Chapter: 55. Jatuh cinta bikin orang terlihat bodoh!Kabar itu datang tiba-tiba, saat sarapan masih berlangsung hangat beberapa hari setelah lamaran itu. "Kita akan berlibur," ujar Ryuse santai, menyesap kopinya seolah baru saja mengumumkan hal biasa. Marvin nyaris tersedak roti panggangnya. "Liburan? Kak Ryuse yang bicara?" "Kenapa? Ada yang aneh?" "Kak Ryuse tidak pernah libur," sahut Gordon, menatap curiga seolah sedang mencari jebakan tersembunyi di balik kalimat itu. "Terakhir kali kau bilang mau istirahat, itu karena kau di rumah sakit." Ryuse mengabaikan sindiran itu, matanya beralih ke arah Sunny yang duduk di sampingnya, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kupikir kita semua layak mendapatkan sedikit waktu untuk bernapas. Setelah semua yang terjadi." Rury langsung melonjak bersemangat. "Ke mana? Ke mana kita akan pergi?" "Pulau Serena," jawab Ryuse. "Aku punya vila kecil di sana. Airnya jernih, pantainya sepi. Tidak ada yang akan mengganggu kita di sana." Sunny menatapnya, hatinya menghangat mendengar rencana itu.
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 54. Sunny bilang yaSunny masih terdiam, jantungnya berdebar begitu keras hingga dia bisa merasakan denyutnya sendiri di telinga. Kata-kata Ryuse masih menggantung di udara kamar yang hangat oleh cahaya pagi, dan untuk beberapa detik, dia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa tahu harus berkata apa."Ryuse," akhirnya dia bersuara, suaranya bergetar antara haru dan keraguan yang masih tersisa. "Kau yakin ini bukan karena rasa bersalah? Bukan karena semalam?""Aku sudah bilang," Ryuse menggenggam kedua tangan Sunny lebih erat, matanya tidak goyah sedikit pun. "Aku sudah memikirkan ini jauh sebelum semalam terjadi. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."Sunny menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertaut, mencoba mencerna semuanya—perjalanan panjang yang membawanya sampai ke titik ini, dari gadis desa yang hampir kehilangan segalanya, menjadi seseorang yang kini ditawari kehidupan yang dulu tidak pernah berani dia bayangkan."Aku takut," bisiknya jujur. "Bukan takut pad
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 53. ”Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu”Ryuse terbangun perlahan, matanya masih setengah terpejam saat merasakan pergerakan di sampingnya. Begitu kesadarannya kembali penuh, dia melihat Sunny sudah terduduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, tubuhnya dibalut rapat oleh selimut putih yang dia dekap erat-erat ke dadanya."Kau sudah bangun?"Suara itu membuat Sunny tersentak. Dia menoleh sekilas, wajahnya merah padam hingga ke telinga, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Ryuse yang kini ikut bangkit, bersandar pada satu siku."Aku... aku hanya—" Sunny tergagap, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Tanpa menunggu lebih lama, dia buru-buru meraih bajunya yang tergeletak berserakan di lantai kamar, mendekapnya ke dada, lalu bangkit dan berlari kecil menuju kamar mandi, pintu tertutup rapat di belakangnya dengan bunyi klik pelan.Ryuse hanya bisa menatap kepergian itu dengan senyum tipis yang perlahan muncul di wajahnya—geli sekaligus gemas melihat kepanikan Sunny yang begitu jujur, begitu polos, jauh dari kesan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 52. Hasrat yang menggebu-gebuSunny masih terdiam, wajahnya merah padam, bibirnya terbuka namun tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar setelah godaan Ryuse tadi.Ryuse menatapnya lama, sorot matanya perlahan berubah—dari nada jenaka yang tadi dia bawa, menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih intens. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Sunny dengan lembut, ibu jarinya mengusap perlahan di bawah mata gadis itu, menghapus jejak air mata yang sempat jatuh sebelumnya."Sansan," bisiknya, suaranya serak."Ryuse, aku—"Kata-kata itu tidak pernah selesai. Ryuse sudah lebih dulu menunduk, bibirnya menyentuh bibir Sunny dalam ciuman yang lembut namun dalam, tanpa keraguan seperti yang biasa dia tunjukkan. Tangannya yang tadi memegang kain untuk mengobati luka kini terlupakan sepenuhnya, jatuh begitu saja ke lantai kamar.Sunny terkejut, tubuhnya membeku sesaat. Namun dia tidak mendorong Ryuse menjauh. Sebaliknya, dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan itu, matanya perlahan terpejam, jemarinya yang gem
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 51. Ciuman adalah obat terbaikMobil melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu jalan berkelebat satu demi satu di kaca jendela, memantulkan cahaya kuning pucat pada wajah Ryuse yang masih terdiam di kursi kemudi. Di kursi belakang, Rury sudah tertidur dalam pelukan Sunny, napasnya teratur setelah lelah menangis sepanjang malam. Sunny sendiri menatap keluar jendela, pikirannya masih dipenuhi bayangan Ryuse yang berjalan tegak meninggalkan halaman Luigi, dan kata-kata terakhir yang diucapkannya pada pria yang pernah menyelamatkan hidupnya.Tidak ada yang berbicara sepanjang perjalanan. Hanya suara mesin mobil yang berdengung pelan, dan sesekali erangan tertahan dari Ryuse setiap kali dia menggerakkan lengannya yang memar untuk membelokkan kemudi.Rumah Ryuse menyambut mereka dengan cahaya lampu yang masih menyala di setiap jendela, seolah seluruh isi rumah ikut menahan napas menunggu kepulangan mereka. Begitu mobil berhenti di halaman, pintu depan langsung terbuka lebar—Gordon berlari keluar leb
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 50. Ryuse vs LuigiPengawal itu bergerak lebih dulu, tubuhnya besar dan terlatih, kepalan tangannya melesat cepat ke arah wajah Ryuse dengan kekuatan yang jelas sudah diasah bertahun-tahun. Namun Ryuse sudah lebih dulu membaca gerakan itu—tubuhnya miring tipis, membiarkan pukulan itu lewat hanya beberapa senti dari pipinya, sebelum tangannya sendiri bergerak cepat, menghantam rusuk lawan dengan siku yang keras dan presisi.Pengawal itu terhuyung, namun cepat memulihkan keseimbangan, membalas dengan tendangan rendah yang mengincar lutut Ryuse. Ryuse melompat mundur, menghindari serangan itu dengan jarak yang nyaris sempurna, lalu memanfaatkan momentum lompatannya untuk melancarkan tendangan balik yang mengenai dada lawan telak.Suara benturan keras menggema di halaman yang hening, hanya disaksikan oleh cahaya lampu taman yang berkelap-kelip tenang, seolah tidak peduli dengan pertarungan yang sedang berlangsung di bawahnya.Pengawal itu jatuh terduduk, napasnya memburu, namun dengan geram dia kembali bang
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 13. Terpesona”Merindukanku, huh?”Sosok itu adalah Kaisar Ryu. Ia tersenyum tipis menatap Vinia yang terkejut dengan kehadirannya. Vinia segera melepaskan rangkulan Kaisar Ryu sesaat setelah mereka menapaki lantai.Tymus tertawa lebar, tebakannya benar. Lalu ia berbicara lantang tanpa ada rasa hormat sedikit pun.”Ryu, aku tahu kau akan datang. Ternyata kau sangat mengkhawatirkan manusia ini,” kekeh Tymus.Kaisar Ryu menyahut Tymus dengan dingin, suaranya terdengar lembut namun setajam belati, ”kau punya urusan denganku, bukan dengannya. Sedikit saja kau melukai dia, aku akan mengurungmu kembali ke dalam kristal penangkap jiwa.””Kulihat, kau sudah berubah. Tidak sedingin dulu. Hanya tatapanmu saja yang masih sama. Memandang r
Terakhir Diperbarui: 2021-10-24
Chapter: 12. Air yang Membara ”Mengapa kau tidak mencegahnya?” tanya Ryu dengan penekanan nada yang sedikit keras. ”Maafkan keteledoran hamba, Yang Mulia. Saat hamba sedang bertarung dengan Tymus, rupanya dia tidak sendirian. Seseorang bersamanya yang membawa Vinia. Lalu ia berpesan, 'jika ingin mendapatkan gadis itu kembali, suruh si Brengsek Ryu yang menemui aku' begitulah yang dia katakan, Kaisar,” Heris menirukan perkataan Tymus, ia sempat ragu-ragu untuk mengatakan 'brengsek', namun kini ia puas. Walau itu adalah ucapan dari Tymus, Heris senang seakan itu adalah kata-katanya sendiri. Hal yang seharusnya ia katakan sedari dulu. Ryu mengernyitkan keningnya dan berpikir. Ia sangat penasaran mengapa Tymus harus membawa Vinia sedangkan Tymus sendiri tidak tahu menahu hubungan Ryu dan Vinia. ”Ada banyak orang yang lebih berarti untuk di s
Terakhir Diperbarui: 2021-08-23
Chapter: 11. Amarah yang Terselubung CemburuSuasana hati Ryu sedang buruk. Bahkan saat para dayang-dayang yang memberinya hormat saat berpapasan di koridor, ia bentak sesuka hati. Ryu memang dingin, namun sikapnya hari ini sangat buruk. Para penghuni istana awan sangat memahami perubahan sikapnya itu. Sepertinya akan ada hujan badai. Seikat Edelweiss itu mampu membuat amarah Ryu meledak.Heris hendak ke pergi istana samudera, ke rumah para siren, bangsa duyung. Pertemuan untuk membahas perdamaian dengan istana awan. Dahulu sang pemimpin Siren, Tymus Dien dikurung Ryu dalam sebuah bola kristal penangkap jiwa. Kenakalan Ryu pada masa itu, membuat seluruh penghuni alam itu resah. Para Siren menuntut Ryu untuk membayar ganti rugi dan tentu saja, Heris yang bertanggung jawab.Heris bertemu dengan Ryu di koridor itu, namun saat Heris memberinya salam, Ryu mengacuhkannya seakan ia transparan. Heris merasa a
Terakhir Diperbarui: 2021-08-21
Chapter: 10. Memoir of Edelweis Vinia segera melepaskan rangkulan Dewa itu. Menampar wajahnya yang bak porselen itu. ”Kurang ajar. Beraninya kau menyentuhku.” Bentak Vinia geram. Lalu pria itu berlutut di depan Vinia melebarkan telapak tangannya, seikat bunga Edelweis kering muncul di genggamannya. Matanya memerah ketika mengingat kembali kenangan bunga itu, butiran bening menetes dari pelupuk matanya, jatuh membasahi Edelweis yang kering itu. Seketika kuntumnya kembali mekar dan segera seperti baru dipetik. ”Kau pernah memberikan bunga ini kepadaku ketika di lembah Bloom Forest. Di antara semua bunga, kau paling menyukai ini. Kau bilang ini melambangkan cinta yang abadi. Aromanya tak pernah pudar seperti cintaku padamu. Kendatipun kau tak mengenali aku, tetapi aku selalu mengenalimu.” Kilas balik ingatan Vinia berputar-putar di benaknya. Kadang ia melihat Padang bunga, sepasang kekasih yang berke
Terakhir Diperbarui: 2021-07-06
Chapter: 9. Segenggam Kisah si Bunga Magnolia Ryu melirik dengan tatapan yang dingin dan sedikit senyum. Tidak terkejut dengan perkataan Vinia. Lalu ia membalas Vinia dengan datar. Seolah itu bukanlah hal yang penting. ”Sepetinya Hara memperlakukanmu dengan baik.” Sindir Ryu, ia mengalihkan pandangannya ke taman. ”Baik katamu? Cih! Harusnya aku tidak mempercayai kata-katamu. Huh!” Vinia mengangkat kepalanya, berjalan meninggalkan Ryu. Pakaian yang ia gunakan terlalu besar, saat Vinia hendak melangkah tanpa sengaja kakinya memijak pakaiannya sendiri yang membuatnya terjungkal ke depan. Malu. Sudah pasti. Ryu yang melihat itu tersenyum sinis. Lalu tiba-tiba berbicara kepada Heris. ”Heris, apakah kau pernah dengar cerita hewan yang ceroboh?” tanya Ryu datar. Heris segera mengiyakan pertanyaan Ryu. ”Ya, aku pernah dengar itu, yang mulia.” balas Heris. ”
Terakhir Diperbarui: 2021-07-01
Chapter: 8. Secangkir Teh, Secangkir Ketenangan”Kau masih hidup?” Tanya Dewi itu kaget.Dulu ia dan Sena pernah berseteru karena sang Kaisar lebih memilih Sena dibandingkan dirinya. Ia masih mengingat jelas bagaimana Ryu memperlakukannya seperti kotoran. Sementara terhadap Sena ia selalu bersikap baik.”Tentu saja aku masih hidup. Maksudmu apa mengatakan itu?” Balas Vinia.Heris segera menarik Dewi Hara menjauh dari Vinia. Kemudian ia berbicara berbisik.”Dia bukan Sena. Hanya seseorang yang mirip saja.” Ujar Heris.Lalu Dewi Hara menyapu pandangannya ke arah Vinia. ”Tapi, itu nyaris sempurna. Seperti kembarannya saja.”Mereka berdua mengangguk dan serampak melirik Vinia. Kemudian Dewi Hara tersenyum saat berjalan mendekati Vinia.”Sepertinya aku salah mengenali orang. Maaf telah membuatmu tidak nyaman. Tapi pak
Terakhir Diperbarui: 2021-06-24
Chapter: Epilog[Jika kau terlalu fokus, maka yang lain tak tampak bagimu. Jika kau terlalu jatuh ke dalam, maka kau akan sulit untuk naik. Jika kau terlalu memaksa mengejar sesuatu, segalanya belum tentu berakhir seperti yang kau inginkan.] Saat aku menulis cerita ini, aku menangis di pojokan karena merasa bersalah telah membuat ending yang menyedihkan seperti ini. Tapi dari awal aku buat cerita ini, memang sudah aku seting endingnya seperti ini. Jangan bully author ya😁 Tolong dimaafkan 😁😍 Memang tragis sih endingnya 😭😭😭😭 Sumpah aku nulisnya sambil mewek. Ga tega sama karakternya. Tapi cerita harus terus berlanjut. Terima kasih banyak buat kalian yang sudah baca Kisah Cinta Naomi. Aku bangga dan bahagia banget ceritaku ada yang baca. Pokoknya terima kasih, dear! Oh ya, kalian bisa baca buku aku yang lainnya. Seperti : KAU MILIKKU, kisah si cewek bar-bar dan superstar yang menderita philophobia Atau kalian suka genre Fanta
Terakhir Diperbarui: 2021-08-07
Chapter: 55. Akhir kisah kita (Fan Yin POV)Dulu aku tidak pernah peduli dengan yang namanya cinta. Wanita hanyalah mainan saja bagiku. Namun, kini semuanya berubah sejak aku bertemu dengan Naomi. Hanya dengan sebuah senyuman polos ia berhasil memikat hatiku. Segalanya kulakukan untuk menarik perhatiannya, tetapi di dalam pandangannya hanya ada Zhou Tian.Kini aku memiliki dirinya seutuhnya setelah melenyapkan Zhou Tian, tetapi aku tidak merasa bahagia. Kupikir jika Zhou Tian mati, Naomi akan membuka hatinya untukku. Namun sekarang ia malah seperti mayat hidup. Setiap harinya ia hanya membisu memandangi langit. Tubuhnya semakin kurus karena tak ingin makan.Dan aku semakin frustrasi melihatnya yang menyedihkan seperti itu. Apa yang aku cari? Apa yang aku kejar? Aku telah dibutakan cinta, tetapi cinta itu sendiri menyiksaku sampai ke tulang. Setiap hari aku membujuknya dan memohon maaf kepadanya. Sedikitpun ia tidak peduli dengan semua yang kulakukan.
Terakhir Diperbarui: 2021-08-07
Chapter: 54. Luka Untuk SemuanyaSepasang tangan terulur dan merangkul pinggangku lalu menarik aku dengan keras. Hingga kami terjungkal ke atas lantai. Dia meringis kesakitan karena aku mendarat di atas tubuhnya. Aku begitu marah telah diselamatkannya. Saat ini aku hanya ingin menemui Zhou Tian.”Kau sudah gila! Untuk apa kau berdiri di sana? Apa yang ada dalam pikiranmu, hah?!” Sergah Fan Yin.Dalam sekejap tatapan mata serta raut wajahnya berubah lembut, ”Nao, kumohon jangan lakukan lagi hal bodoh seperti itu. Aku tidak mau kehilanganmu, Nao.”Aku menatap lurus ke dalam matanya lalu tanganku reflek menampar wajahnya. Sangat keras sampi meninggalkan bekas merah di sana. Ia tertegun dengan sikapku. Aku tak ingin berbicara. Semua suaraku seakan pergi dengan Zhou Tian. Diam.Kemudian aku bangkit berdiri dan duduk di kursi yang mengarah langsung ke luar jendela. Menatap kosong ke luar sana. Menangis
Terakhir Diperbarui: 2021-08-07
Chapter: 53. Air Mata DarahSaat aku membuka mata, cahaya-cahaya putih membutakan mataku beberapa saat. Di sekeliling, tembok-tembok putih dengan sedikit warna keemasan di garis tepiannya mengelilingi aku. Tempat ini sangat asing bagiku. Aku tidak tahu ada di mana. Mengapa aku bisa ada di sini? Kupegangi kepalaku dan mengacak-acak rambutku. Tetiba aku teringat dengan Zhou Tian. Pikiranku kembali kalut. Aku mulai panik. Pintu besar berwarna coklat itu jadi sasaran kemarahanku. Kugedor-gedor pintunya bahkan aku menendang pintu itu hingga kakiku sakit. Tak hentinya aku berusaha membuka pintu. Kursi kayu yang ada di depan meja rias, aku ambil dan melemparkannya ke pintu, namun seinci pun tidak bergerak. Suara teriakanku bergema di ruangan ini. Berkali-kali aku minta tolong tak satupun suara dari luar sana yang terdengar. Sunyi. Sedari tadi hanya suaraku saja yang memenuhi ruangan ini. Zhou Tian, bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sangat ingin bertemu denganmu. Kau harus
Terakhir Diperbarui: 2021-08-04
Chapter: 52. Pilar istana yang runtuhTuxedo putih yang di kenakan Zhou Tian berubah menjadi merah gelap dan berbau anyir. Darah segar keluar dari lubang bekas timah panas itu, terus mengalir hingga mengenai gaunku. Aku tidak henti-hentinya menekan lubang kecil itu. Suara tangisanku meraung-raung, pikiranku kalut. Rasa takut kehilangan akan dirinya berhasil membuatku seperti orang gila. Walaupun pandanganku mulai gelap akibat tidak kuat melihat darah, aku tetap bertahan di sisinya. Memukul-mukul pipinya agar tetap tersadar. ”Tian-tian, jangan tinggalkan aku. Kau harus bertahan! Kau tidak boleh mati. Aku akan membunuhmu jika kau lakukan itu!” isakan tangisanku semakin menjadi. Duniaku sudah runtuh. Pilar istanaku sudah roboh. Tetapi pria ini masih bisa tersenyum di saat sedang sekarat. Dia bukan kucing yang memiliki sembilan nyawa. Apa ia pasrah dengan semua ini? Aku benci melihatnya tersenyum seperti itu. Aku merasa itu seakan yang terakhir kulihat.
Terakhir Diperbarui: 2021-08-01
Chapter: 51. Di Ujung TandukSeketika tubuhku gemetaran dan kalut. Aku takut hal buruk terjadi dengan Zhou Tian. Suaraku memekik berusaha meredakan ketegangan di antara mereka. Segera aku berdiri di depan Zhou Tian untuk menghalangi arah revolver Fan Yin.”Menyingkirlah, Nao! Aku tidak mau melukaimu. Aku hanya perlu menyingkirkan penghalang jalanku saja.” Fan Yin berusaha keras menguatkan genggamannya pada batang revolver itu. Bahkan revolver itu bergetar mengikuti getaran tangan Fan Yin.”Biar aku saja yang menggantikanya. Lakukanlah, aku harap itu bisa meredakan amarahmu. Tembak saja aku!” Aku berteriak kencang sampai-sampai tenggorokanku terasa sakit.Walaupun saat ini aku ketakutan dengan segala kengerian yang mungkin terjadi padaku, tetapi seinci pun kakiku tak bergeser. Kesunyian seketika melanda dikala matahari semakin menghilang. Gelap. Hanya ada cahaya dari lampu-lampu di garis batas pelabuhan. Gemuruh ombak yang men
Terakhir Diperbarui: 2021-07-30
Chapter: 47. Aku menyukaimu, Hanna ”Bukankah kau merindukan ibumu? Dia sudah datang, bahkan mengakui kesalahannya. Bagaimanapun, dia masih ibumu. Hubungan darah tidak bisa diputus. Saat aku berbicara dengannya tadi, aku melihat ketulusan dalam sorot matanya. Dia juga sedih, tapi dia menyembunyikan perasaannya dalam senyuman yang dia berikan padaku tadi. Cobalah untuk berdamai dengan masa lalumu, Will. Aku tahu, aku tidak berhak mengatakan ini, tapi aku juga tahu— kau juga sama tersiksanya dengan ibumu. Lantas, mengapa kau harus mempersulit diri?”Will melirik Hanna, sorot matanya tampak berkaca-kaca. ”Aku ... aku tidak tahu harus bagaimana. Dia tiba-tiba datang di saat aku sudah melupakannya, mengapa dia harus kembali? Jika ingin pergi, seharusnya jangan datang lagi.”Tangisan Will pecah. Tentang Rose adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup Will. Jika saja Rose kembali saat Will masih kecil, mungkin saja ia akan memaafkan segala perbuatan Rose. ”Aku mengerti perasaanmu, tapi dia tetap ibumu. Aku yakin dia juga
Terakhir Diperbarui: 2023-09-26
Chapter: 46. Seseorang dari masa lalu ”Kim, aku–” Will terdiam. ”Tubuhku masih terasa sakit. Aku ingin istirahat. Bisakah …””Huh! Aku tahu kau cuma ingin menghindar. Tetapi, aku tidak akan memaksa. Lagipula aku juga ada urusan. Istirahatlah.””Terima kasih, Kim.”Kimberley pergi dengan perasaaan hampir marah. Ia menutup pintu dengan suara yang sedikit keras. Sedangkan Will Greyson, ia menatap pintu itu. Kali ini, ia tidak merasakan apa-apa, dan itu mengganggu pikirannya. Kimberley adalah gadis yang ia sukai sejak lama, dan perasaan itu seolah tidak bersisa sedikit pun di dalam hatinya.Lagi-lagi ia memikirkan Hanna dan Will menjadi kesal ketika ia membayangkan Hanna dan George bersama. Will cukup sadar bahwa dirinya yang sekarang tidak lagi dirinya yang dulu.'Aku tidak menyukai Hanna.'Meskipun Will sudah menyangkal itu, tetap saja ia masih kesal.Hanna tiba di rumah sakit terlambat. Dia merasa bersalah telah membuat anak-anak itu menunggunya. Namun, ketika ia mendapati George menunggunya di depan, Hanna menjadi lega.”
Terakhir Diperbarui: 2023-09-26
Chapter: 45. Aku atau dia?”Dasar pria aneh.” Hanna bergegas menutup pintu. ”Sikapnya itu semakin menjadi-jadi. Ah, sudahlah. Aku harus bergegas pergi, jika tidak nanti tuan acara akan marah.”Saat Hanna kembali ke ruang makan, tidak ada ibunya di sana. Hanna mencari Nyonya Mery di setiap ruangan sembari memakan anggur yang baru saja dia comot dari meja makan.”Ibu! Ibu di mana?””Di sini! Aku di halaman belakang!” sahut Nyonya Mery dengan suara keras.Segera Hanna beranjak ke halaman belakang. Di sana, Nyonya Mery tengah menggunting daun-daun bunga yang kering. Juga merapikan beberapa tanamanan anggrek dan mawar.”Lihatlah anak nakal ini. Bunga-bunga ini seharusnya kau perhatikan. Aduh! Anggrek yang malang. Tuanmu sakit dan tid
Terakhir Diperbarui: 2022-01-24
Chapter: 44. Malu-malu kucingSejak kecelakaan, Will tidak serewel dulu. Kini ia lebih banyak diam dan sangat penurut. Mungkin efek kepalanya yang terbentur keras. Baguslah. Hanna mendorong kursi roda ke luar ruangan. Mereka menuju lobby untuk menemui Ryan. Ketika mereka tiba di sana, Ryan dengan sigap memapah Will naik ke mobil. ”Aku senang kau sudah lebih baik sekarang,” kata Ryan penuh antusias. Will melirik sekilas ke arah Ryan dan menyahut, ”hmm.” Di dalam mobil yang dikemudikan Ryan, Will diam seribu bahasa memandang jalanan melalui jendela mobil. Untuk mencairkan suasana, Ryan menyalahkan radio. Berita tentang kepulangan Will terdengar dari radio. Seketika Will Greyson melirik tajam Ryan melalui kaca kecil yang menggantung di depan. Mata mereka bertemu. Walau hanya melalui tatapan, tetapi Ryan paham dengan maksud Will. Ryan segera mematikan benda kecil berisik i
Terakhir Diperbarui: 2021-12-17
Chapter: 43. Sang pemilik paket ternyata...!”Tidak ada namanya. Aneh. Belakangan ini banyak sekali paket untuk Will tapi tak ada pengirimannya. Hmm, bisa saja itu dari penggemarnya,” gumam Hanna sembari meletakkan buket bunga di atas meja. Pintu kamar tetiba diketuk dari luar. Seorang pria tampan masuk sambil membawa buket bunga. Ia mematung di ambang pintu saat tatapannya bertemu dengan mata Hanna. Ada rindu yang terpendam dari setiap cahaya yang terpancar dari matanya. ”George?” ”Hai, emm… aku ingin menjenguk Will. Tadi aku melihat berita Will di televisi. Bagaimana kondisinya sekarang?” George melangkah lebih dekat dengan Hanna hingga jarak yang tersisa hanya satu meter saja. ”Seperti yang kau lihat dia masih terbaring. Belum sadar.” Mereka berdua terlihat canggung. Tentu saja. Siapa pun pas
Terakhir Diperbarui: 2021-11-19
Chapter: 42. Buket bunga tanpa nama”Ia masih belum sadar. Saat ini Will masih mengalami trauma di bagian kepalanya. Dan kemungkinan ia tidak akan bangun beberapa hari ini.” ”Apa? Will—” ujar Hanna lirih, ”tapi, Will bisa sehat kembali kan, dok?” ”ya, semoga saja ia bisa melewati masa kritisnya. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ryan tiba-tiba berbicara, ”aku akan mengurus administrasinya, Hanna kau jenguklah Will.” Hanna mengangguk sambil berkata, ”hmm, terima kasih Ryan.” Tiga puluh menit kemudian, beberapa perawat keluar dari ruang operasi sambil mendorong ranjang tempat Will terbaring. Pria itu belum sadar, ia masih terpejam. Beberapa selang terpasang di hidung dan mulutnya. Juga di lehernya dipasang alat penyangga. Kimberley tersedu-sedu sambil menyerukan nama Will Greyson.
Terakhir Diperbarui: 2021-10-30