登入"Tidak perlu untuk saat ini," sahut suara bariton Casey dari balik pintu yang agak terbuka, mengalun tenang namun penuh ketegasan. "Dia hanya kelelahan dan stres berat karena masalah plagiat di butik itu. Tapi tetap siagakan dokter umum dari klinik terdekat. Jika besok pagi dia masih muntah-muntah dan lemas, aku sendiri yang akan membawanya langsung ke rumah sakit.""Baik, Tuan. Saya akan pastikan tim medis siap siaga," jawab Dominic patuh.Di balik pilar besar marmer, Melody menyandarkan punggungnya yang gemetaran. Napasnya memburu pelan, telapak tangannya terkepal erat di atas dada yang berdegup kencang seolah hendak melompat keluar. Keputusan Casey memang menunda ancaman sore ini, tetapi justru melemparkan bom waktu yang jauh lebih mengerikan untuk esok pagi.Besok pagi? Ke rumah sakit? batin Melody menjerit histeris dalam hening.Jika Casey membawanya ke rumah sakit, prosedur pemeriksaan menyeluruh seperti tes darah dan USG dipastikan akan dilakukan. Dokter akan dengan mudah menem
Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan di kamar utama. Mbok Nah masuk dengan perlahan, membawa nampan berisi segelas teh hangat aromatik dan botol kecil minyak kayu putih. Raut wajah wanita paruh baya itu memancarkan kekhawatiran yang tulus saat melihat Melody terbaring pucat di dada Casey."Tuan, ini teh hangat dan minyak anginnya," ucap Mbok Nah santun seraya meletakkan nampan di atas meja nakas samping tempat tidur."Taruh di situ. Terima kasih, Mbok," balas Casey singkat, pandangannya sama sekali tak teralih dari paras pucat Melody.Setelah Mbok Nah pamit dan menutup pintu rapat-rapt, Casey meraih botol minyak kayu putih. Dengan telaten, pria tegap itu menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu mengusapkannya lembut ke leher dan pelipis Melody. Bau terapi yang menenangkan seketika menguar, perlahan mengikis rasa mual yang sempat melilit perut Melody."Bagaimana? Masih mual, Sayang?" tanya Casey rendah, suaranya terdengar begitu hang
"Ayo," bisik Casey lagi, suaranya makin serak dan sarat akan dominasi saat jemari kekatnya mengusap perlahan garis pinggang Melody. Hawa hangat yang terpancar dari tubuh tegap Casey mengungkung Melody, membuat dada wanita itu mendadak sesak. Ajakan yang terkesan santai itu terdengar bagaikan vonis manis yang mematikan. Melody tahu betul apa arti 'merindukanmu' bagi pria seperti Casey. Itu bukan sekadar rindu biasa, melainkan klaim mutlak atas seluruh tubuh dan jiwa wanita yang dikurungnya. "Aku... aku masih kenyang, Casey," sahut Melody pelan, berusaha mencari alasan demi mengulur waktu. Suaranya bergetar tipis, sebisa mungkin menyembunyikan kepanikan yang mendera batinnya. "Tadi aku baru aja selesai makan siang di atas." Casey terkekeh rendah. Tawa beratnya mengalun hangat tepat di leher Melody, memancing ketegangan tersendiri bagi bulu kuduk wanita itu. Tanpa memberi celah untuk membangkang, Casey merengkuh tubuh Melody lalu menyusupkan tangannya ke bawah lipatan lutut wanita itu.
"Anak kamu... kritis di ICU?" bisik Melody lirih.Kata-kata itu menghantam kesadaran Melody tepat di ulu hatinya. Tangisan pilu Siska yang bersujud memeluk kakinya seketika menjelma menjadi gema yang sangat menakutkan di dalam kepala Melody. Isakan keputusasaan seorang ibu yang rela mengorbankan apa saja demi menyambung nyawa anaknya terasa begitu familier, begitu dekat, hingga membuat napas Melody tertahan di tenggorokan.Tangan Melody refleks bergerak ragu menuju perut bagian bawahnya. Di balik kain gaun longgar yang ia kenakan, ada kehidupan kecil yang baru berusia empat minggu. Kehidupan yang membuat Melody rela membuang harga dirinya, pura-pura patuh, dan pasrah dikurung di dalam rumah megah yang bagaikan penjara berpagar emas ini.“Bukankah aku dan Siska sama saja?“ bisik Melody dalam hati meratap. “Kami sama-sama ibu yang rela melakukan hal bodoh demi menyelamatkan anak kami...” imbuhnya"Nona Melody, tolong saya..." ratap Siska lagi dengan napas memburu. Air matanya sudah memb
"Casey, kenapa kamu membawa Siska ke sini?" tanya Melody dengan raut wajah bingung, matanya bergantian menatap Casey dan sosok Siska yang gemetaran di bawah apitan dua pengawal bertubuh tegap."Dominic, bawa dia masuk," perintah Casey dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Melody.Casey melangkah makin dekat. Sebuah senyum tipis penuh misteri terukir di bibir tegasnya, berpadu dengan tatapan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi. "Bukankah dia orang yang sudah menyusahkanmu, Melody? Orang yang membuatmu tersandung masalah hak cipta hingga butikmu hampir gulung tikar?"Siska yang kini diseret melangkah masuk ke dalam ruangan mewah itu langsung meluruh berlutut di atas lantai marmer. Tubuhnya menggigil hebat, air mata membasahi wajahnya yang pucat pasi."Nona Melody... maafkan saya, Nona! Saya mohon maafkan saya!" ratap Siska histeris seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Saya khilaf melakukannya, Nona... Saya benar-benar kepepet uang!"Melody melongo, terteg
"Aku beneran nggak apa-apa, Len. Masalah butik udah selesai kok. Sekarang aku cuma mau fokus istirahat dulu," ketik Melody lambat, berusaha menyusun kata sehati-hati mungkin."Yaudah kalau gitu. Pokoknya kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ya! Nanti pas jadwal libur aku main ke rumah kamu!"Melody mengulum senyum hambar membaca balasan Helena sebelum mengunci layar ponselnya. Rumah? Pikirnya ironis. Tempatnya berada saat ini bahkan bukan rumah yang bisa ia bagikan alamatnya kepada siapa pun.Tok! Tok! Tok!Pintu kamar terdorong pelan. Mbok Nah berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah khasnya. "Nona Melody, makan siang sudah siap. Nona mau makan di meja makan lantai bawah atau diantar ke atas saja?"Jantung Melody berdesir pelan. Bayangan harus duduk di meja makan luas lantai bawah, berhadapan dengan tatapan para pelayan dan pengawal, membuat nyalinya ciut. Apalagi kondisi perutnya yang mulai rentan mual akibat kehamilan mudanya, ia tak mau ada orang rumah yang curiga jika ia tiba-







