LOGINPria itu menunggu selama beberapa menit, sampai akhirnya Luvella keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Diello bersiul, menggoda Luvella. Pria itu berdiri dari ranjang dan melangkah mendekati Luvella. Ia masih mengenakan handuk yang ia pakai tadi.
"Sudah siap untuk malam pertama pernikahan kita, Luvella?"
Luvella sangat tidak nyaman mendengarnya, tapi dia sudah menikah dengan Diello, suka atau tidak suka dia masih harus berhubungan seks dengan pria ini.
"Potong omong kosongnya, mari lakukan saja." Luvella tidak bisa berbasa-basi dengan Diello.
"Ah, kau sepertinya sudah tidak sabar lagi, baiklah kalau begitu." Diello meraih pinggang Luvella, menariknya hingga tubuh mereka saling menempel. Pria itu mencium bibir Luvella dengan penuh gairah.
Luvella tidak bereaksi sesaat, tubuhnya kaku. Selama dua puluh lima tahun dia hidup, Lexion adalah satu-satunya pria yang pernah menciumnya.
"Bergerak, Luvella. Kau bukan ikan mati." Diello mencibir Luvella. Pria itu kemudian mencium Luvella lagi.
Luvella menahan semua rasa tidak nyaman di hatinya. Ia mulai bergerak, meski itu masih kaku, tapi tidak lagi seperti ikan mati seperti yang disebutkan oleh Diello tadi.
Diello mendorong Luvella ke atas ranjang, pria itu kemudian naik ke atas tubuh Luvella dan mulai mencium leher Luvella.
Tubuh Luvella kembali kaku. Diello menjauhkan dirinya sejenak dari Luvella. "Pertama kali?"
"Apakah kau selalu bertanya seperti ini pada wanita yang tidur denganmu?" Luvella menatap Diello tidak bersahabat.
Diello tertawa kecil. "Lexion benar-benar menyia-nyiakanmu, Luvella."
"Tidak semua orang hanya memikirkan tentang seks sepertimu."
Sekali lagi Diello tertawa. "Kau benar, tidak semua orang bisa menikmati hidup sepertiku."
"Kau sepertinya sangat suka bicara."
Diello tersenyum geli. "Selain suka bicara, mulutku juga bisa melakukan banyak hal."
Diello kemudian mulai mencumbu Luvella. Ia membuka handuk yang Luvella kenakan. Tubuh telanjang Luvella kini tampak di depan matanya.
Gairah Diello menggila. Pria itu mulai menciumi setiap inchi tubuh Luvella. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.
"Jangan menahan eranganmu, Luvella. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan menyenangkan." Diello menghisap perut Luvella.
Sensasi kesemutan terasa oleh Luvella, membuat bagian bawah tubuhnya menjadi basah. Luvella tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ia merasa sangat tidak nyaman di bawah sana.
Luvella masih menahan erangannya, membuat Diello menghentikan kegiatannya. Luvella jelas tidak siap untuknya. Pria itu segera berdiri dan memakai handuknya kembali.
"Pengalaman yang pertama kali benar-benar tidak menyenangkan. Lupakan saja untuk malam ini." Diello kemudian bergerak ke tempat pakaian. Ia mengambil sebuah celana dalam lalu kembali ke ranjang.
Diello memiliki kebiasaan tidur hanya dengan mengenakan celana dalam saja.
Di atas ranjang, Luvella telah menutupi tubuhnya dengan handuk. Berhenti begitu tiba-tiba, tubuhnya yang merasakan kesenangan asing kini merasa kehilangan.
"Pakai pakaianmu sebelum aku berubah pikiran." Diello berkata lagi.
Luvella segera turun dari ranjang. Ia pergi ke ruang pakaian, wanita itu diam sejenak melihat barang-barang yang ada di sana. Ada begitu banyak gaun dan jenis pakaian lainnya di sana. Tas, sepatu, perhiasan dan aksesoris lainnya juga ada.
Untuk para wanita yang mengidamkan kemewahan, ini adalah surga dunia.
Luvella juga wanita normal, meski dia tidak tergila-gila pada kemewahan, tapi gaun indah dan perhiasan membuatnya terkesima.
Luvella segera menghentikan kekagumannya. Wanita itu meraih gaun tidur berwarna putih lalu kemudian memakainya.
Di atas ranjang, Diello sedang memainkan ponselnya. Luvella mendekati ranjang lalu kemudian naik ke atas sana.
"Sudah malam, tidurlah." Diello meletakan ponselnya lalu kemudian berbaring dengan benar.
Luvella menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, wanita itu kemudian memejamkan matanya. Ia harus membiasakan dirinya tidur dengan Diello.
Melihat Luvella sudah memejamkan matanya. Diello juga memejamkan matanya. Malam ini, meski ia tidak melakukan malam pertama dengan Luvella, Diello masih merasa bahagia.
**
Keesokan paginya Luvella bangun lebih dahulu dari Diello. Ia segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
"Sarapan dulu sebelum pergi." Diello turun dari ranjang.
"Aku akan sarapan di rumah sakit."
"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku dua kali, Luvella." Diello menatap Luvella serius.
"Aku mengerti."
"Aku akan segera menyusul, makan duluan tidak perlu menungguku."
Setelah mendengar ucapan Diello, Luvella segera pergi ke ruang makan.
Diello membersihkan tubuhnya, setelah selesai berpakaian ia segera pergi ke ruang makan dan bergabung dengan Luvella.
Saat Diello baru menghabiskan setengah sarapannya. Luvella sudah selesai sarapan.
"Aku sudah selesai, aku pergi."
"Aku antar." Diello menyelesaikan sarapannya. Pria itu segera berdiri.
Luvella tidak berdebat dengan Diello, ia melangkah meninggalkan ruang makan.
Sekarang mereka berdua berada di dalam mobil super Diello.
"Kau tidak berencana memperkenalkanku pada Nenekmu?" Diello memiringkan wajahnya.
"Tidak." Luvella menjawab singkat. Neneknya baru saja menjalani operasi, jika ia memberitahu neneknya bahwa ia sudah menikah dan yang ia nikahi bukanlah Lexion melainkan saudara Lexion, neneknya pasti akan sangat terkejut.
Selain itu, pernikahannya dengan Diello mungkin tidak akan bertahan lama. Diello adalah pria yang sangat suka bermain-main dengan wanita, mungkin saja setelah beberapa bulan Diello akan menceraikannya.
"Kenapa? Apakah sangat buruk memiliki suami sepertiku?"
Luvella sebenarnya tidak perlu menjawab pertanyaan ini, tapi tampaknya Diello terlalu bangga pada dirinya sendiri sehingga berpikir bahwa memiliki suami sepertinya adalah sesuatu yang baik.
"Nenekku baru saja menjalankan operasi, dia tidak akan bisa menerima kabar mengejutkan. Nenekku sudah cukup dekat dengan Lexion, jika dia tahu aku menikah dengan saudara Lexion dan bukannya Lexion, itu pasti akan mengejutkannya." Luvella memberikan alasan tanpa kebohongan.
"Ah, seperti itu." Diello menganggukan kepalanya mengerti.
Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di rumah sakit.
"Kemasi barang-barangmu di apartemen lalu pindahkan ke vila. Aku akan mengirim orang untuk mengambil barang-barangmu nanti."
"Baik." Luvella hanya bisa mengikuti kata-kata Diello. Selama itu tidak bertentangan dengan hati nuraninya, Luvella akan mengikutinya.
Luvella hendak keluar dari mobil, tapi Diello menahan wanita itu. Diello menarik tangan Luvella hingga Luvella mendekat ke arahnya. Setelah itu Diello mencium bibir Luvella beberapa saat.
"Sampai jumpa lagi, Istriku."
Luvella tidak menjawab ucapan Diello. Ia hanya keluar dari mobil Diello. Luvella mengatur emosinya. Diello benar-benar melakukan apapun sesuka hatinya, tanpa peduli apakah ia suka atau tidak.
Pernikahan ini benar-benar akan terasa berat baginya, tapi tidak ada penyesalan untuk pilihannya karena dengan ini dia bisa menyelamatkan nyawa neneknya.
**
Malam harinya Luvella kembali ke vila Diello. Ia kembali dengan barang bawaan yang ia butuhkan.
"Nyonya, Tuan belum kembali. Makan malam apa yang Nyonya inginkan?" Joyce bertanya pada Luvella dengan sopan.
"Apa saja, Bibi Joyce." Luvella tidak pilih-pilih makanan. Ia berasal dari keluarga menengah ke bawah, jadi ada sesuatu yang bisa dimakan saja sudah cukup baginya.
"Baik, Nyonya."
Luvella segera pergi ke kamarnya, pelayan meletakan barang bawaannya lalu kemudian pergi dari sana.
Melihat ruangan itu kosong, Luvella merasa jauh lebih lega. Berhadapan dengan Diello, ia benar-benar sulit untuk menyesuaikannya.
Akan lebih baik jika Diello tidak kembali malam ini. Pria itu suka pesta dan semua hal yang menyenangkan. Diello pasti tidak akan bisa melepaskan itu setelah menikah dengannya.
Ia benar-benar tidak akan mempermasalahkan itu semua. Yang terbaik adalah Diello terus melakukannya sehingga ia tidak perlu terlalu banyak berinteraksi dengan Diello.
Memiliki suami dengan begitu banyak wanita penghibur di sekitarnya jelas bukan keinginan Luvella, tapi karena ia sudah memiliki suami seperti itu dan ia tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap Diello maka ia hanya akan menutup mata atas apapun yang dilakukan oleh pria itu di depan ataupun di belakangnya.
Bahkan jika Diello membawa wanita ke kediaman ini, dan bercinta di depannya, ia hanya akan membalikan badan dan berpura-pura tidak melihat.
Luvella berhenti memikirkan Diello, ia segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Seharian menjaga neneknya di rumah sakit, Luvella merasa cukup lelah. Untung saja saat ini neneknya sudah sadarkan diri dan menunjukan kondisi yang stabil. Ia benar-benar lega.
tbc
Hiro telah menemukan lukisan bunga Lily yang dimaksud oleh Diello. Ada sebuah kartu memori di sana. Setelah mendapatkannya, Hiro segera pergi ke rumah sakit.Diello segera keluar dari ruangan setelah dihubungi oleh Hiro yang telah sampai di rumah sakit.“Tuan, kartu memori ini ditemukan di belakang lukisan bunga Lily.”“Buka kartu memori itu!”Hiro membawa laptop bersamanya, pria itu segera menjalankan perintah Diello.Di dalam kartu memori itu hanya ada satu video, Hiro segera membuka video itu. Sekarang yang tampil di layar adalah video sebuah jalanan yang sepi lalu kemudian sebuah mobil melintas dengan kecepatan sedang, detik selanjutnya sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dan menabrak mobil lainnya.Diello masih menonton video itu dengan seksama, sampai akhirnya dia melihat pelaku penabrakan keluar dari mobil, dan itu adalah Jena.Mata Diello segera melihat ke tanggal pengambilan video itu. Wajah pria itu tampak kaku. Sekarang ia tahu siapa yang ada di dalam mobil y
“Ada apa?” Gael bertanya pada sopirnya saat ia merasakan mobilnya melaju tidak biasa.“Tuan, ada yang salah dengan mobil ini. Remnya tidak berfungsi.” Pria itu berkata dengan sedikit kepanikan, ia masih mencoba untuk menginjak pedal rem, tapi mobil tetap melaju dengan kencang.Gael tidak takut pada kematian, sebelumnya jika ia tidak memikirkan Diello, dia mungkin sudah mengejar Lora ke akhirat. Jika kematiannya saat ini memang sudah dekat, maka tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi.Putra kesayangannya telah membangun kekuatannya sendiri. Dengan memiliki seseorang yang ingin ia lindungi, Diello akan menjadi semakin kuat. Selain itu, ada juga Luvella yang menemani Diello. Putranya tidak akan kesepian.Namun, ada satu hal penting yang harus Gael sampaikan pada Diello sebagai tambahan untuk melindungi nyawanya sendiri.Gael menghubungi Diello, panggilan itu segera terhubung.“Ya, Ayah?”“Ingat ini baik-baik, penthouseku, lukisan bunga Lily.” Setelahnya Gael hendak menutup panggilan it
Saat ini sebuah siaran langsung sedang berjalan. Di dalam layar ada Diello dan juga Amy -seorang reporter yang sedang naik daun.“L Security diambil dari inisial nama dua wanita yang sangat saya cintai. Lora -ibu saya dan Luvella -istri saya.”“Tuan Diello, apakah Anda bersedia membahas mengenai kehidupan pribadi Anda?” Karena Diello telah menyebutkan tentang nama istrinya, reporter Amy mencoba menanyakan mengenai kehidupan pribadi Diello.Wanita ini telah menghubungi asisten pribadi Diello beberapa kali untuk mewawancarai pemimpin L Security, tapi selalu ditolak. Sekarang memiliki kesempatan ini, Amy tentu saja tidak akan menyia-nyiakannya. Wanita ini telah menyusun begitu banyak pertanyaan untuk Diello.“Ya.”“Saya mendengar bahwa Tuan Diello sudah menikah, apakah itu benar?”“Ya, itu benar.”“Apakah istri Anda adalah mantan tunangan saudara Anda sendiri?”“Ya, itu benar.”“Tuan Diello, siapa yang memulai di hubungan Anda dan istri Anda?”“Sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya aka
Pagi ini Luvella menerima panggilan dari Luna, sahabatnya itu mengabarkan bahwa Arlo tewas semalam karena berkelahi dengan penghuni baru di sel yang sama dengan Arlo.Bagi Luna, kematian Arlo ini cukup janggal. Luna telah menyelidiki, sesudah bertemu dengan Luvella, Arlo menghubungi asisten pribadi Jena. Luna yakin bahwa kematian Arlo pasti ada hubungannya dengan Jena.Luvella mengepalkan kedua tangannya. Bahkan Jena juga menyingkirkan orang yang telah menggantikannya di penjara. Jena benar-benar keji.Untuk memastikan tidak ada yang membongkar kejahatannya, dia membunuh satu-satunya saksi kunci atas kematian kedua orangtuanya.Jika ia tidak mengirim Jena ke penjara dan membuka topeng busuk Jena, maka ia akan sangat berdosa pada orangtuanya.“Jena, kau benar-benar iblis!” Luvella menggeram marah.Satu-satunya cara untuk membuat Jena di penjara adalah dengan memancing wanita itu. Namun, ia harus membicarakan tentang hal ini dulu dengan Diello. Ia tidak bisa memprediksi apa yang akan t
Acara inti perjamuan itu sudah dimulai, saat ini di depan Bouvier memberikan kata sambutan.“Hari ini saya ingin memperkenalkan seseorang pada kalian semua.” Bouvier mengarahkan pandangannya pada Diello. “Tuan Diello Alterion, pemilik sekaligus pemimpin L Security.”Diello berdiri dari tempat duduknya, tatapan semua orang yang ada di ruangan itu kini tertuju pada Diello, termasuk teman-teman Carver yang tadi ikut mengejek Diello.Seperti tiga pria yang pertama berkenalan dengan Diello, orang-orang yang menatap Diello saat ini juga tidak percaya bahwa Diello adalah pemimpin dari L Security yang sedang banyak diperbincangkan oleh para pengusaha.Lexion mengepalkan kedua tangannya, kapan tepatnya Diello membangun kekuatannya sendiri. Ia benar-benar telah meremehkan Diello, Diello sengaja menunjukan sisi buruknya agar orang lain tidak waspada terhadapnya. Diello, pria ini benar-benar memperhitungkan semuanya dengan baik. Ia benar-benar salah mengira Diello sebagai pria tidak berguna.Kedu
Perjamuan bisnis itu diadakan di sebuah aula hotel mewah, Diello menunjukan undangan yang diberikan padanya.Pintu besar di depannya terbuka, pria itu kemudian melangkah di atas karpet merah bersama dengan Luvella yang menggandeng lengannya.Di dalam aula megah itu, terdapat banyak orang yang semuanya adalah orang-orang berpengaruh negara itu. Beberapa di antara mereka identitasnya diketahui oleh Luvella.“Lihat siapa yang ada di sini.” Seorang pria menatap Diello mengejek. Pria ini adalah salah satu yang pernah dipukuli oleh Diello ketika mereka remaja, permusuhan mereka masih berlangsung hingga saat ini.Diello menatap pria di depannya dingin. Bukan tanpa alasan ia memukuli pria ini dulu. Carver adalah salah satu dari sekian banyak penjilat Lexion. Setelah ia masuk ke sekolah yang sama dengan Lexion, ia selalu mendapatkan perundungan entah itu dari anak laki-laki ataupun perempuan.Awalnya Diello mencoba mengabaikan mereka, tapi beberapa di antaranya telah menyentuh batas bawahnya.
Suasana di ruang makan itu kini hening. Lexion menatap Diello dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat.Selena menatap Luvella, tampaknya ia akan terus bersinggungan dengan wanita ini mulai sekarang. Selena tidak mengerti kenapa dua bersaudara Alterion menyukai Luvella."Ayo mulai makan malamnya
Saat Luvella akan memulai makan malamnya, Diello kembali. Pria itu mendekati Luvella lalu kemudian mengecup puncak kepala Luvella."Lanjutkan makanmu, aku akan membersihkan tubuhku dulu baru makan."Luvella diam, meski kecupan itu sudah berlalu, tapi rasanya masih seperti tertinggal di sana. Jika
Luvella telah mengetahui di mana Diello berada, jadi ia segera mendatangi pria itu. Dan sekarang ia sudah ada di sebuah klub malam terbesar di ibu kota. Luvella memasuki sebuah ruangan VIP.Saat ia sampai di sana, ia melihat Diello bersama dengan beberapa sahabat prianya ditemani oleh banyak wanita
Luvella segera pergi ke rumah sakit saat ia mendengar bahwa neneknya terjatuh di kamar mandi dan mengalami benturan keras di kepalanya.Di depan pintu ruang operasi, seorang wanita berusia empat puluhan tahun yang dibayar oleh Luvella untuk menjaga nenek Luvella berdiri di sana."Luvella, kau akhir







