Mag-log inTanpa mencari tahu lebih lanjut tentang benda yang dimasukkan ke dalam tasku oleh Bowo, aku langsung melajukan motor sportku pulang. Telingaku masih terdengar suara Bowo yang sempat memanggilku, tapi aku tak peduli. Saat ini aku harus segera pulang, agar Shira tak curiga padaku dan tetap menganggap kalau aku baru saja pulang kerja seperti biasanya.
Sesampainya di rumah, matahari sudah mulai tenggelam. Langit yang memerah menandakan petang yang indah, tapi hatiku rasanya sedikit gundah dan tak tenang sama sekali. Begitu memasuki halaman rumah, aku cepat-cepat memarkir motor di garasi dan buru-buru memasuki rumah. "Shira, aku pulang!" panggilku dengan suara ringan, meskipun sebenarnya beban di hatiku cukup berat. Saat itulah pintu seketika terbuka. Aku langsung mendengar suara langkah kaki yang ringan mendekat. Shira muncul dan membukakan pintu untukku. Matanya yang cantik tampak berbinar, dan senyumnya manis ketika ia melihatku. Dari dulu dia memang cantik, tapi sayang kecantikannya harus pudar karena tubuh dan wajahnya tidak terawat. Dia bahkan selalu mengenakan daster kumal yang sudah berjamur itu untuk menyambutku. Astaga! Lelahku bukannya hilang, tapi yang ada aku malah tambah stress melihat penampilannya seperti ini. "Mas Panji, kamu baru pulang?" tanyanya dengan lembut. Ia lalu mendekatiku dan mencium punggung tanganku. Aku membalas senyumannya dan mengusap rambutnya. Sekilas aku mencium pipinya, meskipun hatiku rasanya sedang campur aduk sekarang. "Iya, Sayang, tadi ada macet di jalan dan ada lembur sebentar. Aku jadi capek banget sekarang," jawabku sambil mengangkat tasku, menunjukkannya pada Shira. Shira tersenyum dan tanpa banyak bicara, dia langsung mengambil tasku. "Sekarang Mas Panji istirahat. Aku ambilkan kopi dulu, ya. Sekalian aku siapkan makan malam. Mas Panji pasti lapar." "He em, terima kasih, Sayang." Aku mengangguk. Shira tersenyum dan segera melangkah menuju dapur. Aku menatapnya hingga lenyap dari pandanganku. Ia memang selalu tahu apa yang aku butuhkan. Aku menghela nafas panjang sembari memijit kepalaku yang mendadak terasa berdenyut. "Shira itu istri yang sangat berbakti. Dia terlalu baik untukku," gumamku yang tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah. Aku jadi merasa makin cemas. Terutama karena aku baru saja membohonginya, mengatakan bahwa aku baru pulang kerja padahal sebenarnya aku sudah di-PHK. Bahkan yang lebih parahnya, karena aku baru saja berniat menemui Dira si wanita Michat itu, meskipun akhirnya aku harus bertemu dengan Ani si ganjen itu. Sejenak aku duduk di ruang tamu, dan memikirkan semua yang terjadi. Aku meraih ponselku dan mulai scrol-scrol tanpa tujuan. "Dira harus menjelaskan semuanya sama aku. Bisa-bisanya dia mangkir dan malah meminta Ani untuk menemui ku. Ini nggak bisa dibiarkan," geramku dan bersiap membuka aplikasi Michat tempatku bertemu dengan Dira. "Mas Panji." Namun, tiba-tiba saja terdengar suara Shira memanggilku. Aku tersentak dan cepat-cepat mengurungkan niat. Kumasukkan kembali ponsel ke dalam saku celanaku. Aku menatapnya dengan gugup, ketika Shira datang dengan membawa secangkir kopi panas. "Ini kopi panasnya, Mas. Pasti enak untuk melepas lelah," ujarnya sambil meletakkan kopi di meja dan ia segera duduk di sampingku. "Mmm, terima kasih, Shira. Kamu memang paling tahu cara bikin aku merasa lebih baik," jawabku, mencoba untuk tersenyum, meskipun dalam hati ada rasa bersalah yang teramat besar. "Iya, Mas. Ya udah, ayo diminum kopinya. Setelah itu, kamu mandi ya. Aku sudah siapkan air hangat untuk kamu," ucapnya dengan sangat tulus. Degh! Rasanya jantungku nyaris berhenti berdetak saat itu juga. Shira yang begitu baik, Shira yang begitu tulus, dan dia yang sangat sempurna sebagai seorang istri. Bagaimana mungkin aku bisa berniat untuk menghianatinya dan bermain gila di belakang dengan seorang cewek Michat? "Mas, kenapa bengong aja? Ayo habiskan dulu kopinya, setelah itu kita makan malam bersama. Oke?" tegur Shira, membuatku tersentak kaget. "Ah, i ... Iya, Sayang." Aku gugup, tapi sebisa mungkin aku berusaha bersikap normal agar tak menimbulkan kecurigaan. Aku segera menyesap kopi panasku, lalu mulai pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Barulah aku pergi makan malam bersama Shira. Malam itu berjalan seperti biasa. Kami makan malam bersama, ngobrol ringan tentang kegiatan seharian, dan menonton televisi. Aku meletakkan kepalaku di pangkuannya, menikmati kedekatan yang sudah lama tidak kurasakan. Satu-satunya hal yang mengganggu pikiranku adalah ponsel yang ada di saku celanaku. Hatiku rasanya gelisah karena ingin menghubungi Dira dan menuntut penjelasan darinya, tapi aku memilih menahan diri untuk tidak memikirkannya lebih jauh. "Aku capek, Mas Panji," kata Shira setelah beberapa saat. "Aku tidur dulu, ya?" Aku mengangguk, lalu mencium pipinya. "Tidur yang nyenyak, ya, Sayang. Kamu butuh istirahat." "Iya, Mas. Nanti kamu nyusul ya. Kamu juga harus segera istirahat." "Pasti, Sayang." Shira pun melangkah pergi ke kamar. Aku tetap di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Begitu Shira pergi, cepat-cepat aku membuka ponsel dan mengecek pesan yang mungkin sudah masuk. "Dira! Dira! Dira! Kenapa aku selalu saja kepikiran sama dia sih?" Aku buru-buru membuka aplikasi hijau yang selama ini sering kubuka untuk berkomunikasi dengan Dira. Membayangkan wajah cantik wanita itu, selalu saja bisa membuat jantungku berdebar. Baru saja aku berpikir untuk mengirim pesan kepadanya, tiba-tiba ada pesan masuk. Dira mengirimkan sebuah pesan singkat. [Mas Panji, besok aku mau ketemu. Aku butuh uang.] Aku hampir melompat kegirangan karena mendapat pesan itu. Dengan cepat aku segera membalasnya. [Ok, Dira. Besok kita ketemu di hotel B. Aku juga ingin banget ketemu sama kamu.] Mendapat pesan darinya benar-benar membuatku bersorak kegirangan. Rasa rinduku sepertinya sedikit terobati dengan pesan itu. Dan besok, kami akan bertemu di hotel. Aku harus memastikan jika Dira dan Shira itu memang hanya mirip. Namun, saat aku tengah asyik berbalas pesan dengan Dira, suara teriakan Shira tiba-tiba terdengar memecah kesunyian rumah. Aku terlonjak kaget, hingga ponselku hampir jatuh dari tangan. "Mas Panji!" teriaknya dari kamar. "Astaga! Shira kenapa sih?" geramku kesal. Cepat-cepat aku berlari menuju kamar. Begitu sampai di dalam kamar, kulihat Shira sedang berdiri di samping tempat tidur, tepat di dekat meja tempat tasku berada. Wajahnya tampak merah padam, matanya penuh amarah. Di tangannya, ada sesuatu yang membuat darahku serasa berhenti mengalir. "Mas Panji!" Suaranya bergetar. "Ini ... apa ini?" Dia memegang tasku dan dari dalamnya ada sebuah benda yang aku tak tahu darimana aku mendapatkannya. "Astaga! Itu kan alat kontrasepsi." Wajahku pucat, tubuhku kaku. Aku tak tahu harus berkata apa. Entah sejak kapan benda itu ada di dalam tasku!Rega mengangkat pistol lebih tinggi. Tangannya sedikit gemetar, tetapi sorot matanya justru semakin tajam. Pandangannya terkunci pada Shira, seolah hanya ada satu target di dunia itu.“Oke, perempuan dulu,” gumamnya dingin, nyaris tanpa emosi.“Aaaa!" Shira menjerit. Tubuhnya refleks mundur selangkah, kakinya hampir kehilangan keseimbangan. Ketakutan membuat napasnya tercekat. Namun sebelum ia sempat bersembunyi atau berlari, Panji bergerak lebih cepat.Ia melepaskan pelukan Shira dan melangkah ke depan, berdiri tepat di antara moncong pistol dan tubuh istrinya. Tubuhnya tegap, meski wajahnya pucat dan keringat dingin mengalir di pelipisnya.“Jangan!” teriak Shira sambil menarik lengan Panji dengan panik. “Mas Panji, jangan! Tolong jangan!”Panji menoleh sebentar ke arah Shira. Di tengah kekacauan, matanya justru terlihat tenang. Ada keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Senyumnya tipis, rapuh, tetapi penuh keyakinan.“Aku janji jaga kamu,” katanya lirih, seolah dunia di sekeliling mer
Panji berdiri kaku. Suara Anggara barusan masih berdengung di telinganya, bercampur dengan denyut darah yang memukul-mukul pelipisnya. Udara pagi terasa mendadak berat untuk dihirup. Kehadiran Rega dengan pistol di tangan membuat semua yang baru saja ia dengar terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.“Apa maksud lo setara?” suara Panji serak, hampir tak terdengar. “Gue nggak ngerti apa yang lo bales.”Rega menatap Panji lama, tanpa berkedip. Tatapannya dingin dan kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kebencian sampai lupa rasanya lega.Perlahan, ia menurunkan pistolnya sedikit, bukan sebagai tanda damai, melainkan sekadar menunda. Tangannya yang lain merogoh ponsel dari saku jaketnya dengan gerakan tenang yang justru membuat Panji semakin takut.“Lo benar-benar nggak ingat?” tanya Rega pelan, nadanya nyaris datar.Ia membuka layar ponsel dan memutar layarnya ke arah Panji, seolah sedang menunjukkan bukti dalam ruang sidang.Sebuah foto muncu
Pagi itu Panji bangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Nafasnya pendek-pendek. Langit-langit kamar tampak buram, matanya perih akibat kurang tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul delapan, tapi tubuhnya terasa tak punya tenaga untuk sekadar berdiri dari ranjang.Ia berguling pelan, duduk dengan bahu merosot. Ingatannya melayang ke malam sebelumnya, ke teror yang belum juga berhenti. Panji meraih ponsel di samping bantal, jemarinya gemetar saat menekan nomor atasannya.“Pak, maaf, hari ini saya izin nggak masuk,” katanya singkat begitu panggilan tersambung. Suaranya serak, nyaris tak bertenaga. “Ada urusan keluarga.”Ia menunggu reaksi di seberang, tapi begitu izin diberikan, Panji langsung menutup telepon. Tak ada penjelasan panjang. Ia tak sanggup merangkai alasan. Kepalanya terlalu penuh untuk berdusta dengan rapi.Setelah itu, Panji duduk lama di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk.
Rega menatap kotak paket itu sekali lagi. Tatapannya turun perlahan, seolah mencoba membaca sesuatu dari benda mati itu. Alisnya berkerut tipis, lalu ia mendongak ke arah Anggara dengan ekspresi yang tampak dibuat-buat, seolah benar-benar heran.“Maksud lo apa, Anggara?” tanyanya ringan. “Gue pulang-pulang disodorin kotak nggak jelas, terus lu langsung nuduh gue macem-macem.”Nada suaranya terdengar santai, tapi Anggara menangkap sesuatu yang lain di baliknya. Ada jeda sepersekian detik sebelum Rega bicara. Terlalu singkat untuk diperhatikan orang lain, tapi tidak bagi Anggara.Ia tak bergeming. Tubuhnya tegak, rahangnya mengeras. Tatapannya tajam, menusuk lurus ke mata kakaknya.“Jangan pura-pura lagi, Kak!”Rega terkekeh kecil, lalu mengangkat kedua tangannya seolah pasrah.“Serius. Ini kotak apa sih?” Ia menendang pelan kotak itu dengan ujung kakinya. “Kayak kotak bekas kiriman online.”Anggara melangkah mendekat. Satu langkah. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Suara Anggara renda
“Ini seperti…” Ucapan Anggara terhenti di tenggorokannya. Lidahnya terasa kelu, seolah kata berikutnya terlalu berat untuk dilepaskan.Panji yang sejak tadi berdiri kaku langsung menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat.“Seperti apa, Anggara?”Anggara tak menjawab. Ia kembali menatap bekas tanda di dalam kotak paket itu. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah ingatannya terseret ke tempat yang jauh dan tidak menyenangkan. Rahangnya mengeras, lalu ia menggeleng pelan.“Nggak,” katanya singkat. “Nggak apa-apa.”“Nggak apa-apa gimana?” Panji mendesak. Suaranya meninggi tanpa sadar. “Lo nemu sesuatu, kan? Jangan bilang setengah-setengah. Gue udah di titik paling kacau sekarang.”Anggara memejamkan mata sejenak. Ia menghela napas panjang, berat, lalu menutup kembali kotak itu dengan hati-hati. Gerakannya pelan, nyaris lembut, seolah takut isi di dalamnya akan berbicara lebih banyak jika dibiarkan terbuka.“Belum tentu,” katanya akhirnya. “Dan gue nggak mau bikin lo makin kepikiran sebel
Panji menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Cahaya dingin dari layar itu memantul di wajahnya yang pucat. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam, napasnya pendek-pendek, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan paru-parunya.Bagaimana mungkin?Baru satu jam lalu ia meminta bantuan Anggara. Pembicaraan itu terjadi di ruang tamu yang tertutup. Tidak ada orang lain. Tidak ada tetangga yang masuk. Tidak ada suara selain mereka berdua. Namun pesan itu datang begitu saja, dingin, tepat sasaran, seolah pengirimnya berdiri tepat di belakangnya.Nomor asing itu tahu. Bahkan bukan hanya sekadar tahu, tapi seakan ia mengawasi sejak awal.Belum sempat Panji menenangkan napasnya, layar ponsel kembali menyala. Getarannya membuat jantungnya berlonjak. Sebuah pesan masuk lagi. Kali ini bukan teks.Melainkan sebuah foto.Jari Panji gemetar saat menyentuh layar. Ada dorongan kuat untuk tidak membukanya, untuk berpura-pura ini tidak nyata. Namun rasa takut justru memaksanya menekan gambar itu.







