LOGINOnce our high school years were finished, every werewolf was granted three years to wander before being called back to the pack. As the Alpha's daughter, I had even more responsibilities than the other pack members. That's why I left home after my mother's passing, and crossed paths with my supposed soulmate, a human who had no idea about werewolves. He broke my heart in the worst way possible, or did he? Could he simply be trying to keep us apart?
View More“Talak tiga yang kuucapkan tiga bulan lalu … itu kebodohan paling fatal yang pernah aku lakukan, Dewi.” Radit menatap Dewi lurus. Kilatan matanya memantulkan penyesalan dan luka.
“Maaf.” bisik Radit rendah. Jakunnya tampak naik turun. Pria itu lantas berkata lirih, “Aku mau kita rujuk.” Dewi masih membeku. Napasnya tercekat mendengar kalimat yang tak dia sangka akan didengarnya dari mulut Radit—pria yang pernah membuatnya merasa tak cukup dipercaya. Dadanya sesak oleh luapan luka yang ditarik kembali, namun si penoreh luka, kini datang menawarkan penyembuh. Masih terlampau jelas dalam ingatan Dewi, kalimat yang diucapkan Radit dengan tatapan mendelik nyalang dan suara yang bergetar karena amarah yang tertahan. “Detik ini, tanpa paksaan dan dalam keadaan sadar sepenuhnya, aku jatuhkan talak tiga atas kamu Dewi Anggraini binti Wirawan. Mulai sekarang, kita bukan lagi suami istri. Kamu bisa pergi dari rumah ini.” Radit, satu-satunya pria yang pernah mengisi hati Dewi, satu-satunya pria yang dia pikir akan menjadi pendampingnya hingga nyawa tak lagi mengisi raga, menceraikan Dewi karena terpedaya oleh sebuah foto yang dikirim oleh nomor asing. Foto yang diyakini Dewi dihasilkan oleh teknologi kekinian itu, memperlihatkan Dewi sedang bercumbu dengan seorang pria tak dikenal. Dirinya dalam foto itu tampak begitu nyata hingga dia sendiri sempat terdiam beberapa saat ketika pertama kali melihatnya. Dan Radit—yang baru saja pulang dari kantor, langsung naik pitam karena hasil gambar itu terlalu identik. Amarah mengubur logika dan perasaannya hingga penjelasan Dewi tak dia terima. “Aku tahu aku keterlaluan karena nggak menyelidiki lebih dulu. Tapi, tolong mengerti aku, Wi. Foto itu terlalu mirip. Siapa pun pasti akan percaya.” Radit menarik napas dalam-dalam. Rambutnya diusap ke belakang dengan wajah frustrasi. “Tiga bulan ini, aku benar-benar hancur tanpa kamu, Dewi.” Radit menatap Dewi sendu. Suaranya tercekat seolah tangisnya sudah di ujung tenggorokan. “Apa kamu mengerti rasanya harus pisah dengan orang yang berharga hanya karena salah paham?” Dewi memalingkan wajah. Bibirnya gemetar. Dadanya bergemuruh oleh emosi yang bercampur aduk: kecewa, terluka, tetapi jauh di dalam sana, perasaan lain hadir dan menelusup semakin nyata: rindu. Radit menatap sepasang mata Dewi lekat, menemukan pantulan emosi yang sama dengan miliknya. Perlahan, pria itu menarik tangan Dewi. Membawanya ke dalam genggaman. “Kamu ingat, impian kita untuk bisa segera punya anak?” Radit berbisik serak, “Kamu ingat, baju bayi yang dulu kamu rajut untuk anak kita kelak? Kamu masih pegang impian itu kan?” Satu tetes air mata meluncur jatuh ketika Dewi menunduk. Tentu dia masih ingat. Memiliki keturunan dari Raditya Pradana—kekasihnya sejak masa kuliah, sekaligus pria yang mau menerima Dewi dengan segala keadaannya, adalah impiannya sejak awal menikah. Walau, kehendak Tuhan berkata lain—hingga tahun ketiga pernikahan mereka, nyatanya buah hati masih belum juga hadir. “Kita sudah melewati bermacam-macam ujian, Dewi. Kita bersama dalam waktu yang nggak sebentar.” Radit kembali menatap Dewi lurus, penuh keteguhan. “Aku nggak bisa tanpa kamu. Kamu juga kan?” “Kamu sudah jatuhkan talak tiga, Mas.” Dewi menyela. Wajahnya kemudian diangkat tegak. “Kita sudah nggak punya harapan untuk kembali.” “Ada, Dewi.” Radit memotong tegas. “Aku sudah tanya pada kenalanku yang mengerti soal ini.” Sebuah hembusan napas berat mengawali kalimat Radit, “Kita tetap bisa rujuk walau aku sudah jatuhkan talak tiga. Asalkan kamu … kamu menikah dulu dengan pria lain.” “Apa?” Dewi mengernyit tajam. “Muhallil. Kita butuh laki-laki yang bisa menikahi kamu untuk sementara, supaya kamu halal untuk rujuk kembali denganku.” Sepasang mata Dewi menyipit tajam. Tangannya gemetar mendengar kabar yang seakan mencekik akal sehatnya. “Kamu gila, Mas.” “Aku tahu. Tapi ini satu-satunya cara, Dewi.” Radit menggenggam tangan Dewi lebih erat. “Dan aku sudah menemukan orang yang tepat.” Dewi terdiam sejenak. Punggungnya menegang membayangkan bila dia menikahi seorang pria asing tanpa dia tahu kepribadiannya. “Siapa?” gumam Dewi, matanya mengerjap gugup. “Aku kenal dia di gym. Kami pernah beberapa kali mengobrol. Dia bilang … dia bukan orang yang ingin menjalani komitmen panjang seperti pernikahan. Tapi situasinya sekarang, Ibunya kritis, hampir nggak ada harapan hidup. Dia berharap sebelum Ibunya meninggal, dia bisa perlihatkan pada Ibunya kalau dia bisa menikah dengan bahagia.” Napas Dewi tercekat. Apa itu artinya dia harus bersandiwara sebagai istri yang bahagia demi seorang laki-laki yang tak dia kenali? “Kamu nggak perlu khawatir dia akan jatuh cinta sama kamu. Dia bilang sendiri kalau dia hanya perlu menikah demi Ibunya. Hanya pernikahan siri yang nggak lama, Dewi.” Lagi, Dewi kembali menunduk, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Bayangan akan hari-hari pernikahannya yang bahagia, dengan Radit yang selalu memperhatikannya, juga impiannya untuk bisa menimang bayi, berkeliaran di kepala. Di tengah kekalutan itu, usapan hangat Radit di tangannya membuat sesuatu dalam diri Dewi mengukuh. “Aku janji, setelah kita rujuk nanti, aku akan jadi suami yang lebih baik. Aku nggak akan desak kamu lagi untuk resign kerja. Aku juga akan bantu berikan kamu modal untuk buka usaha kafe, seperti impian kamu.” Kali ini, sepasang mata Dewi menatap Radit dengan kilatan penuh harap. Namun perlahan, wajahnya kembali ditundukkan. Tangannya meremat batang ponsel erat-erat. Dewi bukannya membenci penawaran untuk kembali pada Radit. Tetapi …. ‘Harus menikah dulu dengan laki-laki lain.’ Dewi menarik napas panjang. “Mas … beri aku waktu untuk berpikir.”Chapter 40 Ana The wolf that stood before me was a sight to behold. Max, my chosen mate, was beautiful in his own right, but this animal was breathtaking. His fur was silver grey, and his eyes were crystal blue. He towered over me, his aura nearly bringing me to my knees. It was apparent he was an alpha, the leader of a pack. Alex's family history had always been shrouded in mystery. When I met his father for the first time, I could tell he was a high-ranking wolf despite being a rogue. Perhaps he once belonged to a pack before leaving and setting out on his own. Then again, maybe Alex's mother had something to do with it all. When Alex returned to Montana and reunited with me. Something shifted within him. The final straw broke Blade free from whatever held him back was when I flirted with Mr. Giovanni––it set Blade free to be with me instead. Blade approached me carefully, almost like he didn't want to startle me. It made me smile; after all, I was an Alpha just like him, althoug
Chapter 39 Alex Ana's kindness and selflessness astounded me; she was offering something so amazing. No matter what happened, I knew there was no way I'd leave her. Afterwards, I called my dad, and it was an unhappy conversation. He was yelling, demanding and threatening me to return right away - or else. Or else what? Would he disown me? There were no limits for him; whatever he wanted, he did. It boggled my mind that my mother ever found him attractive. He was wild, delusional, and fanatical in his beliefs: that he was invincible. I shared everything with Ana. No more secrets for us. We committed to spending the rest of our lives together, and though I wasn't thrilled about sharing her with Max, that was an issue for another day. We spent the rest of my first shift preparing, and Blade said we were fortunate to have each other accompanying us. When she told me the timing of her shift, something within me ached. She shifted early, not only because my father threatened to harm her,
Chapter 38 AnaAlex's words were clipped and concise. As soon as Shauna answered the phone, he informed her that their engagement was off - a fact which didn't sit well with her. She shouted curses and threats at him, me and everyone he cared about. It was difficult to listen to, though she had it coming. She ranted about a supposed baby she was expecting; pure fiction. I knew for certain she wasn't pregnant, having smelled her scent again at the club with Courtney. Alex promised me he had never slept with Shauna. He recalled only one instance two years prior but said maybe he confused her for me on the night of the party when they hooked up. According to him, someone may have drugged him that evening. I believe him. People have been trying to keep us apart for some dumb reasons. Alex seemed relieved yet worried when he hung up the phone, but I still felt insecure about the way he hurt me. I was a mess and put on a face of being okay, though I hadn't been since that night when every
Chapter 37 AlexI sensed her presence and smelled her perfume even before she tapped on the door. Somehow, I was aware of her entrance as soon as she stepped into the building. My dormant werewolf characteristics came to life—my suppressed feelings and instincts rose, giving me a sense of strength, but also making me uncertain about many things. One thing I was certain of, it was Ana. My love; my soulmate. From the moment I met Ana, I felt an overwhelming connection to her that surpassed anything I had ever encountered before. It all made sense now, knowing what I know. She belonged to me. When I heard her footfalls in the hallway, I swiftly checked myself in the mirror and made sure my appearance didn't disappoint. I wanted her to feel for me as intensely as I did for her. But if there was something I could sense from Ana, it was that she was unsure. I was sure that I wanted to be with Ana, either alone or sharing her with Max. I made the most of our time together and learn as mu
Chapter 33 Ana Oh, no. This is not how I wanted Alex to find out the truth. Dylan's warlock friend had used some kind of spell to subdue Alex's wolf, Blade, so he wouldn't go feral. It wasn't ideal, but it was the only way to keep him from going wild. This is where we stand now: Alex clinging onto h
Chapter 31 AnaI'm crouching outside of Alex's room, my tail blazing. I'm an alpha female, for god's sake; I don't run or hide from anything—I fight and stand firm in every situation. I thought agreeing to pretend to favor Alex would be easy enough. But then he took off his clothes and everything cha
Chapter 30 Alex As promised, Ana is present when I awaken. My head is in a whirlwind, tossed around with the many questions that come up. She is slumbering in the chair next to my bed, leaving me feeling disoriented. I long for her presence in the bed with me, yearn for her love and care as deeply a
Chapter 29 Ana The day before had been unbelievable. We'd set out on a mission to discover who was conducting illegal activities in our region, but I got to witness Alex's true identity. Courtney was right—Alex is one of us. His wolf was trapped or dormant somehow. Things escalated when we came to M






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.