Bayu dan Affan adalah dua sosok yang membawa perubahan, satu merubah Julio, tokoh fiktif kita dan Affan berharap pengorbanannya bisa membuat Indonesia berubah lebih baik. Aku Chindo tapi aku cinta Indonesia, dari lahir tanah airku Indonesia. Anakku bersekolah di sekolah negri, cita-citanya ingin menjadi ASN agar dia bisa mengabdi untuk negri ini. Jadi mohon teman2 semua dalam memperjuangkan hak tidak anarkhis kepada kami, yang disebut Cina Indonesia (Chindo), karena nenek moyang kami semua sudah lahir di Indonesia, tidak ada yang lahir di Cina sana. Darah kami juga merah putih. Aku mengabdi sebagai guru 35 tahun, mengajar anak pemulung di Bantar Gebang setiap Sabtu, demi supaya mereka lebih pintar. Aku sedih kalau kami tetap disalahkan, padahal yang kita mau perbaiki adalah DPR yg tak punya empati. Maafkan aku. Aku lagi marah, jadi curhat di sini. Mari kita berdoa untuk Indonesia teman2.
Julio POVLangit mendung seperti ikut bersedih, hujan yang turun deras ibarat air mata yang mengiringi kesedihanku. Aku melangkah perlahan memasuki kantor polisi, didampingi Pak Hutabarat, pengacara keluarga ku. Dia akan mendampingi diriku karena mama takut aku ditetapkan sebagai tersangka dari kasus kecelakaan di Kuningan itu.Hati dan pikiranku terasa seperti tanah longsor, kacau, rapuh, hancur di banyak titik. Sejujurnya, aku tidak siap melihat reka ulang hari itu. Hari di mana semuanya berubah. Hari ketika mataku gelap dan hatiku retak oleh kejadiaan yang tak bisa kuputar kembali.Di ruang pemeriksaan,terlihat duduk di depan layar proyektor sepasang suami istri yang tampak lebih hancur dariku. Sang ibu bernama Mega duduk dengan sorot mata penuh sesal dan wajah yang sembab. Suaminya meremas-remas tangan istrinya, seolah mencoba menahan air pasang yang sewaktu-waktu bisa memecah seluruh ruang ini dengan tangisan.Beberapa menit kemudian, seorang perwira masuk. Tegap, tapi tatap
Di depan Kantor Polisi Kuningan, Laras berdiri kaku di balik pagar. Panggilan telepon dari penyidik beberapa jam lalu masih terngiang di telinganya - permintaan untuk menghadiri reka ulang kecelakaan yang merenggut nyawa adiknya, Bayu. Langkahnya berat saat memasuki kantor itu dan hatinya berdetak tak beraturan.Saat Laras melangkah perlahan melewati halaman parkir kantor polisi, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya menangkap sesuatu, benda usang yang begitu akrab, seolah menyimpan gema masa lalu yang belum sempat dia tutup. Sepeda tua dengan setang bengkok, catnya pudar dan roda yang penuh debu, berdiri sendiri di sudut tanah berkerikil itu. Terlupakan. Tersisih.Itu sepeda peninggalan ayah mereka. Sepeda yang menjadi sahabat setia Bayu, menemani setiap perjalanan kecilnya, menyusuri pagi saat mengantar donat , mengejar senja saat pulang sekolah sambil mengambil kembali donat-donat yang tidak terjual , membawa mimpi-mimpi Bayu untuk memperbaiki hidup mereka berdua . Sepeda yang s
Susan’s POVAku menutup telepon setelah berbicara dengan Pak Hutabarat. “Saya sendiri yang akan mendampingi Tuan Muda Julio, Bu Susan. Saya akan berangkat sekarang ke Polsek Kuningan,” katanya dengan suara tegas dan logat Batak yang kental.“Pastikan Julio tidak dijadikan tersangka ya, Pak…” ucapku, menahan kegelisahan yang sedari tadi mendera.“Tenang, Bu. Saya akan pastikan semuanya aman. Ibu tidak perlu khawatir.”Telepon berakhir. Aku menarik napas panjang lalu melangkah cepat ke lobby rumah sakit untuk menunggu Pak Narto, sopirku. Aku harus segera kembali ke kantor, hari ini Johan, suamiku, akan bertemu salah satu pemilik perusahaan Jepang yang akan menyerahkan pembangunan pabrik Casing Laptop pada perusahaan kontraktor Wicaksono milik kami. Kontrak bernilai jutaan dolar itu akan segera terealissai. Tapi sejujurnya, pikiranku sama sekali tidak di sana. Saat ini semua pikiranku berputar di Julio. Tentang mata barunya. Tentang kecelakaan itu. Tentang kemungkinan dia dijadikan
Susan POVAku dan Julio melangkah keluar dari ruang konsultasi dr. Yvonne. Rasanya separuh beban di dadaku terangkat. Syukurlah, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi transplantasi mata Julio berjalan baik. Tak ada komplikasi berarti, hanya penyesuaian tubuh terhadap organ baru.Perubahan-perubahan aneh yang Julio rasakan, dari pola tidur yang berubah, selera makan yang mendadak suka pempek, hingga munculnya gambaran samar wajah perempuan, semuanya dijelaskan dengan tenang oleh dokter. Ia menyebut perubahan itu mungkin karena cellular memory, memori sel yang kadang ikut terbawa dalam organ donor. Katanya, meski belum terbukti secara medis , kasus seperti ini pernah terjadi di berbagai belahan dunia.Aku mengangguk, seolah cukup dengan penjelasan itu. Tapi di dalam hati, aku menyimpan keyakinan lain yang tak akan aku utarakan pada Julio. Tentang roh yang masih tinggal di dunia selama empat puluh sembilan hari, menuntaskan urusan yang belum selesai. Mungkin setelah itu, semua keanehan
Julio POVPagi ini aku dijadwalkan check-up di Rumah Sakit MMC. Janji temuku dengan dr. Yvonne pukul sembilan tepat. Sejak menjalani transplantasi mata, ada satu kebiasaan baru yang terus terjadi: aku selalu terbangun pukul dua dini hari dan anehnya, tubuhku langsung aktif, seperti sudah cukup tidur semalaman.Tapi itu bukan satu-satunya perubahan. Sejak operasi itu, ada banyak hal yang terasa berbeda. Dulu aku cenderung menghindari makanan kaki lima, perutku sensitif, terlalu “kelas atas,” kata Ario. Tapi sekarang? Aku jatuh cinta pada bubur ayam Mas Edi. Bahkan kemarin, saat Ario membelikan nasi goreng seharga dua puluh ribuan di samping apartemenku, aku ikut memesan juga, dan ternyata... rasanya lebih nendang daripada nasi goreng buatan chef pribadi di apartemen ini.Sikapku juga berubah. Aku jadi lebih murah hati, lebih punya empati, terutama ke Ario. Dan aku yakin, sifat itu bukan milik ‘Julio ’ yang dulu. Lalu ada satu hal aneh lagi. Kemarin malam, saat mendengar podcast tentang
Laras POVMelihat wajah Riris yang sedih, aku tahu , ada sesuatu yang membebani pikirannya. Riris selalu seperti itu, dia adalah sahabatku sejak SD, rumah kami bertetangga, dia selalu tahu bagaimana menghiburku dan katanya aku juga selalu tahu bagaimana menghiburnya.“Ris... kamu kenapa? Ada masalah?” tanyaku lirih “Jangan takut karena aku lagi sedih.Aku tetap akan mendengar kalau kamu ada masalah. Cerita aja. Apa toko kamu benar-benar tutup? Kalau kamu kehilangan pekerjaan, bantuin aku aja. Kan aku udah bilang, kamu bisa ikut jualan donat.”Riris memandangku , tangannya meremas ujung bajunya, tapi dia tetap diamAku menatapnya lebih dalam dan mengulang pertanyaanku padanya“Ris... ada apa?”Aku melihatnya menghela nafas berat sekali lagi , lalu dia berkata tapi suaranya terdengar liriih“ Ra… tadi pagi Bossku bilang… kalau toko kami di Mall Ambasador akan dia tutup karena dia nggak kuat lagi bayar sewanya sedangkan pemasukannya kadang minus. Untuk bayar gaji ku aja dan satu orang r