LOGIN
“Hentikan gertakan itu, Sunny. Wajahmu terlihat jelek jika memandangiku dengan tatapan itu,” ujar Bibi Joyce sembari meraih cangkir teh dari meja tua di hadapannya. “Jika kau melakukan ini, aku berjanji akan merawat adik dan ibumu. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi Anne. Marco tidak akan tahu itu, sebab aku memang belum mengenalkan Anne padanya.”
Sunny mendesah panjang. Kini napasnya terasa berat, seolah semua udara yang dihirup menekan paru-parunya. Permintaan bibi Joyce sulit diterima oleh pikiran Sunny. Lagipula, selama ini bibi Joyce tidak pernah peduli kepada mereka, dia hanya peduli dengan uang dan barang-barang mahal. Bibi Joyce adalah wanita paling licik yang pernah dia kenal. Apapun akan Bibi Joyce lakukan demi keuntungan dirinya sendiri. Setelah tiga tahun tanpa kabar, dia mendadak datang dengan utang yang menumpuk. Sunny mengamati raut wajah bibi Joyce yang tengah menyesap teh. Dadanya bergemuruh oleh amarah. “Aku tidak mau. Biarkan saja Anne yang menikahi pria itu. Bibi terlalu memanjakannya bahkan untuk hal semacam ini pun bibi memintaku untuk menjadi Anne,” tolak Sunny. Dia meremas jemarinya, berusaha menahan diri untuk tidak berkata kasar dan dia gagal. “Aku belum pernah bertemu orang yang lebih sinting dari Bibi. Menikahi seseorang demi utang bibi, heh? Pergilah, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan.” Sunny memberikan senyuman sinis kepada bibi Joyce, tetapi bibi Joyce tidak tersinggung. Dia semakin tidak tahu malu. "Tanah di selatan, aku akan mengembalikan itu pada kalian. Bukankah selama ini kau terus menuntut untuk mengembalikan tanah itu? Sekarang kesempatanmu, asal kau mau menikahi Marco.” Bibi Joyce bersidekap, sesaat kemudian dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia menekuri lubang yang menganga di sisi kiri bangunan. “Rumah ini bahkan tidak layak untuk ditempati. Jika kau menikah dengan Marco, setidaknya kalian tinggal di rumah yang bagus.” Sunny melirik ibunya yang terbaring lemah di kasur lapuk, tidak jauh dari tempat mereka duduk. Perasaan bersalah, sedih, marah dan putus asa mengaduk-aduk perasaannya. Jika saja ayahnya masih ada, mungkin kehidupan mereka tidak sepahit ini, mungkin ibunya masih tersenyum bahagia, mungkin adiknya tidak harus menahan malu sering dipanggil karena tidak bayar uang sekolah. Mungkin—semua itu hanyalah harapan sia-sia Sunny. “Dasar ular. Bibi bahkan tidak tahu bagaimana caranya meminta tolong. Apa bibi belum puas melihat kami menderita? Sejak Papa tiada, bibi mengambil semua harta peninggalan Papa. Aku berjuang sendirian menghidupi keluarga ini, membiayai pengobatan Mama dan sekolah Rury. Sedikit pun Bibi tidak pernah menaruh belas kasih kepada kami.” Suara yang keluar dari mulut Sunny lebih terdengar seperti tangisan yang ditahan. Bibi Joyce menyeringai, dia semakin mengangkat wajahnya dengan angkuh. “Kau tidak berubah sama sekali. Sifat keras kepalamu itu mengingatkan aku pada ayahmu. Aku merasa sedih atas kepergian saudaraku itu. Dia memang kakak yang baik hati, tapi aku lebih menyayangi uang.” Bibi Joyce mendesah, “tahun-tahun yang indah berlalu dengan cepat sementara kesedihan seolah bergerak lambat.” Dalam suasana tegang itu, Jane, ibunya Sunny terbatuk-batuk. Jemari Jane yang lemah menyusuri tepian kasur, berusaha untuk bangkit. Melihat Jane yang kesusahan, Sunny berlari membantu Jane untuk duduk. “Pelan-pelan, Ma. Berbaringlah, tubuh Mama masih lemah,” pinta Sunny lembut. “Aku bosan harus berbaring sepanjang hari,” sahut Jane. Dia membuat senyuman tulus seolah menunjukan dia baik-baik saja. “Jangan pikirkan Mama. Nak, kau tidak perlu menuruti permintaan bibimu. Mama tidak setuju jika kau menikah dengan pria asing yang bahkan kita tidak tahu sifatnya.” Sunny mengangguk. Namun, raut wajah bibi Joyce semakin keras. Sorot matanya berubah menakutkan dan di satu sisi juga terlihat licik. Ada keheningan di antara mereka sejenak. Bibi Joyce melemparkan senyuman dan pandangannya berakhir pada cangkir jelek di atas meja. “Bayangkan kesempatan itu seperti cangkir ini,” ujar Bibi Joyce. “Orang bilang kesempatan tidak datang dua kali, tapi bagiku, kesempatan itu seperti air yang dituang ke dalam cangkir. Ada banyak kesempatan yang datang, kau malah melewatkannya begitu saja yang berujung cangkirmu tetap kosong. Lantas, akankah kau tetap memilih hidup melarat seperti ini, Sunny?” “Jangan dengarkan bibimu. Dia hanya memancingmu saja,” tukas Jane, dia terlihat gelisah ketika menatap wajah Sunny. “Jika kesempatan itu adalah tentang penawaran bibi, aku akan melewatkannya berulang kali. Tidak peduli sebanyak apapun bibi memohon bahkan mengancam. Pulanglah, kehadiran bibi tidak diharapkan di sini.” Bibi Joyce bangkit dari tempatnya, “ah, sayang sekali. Padahal kau bisa hidup enak dan ibumu tidak akan merintih kesakitan lagi. Tapi sudah begini—apa boleh buat? Baiklah, aku akan pergi. Senang bertemu denganmu kakak ipar, kau membesarkan putri yang pembangkang dan keras kepala. Menarik sekali! Semoga kau cepat pulih.” Bibi Joyce melirik Jane dengan senyum palsu. Sunny mengatupkan bibirnya dengan segala emosi di ujung gigi, seolah dia tengah menggigit wajah bibi Joyce yang menjengkelkan. Bibi Joyce terkekeh ketika dia menyadari bahwa perkataannya telah membuat Sunny kesal. “Tenang saja, itu pujian. Tidak perlu bersikap berlebihan seperti itu.” Ketika bibi Joyce hampir tiba di ambang pintu, Jane berujar lembut namun penuh penekanan di setiap kata. “Kuharap, dikemudian hari kita tidak perlu bertemu lagi, Joyce. Bukan aku tidak senang atas kehadiranmu, tapi kau selalu menyakiti hati kami. Mengenai tawaran pernikahan yang kau katakan, aku tidak menyukainya. Aku bersungguh-sungguh, Joyce. Minta saja pada putrimu itu.” Mulut bibi Joyce mengatup rapat dan seluruh wajahnya berubah merah. Kali ini dia benar-benar kehilangan muka, namun dia tidak ingin menunjukkan itu pada mereka. Dia masih mengangkat wajahnya tinggi dengan lagak pongah yang memuakkan sesaat setelah keluar dari rumah itu. Sunny menarik napas lega karena bibi Joyce pergi tanpa membuat keributan lagi. Dia berharap bibi Joyce tidak kembali ke rumah mereka. Sudah cukup semua hinaan yang bibi Joyce ucapkan bertahun-tahun lalu, Sunny hanya ingin hidup damai dengan Rury dan ibunya. Hari-hari berlalu dengan cepat. Sunny masih bekerja di pasar ikan, dia membantu paman Huben, tetangga Sunny yang berjarak dua puluh meter dari rumahnya. Walau gajinya kecil, Sunny selalu menerima upah itu dengan senyum bahagia. Selesai membantu paman Huben, Sunny biasanya pergi ke pantai untuk memanjat kelapa. Ada orang yang meminta Sunny untuk memanen semua kelapa itu. Sunny terobsesi dengan uang. Dia selalu beranggapan jika mereka punya banyak uang, maka dia tidak perlu bersusah payah mati-matian mencari uang untuk kelangsungan hidup mereka. Bukan Sunny tidak punya impian. Jauh dalam hatinya, dia ingin seperti teman-teman yang lain; kuliah di kota dan bermain-main di tempat menarik. Betapa dia cemburu, betapa dia ingin menyerah, betapa dia ingin menangis, betapa dia sangat sakit, namun Sunny tidak pernah menunjukkan itu pada orang lain. Sunny pandai menyembunyikan segala kesedihannya. Demi ibunya. Demi adiknya, Rury. “Jatuhkan dengan hati-hati,” perintah pria tua di bawah pohon kelapa. Dia mendongak sambil berkacak pinggang. “Kau melempar terlalu kuat, lihat—kulitnya jadi sompel. Semua kelapa ini akan dijual ke supermarket. Orang-orang kaya itu tidak suka dengan buah yang lecet.” Sunny mengangguk. Dia tidak menjawab satu kata pun. Tenggorokannya terlalu kering, ditambah panas menyengat yang membuat pusing. Sunny hampir kehilangan tumpuan ketika Rury mendadak datang dengan wajah yang telah memucat dan matanya penuh oleh air mata. Rury berteriak, “Kakak! Kakak! Cepat pulang. Mama ... Mama kita ... .” suaranya berubah menjadi tangisan yang mengkhawatirkan.Halo pembaca tersayang. Setelah 2 tahun hiatus, akhirnya author kembali mengeluarkan novel baru. Semoga kalian suka dengan karakter Ryuse dan Sunny. Jangan lupa berikan vote dan gem agar pupularitas novel ini naik. terima kasih banyak. Aku menyayangi kalian.
Kabar itu datang tiba-tiba, saat sarapan masih berlangsung hangat beberapa hari setelah lamaran itu. "Kita akan berlibur," ujar Ryuse santai, menyesap kopinya seolah baru saja mengumumkan hal biasa. Marvin nyaris tersedak roti panggangnya. "Liburan? Kak Ryuse yang bicara?" "Kenapa? Ada yang aneh?" "Kak Ryuse tidak pernah libur," sahut Gordon, menatap curiga seolah sedang mencari jebakan tersembunyi di balik kalimat itu. "Terakhir kali kau bilang mau istirahat, itu karena kau di rumah sakit." Ryuse mengabaikan sindiran itu, matanya beralih ke arah Sunny yang duduk di sampingnya, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kupikir kita semua layak mendapatkan sedikit waktu untuk bernapas. Setelah semua yang terjadi." Rury langsung melonjak bersemangat. "Ke mana? Ke mana kita akan pergi?" "Pulau Serena," jawab Ryuse. "Aku punya vila kecil di sana. Airnya jernih, pantainya sepi. Tidak ada yang akan mengganggu kita di sana." Sunny menatapnya, hatinya menghangat mendengar rencana itu.
Sunny masih terdiam, jantungnya berdebar begitu keras hingga dia bisa merasakan denyutnya sendiri di telinga. Kata-kata Ryuse masih menggantung di udara kamar yang hangat oleh cahaya pagi, dan untuk beberapa detik, dia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa tahu harus berkata apa."Ryuse," akhirnya dia bersuara, suaranya bergetar antara haru dan keraguan yang masih tersisa. "Kau yakin ini bukan karena rasa bersalah? Bukan karena semalam?""Aku sudah bilang," Ryuse menggenggam kedua tangan Sunny lebih erat, matanya tidak goyah sedikit pun. "Aku sudah memikirkan ini jauh sebelum semalam terjadi. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."Sunny menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertaut, mencoba mencerna semuanya—perjalanan panjang yang membawanya sampai ke titik ini, dari gadis desa yang hampir kehilangan segalanya, menjadi seseorang yang kini ditawari kehidupan yang dulu tidak pernah berani dia bayangkan."Aku takut," bisiknya jujur. "Bukan takut pad
Ryuse terbangun perlahan, matanya masih setengah terpejam saat merasakan pergerakan di sampingnya. Begitu kesadarannya kembali penuh, dia melihat Sunny sudah terduduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, tubuhnya dibalut rapat oleh selimut putih yang dia dekap erat-erat ke dadanya."Kau sudah bangun?"Suara itu membuat Sunny tersentak. Dia menoleh sekilas, wajahnya merah padam hingga ke telinga, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Ryuse yang kini ikut bangkit, bersandar pada satu siku."Aku... aku hanya—" Sunny tergagap, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tanpa menunggu lebih lama, dia buru-buru meraih bajunya yang tergeletak berserakan di lantai kamar, mendekapnya ke dada, lalu bangkit dan berlari kecil menuju kamar mandi, pintu tertutup rapat di belakangnya dengan bunyi klik pelan.Ryuse hanya bisa menatap kepergian itu dengan senyum tipis yang perlahan muncul di wajahnya—geli sekaligus gemas melihat kepanikan Sunny yang begitu jujur, begitu polos, jauh dari kesan
Sunny masih terdiam, wajahnya merah padam, bibirnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar setelah godaan Ryuse tadi.Ryuse menatapnya lama, sorot matanya perlahan berubah—dari nada jenaka yang tadi dia bawa, menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih intens. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Sunny dengan lembut, ibu jarinya mengusap perlahan di bawah mata gadis itu, menghapus jejak air mata yang sempat jatuh sebelumnya."Sansan," bisiknya, suaranya serak."Ryuse, aku—"Kata-kata itu tidak pernah selesai. Ryuse sudah lebih dulu menunduk, bibirnya menyentuh bibir Sunny dalam ciuman yang lembut namun dalam, tanpa keraguan seperti yang biasa dia tunjukkan. Tangannya yang tadi memegang kain untuk mengobati luka kini terlupakan sepenuhnya, jatuh begitu saja ke lantai kamar.Sunny terkejut, tubuhnya membeku sesaat. Namun dia tidak mendorong Ryuse menjauh. Sebaliknya, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan itu, matanya perlahan terpejam, jemarinya yang gem
Mobil melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat satu demi satu di kaca jendela, memantulkan cahaya kuning pucat pada wajah Ryuse yang masih terdiam di kursi kemudi. Di kursi belakang, Rury sudah tertidur dalam pelukan Sunny, napasnya teratur setelah lelah menangis sepanjang malam. Sunny sendiri menatap keluar jendela, pikirannya masih dipenuhi bayangan Ryuse yang berjalan tegak meninggalkan halaman Luigi, dan kata-kata terakhir yang diucapkannya pada pria yang pernah menyelamatkan hidupnya.Tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Hanya suara mesin mobil yang berdengung pelan, dan sesekali erangan tertahan dari Ryuse setiap kali dia menggerakkan lengannya yang memar untuk membelokkan kemudi.Rumah Ryuse menyambut mereka dengan cahaya lampu yang masih menyala di setiap jendela, seolah seluruh isi rumah ikut menahan napas menunggu kepulangan mereka. Begitu mobil berhenti di halaman, pintu depan langsung terbuka lebar—Gordon berlari keluar leb
Pengawal itu bergerak lebih dulu, tubuhnya besar dan terlatih, kepalan tangannya melesat cepat ke arah wajah Ryuse dengan kekuatan yang jelas sudah diasah bertahun-tahun. Namun Ryuse sudah lebih dulu membaca gerakan itu—tubuhnya miring tipis, membiarkan pukulan itu lewat hanya beberapa senti dari pipinya, sebelum tangannya sendiri bergerak cepat, menghantam rusuk lawan dengan siku yang keras dan presisi.Pengawal itu terhuyung, namun cepat memulihkan keseimbangan, membalas dengan tendangan rendah yang mengincar lutut Ryuse. Ryuse melompat mundur, menghindari serangan itu dengan jarak yang nyaris sempurna, lalu memanfaatkan momentum lompatannya untuk melancarkan tendangan balik yang mengenai dada lawan telak.Suara benturan keras menggema di halaman yang hening, hanya disaksikan oleh cahaya lampu taman yang berkelap-kelip tenang, seolah tidak peduli dengan pertarungan yang sedang berlangsung di bawahnya.Pengawal itu jatuh terduduk, napasnya memburu, namun dengan geram dia kembali bang
Ryuse menoleh dengan sorot keterkejutan. Dia tidak menduga Sunny akan meminta hal rumit seperti ini.Sunny berlari menghampiri Ryuse dan dia berujar, “tolong aku, tuan. Aku tidak mau di sini bersamanya. Aku harus pulang ke tempat ibuku.”Ryuse menatap mata coklat Sunny lamat-lamat. Seakan mata itu
“Ma-mati?” Sunny akhirnya berbicara setelah susah payah mendapatkan suaranya yang hampir tenggelam oleh kengerian. Marco hanya memberikan senyum simpul, sekejap berubah menjadi senyum manis nan mengerikan. “Benar— mati! Maka mintalah wanita ini untuk melunasinya segera,” sahut Marco.Sunny menole
Sunny menyesal telah membuat janji gila tak masuk akal seperti itu pada bibi Joyce. Bila pada akhirnya itu akan memisahkan dia dengan orang terkasihnya. Namun, Sunny juga cukup sadar bahwa perjanjian itu menyelamatkan nyawa ibunya. Sunny tidak bisa berbuat apa pun selain menurut. Dia mengemasi be
“Ada apa? Mengapa kau kemari?” teriak Sunny, dia memegang erat batang kelapa sebab Sunny hampir terjatuh. Tangisan Rury merusak perhatiannya pada kelapa-kelapa itu. “Dan—mengapa kau menangis?” “Mama tidak sadar, Kak. Aku—aku menemukannya tergeletak di lantai. Aku sudah membangunkannya tapi dia ti







