Masuk“Tante Eva memanggilku?” tanya ku setelah aku tiba di meja tempat Eva dan Dola ngobrol.“Iya Ryan, nih ada Dola juga di sini. Duduklah!” jawab Eva.“Apa kabar Tante?” sapa ku pada Dola diiringi seulas senyum.“Baik Ryan, kamu sendiri?” ucap Dola balik bertanya.“Baik juga.” ujar ku agak kaku.“Nah, kalian ngobrol aja dulu di sini ya? Aku mau lanjutin memeriksa laporan bulanan dari Lusy.” tutur Eva yang sengaja ingin memberi waktu untuk kami berdua agar lebih leluasa ngobrolnya.“Ya Tante.” ulas ku, Eva pun segera berlalu dari meja itu kembali ke ruangannya, sementara sepeninggalnya Eva kami lanjutkan obrolan.“Tante Dola udah lama tiba di sini?” tanya ku.“Sekitar setengah jam yang lalu. Oh ya, bagaimana dengan kuliahmu?” Dola balik bertanya.“Lancar-lancar aja, Tante.”“Aku minta maaf ya, karena beberapa waktu lalu pernah kasar padamu.” ucap Dola dengan raut wajah yang memang menampakan penyesalan.“Udahlah Tante, nggak perlu diingat lagi kejadian itu. Aku sendiri udah melupakan dan
Dari jam 11 siang aku yang telah pulang dari kuliah langsung menuju cafe tanpa menunggu jemputan dari Eva yang saat itu tengah sibuk pula mengurus anak-anaknya di sekolah, situasi cafe saat itu masih sepi hanya 4 hingga 6 orang saja yang datang berkunjung. Karena belum ada yang bisa dilakukan di sana, aku duduk-duduk saja ngobrol dengan Lusy di meja kasir sambil menunggu kedatangan Eva.“Udah lama kamu bekerja di cafe ini, Lusy?” tanya ku.“Udah masuk 3 tahunan Mas.” jawab Lusy.“Kamu nggak sekolah, lagi?”“Aku baru aja tamat SMA tahun kemarin, sebelumnya Bu Eva mengizinkan aku bekerja sepulang dari sekolah dari jam 1 siang hingga jam 8 malam.” jawab Lusy lagi.“Oh, jadi selama 3 tahunan kamu kerja sambil sekolah. Nggak lanjut kuliah?”“Belum Mas, aku sengaja nunda untuk nggak kuliah dulu. Kasihan orang tuaku di desa, mereka lagi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku kumpulin aja dulu gaji yang aku dapatkan dari hasil kerjaku di sini, nanti jika udah cukup baru aku akan
“Ya udah, aku nggak akan bahas soal Ryan lagi sama kamu. Aku janji, kamu jangan ngambek gitu dong!” bujuk Sony, Desy hanya diam dengan raut wajah yang memang menunjukan kekesalannya akan pertanyaan Sony mengenai aku.Kekesalan itu bukan tanpa alasan, karena selama ini Desy bersusah payah mencari dan melupakan perasaannya terhadap ku, kalau saja ia sempat bertemu dengan aku pria pertama yang hadir di hatinya itu, mungkin akan sulit bagi Sony mendapatkan tempat di hati Desy. Meskipun pada dasarnya wanita cantik berkaca mata itu menyadari sejak awal hubungan dia dan aku berjalan tanpa status apa-apa, hanya didasari rasa suka sama suka saja, tak terikat hubungan khusus seperti halnya pacaran.****Sore itu di Kota M cuaca sangat buruk, hujan lebat disertai petir serta angin kencang. Keadaan gelap padahal hari masih jam 5 sore, di sebuah rumah kontrakan elit sepasang ingsan yang bukan pasangan suami-istri tengah tengah bergumul di atas ranjang, mereka tidak lain adalah Cindy dan mantan kek
Malam itu kembali Dola melayani Bram di ranjang sebelum mereka pejamkan mata, Dola sengaja masih membanyangkan saat bercinta dengan ku, hingga ia kelihatan agak merespon sentuhan-sentuhan Bram di tubuhnya. Cara itu cukup jitu membuatnya sampai juga di puncak yang akan dituju yaitu orgasme yang kerap ia raih saat bercinta dengan ku, hingga percintaan dengan Bram tidak selalu hambar ia rasakan seperti percintaan-percintaan mereka sebelumnya.Sosok ku memang akan sangat sulit untuk ia lupakan dalam ingatan, terlebih saat ia melayani suami di ranjang yang menjadi kewajibannya sebagai seorang istri. Namun apa hendak dikata, semua itu merupakan kenyataan yang harus ia terima dan jalani, dan karena bukti cintanya jualah terhadap ku, Dola berusaha untuk berubah dan menerima Bram sebagai suaminya secara perlahan-lahan.Dola menunjukan perubahan sikapnya itu pada Bram bukan hanya di ranjang, melainkan juga menjalani tugas-tugas sebagai seorang istri lainnya, hingga Bram merasa bahagia sekali da
“Dola benar-benar Guru yang hebat! Kamu bukan hanya diajarkan tentang pelajaran di sekolah, tapi juga pelajaran di ranjang! He.. he.. he!” tutur Eva diiringi tawanya, membuat ku ikut tertawa.Rabu sore aku di sms oleh Rini mengajak jalan ke luar nanti malam jam 7, sebelum membalas sms dari Rini itu aku terlebih dahulu minta ijin pada Eva. Mama-mama cantik itu mengizinkan asal jam setengah 10 malam aku harus sudah kembali ke kos-kosan. Aku pun menyetujui ajakan Rini untuk jalan ke luar nanti malam dengan membalas sms dari Rini itu, Rini pun senang ajakannya diterima.Sekitar jam 7 lewat belasan menit Rini pun datang menjemput ku ke kos-kosan dengan mobil yang sengaja tidak ia masukan ke halaman, bahkan Rini juga sengaja tak turun dan hanya menunggu di dalam mobil yang ia hentikan di depan pintu pagar halaman kos-kosan, setelah mendapat sms dari Rini yang mengatakan saat itu ia telah berada di luar pagar, aku pun segera ke luar dari rumah lalu menghampiri Rini ke mobilnya.Pintu mobil b
“Sip, jika malam minggu kamu nggak bisa. Malam-malam lain juga nggak apa-apa,” Aku hanya tersenyum anggukan kepala.“Aku udah nggak pernah jalan lagi sama Rafly, kayaknya dia ngambek karena beberapa kali aku menolak diajak jalan.” sambung Rini.“Berarti kalian udah putus gitu?” tanya ku.“Putus gimana, lah aku nggak pernah juga nganggap dia cowok ku hanya sekedar teman jalan aja. Dia nya aja yang kepedean, pakai ngatur-ngatur segala lagi aku harus bergaul sama siapa, itu kan terserah aku. Sekarang dia jalan sama cewek lain, bodo amat aku memang udah nggak srek lagi berteman dengannya.” tutur Rini, aku tersenyum dan memahami semua yang diucapkan Rini.“Gimana dengan kuliahmu Rin, lancar?” Aku alihkan pembicaraan.“Ya, begitulah Ryan, meskipun ada sebagian mata kuliah yang aku anggap sulit, namun secara bertahap-tahap aku berhasil juga menguasainya.” jawab Rini.“Memang harus begitu, saat kita kesulitan di salah satu mata kuliah. Kita harus lebih fokus dan benar-benar mempelajarinya hin
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
Siang itu kembali aku bareng dengan Dola dari sekolah menuju rumah megah milik Guru cantik itu, setelah makan siang bersama dan beristirahat sejenak, aku menuju perkarangan belakang rumah lokasi galian kolam ikan yang dikerjakan para pekerja dari toko bangunan langganan Dola, galian itu benar-benar
Siang itu aku pulang dari sekolah bersamaan dengan selesainya jam mengajar Bu Dola, hingga aku tak perlu naik angkot untuk menuju rumah Guru ku itu melakukan tugas ku bekerja di sana, seperti biasa sebelum memulai pekerjaan aku dan Dola makan siang bareng di meja makan.“Hari ini kira-kira apa yang