LOGINThe fascinating,chaotic story of a food obsessed girl who discovers startling new abilities within herself and is transported to the mystical land of Opa where she must save the land,control her hormones and try to not fall in love with her best friend.
View More"Saya bersedia memberikan suntikan dana yang cukup besar untuk menyelamatkan Latham Holdings dari kebangkrutan. Saya bisa melunasi semua hutang-hutang perusahaan Anda dan menyediakan modal tambahan untuk memulai bisnis kembali."
Di lantai paling atas kantor Latham Holdings, Lina Morgan terkesiap.
Sejak kematian suaminya, Lina merasa dunia ini semakin berat untuk ditanggung.
Dia tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertahan dan tiba-tiba Alexander Blackwood, putra tertua Nathaniel Blackwood, yang kabarnya kini mengambil alih sepenuhnya perusahaan Blackwood Industries, menawarkan bantuan?
"Dan apa yang Anda inginkan sebagai imbalan, Tuan Blackwood?" tanya wanita itu mawas.
Matanya sedikit menyipit, mencoba membaca maksud di balik wajah dingin Alex.
Alexander tersenyum tipis, seolah-olah dia sudah memperkirakan pertanyaan itu. "Saya ingin menikahi putri Anda, Elena Morgan," jawabnya langsung, tanpa sedikitpun keraguan dalam suaranya. "Itu satu-satunya syarat,"
Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Lina memandang Alex dengan tatapan tidak percaya, matanya melebar karena terkejut. "Menikahi Elena?" ulangnya, dengan suara bergetar. "Mengapa? Mengapa Anda ingin menikahi Elena?"
Alex masih tersenyum, tapi matanya tetap dingin dan penuh maksud. Siapapun yang berhadapan langsung dengannya tahu jika Alex sedang mengintimidasi. "Saya mengagumi kecerdasan dan kepribadian putri Anda, Nyonya Morgan," katanya dengan tenang. "Dan saya percaya, dengan pernikahan ini, kita bisa menyatukan dua keluarga dan dua perusahaan besar ini menjadi satu kekuatan yang lebih besar,"
Setelah beberapa saat terdiam, Lina akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, Tuan Blackwood," katanya dengan suara lirih, nyaris seperti berbisik. "Saya akan berbicara dengan Elena tentang ini. Tetapi saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Keputusan akhir tetap ada di tangan putri saya,"
“Nyonya Morgan, saya mengerti ini keputusan yang berat,” sahut Alex dengan nada suara dingin dan tegas. Dia bergerak makin maju berhadapan dengan Lina. “Namun, saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu. Anda memiliki waktu lima menit untuk memutuskan. Saya butuh jawaban sekarang,”
“A-apa?” Tanpa sadar respon ini keluar dari mulut Lina.
Lina merasa dadanya sangat sesak, seperti ada beban berat yang menghimpitnya. Lima menit. Alexander memberinya waktu hanya lima menit untuk memutuskan nasib perusahaan yang dibangun suaminya, nasib keluarganya, dan nasib putri satu-satunya, Elena. Mata Lina melirik ke arah dokumen yang disodorkan Alex, kontrak perjanjian dengan huruf-huruf tebal dan formal yang menyatakan kesepakatan untuk suntikan dana sebagai imbalan pernikahan antara Elena dan Alexander.
“Tapi … “ Nada Lina tercekat. Dia mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Ini adalah hidup Elena. Saya tidak bisa membuat keputusan ini tanpa berbicara dengannya terlebih dahulu,”
Alex tidak mengubah posisinya. Dia hanya mengangguk sedikit, ekspresinya tetap dingin dan tanpa emosi. “Saya mengerti kekhawatiran Anda, Nyonya Morgan,” katanya dengan suara yang sedikit melunak, tetapi tetap dingin. “Namun, waktu terus berjalan. Jika Anda tidak menandatangani kontrak ini sekarang, tawaran saya akan ditarik dan Latham Holdings akan bangkrut. Saya yakin Anda tidak ingin melihat perusahaan yang suami Anda bangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun hancur begitu saja,”
Kata-kata Alex seperti tamparan di wajah Lina. Dia tahu pria ini tidak main-main. Keputusan harus dibuat sekarang atau konsekuensinya akan sangat besar. Lina menggigit bibir bawahnya, merasa bimbang bukan main.
“Baiklah,” kata Lina dengan suara bergetar. “Saya akan menandatangani perjanjian,”
Alex mengangguk puas, lalu mengambil pena dari saku dan menyerahkannya kepada Lina. “Terima kasih atas keputusan bijaksana Anda, Nyonya Morgan,” katanya dengan nada yang lebih lembut, tetapi masih penuh dengan intimidasi. “Anda telah membuat keputusan yang tepat untuk masa depan Latham Holdings.”
Dan di sinilah, Elena Morgan....
Tepat lima hari setelah pertemuan itu, ia benar-benar menikahi Alexander Blackwood.
Pernikahannya bahkan digelar dengan kemewahan yang tidak pernah dilihat oleh Elena--seumur hidup!
Elena menelan ludah kasar, tetapi ia justru tak sengaja bersitatap dengan suami sahnya yang tingginya 190 cm itu.
Begitu berkilau, mewah, dan dingin.
Buru-buru, Elena memalingkan muka.
Untungnya, pria itu sama sekali tidak melirik Elena, sampai diminti mencium dirinya. Jantung Elena rasanya berdebar begitu cepat dan punggungnya panas.
Pria dingin itu tersenyum tipis lantas mendorong pinggang kecil Elena untuk mendekat, sedikit naik, dan mereka pun berciuman.
“Nyonya … Perkenalkan saya David. Saya adalah asisten Tuan Alexander Blackwood.”
Suara pria muda menyadarkan Elena dari lamunannya akan resepsi barusan.
Lelah membuatnya terduduk diam di depan kursi rias kala 2 orang penata rias membantunya melepas gaun pengantin yang berat, sekaligus menata ulang rambutnya.
"Ada apa?" tanya Elena sopan meski tak bertenaga.
“Tuan Alex sudah menunggu Anda di depan,” tukas David.
“Hah? Memang Kita mau ke mana?” tanya Elena cepat.
David menatap Elena sekilas, sedikit mengerutkan kening. “Tentu saja kembali ke kediaman Tuan Alex, Nyonya,”
Elena melebarkan pandangan. Setelah melalui proses menikah yang begitu cepat, berdiri berdampingan tanpa saling tatap, kini dia harus ikut pria itu pergi ke rumahnya. Terlalu aneh bagi Elena, meski dia sadar pria itu kini sudah menjadi suaminya.
Namun Elena memang tidak punya pilihan. Setelah secara gamblang dijual oleh sang ibu, jiwa dan raga Elena sepenuhnya kini menjadi milik si pria dingin itu. Dia mengikuti langkah cepat David yang tergesa-gesa menuju sebuah mobil hitam Rolls-Royce Phantom yang berdiri di depan gedung.
David membuka pintu untuk Elena, mempersilahkan wanita itu untuk masuk dan duduk di samping Alexander. Elena masuk dengan hati berdebar. Meski dia sudah menyerahkan ciuman pertamanya untuk pria dingin ini, namun Elena tidak pernah mengenalnya secara dalam.
Saat Elena masuk, Alex meliriknya dengan tatapan dingin yang bisa menembus jantung Elena. Benar-benar tatapan yang mengintimidasi. Namun di saat itulah, Elena menyadari betapa tampannya seorang Alexander Blackwood. Pria berusia 32 tahun, seorang pebisnis muda nomor satu di Riverton yang kini menjadi suaminya.
“Semuanya sudah siap, David?” Alex membuka suara. Bahkan suaranya yang berat membuat hati Elena berdesir.
“Saya sudah memerintahkan Vero untuk menyiapkan semuanya,” jelas David.
“Kerja bagus,” timpal Alex.
Elena menelan ludah. Kehadirannya ternyata tidak dianggap oleh Alex.
Sekedar disapa saja tidak.
Dan sepanjang perjalanan, keduanya memutuskan untuk diam.
Elena yang tidak mau ambil pusing, memilih untuk tidur karena badannya benar-benar terasa amat lelah hari ini.
Hanya saja, ia terbangun ketika David memanggil namanya!
“Tuan Alex akan segera menyusul, Nyonya. Sebaiknya Anda masuk lebih dulu dan bersiap,” ucap David, mempersilahkan Elena untuk masuk.
Elena mengangguk ragu, namun dia melangkah. Setelah badan Elena sepenuhnya ada di dalam kamar besar itu, David menutup pintu di belakang punggung Elena. Meninggalkan Elena seorang diri di dalam kamar super besar, dengan ranjang berukuran king di ujung depan. Ranjang itu berlapiskan kain sutra warna merah marun. Kepala ranjangnya tinggi dan megah, dilapisi dengan kain beludru yang disulam dengan pola bunga rumit berwarna emas. Di atasnya, tirai transparan berwarna merah lembut tergantung, memberikan suasana yang romantis dan intim.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah perapian besar dengan bingkai marmer yang diukir indah, saat ini menyala dengan api yang lembut. Di atas perapian, sebuah cermin besar berbingkai emas menggantung, memantulkan pendar cahaya lilin yang tersebar di beberapa meja kecil di sekitar ruangan. Lilin-lilin itu ditempatkan dalam tempat lilin kristal yang berkilauan, menambah kesan mewah dan romantis.
Siapapun yang merancangnya, pasti sengaja melakukan ini semua karena tahu Alexander akan tidur di sini bersama pasangannya. Dan pasangan itu adalah Elena. Perut Elena tergelitik dengan perasaan aneh saat dia teringat akan wajah Alex dari samping yang berahang tegas.
Tiba-tiba jendela besar yang mengarah ke balkon diketuk. Elena sempat kaget bukan main, namun dia cukup penasaran. Langkahnya justru maju mendekati jendela itu, untuk melihat apa yang ada di baliknya.
Selangkah, dua langkah. Elena maju dengan mengendap-endap. Dia membuka kunci jendela dan seorang wanita dengan pakaian lusuh, rambut panjang terurai tiba-tiba menerjangnya. Matanya menatap liar, marah dan takut jadi satu ketika berhadapan dengan Elena.
“S-siapa kau?!” jerit Elena, sangat kaget. Dia mencoba melepaskan diri namun tak bisa.
Wanita itu tidak menjawab. Sebaliknya, dia mencengkeram bahu Elena dengan kuat. "Kabur dari sini! Kabur dari Alex kalau kau tidak mau bernasib sama sepertiku!" teriaknya dengan suara serak yang penuh putus asa.
Elena berusaha melepaskan diri. Tapi wanita itu mencengkeram bahunya terlalu kuat. "Apa maksudmu? Siapa kau?" tanyanya dengan suara gemetar.
Wanita itu menatapnya dengan mata merah, penuh depresi. "Aku ... aku adalah korban dari perbuatan Alex. Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Dia monster yang akan menghancurkan hidupmu! Kabur darinya sebelum terlambat!" teriak wanita itu ketakutan.
"Is this a joke to you? Cast the birds away this instant and summon your rodent companion!" Glob was saying, presumably to Keanu,though,who else could he be talking to?Ulrik must have smacked into my head harder than I thought.That cloud looked like a chicken leg.My stomach rumbled and I licked my chapped lips,rested a hand on my middle and rubbed comfortingly."You are thinking about food in a time like this? Look at the mayhem that you have caused!" Ulrik yelled at me,standing in all his arrogant,stick up the but glory,hands fisted at his hips,glowering at me and blocking out the sun.At least he made good shade.I sighed and struggled to my feet,wincing as my body moved painfully.I rolled my shoulders in an attempt to get rid of the kinks,preparing myself for the bloody verbal sparring that was now inevitable."You were going
Like survivors after a natural disaster,we helped eachother up from whatever sprawled position we had found ourselves in after our profoundly satisfying laughing session and made our way after Sir Gorgeous and Mr.Tightwad.The air was crisp,clean and refreshing;the sun a burning ball of light that warmed my skin and glinted off dewed leaves.Vividly colored butterflies and flying insects flitted among blooms and fruit,danced around my head and made me smile.The birds I'd moments ago found so tiresome were now endearing to my ears.Funny how a belly full of food and laughter can change one's perspective.I came out of my contented reverie long enough to notice that we were close to the circle and this was to be our training ground.I tried to crick my neck like they do in the movies and popped something I'm pretty sure was meant to be left alone.Need to stop doing that.Thankfully noone noticed my pitif
She tasted like peaches and she had tiny freckles on her eyelids.That's the first thing my brain registered when it rebooted.That,and her lips were soft and alien, especially since she was trying to slip her tongue into my mouth.I shoved her and she stumbled back,her eyes flying open,her face a mask of shocked confusion."What are you doing?" I demanded,wiping my mouth."Um,I think it was pretty obvious," she responded,watching me warily."Yeah,but why? Why in the name of coke would you think I'd want you to kiss me?"The thumping heart seemed to resonate up through the soles of my feet and expand within my cranium,forcing me to narrow my eyes in concentration.I'd just been kissed by girl.Wasn't as bad as I thought but still."I just...." She approached me and started to reach for my face but I recoiled and backed away.Her hands fell."I just wanted you to be sure you didn't want to try it," she finished with
"Am I the only one who finds that creepy?" Wayne,Keanu,Logan and I were lounging on the porch,watching the night approach. With it came the interminable sound of the beating heart and the fog like red haze.Smelling like jasmine and summer,the air was cool and soft,with pinpricks of stars begining to appear in the eerie twilight sky.Keanu and I shared a cushioned love seat,though we were careful not to touch.I wanted to punch him in the face.Then knock myself out while I was at it.After we rut like rabbits in heat of course.Though I had tried to take out my sexual frustration and confused feelings on dinner,I was still pretty wound up.I shifted my attention to Logan who was in a corner of the porch,trailing her fingers in a flowering plant that brushed the top of the embellished wooden enclosure.Her hair stood out boldly in the fading light and her profile was almost ethereal












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews