แชร์

GELORA HASRAT SANG MAFIA
GELORA HASRAT SANG MAFIA
ผู้แต่ง: Vieneze

1 | Menikahlah dengan Marco!

ผู้เขียน: Vieneze
last update วันที่เผยแพร่: 2023-08-09 18:02:05

“Hentikan gertakan itu, Sunny. Wajahmu terlihat jelek jika memandangiku dengan tatapan itu,” ujar Bibi Joyce sembari meraih cangkir teh dari meja tua di hadapannya. “Jika kau melakukan ini, aku berjanji akan merawat adik dan ibumu. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi Anne. Marco tidak akan tahu itu, sebab aku memang belum mengenalkan Anne padanya.”

Sunny mendesah panjang. Kini napasnya terasa berat, seolah semua udara yang dihirup menekan paru-parunya. Permintaan bibi Joyce sulit diterima oleh pikiran Sunny. Lagipula, selama ini bibi Joyce tidak pernah peduli kepada mereka, dia hanya peduli dengan uang dan barang-barang mahal.

Bibi Joyce adalah wanita paling licik yang pernah dia kenal. Apapun akan Bibi Joyce lakukan demi keuntungan dirinya sendiri. Setelah tiga tahun tanpa kabar, dia mendadak datang dengan utang yang menumpuk.

Sunny mengamati raut wajah bibi Joyce yang tengah menyesap teh. Dadanya bergemuruh oleh amarah.

“Aku tidak mau. Biarkan saja Anne yang menikahi pria itu. Bibi terlalu memanjakannya bahkan untuk hal semacam ini pun bibi memintaku untuk menjadi Anne,” tolak Sunny. Dia meremas jemarinya, berusaha menahan diri untuk tidak berkata kasar dan dia gagal. “Aku belum pernah bertemu orang yang lebih sinting dari Bibi. Menikahi seseorang demi utang bibi, heh? Pergilah, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Sunny memberikan senyuman sinis kepada bibi Joyce, tetapi bibi Joyce tidak tersinggung. Dia semakin tidak tahu malu.

"Tanah di selatan, aku akan mengembalikan itu pada kalian. Bukankah selama ini kau terus menuntut untuk mengembalikan tanah itu? Sekarang kesempatanmu, asal kau mau menikahi Marco.” Bibi Joyce bersidekap, sesaat kemudian dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia menekuri lubang yang menganga di sisi kiri bangunan. “Rumah ini bahkan tidak layak untuk ditempati. Jika kau menikah dengan Marco, setidaknya kalian tinggal di rumah yang bagus.”

Sunny melirik ibunya yang terbaring lemah di kasur lapuk, tidak jauh dari tempat mereka duduk. Perasaan bersalah, sedih, marah dan putus asa mengaduk-aduk perasaannya. Jika saja ayahnya masih ada, mungkin kehidupan mereka tidak sepahit ini, mungkin ibunya masih tersenyum bahagia, mungkin adiknya tidak harus menahan malu sering dipanggil karena tidak bayar uang sekolah. Mungkin—semua itu hanyalah harapan sia-sia Sunny.

“Dasar ular. Bibi bahkan tidak tahu bagaimana caranya meminta tolong. Apa bibi belum puas melihat kami menderita? Sejak Papa tiada, bibi mengambil semua harta peninggalan Papa. Aku berjuang sendirian menghidupi keluarga ini, membiayai pengobatan Mama dan sekolah Rury. Sedikit pun Bibi tidak pernah menaruh belas kasih kepada kami.” Suara yang keluar dari mulut Sunny lebih terdengar seperti tangisan yang ditahan.

Bibi Joyce menyeringai, dia semakin mengangkat wajahnya dengan angkuh. “Kau tidak berubah sama sekali. Sifat keras kepalamu itu mengingatkan aku pada ayahmu. Aku merasa sedih atas kepergian saudaraku itu. Dia memang kakak yang baik hati, tapi aku lebih menyayangi uang.” Bibi Joyce mendesah, “tahun-tahun yang indah berlalu dengan cepat sementara kesedihan seolah bergerak lambat.”

Dalam suasana tegang itu, Jane, ibunya Sunny terbatuk-batuk. Jemari Jane yang lemah menyusuri tepian kasur, berusaha untuk bangkit. Melihat Jane yang kesusahan, Sunny berlari membantu Jane untuk duduk.

“Pelan-pelan, Ma. Berbaringlah, tubuh Mama masih lemah,” pinta Sunny lembut.

“Aku bosan harus berbaring sepanjang hari,” sahut Jane. Dia membuat senyuman tulus seolah menunjukan dia baik-baik saja. “Jangan pikirkan Mama. Nak, kau tidak perlu menuruti permintaan bibimu. Mama tidak setuju jika kau menikah dengan pria asing yang bahkan kita tidak tahu sifatnya.”

Sunny mengangguk.

Namun, raut wajah bibi Joyce semakin keras. Sorot matanya berubah menakutkan dan di satu sisi juga terlihat licik. Ada keheningan di antara mereka sejenak. Bibi Joyce melemparkan senyuman dan pandangannya berakhir pada cangkir jelek di atas meja.

“Bayangkan kesempatan itu seperti cangkir ini,” ujar Bibi Joyce. “Orang bilang kesempatan tidak datang dua kali, tapi bagiku, kesempatan itu seperti air yang dituang ke dalam cangkir. Ada banyak kesempatan yang datang, kau malah melewatkannya begitu saja yang berujung cangkirmu tetap kosong. Lantas, akankah kau tetap memilih hidup melarat seperti ini, Sunny?”

“Jangan dengarkan bibimu. Dia hanya memancingmu saja,” tukas Jane, dia terlihat gelisah ketika menatap wajah Sunny.

“Jika kesempatan itu adalah tentang penawaran bibi, aku akan melewatkannya berulang kali. Tidak peduli sebanyak apapun bibi memohon bahkan mengancam. Pulanglah, kehadiran bibi tidak diharapkan di sini.”

Bibi Joyce bangkit dari tempatnya, “ah, sayang sekali. Padahal kau bisa hidup enak dan ibumu tidak akan merintih kesakitan lagi. Tapi sudah begini—apa boleh buat? Baiklah, aku akan pergi. Senang bertemu denganmu kakak ipar, kau membesarkan putri yang pembangkang dan keras kepala. Menarik sekali! Semoga kau cepat pulih.” Bibi Joyce melirik Jane dengan senyum palsu.

Sunny mengatupkan bibirnya dengan segala emosi di ujung gigi, seolah dia tengah menggigit wajah bibi Joyce yang menjengkelkan.

Bibi Joyce terkekeh ketika dia menyadari bahwa perkataannya telah membuat Sunny kesal. “Tenang saja, itu pujian. Tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu.”

Ketika bibi Joyce hampir tiba di ambang pintu, Jane berujar lembut namun penuh penekanan di setiap kata. “Kuharap, dikemudian hari kita tidak perlu bertemu lagi, Joyce. Bukan aku tidak senang atas kehadiranmu, tapi kau selalu menyakiti hati kami. Mengenai tawaran pernikahan yang kau katakan, aku tidak menyukainya. Aku bersungguh-sungguh, Joyce. Minta saja pada putrimu itu.”

Mulut bibi Joyce mengatup rapat dan seluruh wajahnya berubah merah. Kali ini dia benar-benar kehilangan muka, namun dia tidak ingin menunjukkan itu pada mereka. Dia masih mengangkat wajahnya tinggi dengan lagak pongah yang memuakkan sesaat setelah keluar dari rumah itu.

Sunny menarik napas lega karena bibi Joyce pergi tanpa membuat keributan lagi. Dia berharap bibi Joyce tidak kembali ke rumah mereka. Sudah cukup semua hinaan yang bibi Joyce ucapkan bertahun-tahun lalu, Sunny hanya ingin hidup damai dengan Rury dan ibunya.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Sunny masih bekerja di pasar ikan, dia membantu paman Huben, tetangga Sunny yang berjarak dua puluh meter dari rumahnya. Walau gajinya kecil, Sunny selalu menerima upah itu dengan senyum bahagia.

Selesai membantu paman Huben, Sunny biasanya pergi ke pantai untuk memanjat kelapa. Ada orang yang meminta Sunny untuk memanen semua kelapa itu. Sunny terobsesi dengan uang. Dia selalu beranggapan jika mereka punya banyak uang, maka dia tidak perlu bersusah payah mati-matian mencari uang untuk kelangsungan hidup mereka.

Bukan Sunny tidak punya impian. Jauh dalam hatinya, dia ingin seperti teman-teman yang lain; kuliah di kota dan bermain-main di tempat menarik. Betapa dia cemburu, betapa dia ingin menyerah, betapa dia ingin menangis, betapa dia sangat sakit, namun Sunny tidak pernah menunjukkan itu pada orang lain. Sunny pandai menyembunyikan segala kesedihannya. Demi ibunya. Demi adiknya, Rury.

“Jatuhkan dengan hati-hati,” perintah pria tua di bawah pohon kelapa. Dia mendongak sambil berkacak pinggang. “Kau melempar terlalu kuat, lihat—kulitnya jadi sompel. Semua kelapa ini akan dijual ke supermarket. Orang-orang kaya itu tidak suka dengan buah yang lecet.”

Sunny mengangguk. Dia tidak menjawab satu kata pun. Tenggorokannya terlalu kering, ditambah panas menyengat yang membuat pusing. Sunny hampir kehilangan tumpuan ketika Rury mendadak datang dengan wajah yang telah memucat dan matanya penuh oleh air mata.

Rury berteriak, “Kakak! Kakak! Cepat pulang. Mama ... Mama kita ... .” suaranya berubah menjadi tangisan yang mengkhawatirkan.

Vieneze

Halo pembaca tersayang. Setelah 2 tahun hiatus, akhirnya author kembali mengeluarkan novel baru. Semoga kalian suka dengan karakter Ryuse dan Sunny. Jangan lupa berikan vote dan gem agar pupularitas novel ini naik. terima kasih banyak. Aku menyayangi kalian.

| ชอบ
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    48 | Rury menghilang

    Suara Marvin di seberang telepon masih bergetar panik ketika Ryuse sudah berlari keluar ruangan, mantel hitamnya disambar cepat dari sandaran kursi."Di mana posisimu sekarang?" Ryuse membentak ke arah ponsel, suaranya keras menggema di lorong rumah yang mendadak sepi."Taman dekat jalan Kenanga, Kak. Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk membeli minuman—tidak lebih dari lima menit. Tapi begitu aku kembali, dia sudah tidak ada.""Lima menit sudah cukup," gumam Ryuse pahit, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Marvin.Sunny berlari mengejarnya, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat mencoba mengambil mantelnya sendiri dari gantungan dekat pintu. "Aku ikut.""Sunny, sebaiknya kau tetap di sini—""Itu adikku, Ryuse!" Suara Sunny pecah, matanya sudah berkaca-kaca sebelum mereka bahkan sampai ke taman. "Aku tidak bisa hanya duduk diam menunggu kabar."Ryuse menatapnya sejenak, memahami bahwa argumen apa pun tidak akan berhasil menahan seorang kakak yang ketakutan kehilangan

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    47 | Ancaman yang menjadi nyata

    Ponsel itu masih bergetar di atas meja, layarnya berkedip terang dalam ruangan yang mendadak terasa jauh lebih dingin dari beberapa menit sebelumnya. Ryuse menatap nama itu lama, rahangnya mengeras, sebelum akhirnya meraih ponsel itu dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja merasakan dadanya berdegup kencang.Sunny berdiri di dekatnya, tangannya masih menggenggam ujung lengan baju Ryuse, matanya penuh tanya melihat perubahan drastis dalam raut wajah orang yang baru saja memeluknya dengan begitu hangat.Ryuse menekan tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Luigi."Suara di seberang terdengar renyah, nyaris ramah—jenis keramahan yang justru membuat bulu kuduk siapa pun yang mengenalnya ikut meremang."Ryuse. Sudah lama kita tidak bicara langsung, bukan? Biasanya kau lebih suka mengirim orang untuk bicara atas namamu.""Katakan apa maumu," jawab Ryuse dingin, tidak tertarik berbasa-basi.Di seberang telepon, terdengar suara tawa pelan, seolah nada dingin

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    46 | Ryuse akhirnya jujur tentang perasaannya

    Sepanjang hari itu, Sunny nyaris tidak bicara. Dia menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil di rumah dengan gerakan yang lebih pelan dari biasanya, pikirannya masih terjebak pada kata-kata Camila yang terus terngiang di kepalanya. Menjelang sore, dia berdiri lama di depan jendela kamarnya, menatap halaman belakang tempat kemarin malam dia dan Ryuse duduk berdampingan di ayunan, tempat segalanya terasa begitu sederhana untuk sesaat. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dengan langkah yang mantap meski hatinya bergejolak, Sunny akhirnya memutuskan menemui Ryuse di ruang kerjanya. Pintu itu sedikit terbuka, dan dia bisa melihat Ryuse duduk di balik mejanya, jarinya menekan pelipis seolah menahan pusing yang tidak kunjung reda sejak pagi tadi. "Ryuse," Sunny mengetuk pelan pintu itu sebelum melangkah masuk. Ryuse mengangkat wajah, dan seketika raut lelahnya melunak melihat Sunny berdiri di ambang pintu. "Sunny. Masuklah." Sunny melangkah masuk, namun tidak duduk di kursi yang b

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    45 | Api cemburu berbalut ancaman

    "Katakan," bisik Sunny, jantungnya mulai berdebar dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya.Ryuse menatapnya lama, bibirnya terbuka, namun kata-kata itu seolah tersangkut di tenggorokannya. Dia menghela napas, mencoba menyusun kembali kalimat yang sudah lama dia tahan."Ada hal-hal dari masa laluku yang belum kuceritakan padamu," katanya akhirnya, suaranya pelan namun penuh beban. "Hal-hal yang mungkin akan membuatmu melihatku berbeda."Sunny menggenggam tangannya sendiri erat-erat, mencoba menyiapkan diri untuk apa pun yang akan keluar dari mulut Ryuse selanjutnya.Namun sebelum Ryuse sempat melanjutkan, pintu di belakang mereka terbuka. Marvin muncul dengan wajah yang sedikit canggung, jelas tidak bermaksud mengganggu, tapi juga tidak punya pilihan lain."Maaf mengganggu, Kak," katanya, "tapi Rury memaksa ingin tidur di kamar sebelahmu malam ini. Katanya dia takut sendirian di rumah baru."Momen itu pecah begitu saja. Ryuse menutup mulutnya, menatap Sunny dengan raut wajah yang me

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    44 | Lantas, kita sekarang apa?

    Sensasi memabukkan dari ciuman itu masih terasa ketika keduanya akhirnya duduk kembali di ayunan masing-masing, jarak di antara mereka tidak lagi sedekat tadi, namun juga tidak sejauh sebelum semuanya terjadi.Sunny menatap kedua tangannya sendiri yang terlipat di pangkuan, tidak berani mengangkat wajah. Jantungnya masih berdebar tidak keruan, dan dia yakin jika Ryuse melihat wajahnya sekarang, warna merah di sana pasti belum juga memudar.Ryuse sendiri duduk kaku di ayunannya, matanya menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan di ujung halaman. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Dia masih bisa merasakan kehangatan bibir Sunny, masih bisa mendengar suara napas gadis itu yang tertahan saat ciuman mereka semakin dalam.Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh perhitungan dan kendali, Ryuse merasa benar-benar kehilangan arah."Ryuse," Sunny akhirnya bersuara, memecah keheningan yang mulai terasa canggung."Ya?""Apa yang terjadi barusan..." Sunny berhenti, mencoba m

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    43 | Ciuman di bawah langit malam

    Malam turun perlahan di atas rumah Ryuse.Lampu-lampu di ruang makan menyala hangat, memantulkan cahaya keemasan pada meja panjang yang sejak tadi dipenuhi piring, gelas, dan suara tawa. Rumah besar itu—yang selama ini terasa terlalu luas untuk ditinggali—kini seolah memiliki napas sendiri, hidup oleh kehadiran dua orang yang baru saja menjadi bagian darinya.Rury duduk di antara Marvin dan Gordon, sibuk memilih potongan daging paling besar dari piring saji."Yang ini milikku," katanya sambil menusukkan garpu penuh percaya diri."Kenapa milikmu?" Gordon memprotes. "Kau bahkan belum mencicipinya.""Karena aku melihatnya lebih dulu.""Kalau begitu, aku juga melihat kentang itu lebih dulu."Marvin buru-buru menarik piring kentang ke arahnya. "Terlambat. Aku sudah menyentuhnya duluan."Rury menatap kedua pria itu dengan mata menyipit, seolah menghadapi lawan yang tidak sepadan. "Kalian berdua bertengkar seperti anak-anak.""Kami hanya memastikan kau tidak menghabiskan semua makanan," kata

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    9 | Biarkan aku membalas kebaikanmu

    “Aku tak akan peduli soal ketakutanmu atau pun keberanianmu padanya,” Sunny berusaha meyakinkan Marco bahwa dirinya tidak tertekan oleh ancaman apapun. “Aku hanya peduli dengan bagaimana kau jatuh.”“Kau ... ”Marco hampir memukul wajah Sunny, namun Ryuse cekatan menangkap tangan Marco dan menghemp

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    8 | Ryuse dan keputusan gegabahnya

    “Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”Ryuse merasakan tekanan darah di dalam

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    7 | Tentang Ryuse Adam

    “Kakak Ryu, mengapa kau termenung?” Marvin menepuk pundak Ryuse yang tengah menatap hampa pemandangan di luar jendela. Ryuse mendesah dalam diam panjang. Dia melirik Marvin yang menatapnya dengan ekspresi penasaran. Ryuse memutar langkah, dia kembali ke meja kerjanya. Kaki terangkat ke atas meja

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    6 | Tenggelam dalam sedih

    Bibi Joyce mati! Bibi Joyce mati! Kata-kata itu bergaung dalam benak Sunny. Selanjutnya mungkin dirinya akan menyusul bibi Joyce. Bibi Joyce terlentang di lantai, tidak ada luka yang berarti, hanya ada bekas jerat di leher bibi Joyce. Rambut ikal gonjesnya terlihat berantakan, bibir membarany

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status