MasukCuando tenía tres meses de embarazo, la supuesta hermanastra de mi esposo, el Don, apareció en mi puerta. Ruby tenía un vientre abultado que era imposible de ignorar. —Donna, ya que mi fecha de parto está tan cerca, pensé que deberías saberlo... el heredero del Don está en mi vientre. Ella puso todo frente a mí: fotos íntimas de ella y Caleb, registros de las transferencias de dinero semanales que él le enviaba, incluso la escritura de una mansión. Las fechas más antiguas se remontaban a la época en que perdí a nuestro primer bebé, cuando los médicos me dijeron que sería difícil para mí volver a concebir. Todos estos años, yo había estado soportando tratamientos de fecundación in vitro, intentando desesperadamente gestar a nuestro hijo una vez más... mientras él se divertía con su supuesta hermanastra. Bueno, si Caleb quería tanto a otra mujer, podía quedarse con ella. De todos modos, no tenía intención de quedarme. Ya estaba planeando mi partida.
Lihat lebih banyakMalam ini Aurora tengah disibukkan dengan pekerjaannya di dalam sebuah paviliun pribadi, sebuah bangunan modern minimalis yang terpisah di halaman belakang rumah utama keluarga. Paviliun yang biasa menjadi guest house itu ia sulap menjadi ruang kerja yang lengkap dengan segala fasilitasnya.
Tok.. tok.. tok... "Masuk aja, pintunya nggak aku kunci," ucap Aurora agak teriak. "Malam sayang," sapa Martha saat melangkah masuk. "Malam, Bunda." Aurora menoleh sekilas lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Setumpuk kertas berisi sketsa gaun berserakan di mejanya, ia sibuk memilah-milah. "Ini sudah malam lho, Ra. Harusnya kamu sudah istirahat." Martha mendudukan dirinya di sofa ruang kerja putrinya itu. "Iya, Bun. Sebentar lagi ya, soalnya ini tanggung." Martha mendengus, sedikit melongok ke meja kerja. "Buat acara apa emangnya?" "Oh, ini bukan untuk acara apa-apa kok, tapi untuk koleksi terbaru minggu depan. Aku masih mau milih mana yang paling cocok." Martha mengangguk mengerti. "Oh iya.. untuk acara fashion show kamu itu, gimana perkembangannya? Apa sekarang sudah dapat sponsor utama?" Aurora meletakkan lembaran kertas di tangannya ke meja, ia menggeleng pelan, menatap Martha. "Belum, masih nyari. Hana juga masih terus ngajuin proposal ke beberapa perusahaan. Ada banyak perusahaan yang tertarik, tapi mereka belum bisa ngasih yang aku mau. Belum bisa meng-cover seluruh anggaran yang aku butuhkan. Mereka nggak berani, terlalu takut mengambil risiko." Martha menghela napas pelan. "Bagaimana jika... kamu terima saja tawaran ayah waktu itu?" "Bunda, sudah aku katakan sebelumnya. Meskipun ayah bertindak sebagai sponsor atau investor, aku tidak ingin memakai dana dari keluarga Meschach," ucap Aurora hati-hati, takut menyinggung sang Bunda. Bundanya menggeleng. Putrinya ini memang benar-benar berprinsip dan juga keras kepala. Mengingatkan dirinya di masa muda. Hening sebentar, sebelum akhirnya Martha kembali bersuara. "Aurora, sayang.. bisa ke sini sebentar." Martha meminta dengan intonasi serius sambil menepuk sofa di sampingnya. Mendengar permintaan itu, Aurora langsung waswas. Nada bicara seperti itu biasanya menandakan obrolan serius yang menyangkut masa depannya. "Aurora?" panggil Martha, suaranya lembut namun terkesan tegas. "Hah? Oh iya bisa, sebentar." Aurora akhirnya menghampiri dan duduk di samping Bundanya. "Ada apa, Bun?" Martha mendaratkan tangan kirinya pada paha kiri Aurora. "Gini... Bunda ingin kamu bertemu dengan putra temennya Bunda." "Lagi, Bunda? Seriously?" balas Aurora cepat, menatap Bundanya tak percaya. "Kali ini beda, Sayang." Martha mengelus punggung putrinya. "Menurutku sama saja, Bun." Martha menghela napas panjang. "Terserah kamu mau bilang apa, intinya bunda mau kamu ketemu sama anak sahabat Bunda. Titik." Aurora mendelik aneh. "Tadi katanya temen, sekarang sahabat. Jadi mana yang betul, Bun?" Martha tampak berpikir sejenak. "Ya... sama aja kan?" "Ya ampuuun... beda dong," "Lagian temen Bunda yang mana sih? Soalnya hampir semua temen Bunda, sahabat Bunda itu semuanya aku tahu." "Hampir kan? berarti belum semuanya kamu tahu." "Iiiih Bundaaaa." Aurora memelas seraya menggelengkan kepalanya. "Bunda ingat terakhir kali aku ketemu anak temen Bunda? nggak berhasil. Jadi, jangan aneh aneh lagi deh. Pokoknya rencana Bunda menjodohkan aku nggak akan berhasil, serius deh, Bun." "Itu karena kamu tidak ada niat dan kamu terlalu cuek," balas Martha. "Kan memang dari awal aku bilang nggak mau. Lagi pula, aku masih muda, masih mau berkarier, belum mau terikat dengan siapapun." "Setidaknya kamu harus mencoba dulu. Yang ini, Bunda jamin kamu bakalan suka deh," ucapnya sedikit antusias. "Dengarkan Bunda, Ra. Peraturannya masih sama dengan yang lalu. Kalau kamu ngerasa nggak match atau dia yang menolak, maka pertemuan itu cukup sampai di situ saja." "Lagian... Bunda juga nggak habis pikir sih. Kenapa Anak cantik, cerdas dan membanggakan seperti kamu bisa-bisanya ditolak. Apa jangan-jangan kamu yang mengancam mereka?" tanya Bundanya penuh selidik. Aurora terkekeh pelan, ia langsung bangkit berdiri. "Bunda pikir aku mafia? Segala ada ancam-ancam. Jangan ngaco ah." Ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya. "Kalo nggak ada yang mau disampaikan lagi. Aku mau lanjutin kerjaan dulu yaa." Martha mendengus geli, selalu seperti ini. "Ya sudah, silakan lanjutkan, nanti kita bicarakan lagi. Jangan terlalu malam, ingat! Kamu itu manusia, bukan robot. Butuh istirahat juga." "Iya, Bun." "Bunda tetap mengharapkan pertemuan antara kamu dan anak sahabat bunda itu terjadi," ucap Martha sambil bangkit dari sofa lalu keluar. Selepas Bundanya keluar, lantas Aurora termenung sesaat. "Maafkan aku, Bun, aku tidak bermaksud membangkang. Aku hanya tidak ingin menambah luka di hatiku lagi" Aurora Iskandar Meschach adalah anak pertama dari salah satu pasangan dokter paling dihormati di kota itu. Ayahnya, Fattah Iskandar Meschach, adalah seorang dokter ahli bedah kardiotoraks legendaris yang kini memimpin sebuah rumah sakit swasta miliknya sendiri. Sementara ibunya, Martha Adinda Meschach, adalah seorang dokter bedah saraf yang brilian. Tumbuh di tengah dunia medis yang penuh presisi dan kecerdasan, Aurora justru memilih jalan yang berbeda. Alih-alih mengikuti jejak orang tuanya, ia lebih memilih menjadi seorang Desainer Busana dan merintis usahanya sendiri, ia menjadi pemilik sebuah butik yang mulai dikenal masyarakat luas. Dan, di usianya yang sudah menginjak seperempat abad ini, dia masih nyaman dengan status lajangnya. Bukan tidak mau membuka hati untuk para pria di luaran sana, hanya saja kejadian di masa lalu membuatnya berpikir ribuan kali untuk menjalin suatu hubungan.Punto de vista de LenaPasó un año antes de que me diera cuenta. Di a luz a una hermosa niña. Era un absoluto ángel: rara vez lloraba, siempre sonreía, siempre reía entre dientes. De alguna manera, ella hacía que todo se sintiera más ligero, más cálido… mejor. La llamé Anna. Significaba "fortaleza".Avery y yo abrimos una pequeña panadería debajo de nuestro apartamento. Eso facilitó la vida: trabajar y cuidar de Anna al mismo tiempo. El negocio no era grande, pero era suficiente para mantener a nuestra pequeña familia. Y por primera vez en mucho tiempo, estaba haciendo algo que realmente amaba: hornear y ver a la gente dar un bocado y sonreír. Era simple. Pero lo era todo.Casi nunca sabía nada de Nueva York. Solo fragmentos aislados. Caleb había renunciado a su posición como Don. Sus primos ya habían estado buscando una forma de removerlo del asiento. Con todo lo que yo les había entregado, fue prácticamente pan comido echar a Caleb del poder. Más tarde, Caleb incluso cumplió
Punto de vista de LenaRuby se lanzó hacia mí, intentando arrebatarme el teléfono.—No te molestes —dije con calma, retirándolo—. Ya se ha subido a la nube. Aunque borres esto, no importará.—¿Qué quieres de mí? —espetó ella; su voz se elevaba y su compostura se quebraba por completo.—Quiero que hagas que Caleb firme los papeles del divorcio —dije—. Y que me ayudes a salir de Nueva York.Ruby parpadeó, sorprendida, y luego se echó a reír. —¿Eso es todo?—Sí —aparté sus manos de mí—. Como dije, no tengo interés en seguir involucrada con ninguno de los dos.Me estudió por un momento. —¿Cuándo quieres irte?—Hoy —dije—. Lo antes posible.—Hecho —Ruby se dio la vuelta y caminó hacia la puerta—. Solo asegúrate de cumplir tu promesa. No vuelvas a molestarnos a Caleb y a mí nunca más.***Avery regresó poco después de que Ruby se fuera. Me miró, confundida.—Escuché algo sobre que Caleb ha estado viviendo una mentira —dijo lentamente—. Si tienes algo contra Ruby, ¿por qué no
Punto de vista de Lena—Lena, yo… —Caleb se pasó una mano por el cabello, con la voz inestable.—Deberías irte ahora.Caleb se levantó lentamente del suelo, luciendo exactamente como un hombre al borde de la locura. Se inclinó, su mano agarró mi mentón, obligándome a encontrarme con su mirada.—Lena —dijo, con voz baja y peligrosa—. No me presiones. Sabes cómo soy cuando no obtengo lo que quiero.Rara vez mostraba ese lado de sí mismo frente a mí. Pero ahora que sabía quién era realmente, no me sorprendía en absoluto.—Así que ahora no solo has traicionado nuestro matrimonio, sino que quieres obligarme a quedarme. ¿Para qué? ¿Para preservar tu imagen de Don con una familia perfecta? —esbocé una sonrisa tenue y fría—. Así que toda esa actuación de hace un momento, el arrodillarse, la disculpa, no fue porque te diste cuenta de que me habías lastimado. Fue porque tenías miedo de perder el control sobre mí. Finalmente descubrí lo que has estado haciendo a mis espaldas y ahora quiero
Punto de vista de LenaNo respondí de inmediato. Avery siempre había sido buena leyéndome; no necesitaba palabras. Al segundo siguiente, se puso de pie y se dirigió hacia la puerta. Estiré la mano y la detuve.—Avery —dije suavemente—, lo sé.Ella se quedó helada. Su voz tembló cuando preguntó: —¿Desde cuándo lo sabes? Entonces… esto… lo que te pasó… tu desmayo, la emergencia… —se giró para mirarme, con los ojos llenos de ira y miedo—. ¿Fue todo por culpa de Caleb?—Ya firmé los papeles del divorcio. Lo voy a dejar —dije en voz baja, con la voz más firme que nunca.Avery todavía parecía que podría salir disparada por la puerta en cualquier segundo para enfrentar a Caleb. —¿Cómo pudo hacerte esto? Después de todo lo que sacrificaste por él… todo lo que arriesgaste.Avery fue quien se quedó a mi lado cuando ni siquiera podía levantarme de la cama después de recibir aquella bala por Caleb.—Lo sabía —murmuró, con la voz tensa de rabia—. Sabía que no debí dejar que te casaras






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.