MasukBarang pesanan lo sudah bisa diambil sekarang. Buruan lo ke sini.
Gavriel membaca sebuah pesan W******p yang dikirimkan oleh supplier-nya, barang-barang pesanannya sudah tiba dan ia harus menambah beberapa stock barang yang sedang laku dan hits di pasaran e-commerce. Keuntungan penjualan barang-barang fashion wanita seperti tas, sepatu bahkan kacamata sangat menggiurkan. Jika sedang beruntung bahkan gajinya sebulan saja kalah dengan hasil dari penjualan online. Jika penjualannya stabil seperti bulan ini selama beberapa bulan kedepan, maka Gavriel harus menggaji karyawan untuk mengemas barang-barang jika perlu menyewa seorang host untuk sesi live jualannya. Tidak mungkin ia akan sendirian memegang semua ini, apalagi kini sudah mendekati akhir tahun dan target tahunannya masih kurang sedikit lagi tercapai.
Okay, gue otw sekarang ke sana.
Setelah membalas pesan masuk dari Rachel, Gavriel segera mematikan komputernya. Tidak lupa juga ia memasukkan laptop pribadinya beserta tablet ke dalam tasnya. Selesai berkemas-kemas, Gavriel segera menuju ke arah parkiran mobil.
Begitu menaruh backpack miliknya di kursi belakang, Gavriel segera masuk ke sisi pengemudi dan tancap gas dari parkiran basemen kantornya. Selama perjalanan menuju ke lokasi gudang, Gavriel memilih untuk mendengarkan siaran radio yang kali ini membahas tentang beda dari cinta dan benci yang begitu tipis.
"Pernah enggak sih kalian itu seneng banget karena bisa jahilin orang?" Tanya seorang penyiar wanita yang langsung dijawab oleh penyiar pria.
"Gue pernah. Waktu itu masih SMA. Setelah gue analisa ternyata gue naksir dia."
Gavriel tersenyum dibalik kemudi mobilnya. Ia gelengkan kepalanya kala mendengar hal itu. Ia yakin jika perasaannya pada Gadis sama sekali bukan rasa tertarik apalagi cinta. Gadis bukanlah tipe perempuan yang ia inginkan selama ini.
"Gimana bisa lo langsung sadar? "
"Soalnya waktu dia enggak kelihatan lagi, gue males berangkat sekolah."
"Pindah?"
"Enggak."
"So?"
"Dia sakit DB waktu itu, tapi udah tergolong parah baru opname. Dia enggak berangkat hampir sebulan. Bahkan gue rasanya kacau waktu tahu dia sempat kritis."
"Ternyata kisah cinta lo nyesek juga."
"Enggak juga, soalnya dia sekarang sudah jadi bini gue."
Gavriel tersenyum kembali kala mendengar percakapan kedua penyiar itu.
Lantunan obrolan dan lagu dari radio mengisi perjalanan Gavriel hingga akhirnya ia sampai di tempat ia mengambil barang-barang pesanannya. Di sana sudah ada Rachel yang menunggunya. Sebagai seorang pria, Gavriel tahu jika Rachel sedang terlihat memiliki banyak masalah, namun ia tidak mau tahu karena itu bukan urusannya. Hidupnya sudah cukup banyak masalah dan tidak perlu ditambah lagi memikirkan masalah orang lain.
Selesai para karyawan Rachel memasukkan barang-barang miliknya ke mobil, Gavriel segera pamit kepada Rachel, tapi Rachel melarangnya untuk pulang.
"Kenapa lagi sih, Hel?"
"Gue lagi butuh teman buat curhat. Temani gue bentar bisa ga, Gav?"
Berhubung jaman sekarang banyak sekali kasus suicide karena orang itu merasa tidak memiliki teman berbagi dan bercerita, maka Gavriel memilih menganggukkan kepalanya. Siapa tahu dengan hal sederhana seperti ini, ia sudah membantu menyelamatkan satu nyawa untuk tetap bertahan menghadapi kejamnya dunia yang semakin hari semakin tidak adil bagi banyak orang.
"Lo mau cerita apa?"
"Ada hal yang bikin gue pusing sekarang."
"Asal jangan masalah duit aja. Kalo soal duit, gue enggak bisa bantu."
"Taik, lo! Duit enggak selalu bisa jadi solusi," Kata Rachel sambil menyeret tangan kanan Gavriel menuju ke ruang kerjanya yang ada di lantai dua.
Saat sampai di ruang kerja Rachel, Gavriel segera duduk di sofa yang ada di dekat jendela. Baru setelah Rachel menaruh dua kaleng botol minuman bersoda, Gavriel mengalihkan tatapannya untuk menatap Rachel dan mengucapkan terimakasih.
"Lo mau cerita apa?"
Rachel diam, namun setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Rachel, namun tangannya justru mengulurkan sebuah undangan pernikahan berwarna merah marun dengan tinta berwarna emas di sana. Tanpa berbicara lagi, Gavriel segera menerimanya dan membukanya.
Logo nama kedua mempelai yang menggunakan nama P&G langsung menyapa Gavriel. Ia buka undangan itu dan matanya langsung membelalak kala melihat nama Gadis Sekarwangi dan Pradipta muncul di sana.
"Gadis Sekarwangi," Gumam Gavriel pelan yang membuat Rachel langsung menoleh ke arah Gavriel.
"Lo kenal cewek itu?"
Meskipun masih bingung dengan apa yang terjadi, namun Gavriel menganggukkan kepalanya.
"Dia teman sekantor gue, cuma hari ini dia sudah resmi resign dari kantor sih. Memangnya kenapa?"
"Ceritanya panjang, Gav."
"Gue punya banyak waktu buat dengerin cerita lo," Ucap Gavriel yang sudah mulai kepo dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Rachel dengan Gadis.
Beberapa saat Rachel mencoba menarik oksigen dari sekitarnya dan pelan-pelan ia embuskan perlahan. Begitu dadanya sudah tidak sesesak sebelumnya, akhirnya sebuah kisah meluncur dari bibir mungil Rachel yang berwarna pink.
"Satu tahun yang lalu gue diputuskan secara mendadak sama pacar gue karena keluarganya enggak bisa menerima gue."
Tak perlu bertanya siapa pacar Rachel, karena Gavriel yakin jika itu adalah Pradipta.
"Alasannya?"
"Kitab kita beda. Klise banget enggak sih, Gav? Dia sudah tahu 'kan dari awal kalo kita ini beda, tapi kita tetep pacaran sampai enam tahun. Waktu gue desak dia buat segera nikahin gue, bisa-bisanya dia bilang kalo dia enggak bisa nikah karena keluarganya menentang."
"Udah putus setahun, terus masalahnya sekarang apa?"
"Setahun memang kita putus karena Dipta memilih menuruti kemauan keluarganya agar berpacaran dengan perempuan yang seagama. Cuma selama setahun ini kita masih sering jalan bareng sekedar untuk ngobrol, makan, atau nonton. Enggak ada beda dengan apa yang kita jalani dulu, hanya saja Dipta sekarang punya perempuan lain di hidupnya. Enggak cuma aku aja."
"Berarti lo berdua selingkuh?" Kata Gavriel pelan. Entah kenapa kali ini dirinya tidak bisa mengontrol lidahnya lagi untuk berbicara.
Setitik rasa kasihan justru muncul untuk Gadis yang selama ini secara tidak sengaja sudah dibohongi oleh calon suaminya. Laki-laki yang membuatnya rela meninggalkan pekerjaannya. Yang andai saja Gadis mau untuk terus bekerja, pasti kariernya akan bersinar mengingat ia termasuk dalam jajaran karyawan terbaik tahun lalu. Benar kata Antonio, jika Dipta bukanlah laki-laki yang tepat untuk diperjuangkan mati-matian.
"Terserah apa istilah lo, tapi bisa dibilang kami enggak bisa saling meninggalkan."
"Kasihan Gadis kalo kaya gini."
Rachel langsung menatap Gavriel dengan penuh pertimbangan. Ia heran dengan pemikiran Gavriel yang justru mwmbela perempuan itu.
"Enggak cuma Gadis yang kasihan, gue juga, Gav. Gue yang pertama kali datang, tapi Gadis yang akan jadi pengantinnya."
"Namanya juga definisi jagain jodoh orang," kata Gavriel santai lalu ia segera berdiri dari sofa yang ia duduki.
Ia harus segera pulang daripada semakin lama ia mendengar curhatan hati Rachel, dirinya justru semakin kasihan pada Gadis dan gemas kepada partner bisnisnya ini. Saat kaki Gavriel mulai melangkah, Rachel langsung mencengkeram pergelangan tangan Gavriel. Seketika Gavriel berhenti berjalan dan menolehkan kepalanya ke arah Rachel yang sudah menatapnya dengan tatapan seperti anak anjing yang minta untuk dipungut.
"Gav, help me..."
"Bantuin apalagi?"
"Jadi gandengan gue buat datang ke acara nikahan Dipta sama Gadis."
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik....
Gavriel hanya bisa diam dengan kedua alis yang terangkat ke atas. Apa Rachel bilang? Jadi gandengannya untuk datang ke acara pernikahan Gadis dengan Pradipta? Wow... dirinya saja yang notabennya teman satu kantor Gadis tidak mendapatkan undangan pernikahan itu, lalu jika tiba-tiba ia hadir di sana, apa kata teman sekantornya terlebih Gadis sendiri yang memang sengaja tidak mengundangnya? Haruskah ia menyetujui permintaan Rachel ataukah ia harus menolak saja?
***
Sebulan sejak acara pernikahannya dengan Gadis, akhirnya Gavriel bisa merasakan berumah tangga seutuhnya karena Gadis sudah mengikuti dirinya untuk pindah ke Jakarta. Meksipun rumahnya tak sebesar rumah keluarganya, namun Gavriel bersyukur karena Gadis sama sekali tidak pernah protes atas semua keadaan ini. Ia masih tetap bekerja di bank seperti biasanya, Gadis pun juga masih bekerja di perusahaan keluarganya yang sejak seminggu ini sudah membuka kantor cabang baru di Jakarta. Semua ini dilakukan bukan hanya karena Gadis tinggal mengikuti dirinya namun lebih daripada itu karena memang sudah cukup banyak kerjasama yang dilakukan dengan rekan bisnis yang bertempat tinggal di Jakarta. Untuk lebih menghemat biaya perjalanan dinas serta waktu, maka dengan membuka kantor cabang di kota ini segera dilakukan sebagai solusinya. Sejak menikah pun Gavriel dan Gadis sepakat untuk tidak mengg
Untuk pertama kali di hidup Gavriel ia merasa gugup, cemas, was-was bercampur sedikit tegang. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Di hadapannya sudah duduk seorang penghulu dan Sudibyo Bimantara. Rasanya cukup sekali ia berada di situasi ini. Kehadiran Gadis yang duduk di sampingnya nyatanya tak efektif membuatnya merasa tenang sama sekali. Meskipun sudah menghafalkan semuanya sejak semalam dan ada catatan di atas mejanya agar ia tidak salah saat mengucapkan ijab qobul namun tetap saja tidak membuatnya merasa lebih tenang. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu itu dengan pelan namun Gavriel hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu tidak lama setelahnya Gavriel menjabat tangan Sudibyo. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedikit tegang dan takut menghadapi situasi ini. Sudibyo bahkan ju
Satu Tahun Kemudian...Setelah pengajuan cuti nikah ditambah dengan cuti tahunan diambil, maka praktis Gavriel memiliki jatah seminggu untuk libur kali ini. Tentu saja mau tidak mau acara pernikahannya dengan Gadis harus dilakukan di Solo. Jatah 30 undangan yang tahun lalu ia minta pada akhirnya tetap saja kurang karena para tetangganya yang pernah bertemu dengan keluarga Gadis (salah satunya ibu RT) meminta untuk hadir dalam acara pernikahannya. Meskipun ingin menolak namun Gavriel tak kuasa yang akhirnya membuatnya menyewa sebuah bus pariwisata berkapasitas 60 orang. Untung saja keluarga Gadis tidak mempermasalahkan jika para tetangga dan beberapa rekan kerjanya datang menggunakan bus saat acara. Niat hati ingin berhemat pun tak bisa dilakukan karena pada akhirnya ia harus memesan sebuah hotel sebanyak 20 kamar untuk para tamu yang datang menggunakan bus.
Gavriel menatap sekeliling ballroom hotel bintang lima di Jogja ini yang kini sudah disulap seperti berada di negri dongeng. Seketika Gavriel sadar jika pernikahan Joe dan Angi ini kemungkinan besar menghabiskan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Dirinya yang kini tengah duduk di samping Gadis dan menikmati jalannya acara ini semakin takjub karena doorprize yang diberikan untuk para tamu undangan benar-benar membuat kedua matanya membelalak. Di mulai dari sekedar smart tv, logam mulia, paket liburan ke Bali selama tiga hari dua malam hingga motor 155 cc.Wow, demi apapun juga jika melihat hadiah yang seperti ini, Gavriel berharap ia akan menerima salah satunya. Toh, lumayan juga balik modal isi amplop sumbangan. Sayangnya ia harus gigit jari karena tidak satupun dari salah satu nomer tamu undangan yang beruntung itu adalah nomernya. Kala sal
Gavriel menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 21:30 WIB dan ia sudah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta bersama Gadis yang duduk di sampingnya. Sebenarnya Gavriel masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi berdua bersama Gadis di kamar hotelnya namun Gadis yang sudah bermain dua ronde bersamanya sepertinya tidak akan memaafkannya jika ia sampai ketinggalan kereta malam ini. "Gav, kamu masuk ke peron dulu. Tinggal lima belas menit lagi keretanya sampai.""Nanti aja kalo kurang lima menit. Masih mau temani kamu duduk di sini.""Kita ini masih bakalan ketemu lima hari lagi di nikahan Angi.""Aku belum cari tiket, Dis. Kayanya aku naik pesawat aja turun Solo.""Turun Jogja. Aku sama keluarga aku sudah di Jogja sejak hari Rabu. Nanti aku carikan tiket buat kamu, buat masalah tempat tinggal nanti kamu tidur di kostan Mas Banyu. Masi
"Apanya yang mau di-packing ini, Gav? barang-barang kamu sudah di dalam koper semua tinggal diangkut aja," ucap Gadis saat sudah selesai mengelilingi isi kamar hotel ini. Sudah Gadis tidak ada barang pribadi Gavriel yang tertinggal di sini. Bukannya menjawab perkataan Gadis, Gavriel langsung memeluk pacarnya itu dari arah belakang. Mendapatkan perlakuan seperti ini secara dadakan, Gadis cukup terkejut hingga ia menegang di tempatnya berdiri saat ini. Baru juga Gadis akan memprotes perilaku Gavriel kepadanya ini, namun bisikan kata-kata rindu yang dipadukan dengan kecupan-kecupan kecil di sekitar leher hingga tengkuknya membuat Gadis melupakan semuanya. Yang terjadi pada dirinya saat ini adalah ia yang sudah mulai lupa dengan akal sehatnya dan terbawa suasana. Kelakuan Gavriel berhasil membuat Gadis merinding. Apala







