로그인Saat ia sampai di sana, ia melihat Diello bersama dengan beberapa sahabat prianya ditemani oleh banyak wanita penghibur sedang bersenang-senang.
Diello dengan cepat menyadari kedatangan Luvella. Pria itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar orang-orang di ruangan itu diam.
Diello berdiri dari tempat duduknya lalu kemudian melangkah menuju ke Luvella. "Calon Ipar, apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau datang khusus untuk bertemu denganku?"
"Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu."
Diello tersenyum ringan. "Aku sangat penasaran dengan hal yang ingin kau bicarakan denganku." Ia kemudian mengangkat tangannya lagi, mengisyaratkan agar orang-orang di sana meninggalkan tempat itu.
Dua sahabat Diello pergi, enam wanita yang bersama mereka juga pergi, sekarang yang tersisa di ruangan itu hanya Diello dan Luvella.
"Jadi, apa yang Calon Ipar ingin bicarakan denganku?" Diello membelai wajah Luvella dengan nakal.
"Aku membutuhkan bantuanmu untuk meminta dokter Adam untuk mengoperasi nenekku." Luvella menahan rasa gatal di hatinya karena merasa dilecehkan oleh Diello. Ia tidak akan membuat Diello kesal padanya lalu tidak bersedia membantunya.
Diello mengerti. Luvella tidak akan datang padanya jika tidak ada yang mendesak. Luvella hanya memiliki neneknya, wanita tua itu sangat penting bagi Luvella.
"Aku bisa membantumu, tapi aku memiliki syarat."
"Apa syaratnya?" Luvella sudah memikirkan tentang ini sebelum ia pergi mendatangi Diello. Ia yakin Diello tidak akan membantunya dengan mudah.
"Kau harus menikah denganku."
Dari sekian hal yang ada di pikirkan oleh Luvella tentang syarat yang akan diminta oleh Diello, ia tidak pernah berpikir pria ini memintanya untuk menikah dengannya.
"Menikah denganmu?"
"Ya, menikah denganku dan hanya aku yang bisa memutuskan kapan akan bercerai."
"Apakah kau sedang bercanda?"
"Aku serius." Diello tahu bahwa ia keterlaluan menggunakan syarat seperti ini untuk membuat Luvella menjadi miliknya, tapi ia tidak akan menyiakan kesempatan yang datang padanya.
Luvella menatap Diello seksama, pria ini tampaknya ingin menikah dengannya untuk memprovokasi Lexion.
"Jika kau menikah denganku, aku tidak hanya akan membuat Adam mengoperasi nenekmu, tapi aku juga akan menanggung semua tagihan pengobatan nenekmu." Diello memberikan hadiah tambahan jika Luvella mau menerima syaratnya.
Luvella memang sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan apa saja demi menyelamatkan neneknya, tapi dihadapkan dengan syarat Diello itu membuatnya tertegun selama beberapa waktu.
"Aku menerima syarat darimu." Luvella tidak membuang waktu untuk berpikir. Ia akan mengorbankan dirinya sendiri untuk keselamata neneknya.
Setelah menikah dengan Diello, ia hanya perlu menutup mata dan telinga terhadap apapun yang dilakukan oleh Diello di luar sana.
"Itu adalah pilihan yang tepat, Calon Ipar." Diello tersenyum manis. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Adam.
"Aku membutuhkan bantuanmu, segera kembali ke ibu kota."
"Baik" Adam tidak menanyakan bantuan apa yang dibutuhkan oleh Diello. Sebagai sahabat Diello, ia tidak banyak bertanya. Ketika Diello membutuhkan bantuannya ia akan segera datang. Terlebih ia juga memiliki banyak utang pada Diello.
Ia adalah seseorang dari keluarga miskin, tapi berkat Diello ia menjadi salah satu dokter terbaik di dunia ini. Bukan hanya itu, berkat Diello, ibunya bisa diselamatkan. Diello membiayai semua pengobatan ibunya.
Diello menutup panggilan itu. Ia mengembalikan fokusnya pada Luvella. "Adam akan mengoperasi nenekmu besok pagi, tapi sebelum itu kau harus mendaftarkan pernikahan denganku terlebih dahulu."
"Baik."
"Sudah larut, pulanglah dan istirahat. Kau tidak perlu mencemaskan apapun. Dengan kemampuan Adam, nenekmu pasti bisa diselamatkan," seru Diello.
Luvella segera meninggalkan tempat itu. Ia tidak kembali ke apartemenya untuk istirahat, melainkan menunggu neneknya di rumah sakit.
Sesaat setelah Luvella pergi, sahabat Diello dan para wanita penghibur masuk kembali ke dalam ruangan itu.
"Ayo kita berpesta sampai pagi!" Diello berkata dengan bahagia. Malam ini suasana hatinya sangat baik. Ia akan merayakannya dengan berpesta bersama teman-temannya.
Luvella masuk ke dalam mobilnya, ia mengemudi dengan kecepatan normal. Setelah dua puluh menit, Luvella sampai di rumah sakit. Ia segera pergi ke ruangan neneknya dirawat.
Luvella menggenggam tangan neneknya dengan lembut. "Nenek, bertahanlah. Nenek harus sembuh. Nenek sudah berjanji padaku ingin melihatku memiliki keluarga dan anak."
**
Keesokan paginya Diello dan Luvella telah mendapatkan sertifikat pernikahan mereka. Keduanya telah tercatat sebagai pasangan yang sah.
Bagi Diello yang terpenting saat ini adalah Luvella menjadi istrinya. Mengenai pesta pernikahan, ia akan membahasnya lagi dengan Luvella. Ia akan mengatur semuanya sesuai dengan keinginan Luvella.
Luvella kini berada di dalam mobil Diello. Wanita itu melempar pandangannya ke luar jendela. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan menikah dengan pria bajingan seperti Diello.
Ia menjalin hubungan dengan Lexion selama lima tahun, tapi yang akhirnya menikahinya bukanlah Lexion melainkan saudara Lexion -Diello.
"Aku akan mengatur makan malam untuk memperkenalkanmu pada keluargaku." Diello tentu saja tidak akan merahasiakan pernikahannya dengan Luvella.
Luvella ingat pertemuan pertamanya dengan keluarga Alterion seperti apa. Ia yakin keluarga itu pasti akan memberikan penolakan padanya lagi.
Di pertemuan kedua nanti, situasi pasti akan semakin canggung. Beberapa waktu lalu ia datang sebagai kekasih Lexion, tapi sebentar lagi ia akan datang sebagai istri Diello.
"Baik." Luvella telah setuju menikah dengan Diello, maka ia harus menjalankan perannya sebagai istri Diello dengan baik.
Diello mengantar Luvella ke rumah sakit, operasi nenek Luvella telah dijadwalkan. Selain itu, tagihan medis neneknya juga telah dilunasi.
Mobil Diello sampai di rumah sakit. "Nanti malam aku akan menjemputmu, Istriku." seru Diello. Pria itu mengubah caranya memanggil Luvella.
"Ya." Luvella kemudian turun dari mobil Diello. Ia harus membiasakan dirinya dengan panggilan baru Diello mulai dari sekarang.
Diello segera meninggalkan tempat itu. Ia akan memeriksa villa miliknya yang telah ia minta untuk atur ulang semalam.
Karena ia sudah menikah dengan Luvella maka ia akan membawa Luvella tinggal di tempat yang nyaman dan luas. Ia tahu bahwa Luvella menyukai tempat yang hijau dan memiliki pemandangan yang indah.
Ia juga telah memesan banyak barang-barang wanita untuk Luvella. Kamar utama saat ini tidak lagi tampak maskulin, ada begitu banyak sentuhan feminin di sana.
**
Operasi nenek yang Luvella membutuhkan waktu berjam-jam telah berakhir. Operasi itu berjalan dengan lancar.
Luvella merasa lega karena neneknya telah berhasil diselamatkan.
Langit sudah gelap. Diello datang menjemput Luvella. Malam ini adalah malam pertama pernikahan mereka, Diello tentu saja tidak akan melewatkan malam ini.
"Bagaimana kondisi Nenekmu?"
"Saat ini kondisi Nenek sudah stabil. Terima kasih atas bantuanmu." Luvella tidak akan lupa bahwa ia berutang pada Diello. Meski ia telah membayar dengan menikahi pria ini, ia masih tetap berterima kasih karena Diello bersedia membantunya.
"Daripada ucapan, aku lebih menghargai ungkapan terima kasih dengan tindakan." Diello memiringkan wajahnya, menatap Luvella dengan nakal.
Luvella tahu bahwa Diello adalah seorang playboy, ia pandai merayu dan menyenangkan hati wanita dengan kata dan tindakannya.
Luvella sudah berusia dua puluh lima tahun, dia bukannya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Diello. "Tindakan seperti apa yang kau maksud?"
"Bersikap baik di atas ranjang nanti."
"Jadi seperti itulah cara wanita-wanitamu berterima kasih padamu."
Diello tertawa kecil. "Kita baru saja menjadi pasangan, tapi kau sudah memahamiku dengan sangat baik, Istriku."
Luvella mengalihkan pandangannya kembali ke jendela. Diello benar-benar bangga dengan sikap bajingannya.
Setelah tiga puluh menit, mereka sampai. Diello membawa Luvella masuk ke dalam vilanya.
"Selamat datang, Nyonya." Kepala pelayan dan dua baris pelayan segera menyambut Luvella dan Diello.
Luvella seharusnya tidak perlu terkejut dengan hal ini. Meski Diello adalah penerus yang tidak berguna, tapi ia tetap bagian dari keluarga Alterion yang memiliki kekayaan dengan jumlah besar. Sebuah vila mewah, Diello bisa jelas bisa memilikinya.
"Ini adalah Bibi Joyce, kepala pelayan vila ini." Diello memperkenalkan Joyce pada Luvella.
Luvella hanya memberikan anggukan sopan pada Joyce.
"Aku akan membawamu ke kamar kita." Diello bicara lagi. Penyambutan dan perkenalan singkat sudah selesai.
Luvella melangkah lagi, ia mengikuti arah langkah kaki Diello.
Mereka kemudian sampai di kamar utama.
"Kau atau aku duluan yang membersihkan tubuh?" Diello bertanya pada Luvella.
"Kau duluan."
"Baik." Diello kemudian melangkah menuju ke kamar mandi.
Luvella merasa canggung sekarang. Wanita itu melangkah menuju sofa dan duduk di sana.
Luvella adalah penganut seks setelah menikah, jadi ia sangat menjaga dirinya untuk suaminya. Luvella kira, ia akan menyerahkan keperawanannya pada pria yang ia cintai, tapi takdir yang sedang bercanda padanya membuatnya harus menyerahkan keperawanannya pada pria asing yang baru ia temui tidak kurang dari lima kali.
tbc
Pagi harinya Luvella dan Diello pergi ke ruang makan bersama. Di sana ada anggota keluarga Alterion kecuali Gael yang tidak pulang semalam."Istriku, silahkan duduk." Diello menarik kursi untuk Luvella.Luvella duduk, Diello juga duduk di sebelah Luvella. Suasana di meja makan itu selalu tidak nyaman bagi Diello, tapi pria itu bersikap santai meski ia tahu tiga orang yang ada di sana tidak menyukainya sama sekali."Maafkan kami karena sedikit terlambat, kami adalah pengantin baru, kalian pasti mengerti." Diello berkata dengan santai.Henry mendengkus tidak suka. "Berhenti bicara dan makanlah!""Baik, Kakek." Diello tersenyum. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya ke Luvella. "Istriku, makan lebih banyak. Semalam kau menghabiskan banyak energimu."Luvella menatap Diello sejenak, Diello terlalu banyak memuntahkan omong kosong. Nyatanya semalam mereka tidak melakukan apapun. Luvella tahu bahwa Diello sengaja melakukannya untuk memprovokasi Lexion. Pria ini benar-benar terlalu kekana
"Aku tidak bisa menerima kartu ini, tolong kembalikan pada Ayahmu." Luvella menyodorkan kartu yang telah diberikan oleh Gael padanya tadi."Terima saja. Apa yang sudah diberikan untukmu berarti menjadi milikmu." Diello tidak menerima kartu dari Luvella.Ponsel Diello berdering. Ia melihat ke siapa yang memanggilnya, lalu kemudian mengalihkan pandangannya pada Luvella lagi. "Ganti pakaianmu dan istirahatlah. Aku akan keluar untuk menjawab panggilan." Diello segera keluar dari kamarnya. Pria itu menjawab panggilan di ponselnya."Ada apa?""Tuan, seseorang mencoba membobol system keamanan kita. Saat ini tim kita sedang menanganinya, tapi kali ini tampaknya lawan cukup sengit.""Aku akan segera ke sana.""Baik, Tuan."Diello menutup panggilannya. Ia kembali melangkah menuju ke kamarnya.Luvella baru akan melepaskan pakaiannya saat Diello masuk."Aku akan pergi, tidurlah duluan jangan menungguku." Diello mengecup puncak kepala Luvella lalu kemudian keluar lagi dari kamar itu.Luvella berg
Suasana di ruang makan itu kini hening. Lexion menatap Diello dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat.Selena menatap Luvella, tampaknya ia akan terus bersinggungan dengan wanita ini mulai sekarang. Selena tidak mengerti kenapa dua bersaudara Alterion menyukai Luvella."Ayo mulai makan malamnya," seru Gael.Tidak ada yang bersuara, orang-orang di sana mengikuti ucapan Gael. Meski ada beberapa keluhan di hati Jena dan Lexion mereka tidak mengatakannya."Makan lebih banyak, Istriku." Diello mengambilkan makanan untuk Luvella. Panggilan 'istriku' yang diucapkan oleh Diello membuat Lexion menggenggam gagang pisau di tangannya dengan kuat.Diello telah merusak rencananya. Dan yang lebih tidak dia mengerti lagi adalah Luvella bisa secepat itu memutuskan menikah dengan Diello.Luvella tidak banyak bicara, ia hanya menyantap makanannya.Setelah beberapa waktu, makan malam itu berakhir."Luvella, ayo ikut Ayah ke ruang kerja Ayah." Gael bicara pada Luvella. Pria itu sudah mengakui Luvella
Saat Luvella akan memulai makan malamnya, Diello kembali. Pria itu mendekati Luvella lalu kemudian mengecup puncak kepala Luvella."Lanjutkan makanmu, aku akan membersihkan tubuhku dulu baru makan."Luvella diam, meski kecupan itu sudah berlalu, tapi rasanya masih seperti tertinggal di sana. Jika yang memberikan kecupan adalah Lexion yang dulu, maka saat ini ia pasti akan tersenyu. Hanya saja, kecupan ini berasal dari Diello. Reaksi tubuhnya hanya ketidaknyamanan.Lima belas menit kemudian Diello bergabung ke ruang makan. Pria itu menyantap makan malamnya dengan tenang sembari sesekali memperhatikan wajah Luvella."Apakah kau tidak akan bertanya ke mana saja aku seharian ini?" Diello memulai percakapan.Luvella memiringkan wajahnya menatap Diello. "Aku tidak peduli ke mana kau pergi. Lakukan apapun yang kau sukai, aku tidak akan menghentikanmu.""Aku benar-benar tidak salah memilih istri." Diello tertawa ringan.Luvella sudah selesai makan. "Aku sudah selesai.""Aku belum selesai, te
Diello sudah selesai membersihkan tubuhnya, sekarang pria itu menunggu Luvella selesai mandi.Pria itu menunggu selama beberapa menit, sampai akhirnya Luvella keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.Diello bersiul, menggoda Luvella. Pria itu berdiri dari ranjang dan melangkah mendekati Luvella. Ia masih mengenakan handuk yang ia pakai tadi."Sudah siap untuk malam pertama pernikahan kita, Luvella?"Luvella sangat tidak nyaman mendengarnya, tapi dia sudah menikah dengan Diello, suka atau tidak suka dia masih harus berhubungan seks dengan pria ini."Potong omong kosongnya, mari lakukan saja." Luvella tidak bisa berbasa-basi dengan Diello."Ah, kau sepertinya sudah tidak sabar lagi, baiklah kalau begitu." Diello meraih pinggang Luvella, menariknya hingga tubuh mereka saling menempel. Pria itu mencium bibir Luvella dengan penuh gairah.Luvella tidak bereaksi sesaat, tubuhnya kaku. Selama dua puluh lima tahun dia hidup, Lexion adalah satu-satunya pria yang pernah menciumnya."Berg
Luvella telah mengetahui di mana Diello berada, jadi ia segera mendatangi pria itu. Dan sekarang ia sudah ada di sebuah klub malam terbesar di ibu kota. Luvella memasuki sebuah ruangan VIP.Saat ia sampai di sana, ia melihat Diello bersama dengan beberapa sahabat prianya ditemani oleh banyak wanita penghibur sedang bersenang-senang.Diello dengan cepat menyadari kedatangan Luvella. Pria itu mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar orang-orang di ruangan itu diam.Diello berdiri dari tempat duduknya lalu kemudian melangkah menuju ke Luvella. "Calon Ipar, apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau datang khusus untuk bertemu denganku?""Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu."Diello tersenyum ringan. "Aku sangat penasaran dengan hal yang ingin kau bicarakan denganku." Ia kemudian mengangkat tangannya lagi, mengisyaratkan agar orang-orang di sana meninggalkan tempat itu.Dua sahabat Diello pergi, enam wanita yang bersama mereka juga pergi, sekarang yang tersisa di ruangan itu hanya D







