登入Namun tak semua wanita yang ke sana dapat diajak tidur oleh pasangan yang mengajaknya, atau pria yang memang selalu standbay di sana mencari mangsa. Seperti halnya Rini teman se kampus ku yang juga kini telah menjadi sahabat ku, wanita yang baru beranjak dewasa itu hingga kini selalu kokoh pada pendiriannya untuk datang ke tempat itu hanya sekedar happy-happy berdansa, minum-minum tanpa melakukan hubungan terlarang seperti wanita kebanyakan yang datang ke night club itu.Prinsip itulah yang membuat ku kagum akan sosok Rini, walaupun aku sendiri tak bisa menjamin jika suatu saat bisa bobol juga karena keseringan datang ke tempat itu. Namun sejak kenal dengan ku, Rini sudah jarang datang ke sana meskipun tak terhitung kalinya Rafly cowok yang sering dekat dengannya, selalu mengajaknya ke night club itu.Karena ajakan sering ditolak itulah hubungan Rini dan Rafly sekarang menjadi renggang, bahkan Rafly kini menggandeng cewek lain yang bisa diajaknya ke night club itu hingga tidur bersama
Bukan tanpa alasan aku menebak istri muda Om ku itu wanita yang memang tak sebaik Tante Dewi serta memiliki sifat penggoda itu, aku lihat saat ia melintasi Satpam yang berdiri di pintu masuk kantor perusahaan, pandangan dan cara menyapa istri muda Om ku itu terkesan genit dan menggoda, sejauh pengalaman ku banyak mengenal wanita jelas sifat wanita itu tak pernah jujur pada suaminya dan gemar selingkuh.Terlebih diketahui jika istri muda Om Ramlan itu tak bekerja hanya diam di rumah saja dengan segala kebutuhan sehari-hari tinggal minta saja, hal itu tentu saja akan mempeloroti harta benda yang dicari dengan kerja keras oleh Om ku.Terlintas di pikiran ku untuk menyelidiki istri muda Om ku itu, namun aku tunda sampai aku minta keterangan lebih lengkapnya dari Tante Dewi tentang istri muda Om ku itu, agar nanti aku menemukan cara untuk menyelidiki, kalau perlu membongkar kebiasaan buruknya hingga Om Ramlan bisa menceraikan istri muda yang memang tak baik itu.Sekembalinya dari kantor, T
Meskipun 2 kali naik angkutan kota menuju rumah Sugeng dan kediaman Om Ramlan, namun aku tetap semangat berkunjung ke sana setelah lusa siang itu sepulang dari kuliah aku diberi ijin oleh Eva untuk mengunjungi saudara ku itu. Karena masih terlalu siang aku mengunjungi kediaman Sugeng terlebih dahulu, kedatangan ku di sana tentu disambut gembira oleh Sugeng sekeluarga terutama Arya yang memang sudah lama tak bertemu dengan ku.“Om Ryan ke mana aja sih, kok nggak pernah datang kemari?” tanya Arya yang saat itu telah duduk di kelas 2 SD.“Hemmm... Om sibuk kuliah dan kerja, Arya. Nah, sekarang baru sempat main ke sini.” jawab ku yang juga kangen akan bocah lelaki keponakan angkat ku itu.“Gimana kuliahmu, Ryan?” kali ini Sugeng yang bertanya, sementara Arya kembali ke dalam rumah menemani adiknya yang lagi tidur di ayunan.“Lancar-lancar aja, Mas.”“Emangnya kamu masih kerja juga sambil kuliah?” tanya Ningsih.“Iya Mbak, tapi bukan di tempat Guruku yang dulu melainkan di sebuah cafe mili
Dola balas tersenyum, lalu ia pun mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri. Bukan hanya Bram yang merasa heran akan perubahan sikap yang ditunjukan Dola malam itu, Bi Lastri dan Bi Sumi tak kalah penasarannya dengan hal yang ditunjukan Nyonya mereka itu pada Bram di meja makan.“Tambah Bram, makan itu yang banyak biar kenyang! Kan seharian tadi kamu hanya sibuk di rumah mengecek hasil laporan bulanan dari karyawan-karyawanmu,” tutur Dola.“Ya, aku akan makan sebanyak mungkin selagi kamu yang mengambilkannya buat aku.” ujar Bram diiringi senyum gembiranya.“Harusnya sejak awal kamu berada di rumah ini hal itu aku lakukan, karena bagaimana pun juga kamu adalah suami sah ku. Aku merasa bersalah dengan sikap yang selama ini aku tunjukan di rumah ini padamu, meskipun pernikahan kita karena perjodohan Papa tapi aku juga nggak pantas bersikap terlalu dingin dan tak mengacuhkanmu di rumah ini.” tutur Dola.“Nggak apa-apa. Aku faham kok, memang nggak mudah menjalin rumah tangga karena per
“Udah lama kamu membuka usaha café ini?” sambung Dola yang saat itu mereka telah berada di luar ruangan café.“Udah lebih dari 5 tahun, Ryan juga suka bantu-bantu di sini saat pulang dari kuliahnya.” jawab Eva.“Oh begitu ya? Dia memang pria yang rajin, nggak memilih-milih pekerjaan. Apa yang bisa ia kerjakan akan ia lakukan tanpa diminta terlebih dahulu, itu lah salah satu kekagumanku padanya.” tutur Dola.“Oleh karena itu pulalah aku mempercayakan juga usaha kos-kosanku di dekat kampus sana padanya.” ujar Eva.“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, untuk semua penjelasanmu tentang Ryan. Jaga dia baik-baik, dan terima kasih pula buat traktirannya siang ini. Menu café ini sangat lezat,” ucap Dola dengan senyumannya.“Sama-sama, Dola. Jangan sungkan dan kapok untuk singgah lagi ke sini.”“Tentu saja, suatu saat aku pasti akan berkunjung lagi ke sini. Sekarang aku pamit ya?” ucap Dola.“Ya, hati-hati di jalan!” ujar Eva, Dola anggukan kepalanya sambil tersenyum dan lambaikan tangannya,
“Hemmm... Sabar Dola, kamu nggak perlu emosi dengan menuduhku yang tidak-tidak. Harusnya aku yang menanyakan itu padamu, apa yang telah kamu lakukan hingga membuat hati Ryan hancur? Dan sekarang akibat dari semua itu, dia semakin nggak bisa dikendalikan untuk bergaul bebas bahkan berhubungan intim dengan lawan jenisnya.” tutur Eva yang membalikan pertanyaan dari Dola itu.“Maksudmu apa, Eva?”“Kamu pura-pura lupa atau memang sengaja menutupinya dariku? Kamu sadar nggak dengan semua yang telah kamu lakukan terhadap Ryan selama ini? Akibat semua itu, kini Ryan seperti nggak perduli lagi pada dirinya sendiri yang telah jauh terperosot dalam dunia yang seharusnya belum pantas untuk ia masuki. Dunia kebebasan dalam berhubungan dengan lawan jenis hanya sekedar happy-happy dan mencari kepuasan, itu semua berawal darimu yang telah mengajaknya masuk ke dunia itu.” tutur Eva berapi-api, sementara Dola hanya terdiam merenungi semua yang dituturkan Ibu kos ku itu.“Karena rasa sakit dan hancur pe
Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng
Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya
“Nggak ada apa-apa,” ujar ku.“Lalu kenapa berhenti?”“Aku rasa kita udah bertindak terlalu jauh, buat aku sih nggk akan jadi masalah tapi buat kamu nantinya bisa jadi masalah besar yang tentu akan menjadi sebuah penyesalan,” jawab ku menahan semua hasrat yang tadi sulit aku bendung, Lani kembali d
“Sebagai wanita normal tentu saja rasa itu ada, tapi jika bersamanya lebih baik tidak melakukan sama sekali. Kebencian yang tumbuh di hati, lebih besar dari hasrat ingin bercinta.”“Bi Lastri benar, jika di hati sudah mulai muncul sesuatu yang tak lagi harmonis rasanya dengan pasangan takan pernah