MasukMalam itu hujan berhenti mendadak, seolah seseorang menekan tombol pause di langit. Udara jadi aneh — terlalu tenang untuk kota sekecil Lirona. Hanya bunyi tetes air dari atap genting yang memecah hening, jatuh satu-satu ke talang berkarat, seperti waktu yang menetes dari jam rusak.
Aku belum berani mematikan lampu. Pesan tanpa nama itu masih tersimpan di ponselku, menatapku dengan dingin lewat satu kalimat yang tak mau hilang: Aku tidak suka kau kembali ke stasiun, Nara. Aku sudah mencoba menghapusnya tiga kali. Tapi setiap kali layar ponsel padam, dan aku menyalakannya lagi, pesan itu muncul kembali. Waktu pengirimnya sama — 00:01. Tepat saat hujan reda. Aku duduk di kursi dekat jendela, memandangi kota yang perlahan tertidur. Di seberang jalan, ada bangunan tua yang dulu pernah menjadi perpustakaan. Kini hanya tersisa dinding kusam dan jendela yang pecah. Namun malam ini, ada cahaya samar di sana. Seseorang menyalakan lampu. Jantungku berdetak lebih cepat. Tidak ada alasan logis untuk itu. Perpustakaan itu sudah ditutup dua tahun lalu — sejak kebakaran yang menelan dua nyawa. Salah satunya Rian. Aku bangkit. Entah apa yang mendorongku, tapi aku harus tahu. Aku mengambil payung hitam itu lagi, payung yang entah mengapa tetap kering walau sempat kubiarkan di lantai berjam-jam. Ketika aku membuka pintu, angin lembab menyergap wajahku. Jalanan sepi, tapi langkahku bergema jelas. Lirona setelah hujan selalu tampak seperti lukisan yang belum selesai — warna-warnanya memudar, tapi menyimpan sesuatu di baliknya. Aku berjalan menyeberangi jalan sempit, menatap kaca jendela perpustakaan tua itu. Lampu di dalam berkelap-kelip, seolah menantangku masuk. Pintu kayunya tak terkunci. Aku mendorong pelan, dan deritnya menggema panjang. Bau kayu basah dan debu menyambutku. Semua rak buku masih di tempatnya, tapi sebagian besar terbakar setengah, menyisakan bekas hitam di dinding. Namun di tengah ruangan, di meja baca yang masih utuh, ada satu buku yang terbuka. Kertasnya menguning, tapi tulisan di halamannya jelas: “Rian Karsa, catatan terakhir. 12 November.” Tanganku bergetar. Itu tanggal dua tahun lalu — malam kebakaran. Aku duduk perlahan, menatap halaman berikutnya. Di sana, kalimat terakhirnya ditulis dengan tinta hitam yang sudah luntur: “Jika aku tak sempat kembali, biarkan hujan menyampaikan semuanya pada Nara.” Suara langkah kaki terdengar di belakangku. Pelan, namun nyata. Aku menoleh cepat. Tidak ada siapa pun. Hanya bayangan dari lampu yang berkelip di langit-langit, menari-nari di dinding seperti hidup. Aku berdiri, memeluk payungku erat-erat, lalu berlari keluar. Udara malam dingin menusuk kulit. Aku menatap ke langit, berharap hujan turun lagi — setidaknya agar suara tetes air bisa menutupi suara detak jantungku yang terlalu keras. Tapi langit diam. Tidak ada hujan malam itu. Bahkan angin pun berhenti. Aku tahu sesuatu berubah di Lirona. Seolah waktu berhenti bekerja dengan cara yang sama. Setiap kali aku berpikir semua ini hanya kebetulan, selalu ada tanda kecil yang membuatku ragu. Seperti sekarang — ketika aku membuka telapak tangan, ada setitik air yang menetes dari langit yang kosong. Satu tetes saja. Tapi jatuh tepat di atas payung hitam itu, membentuk lingkaran sempurna. Ketika aku menyentuhnya, air itu tak terasa dingin. Malah hangat. Seperti sisa napas seseorang. Aku kembali ke penginapan dengan langkah limbung. Di depan pintu kamar, ada amplop putih tergelincir di lantai. Tidak ada nama penerima, tidak ada perangko. Hanya sebuah kalimat di depan amplop, ditulis dengan tulisan tangan yang sangat kukenal: “Saat hujan belajar diam, kau akan tahu semuanya.” Aku membuka perlahan. Di dalamnya, hanya selembar foto hitam-putih. Aku dan Rian, duduk di depan perpustakaan Lirona, tersenyum. Tapi sesuatu membuatku menggigil — di belakang kami, di jendela yang pecah, ada bayangan samar seseorang yang menatap lurus ke arah kamera. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi entah kenapa, aku merasa dia sedang tersenyum. Aku menjatuhkan foto itu. Nafasku tercekat, lututku lemas. Semua rasa takut yang kutahan sejak awal kini menyeruak sekaligus. Tapi di antara detak jantung yang kacau, ada sesuatu yang lebih kuat dari ketakutan itu — rasa ingin tahu. Karena di sudut bawah foto itu, ada tulisan kecil nyaris tak terlihat: “Lanjutkan halaman yang kubuka.” Aku menatap buku yang tadi kubawa pulang dari perpustakaan. Masih terbuka di halaman yang sama, tinta hitamnya mulai pudar karena lembab. Aku menyentuhnya pelan, dan saat jariku menyentuh tinta itu, huruf-hurufnya seperti bergerak. Satu kalimat baru muncul di bawahnya, meski aku tahu aku tak menulis apa pun: “Aku di sini, Nara. Tapi kau harus berani mendengarkan diamnya hujan.” Lampu kamar berkedip. Bayangan di jendela bergerak pelan. Dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke kota ini, aku merasa hujan benar-benar hidup — bukan sebagai cuaca, tapi sebagai sesuatu yang mengingat.Keputusan itu tidak datang dengan ledakan.Ia datang seperti pagi yang akhirnya memilih terang—perlahan, pasti.Aira mengirim balasan singkat di sore hari. Kalimatnya sederhana, nyaris datar, tanpa embel-embel penjelasan. Ia menulis bahwa ia akan datang, menyebutkan waktu kedatangannya, lalu menutup pesan dengan sopan. Tidak ada tanda baca berlebihan. Tidak ada kalimat yang membuka pintu percakapan lain.Setelah mengirimkannya, Aira meletakkan ponsel di meja dan berdiri. Tidak ada getar di dada. Tidak ada perasaan menunggu balasan. Keputusan itu terasa selesai—seperti menyimpan barang pada tempatnya.Ia tahu, datang bukan berarti membuka kembali apa yang telah ia tutup. Datang adalah cara untuk berdiri di hadapan masa lalu dengan tubuh yang tidak lagi rapuh.Hari-hari berikutnya berjalan wajar. Aira tetap bangun pagi, tetap berjalan, tetap menulis. Ia tidak menyiapkan diri secara emosional berlebihan. Yang ia siapkan hanyalah dirinya yang sekarang—jujur, stabil,
Pagi itu tidak membawa firasat apa pun.Aira bangun seperti biasa, dengan cahaya yang jatuh wajar di dinding kamar dan suara kota yang mulai hidup perlahan. Tidak ada mimpi yang tertinggal. Tidak ada bayangan yang mengejar dari sisa tidur. Semuanya terasa stabil, bahkan nyaris datar.Dan justru karena itulah, ia tidak menduga apa yang akan datang.Ia sedang merapikan meja kecil di dekat jendela ketika ponselnya bergetar. Satu getaran singkat. Bukan nada pesan yang mendesak, hanya penanda bahwa sesuatu masuk ke ruang pribadinya. Aira tidak segera meraih ponsel itu. Ia menyelesaikan dulu apa yang sedang ia lakukan—melipat kain, menyusunnya rapi.Baru setelah itu, ia mengambil ponsel dan melihat layar.Sebuah pesan.Nama pengirimnya membuat jarinya berhenti sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena kaget, bukan pula karena rindu yang tiba-tiba menyeruak. Lebih seperti jeda naluriah—sebuah pengenalan terhadap sesuatu yang sudah lama tidak muncul.
Aira menyadari sesuatu yang halus pagi itu:ada hal-hal yang dulu ia tunggu dengan sabar,kini tidak lagi ia tunggu—tanpa rasa kecewa.Ia terbangun dengan cahaya pagi yang sudah lebih berani masuk ke kamar. Tirai terbuka setengah, membiarkan garis-garis cahaya jatuh di lantai. Aira menatapnya sebentar, lalu bangkit. Tidak ada perasaan kehilangan karena tidak ada yang datang. Tidak ada kegembiraan berlebihan karena tidak ada yang dijanjikan.Ia merasa stabil.Di kamar mandi, air mengalir hangat. Aira membiarkan air menyentuh kulitnya lebih lama dari biasanya, bukan karena ingin berlama-lama, tetapi karena ia tidak terburu-buru keluar dari momen itu. Ia menyadari betapa sering ia dulu mempercepat hal-hal kecil, seolah takut tertinggal oleh hidup.Kini, ia membiarkan hidup menyusulnya dengan sendirinya.Setelah berpakaian sederhana, Aira menuju dapur. Ia menyiapkan sarapan tanpa suara tambahan. Tidak ada musik. Tidak ada berita. Ia hanya ingin mendengar
Aira mulai menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar berlari.Ia hanya bergerak.Dan manusialah yang sering terburu-buru mengejarnya.Pagi itu, Aira terbangun dengan cahaya lembut yang menempel di dinding kamar. Jam menunjukkan angka yang tidak istimewa. Tidak terlalu pagi, tidak pula kesiangan. Ia tersenyum kecil—dulu, angka-angka seperti itu sering membuatnya gelisah, seolah waktu selalu menilai caranya hidup. Kini, angka hanya penanda, bukan hakim.Ia duduk di ranjang, menurunkan kaki ke lantai, dan merasakan dinginnya menyentuh telapak. Sensasi itu nyata, menegaskan keberadaannya di sini, sekarang. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Tidak ada yang tertinggal.Tidak ada yang harus dikejar.Aira berdiri dan membuka jendela. Udara pagi masuk dengan santai, membawa aroma kota yang baru bangun. Di kejauhan, suara kendaraan mulai terdengar, namun tidak mendominasi. Dunia bergerak, dan ia tidak merasa tertinggal di belakangnya.
Pagi itu datang tanpa membawa janji.Aira terbangun dengan perasaan yang tenang, seperti permukaan air yang nyaris tak beriak. Tidak ada mimpi yang tertinggal, tidak ada bayangan yang memaksa diingat. Ia membuka mata dan membiarkan cahaya pagi menyentuh sudut kamar, pelan dan sopan.Ia tidak langsung bangkit.Ia belajar bahwa tidak semua hari perlu diawali dengan gerak.Beberapa detik berlalu. Aira menarik napas dalam, merasakan dadanya mengembang lalu mengempis. Tubuhnya terasa ringan, bukan karena tidak ada beban, melainkan karena ia tidak lagi memikulnya sendirian. Ia duduk, merapikan selimut, lalu berdiri.Di depan jendela, ia membuka tirai. Langit tampak biasa—tidak terlalu cerah, tidak juga muram. Aira menyukainya. Langit yang tidak berlebihan selalu memberinya rasa aman. Ia berdiri sebentar, memperhatikan bagaimana pagi membentuk dirinya sendiri tanpa perlu disaksikan.Di dapur, Aira menyiapkan minuman hangat. Uap mengepul, mengabur sebentar sebelum le
Aira mulai memahami bahwa diam bukan lagi tempat bersembunyi.Pagi itu datang tanpa kejutan. Tidak ada perasaan samar seperti kemarin, tidak ada isyarat yang mengetuk pelan. Hanya pagi yang bersih, jujur, dan tidak menuntut apa pun. Aira membuka mata dan merasa utuh—bukan karena tidak ada kekurangan, melainkan karena ia tidak lagi sibuk menghitungnya.Ia duduk sebentar di ranjang, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan cahaya. Tidak ada pikiran yang berlari lebih dulu. Ia menikmati momen singkat sebelum hari bergerak, seperti berdiri di tepi air sebelum kaki benar-benar basah.Aira bangkit, merapikan tempat tidur, lalu membuka jendela. Udara masuk dengan lembut. Daun tanaman kecil yang kemarin ia beli bergerak pelan tersentuh angin. Ia memperhatikannya sejenak, lalu tersenyum.“Aku juga tidak terburu-buru,” katanya pelan, entah pada tanaman itu atau pada dirinya sendiri.Di dapur, Aira menyiapkan minuman hangat dan sarapan sederhana. Ia melakukan semuanya t







