Teilen

2. Cinta Segitiga

last update Zuletzt aktualisiert: 11.03.2026 10:42:38

Barang pesanan lo sudah bisa diambil sekarang. Buruan lo ke sini.

Gavriel membaca sebuah pesan W******p yang dikirimkan oleh supplier-nya, barang-barang pesanannya sudah tiba dan ia harus menambah beberapa stock barang yang sedang laku dan hits di pasaran e-commerce. Keuntungan penjualan barang-barang fashion wanita seperti tas, sepatu bahkan kacamata sangat menggiurkan. Jika sedang beruntung bahkan gajinya sebulan saja kalah dengan hasil dari penjualan online. Jika penjualannya stabil seperti bulan ini selama beberapa bulan kedepan, maka Gavriel harus menggaji karyawan untuk mengemas barang-barang jika perlu menyewa seorang host untuk sesi live jualannya. Tidak mungkin ia akan sendirian memegang semua ini, apalagi kini sudah mendekati akhir tahun dan target tahunannya masih kurang sedikit lagi tercapai.

Okay, gue otw sekarang ke sana.

Setelah membalas pesan masuk dari Rachel, Gavriel segera mematikan komputernya. Tidak lupa juga ia memasukkan laptop pribadinya beserta tablet ke dalam tasnya. Selesai berkemas-kemas, Gavriel segera menuju ke arah parkiran mobil.

Begitu menaruh backpack miliknya di kursi belakang, Gavriel segera masuk ke sisi pengemudi dan tancap gas dari parkiran basemen kantornya. Selama perjalanan menuju ke lokasi gudang, Gavriel memilih untuk mendengarkan siaran radio yang kali ini membahas tentang beda dari cinta dan benci yang begitu tipis.

"Pernah enggak sih kalian itu seneng banget karena bisa jahilin orang?" Tanya seorang penyiar wanita yang langsung dijawab oleh penyiar pria.

"Gue pernah. Waktu itu masih SMA. Setelah gue analisa ternyata gue naksir dia."

Gavriel tersenyum dibalik kemudi mobilnya. Ia gelengkan kepalanya kala mendengar hal itu. Ia yakin jika perasaannya pada Gadis sama sekali bukan rasa tertarik apalagi cinta. Gadis bukanlah tipe perempuan yang ia inginkan selama ini.

"Gimana bisa lo langsung sadar? "

"Soalnya waktu dia enggak kelihatan lagi, gue males berangkat sekolah."

"Pindah?"

"Enggak."

"So?"

"Dia sakit DB waktu itu, tapi udah tergolong parah baru opname. Dia enggak berangkat hampir sebulan. Bahkan gue rasanya kacau waktu tahu dia sempat kritis."

"Ternyata kisah cinta lo nyesek juga."

"Enggak juga, soalnya dia sekarang sudah jadi bini gue."

Gavriel tersenyum kembali kala mendengar percakapan kedua penyiar itu.

Lantunan obrolan dan lagu dari radio mengisi perjalanan Gavriel hingga akhirnya ia sampai di tempat ia mengambil barang-barang pesanannya. Di sana sudah ada Rachel yang menunggunya. Sebagai seorang pria, Gavriel tahu jika Rachel sedang terlihat memiliki banyak masalah, namun ia tidak mau tahu karena itu bukan urusannya. Hidupnya sudah cukup banyak masalah dan tidak perlu ditambah lagi memikirkan masalah orang lain.

Selesai para karyawan Rachel memasukkan barang-barang miliknya ke mobil, Gavriel segera pamit kepada Rachel, tapi Rachel melarangnya untuk pulang.

"Kenapa lagi sih, Hel?"

"Gue lagi butuh teman buat curhat. Temani gue bentar bisa ga, Gav?"

Berhubung jaman sekarang banyak sekali kasus suicide karena orang itu merasa tidak memiliki teman berbagi dan bercerita, maka Gavriel memilih menganggukkan kepalanya. Siapa tahu dengan hal sederhana seperti ini, ia sudah membantu menyelamatkan satu nyawa untuk tetap bertahan menghadapi kejamnya dunia yang semakin hari semakin tidak adil bagi banyak orang.

"Lo mau cerita apa?"

"Ada hal yang bikin gue pusing sekarang."

"Asal jangan masalah duit aja. Kalo soal duit, gue enggak bisa bantu."

"Taik, lo! Duit enggak selalu bisa jadi solusi," Kata Rachel sambil menyeret tangan kanan Gavriel menuju ke ruang kerjanya yang ada di lantai dua.

Saat sampai di ruang kerja Rachel, Gavriel segera duduk di sofa yang ada di dekat jendela. Baru setelah Rachel menaruh dua kaleng botol minuman bersoda, Gavriel mengalihkan tatapannya untuk menatap Rachel dan mengucapkan terimakasih.

"Lo mau cerita apa?"

Rachel diam, namun setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Rachel, namun tangannya justru mengulurkan sebuah undangan pernikahan berwarna merah marun dengan tinta berwarna emas di sana. Tanpa berbicara lagi, Gavriel segera menerimanya dan membukanya.

Logo nama kedua mempelai yang menggunakan nama P&G langsung menyapa Gavriel. Ia buka undangan itu dan matanya langsung membelalak kala melihat nama Gadis Sekarwangi dan Pradipta muncul di sana.

"Gadis Sekarwangi," Gumam Gavriel pelan yang membuat Rachel langsung menoleh ke arah Gavriel.

"Lo kenal cewek itu?"

Meskipun masih bingung dengan apa yang terjadi, namun Gavriel menganggukkan kepalanya.

"Dia teman sekantor gue, cuma hari ini dia sudah resmi resign dari kantor sih. Memangnya kenapa?"

"Ceritanya panjang, Gav."

"Gue punya banyak waktu buat dengerin cerita lo," Ucap Gavriel yang sudah mulai kepo dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Rachel dengan Gadis.

Beberapa saat Rachel mencoba menarik oksigen dari sekitarnya dan pelan-pelan ia embuskan perlahan. Begitu dadanya sudah tidak sesesak sebelumnya, akhirnya sebuah kisah meluncur dari bibir mungil Rachel yang berwarna pink.

"Satu tahun yang lalu gue diputuskan secara mendadak sama pacar gue karena keluarganya enggak bisa menerima gue."

Tak perlu bertanya siapa pacar Rachel, karena Gavriel yakin jika itu adalah Pradipta.

"Alasannya?"

"Kitab kita beda. Klise banget enggak sih, Gav? Dia sudah tahu 'kan dari awal kalo kita ini beda, tapi kita tetep pacaran sampai enam tahun. Waktu gue desak dia buat segera nikahin gue, bisa-bisanya dia bilang kalo dia enggak bisa nikah karena keluarganya menentang."

"Udah putus setahun, terus masalahnya sekarang apa?"

"Setahun memang kita putus karena Dipta memilih menuruti kemauan keluarganya agar berpacaran dengan perempuan yang seagama. Cuma selama setahun ini kita masih sering jalan bareng sekedar untuk ngobrol, makan, atau nonton. Enggak ada beda dengan apa yang kita jalani dulu, hanya saja Dipta sekarang punya perempuan lain di hidupnya. Enggak cuma aku aja."

"Berarti lo berdua selingkuh?" Kata Gavriel pelan. Entah kenapa kali ini dirinya tidak bisa mengontrol lidahnya lagi untuk berbicara.

Setitik rasa kasihan justru muncul untuk Gadis yang selama ini secara tidak sengaja sudah dibohongi oleh calon suaminya. Laki-laki yang membuatnya rela meninggalkan pekerjaannya. Yang andai saja Gadis mau untuk terus bekerja, pasti kariernya akan bersinar mengingat ia termasuk dalam jajaran karyawan terbaik tahun lalu. Benar kata Antonio, jika Dipta bukanlah laki-laki yang tepat untuk diperjuangkan mati-matian.

"Terserah apa istilah lo, tapi bisa dibilang kami enggak bisa saling meninggalkan."

"Kasihan Gadis kalo kaya gini."

Rachel langsung menatap Gavriel dengan penuh pertimbangan. Ia heran dengan pemikiran Gavriel yang justru mwmbela perempuan itu.

"Enggak cuma Gadis yang kasihan, gue juga, Gav. Gue yang pertama kali datang, tapi Gadis yang akan jadi pengantinnya."

"Namanya juga definisi jagain jodoh orang," kata Gavriel santai lalu ia segera berdiri dari sofa yang ia duduki.

Ia harus segera pulang daripada semakin lama ia mendengar curhatan hati Rachel, dirinya justru semakin kasihan pada Gadis dan gemas kepada partner bisnisnya ini. Saat kaki Gavriel mulai melangkah, Rachel langsung mencengkeram pergelangan tangan Gavriel. Seketika Gavriel berhenti berjalan dan menolehkan kepalanya ke arah Rachel yang sudah menatapnya dengan tatapan seperti anak anjing yang minta untuk dipungut.

"Gav, help me..."

"Bantuin apalagi?"

"Jadi gandengan gue buat datang ke acara nikahan Dipta sama Gadis."

Satu detik....

Dua detik....

Tiga detik....

Gavriel hanya bisa diam dengan kedua alis yang terangkat ke atas. Apa Rachel bilang? Jadi gandengannya untuk datang ke acara pernikahan Gadis dengan Pradipta? Wow... dirinya saja yang notabennya teman satu kantor Gadis tidak mendapatkan undangan pernikahan itu, lalu jika tiba-tiba ia hadir di sana, apa kata teman sekantornya terlebih Gadis sendiri yang memang sengaja tidak mengundangnya? Haruskah ia menyetujui permintaan Rachel ataukah ia harus menolak saja?

***

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • From Bully to Love Me   14. Galau

    Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam."Kamu kenapa sih, Dip?""Aneh aja, Hel. Enggak biasanya Gadis kirimin aku kaya beginian.""Dia lagi kangen kali. Kamu mudik aja.""Dia lagi di Solo. Makanya aku minta kamu ke sini.""Kamu mau bicarakan apa?" Tanya Rachel sambil mulai duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.Mau bagaimanapun, sejak Pradipta menikah dengan Gadis, rumah ini adalah salah satu nerak

  • From Bully to Love Me   13. Kabur

    Gadis menatap tas ransel Fjallraven Kanken yang dulu sering ia pakai untuk kuliah. Berbeda dengan dulu ketika tas ini berisi laptop, alat tulis dan berbagai macam tugas kuliahnya, kini tas ini berisi baju dan perlengkapan pribadinya. Kali ini misinya harus berhasil meskipun ia harus sedikit berbohong pada kedua orangtuanya.Tok... Tok... Tok.... "Masuk," Ucap Gadis sambil segera menutup resleting tas berwarna merah marron itu.Gadis tersenyum kala melihat Banyu berdiri di ambang pintu kamarnya."Mas, masuk. Jangan disitu aja."Mendengar perkataan Gadis, Banyu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati adik semata wayangnya ini. Baru saat sampai di dekat Gadis, Banyu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang berukuran king. Ia tatap adiknya yang tampak bahagia. Berbeda dengan dua hari yang lalu kala mereka berdebat hebat, hari ini seakan Gadis sudah melupakan semua kejadian itu."Kamu serius mau ke Jogja sendiri?""Iya, Mas.""Biar Mas antar aja atau pak Manto. Lebih enak naik mobil

  • From Bully to Love Me   12. Lunch

    Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur jadi tahanan. Lo punya cara enggak buat gue kabur dari rumah?Alena : berani bayar berapa lo kalo gue kasih ide?Gadis : gue bayar pakai kakak gue aja gimana? Eneg gue lama-lama di rumah bareng Mas Banyu.Alena : gue mau sama kakak lo tapi belum tentu dia mau sama gue yang bentukannya begini.Gadis : alhamdulillah, sadar juga lo sama kapasitas diri.Alena : bangke lo, Dis!Gadis : buruan lo kasih ide.Alena : gue pikirin dulu. Nanti gue kasih kabar habis makan siang. Okay?Gadis : okay.Setelah membaca pesan dari Gadis, Alena memilih segera menutup handphone miliknya. Ia segera berdiri dari kursi kerjanya sambil membawa handphone serta dompetnya."Gil, gue lunch bareng lo, ya?" Ucap Alena kal

  • From Bully to Love Me   11. Aku vs keluargaku

    Gadis tersenyum kala melihat rumah kedua orangtuanya yang bergaya Jawa modern. Halaman depan rumahnya yang luas dan terdapat air mancur serta taman ini membuatnya benar-benar merasa nyaman di sini. Rumah yang sudah ia huni sejak lahir, tempat ia tumbuh dan dewasa, benar-benar menyimpan banyak kenangan di hidupnya yang tak mungkin ia lupakan sampai akhir hayatnya.Ketika sampai di depan pintu, Gadis segera membunyikan bel. Tidak lama menunggu, akhirnya seorang asisten rumah tangga muda yang baru kali ini Gadis temui muncul di sana.Begitu mempersilahkan Gadis masuk, Sari segera mendorong koper cabin size Gadis. Baru sekali ini Sari bertemu dengan Gadis. Nama yang beberapa hari ini sering terdengar di rumah ini."Assalamu'alaikum, Mama," Ucap Gadis sambil berjalan cepat untuk menuju ke Mamanya yang sedang membaca majalah."Waalaikum salam," Ucap Aryanti sambil memeluk Gadis."Papa mana, Ma?" Tanya Gadis setelah mengurai pelukannya pada sangat Mama."Belum pulang.""Jam segini masih di k

  • From Bully to Love Me   10. Tidak sempurna

    Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak 5 bulan yang lalu saat ia dan Dipta datang ke dokter kandungan dan dokter kandungan mengatakan jika sel telurnya terlalu kecil untuk dibuahi. Ini membuatnya belum kunjung hamil hingga saat ini. Vitamin dan promil sudah ia lalui 5 bulan ini meksipun ia jarang datang bersama Pradipta ke dokter kandungan."Enggak usah dilihat sampai begitu. Coba belajar bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang," kata Alena sambil mulai duduk di samping Gadis dan membuka botol minum air mineralnya."Gue yang bermasalah. Sel telur gue kecil-kecil, makanya enggak isi-isi."Alena menghela napas panjang. Entah kenapa ia justru merasa bersyukur karena Gadis belum hamil sampai saat ini. Alena tak bisa membayangka

  • From Bully to Love Me   9. Lapak Dosa

    Mengingat kali ini dirinya pergi bersama Gadis, Alena sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Tentu saja ini ia lakukan karena dirinya tidak mau membuat Gadis kerepotan. Mereka berdua bahkan hanya duduk sambil melihat orang-orang yang sedang menikmati suasana malam hari ini."Jangan diam aja, Dis. Kita ke sana, yuk. Joged biar enggak stress.""Lo aja. Gue tunggu di sini.""Dis, udah deh... lo enggak usah mikirin laki lo sampai segininya. Dia aja belum tentu mikirin lo yang sudah rela mengorbankan segalanya buat dia.""Andai di dunia ini beneran ada time travel, rasanya gue mau balik ke masa di mana gue mengenal Dipta."Alena jadi merasa bersalah karena ia adalah orang yang mengenalkan Gadis pada Pradipta. Seketika ia terdiam dan teringat kenangan hampir empat tahun yang lalu. Kala itu Alena baru saja selesai bertemu dengan salah satu nasabah prioritas yang ingin mengajukan kredit di bank untuk menambah modal pembangunan hotel miliknya yang ada di Lombok. Sebelum ia pulang, nas

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status