LOGIN"Kamu ... Kamu bukan Dira kan?" tanyaku tercengang saat melihat wanita di dalam kamar hotel itu.
Wanita cantik nan seksi itu tertawa kecil. Dia melangkah dengan anggun mendekatiku. Kami semakin dekat, tangannya terulur, dan jemari lentiknya itu bermain meraba-raba dadaku dari luar kemejaku. "Aku bukan Dira. Namaku Ani, Sayang. Tadi Dira sedang keluar karena ada urusan, jadi dia minta aku untuk menggantikannya. Lagipula kamu nggak usah khawatir, Sayang. Pelayananku dan dia sama saja kok. Aku bisa memuaskan kamu sama seperti Dira. Kami memang saling kerjasama dan menguntungkan kok. Cewek-cewek michat memang saling membantu," ucap Ani sambil mengedipkan sebelah matanya dengan manja ke arahnya. Sedangkan jarinya masih asyik bermain-main di dadaku. Rahangku mengeras. Aku menggigit gigiku sendiri hingga bergemeretak. Aliran darahku berdesir hebat, ketika merasakan belaian jemari Ani di dadaku. "Ayo. Aku melayani kamu, Sayang," goda Ani. Kini tangannya bergerak lincah menurunkan tali gaun tipisnya, hingga ke sebatas lengan dan menampakkan kulit dada indahnya yang putih mulus. Aku menelan ludah susah payah, apalagi saat Ani hendak menurunkan kedua tali dress nya untuk menunjukkan kedua bukit indahnya di hadapanku. "Ayo sentuh aku!" pintanya sambil meraih telapak tanganku dan hendak diletakkan di dadanya. Ani berniat untuk melayaniku, tapi entah kenapa aku sama sekali tak berminat padanya karena aku hanya berminat pada Dira. Meskipun aku merasa sangat tergoda, tapi sebisa mungkin aku menahan gairah itu. "Ma ... Maaf, Ani. Tapi aku nggak bisa." Aku menepis tangannya. "Sayang, kamu sudah masuk ke sini. Apa nggak sia-sia kalau kamu melewatkan kesempatan ini? Lihat, aku sangat cantik dan seksi. Apa kamu nggak tergoda sama aku?" Ani membusungkan dadanya dan nyaris dia tabrakkan ke dadaku. "Ani, aku harus pergi sekarang. Tolong menjauh dari aku," tolakku. "Ayo, Sayang. Jangan berpikir terlalu lama. Ini kesempatan bagus buat kamu," ujarnya sambil duduk di sampingku. Dia terus berusaha untuk menggodaku, meskipun aku sudah menolak. "Ani, aku benar-benar tidak mau." Ani tidak menyerah. Dia terus saja menggodaku dengan alasan-alasan yang semakin memikat. "Tapi kamu nggak akan nyesel, kok. Coba aja dulu, siapa tahu kamu berubah pikiran setelah mencoba rasanya. Aku jamin kalau kamu bakalan ketagihan." Aku merasa lelah dengan situasi ini. Dengan cepat, aku segera meraih ponselku dan menghubungi Bowo. Dia satu-satunya yang bisa membantuku keluar dari situasi yang kian tak nyaman ini. "Bowo, tolong datang kemari. Ada wanita yang terus saja ganggu gue," kataku, berharap dia bisa segera datang. "Oke, Bro. Gue kesana sekarang." Tak lama setelah percakapan itu, Bowo akhirnya tiba di kamar hotel dan muncul di hadapanku. "Ada yang bisa gue bantu?" tanya Bowo padaku. "Bowo, ini Ani. Oh iya, Ani, sepertinya kamu punya tawaran menarik buat Bowo, kan?" ujarku seraya melirik Ani yang kini tampak cemas. Ani menatap Bowo dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia mengamati lekat-lekat tubuh sahabatku yang gagah perkasa itu, lalu akhirnya wanita itu mengangguk dengan senyum lebar. "Bowo, aku janji kamu nggak akan menyesal kalau pakai jasaku. Kamu mau kan?" "Tentu saja aku mau." Bowo langsung mengangguk cepat tanpa ragu. Aku lega karena akhirnya Bowo lah yang menggunakan jasa Ani, bukan aku. Setelah itu, aku melangkah cepat keluar meninggalkan kamar hotel itu, langkahku terasa berat, seakan setiap detiknya membawa kebingungan yang semakin menumpuk. Apa yang baru saja terjadi? Dira yang seharusnya datang, malah mengirimkan temannya untuk melayaniku. Aku merasa seperti dihianati. Marah, kecewa, dan bingung, aku langsung mengeluarkan ponselku dan mengetik pesan pada Dira. [Dira, kamu nggak profesional banget! Kenapa kamu nggak bilang kalau nggak bisa datang? Malah ngirim temenmu si Ani! Aku nggak suka banget!] Pesanku terkirim, tapi detik demi detik berlalu tanpa balasan dari Dira. Aku hanya bisa menatap layar ponsel yang kosong, dengan pesan yang tidak dibaca. Hati ini semakin kesal. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, jadi aku memutuskan pergi ke sebuah kafe yang ada tak jauh dari situ. Di dalam kafe, aku duduk di pojok sambil menunggu. Kopi di hadapanku sudah dingin, tapi aku tak peduli. Pikiranku terus melayang, teringat kejadian tadi. Aku tidak tahu harus kemana. Jika aku pulang awal, pasti Shira akan banyak pertanyaan. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku baru saja kehilangan pekerjaan, karena itu akan membuat segalanya semakin rumit. "Hah! Lebih baik aku ke rumah Bowo saja. Siapa tau dia sudah selesai dengan cewek michat itu." Aku lantas mengirimkan pesan pada Bowo, bahwa aku sedang menunggunya di kafe. Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya setelah beberapa waktu, Bowo pun muncul juga. Aku langsung merasa kesal karena dia sangat lama. "Huh! Lo lama banget sih?" sungutku kesal. Bowo berjalan mendekat sambil tertawa kecil, seolah tidak ada yang salah. "Haha, Panji! Lo bener-bener nggak beruntung hari ini! Ani tuh ... Dia pinter banget, bro. Dia lihai dan nikmat banget, sampai gue lupa waktu. Lo rugi deh karena nggak cobain dia," ujarnya masih terkekeh. Aku hanya mendengus, menatapnya dengan kesal. "Lagian kapan sih lo bisa cepet, Bowo? Gue nggak ada waktu buat dengerin cerita lo soal Ani," jawabku kesal. Bowo sedikit berhenti tertawa, lalu hanya mengangkat bahu. "Ya udah deh, terserah lo. Gue cuma bilang, lo harus cobain cewek itu kapan-kapan." "Sorry! Gue nggak minat," ketusku, membuat Bowo semakin terkekeh. Kami pun segera berjalan keluar dari kafe dan menuju motor masing-masing. Aku ikut ke rumah Bowo, karena aku perlu tidur sebentar untuk meredakan kepala yang pening. Begitu tiba di rumah Bowo, aku tertidur cukup lama, bahkan sampai sore hari. Ketika akhirnya terbangun, aku langsung meraih ponselku, berharap ada kabar dari Dira, dan bukannya Shira. Namun, yang aku dapatkan adalah sebuah balasan pesan dari Dira. [Panji, maaf banget ya, tadi aju ada urusan mendadak dan nggak bisa datang sesuai janji. Kita ngobrol nanti ya?] Aku membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk, dan hanya mendengus. "Itu saja?" Sepotong pesan yang tidak menjelaskan apa-apa, hanya sebuah alasan yang terdengar biasa. Aku merasa seperti seseorang yang sedang ngambek. Persis seperti pacar yang sedang marah pada pasangannya, tetapi aku memutuskan untuk tidak membalasnya. Aku hanya membaca pesan itu dan menatap layar, merasakan betapa kecewanya aku. Entah kenapa aku bisa sampai seperti ini. "Shira pasti sedang mencariku sekarang. Dia pasti berpikir kenapa aku pulang terlambat." Aku tiba-tiba teringat pada istriku. Aku tidak ingin dia tahu tentang apa yang terjadi, karena itu aku memutuskan untuk segera pulang. Aku pamitan dengan Bowo, yang tampaknya masih santai seperti biasa. "Bowo, gue pulang dulu. Udah sore," pamitku. "Oke, Panji." Aku melangkah pergi. Namun, sebelum aku sempat keluar, tiba-tiba Bowo mendekat dan memasukkan sesuatu ke dalam tasku. "Bowo, ini apa?" tanyaku sambil menatapnya dengan bingung. Bowo hanya tersenyum aneh, dan wajahnya tampak serius. "Lo akan butuh itu, Panji. Percaya deh, lo nggak akan bisa lepas dari itu."Rega mengangkat pistol lebih tinggi. Tangannya sedikit gemetar, tetapi sorot matanya justru semakin tajam. Pandangannya terkunci pada Shira, seolah hanya ada satu target di dunia itu.“Oke, perempuan dulu,” gumamnya dingin, nyaris tanpa emosi.“Aaaa!" Shira menjerit. Tubuhnya refleks mundur selangkah, kakinya hampir kehilangan keseimbangan. Ketakutan membuat napasnya tercekat. Namun sebelum ia sempat bersembunyi atau berlari, Panji bergerak lebih cepat.Ia melepaskan pelukan Shira dan melangkah ke depan, berdiri tepat di antara moncong pistol dan tubuh istrinya. Tubuhnya tegap, meski wajahnya pucat dan keringat dingin mengalir di pelipisnya.“Jangan!” teriak Shira sambil menarik lengan Panji dengan panik. “Mas Panji, jangan! Tolong jangan!”Panji menoleh sebentar ke arah Shira. Di tengah kekacauan, matanya justru terlihat tenang. Ada keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Senyumnya tipis, rapuh, tetapi penuh keyakinan.“Aku janji jaga kamu,” katanya lirih, seolah dunia di sekeliling mer
Panji berdiri kaku. Suara Anggara barusan masih berdengung di telinganya, bercampur dengan denyut darah yang memukul-mukul pelipisnya. Udara pagi terasa mendadak berat untuk dihirup. Kehadiran Rega dengan pistol di tangan membuat semua yang baru saja ia dengar terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.“Apa maksud lo setara?” suara Panji serak, hampir tak terdengar. “Gue nggak ngerti apa yang lo bales.”Rega menatap Panji lama, tanpa berkedip. Tatapannya dingin dan kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan kebencian sampai lupa rasanya lega.Perlahan, ia menurunkan pistolnya sedikit, bukan sebagai tanda damai, melainkan sekadar menunda. Tangannya yang lain merogoh ponsel dari saku jaketnya dengan gerakan tenang yang justru membuat Panji semakin takut.“Lo benar-benar nggak ingat?” tanya Rega pelan, nadanya nyaris datar.Ia membuka layar ponsel dan memutar layarnya ke arah Panji, seolah sedang menunjukkan bukti dalam ruang sidang.Sebuah foto muncu
Pagi itu Panji bangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Nafasnya pendek-pendek. Langit-langit kamar tampak buram, matanya perih akibat kurang tidur. Jam di dinding sudah menunjukkan lewat pukul delapan, tapi tubuhnya terasa tak punya tenaga untuk sekadar berdiri dari ranjang.Ia berguling pelan, duduk dengan bahu merosot. Ingatannya melayang ke malam sebelumnya, ke teror yang belum juga berhenti. Panji meraih ponsel di samping bantal, jemarinya gemetar saat menekan nomor atasannya.“Pak, maaf, hari ini saya izin nggak masuk,” katanya singkat begitu panggilan tersambung. Suaranya serak, nyaris tak bertenaga. “Ada urusan keluarga.”Ia menunggu reaksi di seberang, tapi begitu izin diberikan, Panji langsung menutup telepon. Tak ada penjelasan panjang. Ia tak sanggup merangkai alasan. Kepalanya terlalu penuh untuk berdusta dengan rapi.Setelah itu, Panji duduk lama di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di lutut, kepalanya tertunduk.
Rega menatap kotak paket itu sekali lagi. Tatapannya turun perlahan, seolah mencoba membaca sesuatu dari benda mati itu. Alisnya berkerut tipis, lalu ia mendongak ke arah Anggara dengan ekspresi yang tampak dibuat-buat, seolah benar-benar heran.“Maksud lo apa, Anggara?” tanyanya ringan. “Gue pulang-pulang disodorin kotak nggak jelas, terus lu langsung nuduh gue macem-macem.”Nada suaranya terdengar santai, tapi Anggara menangkap sesuatu yang lain di baliknya. Ada jeda sepersekian detik sebelum Rega bicara. Terlalu singkat untuk diperhatikan orang lain, tapi tidak bagi Anggara.Ia tak bergeming. Tubuhnya tegak, rahangnya mengeras. Tatapannya tajam, menusuk lurus ke mata kakaknya.“Jangan pura-pura lagi, Kak!”Rega terkekeh kecil, lalu mengangkat kedua tangannya seolah pasrah.“Serius. Ini kotak apa sih?” Ia menendang pelan kotak itu dengan ujung kakinya. “Kayak kotak bekas kiriman online.”Anggara melangkah mendekat. Satu langkah. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Suara Anggara renda
“Ini seperti…” Ucapan Anggara terhenti di tenggorokannya. Lidahnya terasa kelu, seolah kata berikutnya terlalu berat untuk dilepaskan.Panji yang sejak tadi berdiri kaku langsung menoleh. Jantungnya berdegup lebih cepat.“Seperti apa, Anggara?”Anggara tak menjawab. Ia kembali menatap bekas tanda di dalam kotak paket itu. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah ingatannya terseret ke tempat yang jauh dan tidak menyenangkan. Rahangnya mengeras, lalu ia menggeleng pelan.“Nggak,” katanya singkat. “Nggak apa-apa.”“Nggak apa-apa gimana?” Panji mendesak. Suaranya meninggi tanpa sadar. “Lo nemu sesuatu, kan? Jangan bilang setengah-setengah. Gue udah di titik paling kacau sekarang.”Anggara memejamkan mata sejenak. Ia menghela napas panjang, berat, lalu menutup kembali kotak itu dengan hati-hati. Gerakannya pelan, nyaris lembut, seolah takut isi di dalamnya akan berbicara lebih banyak jika dibiarkan terbuka.“Belum tentu,” katanya akhirnya. “Dan gue nggak mau bikin lo makin kepikiran sebel
Panji menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Cahaya dingin dari layar itu memantul di wajahnya yang pucat. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam, napasnya pendek-pendek, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan paru-parunya.Bagaimana mungkin?Baru satu jam lalu ia meminta bantuan Anggara. Pembicaraan itu terjadi di ruang tamu yang tertutup. Tidak ada orang lain. Tidak ada tetangga yang masuk. Tidak ada suara selain mereka berdua. Namun pesan itu datang begitu saja, dingin, tepat sasaran, seolah pengirimnya berdiri tepat di belakangnya.Nomor asing itu tahu. Bahkan bukan hanya sekadar tahu, tapi seakan ia mengawasi sejak awal.Belum sempat Panji menenangkan napasnya, layar ponsel kembali menyala. Getarannya membuat jantungnya berlonjak. Sebuah pesan masuk lagi. Kali ini bukan teks.Melainkan sebuah foto.Jari Panji gemetar saat menyentuh layar. Ada dorongan kuat untuk tidak membukanya, untuk berpura-pura ini tidak nyata. Namun rasa takut justru memaksanya menekan gambar itu.







