LOGINKabar itu datang tiba-tiba, saat sarapan masih berlangsung hangat beberapa hari setelah lamaran itu. "Kita akan berlibur," ujar Ryuse santai, menyesap kopinya seolah baru saja mengumumkan hal biasa. Marvin nyaris tersedak roti panggangnya. "Liburan? Kak Ryuse yang bicara?" "Kenapa? Ada yang aneh?" "Kak Ryuse tidak pernah libur," sahut Gordon, menatap curiga seolah sedang mencari jebakan tersembunyi di balik kalimat itu. "Terakhir kali kau bilang mau istirahat, itu karena kau di rumah sakit." Ryuse mengabaikan sindiran itu, matanya beralih ke arah Sunny yang duduk di sampingnya, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kupikir kita semua layak mendapatkan sedikit waktu untuk bernapas. Setelah semua yang terjadi." Rury langsung melonjak bersemangat. "Ke mana? Ke mana kita akan pergi?" "Pulau Serena," jawab Ryuse. "Aku punya vila kecil di sana. Airnya jernih, pantainya sepi. Tidak ada yang akan mengganggu kita di sana." Sunny menatapnya, hatinya menghangat mendengar rencana itu.
Sunny masih terdiam, jantungnya berdebar begitu keras hingga dia bisa merasakan denyutnya sendiri di telinga. Kata-kata Ryuse masih menggantung di udara kamar yang hangat oleh cahaya pagi, dan untuk beberapa detik, dia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa tahu harus berkata apa."Ryuse," akhirnya dia bersuara, suaranya bergetar antara haru dan keraguan yang masih tersisa. "Kau yakin ini bukan karena rasa bersalah? Bukan karena semalam?""Aku sudah bilang," Ryuse menggenggam kedua tangan Sunny lebih erat, matanya tidak goyah sedikit pun. "Aku sudah memikirkan ini jauh sebelum semalam terjadi. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."Sunny menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertaut, mencoba mencerna semuanya—perjalanan panjang yang membawanya sampai ke titik ini, dari gadis desa yang hampir kehilangan segalanya, menjadi seseorang yang kini ditawari kehidupan yang dulu tidak pernah berani dia bayangkan."Aku takut," bisiknya jujur. "Bukan takut pad
Ryuse terbangun perlahan, matanya masih setengah terpejam saat merasakan pergerakan di sampingnya. Begitu kesadarannya kembali penuh, dia melihat Sunny sudah terduduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, tubuhnya dibalut rapat oleh selimut putih yang dia dekap erat-erat ke dadanya."Kau sudah bangun?"Suara itu membuat Sunny tersentak. Dia menoleh sekilas, wajahnya merah padam hingga ke telinga, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Ryuse yang kini ikut bangkit, bersandar pada satu siku."Aku... aku hanya—" Sunny tergagap, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tanpa menunggu lebih lama, dia buru-buru meraih bajunya yang tergeletak berserakan di lantai kamar, mendekapnya ke dada, lalu bangkit dan berlari kecil menuju kamar mandi, pintu tertutup rapat di belakangnya dengan bunyi klik pelan.Ryuse hanya bisa menatap kepergian itu dengan senyum tipis yang perlahan muncul di wajahnya—geli sekaligus gemas melihat kepanikan Sunny yang begitu jujur, begitu polos, jauh dari kesan
Sunny masih terdiam, wajahnya merah padam, bibirnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar setelah godaan Ryuse tadi.Ryuse menatapnya lama, sorot matanya perlahan berubah—dari nada jenaka yang tadi dia bawa, menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih intens. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Sunny dengan lembut, ibu jarinya mengusap perlahan di bawah mata gadis itu, menghapus jejak air mata yang sempat jatuh sebelumnya."Sansan," bisiknya, suaranya serak."Ryuse, aku—"Kata-kata itu tidak pernah selesai. Ryuse sudah lebih dulu menunduk, bibirnya menyentuh bibir Sunny dalam ciuman yang lembut namun dalam, tanpa keraguan seperti yang biasa dia tunjukkan. Tangannya yang tadi memegang kain untuk mengobati luka kini terlupakan sepenuhnya, jatuh begitu saja ke lantai kamar.Sunny terkejut, tubuhnya membeku sesaat. Namun dia tidak mendorong Ryuse menjauh. Sebaliknya, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan itu, matanya perlahan terpejam, jemarinya yang gem
Mobil melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat satu demi satu di kaca jendela, memantulkan cahaya kuning pucat pada wajah Ryuse yang masih terdiam di kursi kemudi. Di kursi belakang, Rury sudah tertidur dalam pelukan Sunny, napasnya teratur setelah lelah menangis sepanjang malam. Sunny sendiri menatap keluar jendela, pikirannya masih dipenuhi bayangan Ryuse yang berjalan tegak meninggalkan halaman Luigi, dan kata-kata terakhir yang diucapkannya pada pria yang pernah menyelamatkan hidupnya.Tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Hanya suara mesin mobil yang berdengung pelan, dan sesekali erangan tertahan dari Ryuse setiap kali dia menggerakkan lengannya yang memar untuk membelokkan kemudi.Rumah Ryuse menyambut mereka dengan cahaya lampu yang masih menyala di setiap jendela, seolah seluruh isi rumah ikut menahan napas menunggu kepulangan mereka. Begitu mobil berhenti di halaman, pintu depan langsung terbuka lebar—Gordon berlari keluar leb
Pengawal itu bergerak lebih dulu, tubuhnya besar dan terlatih, kepalan tangannya melesat cepat ke arah wajah Ryuse dengan kekuatan yang jelas sudah diasah bertahun-tahun. Namun Ryuse sudah lebih dulu membaca gerakan itu—tubuhnya miring tipis, membiarkan pukulan itu lewat hanya beberapa senti dari pipinya, sebelum tangannya sendiri bergerak cepat, menghantam rusuk lawan dengan siku yang keras dan presisi.Pengawal itu terhuyung, namun cepat memulihkan keseimbangan, membalas dengan tendangan rendah yang mengincar lutut Ryuse. Ryuse melompat mundur, menghindari serangan itu dengan jarak yang nyaris sempurna, lalu memanfaatkan momentum lompatannya untuk melancarkan tendangan balik yang mengenai dada lawan telak.Suara benturan keras menggema di halaman yang hening, hanya disaksikan oleh cahaya lampu taman yang berkelap-kelip tenang, seolah tidak peduli dengan pertarungan yang sedang berlangsung di bawahnya.Pengawal itu jatuh terduduk, napasnya memburu, namun dengan geram dia kembali bang
Bibi Joyce mati! Bibi Joyce mati! Kata-kata itu bergaung dalam benak Sunny. Selanjutnya mungkin dirinya akan menyusul bibi Joyce. Bibi Joyce terlentang di lantai, tidak ada luka yang berarti, hanya ada bekas jerat di leher bibi Joyce. Rambut ikal gonjesnya terlihat berantakan, bibir membarany
Ryuse menoleh dengan sorot keterkejutan. Dia tidak menduga Sunny akan meminta hal rumit seperti ini.Sunny berlari menghampiri Ryuse dan dia berujar, “tolong aku, tuan. Aku tidak mau di sini bersamanya. Aku harus pulang ke tempat ibuku.”Ryuse menatap mata coklat Sunny lamat-lamat. Seakan mata itu
“Ma-mati?” Sunny akhirnya berbicara setelah susah payah mendapatkan suaranya yang hampir tenggelam oleh kengerian. Marco hanya memberikan senyum simpul, sekejap berubah menjadi senyum manis nan mengerikan. “Benar— mati! Maka mintalah wanita ini untuk melunasinya segera,” sahut Marco.Sunny menole
Sunny menyesal telah membuat janji gila tak masuk akal seperti itu pada bibi Joyce. Bila pada akhirnya itu akan memisahkan dia dengan orang terkasihnya. Namun, Sunny juga cukup sadar bahwa perjanjian itu menyelamatkan nyawa ibunya. Sunny tidak bisa berbuat apa pun selain menurut. Dia mengemasi be







