ia belikan. Ia tidak membutuhkan tempat sebanyak ini untuk dirinya sendiri, sedangkan Diana selama ini justru hidup dalam ru

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 4. Apa aku ketahuan?

    Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 2. Uang, Dosa, dan Keputusasaan

    Sepanjang hari, jantung Megan tak pernah tenang. Setiap langkah di belakangnya terasa seperti ancaman. Ia yakin sekali saja tertangkap, semuanya berakhir.Namun malam datang… dan tak ada yang mencarinya.Di ruangan sempit, uang berhamburan di atas meja. Trix dan Byne tertawa ringan.“Banyak hari in

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 5. “Tak ada jalan kabur

    Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 3. Kilau yang Mengundang Bahaya

    Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status