Masuk“Menikahlah denganku.” Tubuh Alana membeku ketika mendengarnya. Satu kalimat itu membuat hidup wanita ini berubah drastis dalam semalam. Siapa sangka? Kedatangannya ke Hotel Grand Internasional untuk menemukan sang adik, malah membuatnya bertemu dengan Axel Pradipta—Konglomerat ternama yang sedang kehilangan sang pengantin, beberapa saat sebelum acara pernikahan dimulai. Alana jelas terkejut mendengar kalimat itu keluar dari Axel. Mereka tak saling kenal. Axel sengaja menawarkan hal tersebut, demi menyelamatkan nama baik keluarganya, dan juga untuk mempertahankan posisinya sebagai pewaris perusahaan. Keduanya mengajukan aturan main, yang harus disepakati. Cukup sederhana. Mereka tidak boleh saling mencintai, dan jatuh cinta satu sama lain. Tidak ada yang boleh ikut campur untuk urusan pribadi, dan bahkan pernikahan ini harus diakhiri setelah satu tahun. Hanya saja, takdir berkata lain.
Lihat lebih banyak"Alya! Berhenti!"
Suara Alana memecahkan keheningan di lobi tengah Hotel Grand Internasional. Nafasnya masih terengah setelah berlari sekuat tenaga mengejar sang adik. Bahkan sepatu flat putih yang dikenakannya pun beberapa kali hampir terlepas karena langkahnya yang tergesa-gesa. Alana memperhatikan sekitar. Terlihat orang-orang berseliweran dengan pakaian mewah. Para tamu mengenakan gaun mahal dan jas yang tampak begitu berkelas. Dibandingkan dengan penampilan Alana yang hanya mengenakan blus putih dan rok kain, jelas jauh sekali levelnya. Tatapan mereka pun sudah mewakili keadaan, bahwa Alana, salah tempat. Sayangnya, Alana tak peduli. Yang dia pikirkan hanya satu. Alya, sang adik. “Alya!’ teriaknya kembali. Seorang pegawai hotel menatap Alana dan hendak menghentikannya, namun Alana terus berlari melewatinya. “Maaf! Aku harus mencari seseorang!” jelasnya singkat. Sejak pagi, adiknya menghilang tanpa kabar. Pesan terakhir yang dikirimkan Alya terus terngiang di kepalanya. [Kak... aku sudah melakukan kesalahan. Maafkan aku. Jangan mencariku.] Bagaimana mungkin Alana mengabaikan hal itu dan tidak mencarinya? Justru karena pesan itulah Alana bergegas untuk mencari. Mereka hanya tinggal berdua di dunia ini, setelah Ayahnya meninggal dua tahun lalu. Jika Alya menghilang, Alana benar-benar sendirian. Apa pun yang terjadi, Alana jelas tidak akan membiarkan adiknya menghadapi masalah itu sendiri. Alana kini menuju ke resepsionis, dia jelas tak ingin mempersulit diri dengan masuk begitu saja tanpa permisi. "Maaf." Napasnya masih terengah. "Apa tadi melihat gadis ini?" Alana buru-buru membuka galeri ponselnya lalu memperlihatkan foto Alya. Resepsionis memperhatikan beberapa detik. "Hmm..." Seolah berusaha mengingat. "Sepertinya..." Wanita itu memandang ke arah lift, kemudian kembali melihat foto di layar ponsel. "Kalau tidak salah, tadi saya melihat gadis ini." Mata Alana langsung berbinar. "Benarkah?" "Iya. Dia tadi naik lift menuju lantai tiga." "Lantai tiga?" Alana berusaha memastikan kembali. Resepsionis mengangguk. “Iya, di sana sedang ada acara tertutup, dan gadis dalam foto itu masuk sebagai tamu undangan." Jantung Alana berdegup semakin cepat. Ini semua belum terlambat! Alya benar-benar ada di tempat ini! Batin Alana sedikit merasa lega. "Baiklah. Terima kasih!" Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Alana langsung berlari menuju lift. "Tunggu!" Suara resepsionis memanggil dari belakang, berusaha untuk mengejar Alana yang terlihat terburu-buru. "Disana tidak boleh sembarangan ma—suk" Namun pintu lift sudah lebih dulu tertutup, dan Alana tetap pergi, tanpa mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh resepsionis ini. *** Ding. Lift berhenti. Pintu perlahan terbuka. Begitu keluar, Alana langsung dibuat terpaku. Lorong panjang terbentang di hadapannya. Karpet merah membelah ruangan. Rangkaian bunga mawar putih memenuhi sisi kanan dan kiri. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit. Di kejauhan terdengar alunan musik klasik. Alana menelan ludah, merasa gugup dengan pemandangan yang ada di hadapannya. "Acara apa ini?" gumamnya pelan. Beberapa tamu menoleh ke arahnya. Tatapan mereka seperti sedang bertanya. "Siapa gadis ini?" "Kenapa dia bisa masuk ke hotel semewah ini?" Alana refleks merapikan blusnya sendiri. Untuk pertama kalinya Alana benar-benar sadar betapa jauhnya dunianya dengan dunia orang-orang di hotel ini. Blus putih yang ia kenakan kini tampak begitu lusuh di tengah gaun-gaun bermerek yang berkilau. Sejenak ia ingin berbalik pulang. Namun bayangan wajah Alya kembali muncul di kepalanya. Rasa canggung tidak boleh mengalahkan tujuan awalnya. "Alya..." bisiknya. "Aku harus menemukan dia." Alana berusaha menguatkan diri. Perlahan, dengan penuh keyakinan, Alana pun mulai berjalan menyusuri lorong. Hanya saja, semakin jauh melangkah, suasana justru semakin aneh baginya. Beberapa pria berjas hitam berdiri di berbagai sudut. Masing-masing memakai earphone komunikasi. Raut wajah mereka terlihat tegang, tidak seperti pesta pernikahan pada umumnya. Alana memperlambat langkah. Tanpa sengaja ia melewati dua orang petugas keamanan yang sedang berbicara pelan. "Belum ketemu?" “Belum.” "Di ruang make up sudah dicek?" "Sudah. Tapi dia tidak ada." Mendengar perbincangan ini Alana jadi penasaran. Apa yang sedang terjadi? Tak lama seorang petugas berjas hitam lainnya berlari menghampiri kedua orang petugas keamanan ini dengan buru-buru. Wajahnya terlihat begitu frustasi. "Pengantin wanitanya menghilang!” bisiknya pelan. "Benar-benar hilang?" "Iya! Tidak ada di mana-mana." "Gawat! Lima belas menit lagi acara segera dimulai.” “Kalau sampai media tahu..." "Kita habis." Alana spontan menghentikan langkah. Pengantin? Menghilang? Ia mengalihkan pandangan ke arah ballroom. Di depan pintu masuk berdiri sebuah papan besar bertuliskan nama kedua mempelai. AXEL PRADIPTA & VANESSA WIJAYA Mata Alana sedikit membesar. Nama keluarga Pradipta tentu bukan nama asing. Hampir setiap minggu berita tentang keluarga konglomerat itu muncul di televisi. Namun yang menjadi pertanyaan di benaknya, kenapa pengantinnya bisa menghilang? Belum sempat rasa penasarannya terjawab, sebuah bayangan sekilas terlihat berlari melewati ujung lorong di sisi kanan ballroom, menjauh dari keramaian. Sosok wanita dengan tubuh ramping berambut kecoklatan lewat begitu saja tanpa menoleh kebelakang. Alana membelalakkan mata. "Alya!" Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengejar. Tapi tiba-tiba saja, saat membelok di persimpangan lorong... Bruk! Tubuhnya menghantam seseorang. "Ah!" Keseimbangannya hilang. Alana memejamkan mata, bersiap jatuh. Sebelum kepalanya membentur lantai marmer, sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya, membuat tubuh Alana tertahan. Perlahan, Alana membuka mata. Seorang pria tinggi berdiri sangat dekat dengannya. Jas abu-abu gelap yang dikenakan pria ini tampak sempurna. Rahangnya terlihat begitu tegas. Tatapan matanya pun nampak dingin, membuat Alana sulit bernafas. Untuk beberapa detik, suasana seolah terasa hening. Tak ada satu orang pun yang bicara. Jujur saja, pria yang terlihat begitu maskulin di hadapannya itu, persis seperti sosok yang Alana idam-idamkan selama ini. Merasa canggung dengan keadaan sekarang, Alana yang mulai tersadar, kini buru-buru melepaskan diri. “A-anu… Maaf.” Wanita ini langsung bangkit, memperbaiki posisinya kembali. Tiba-tiba saja beberapa pria berjas hitam berlari tergesa menghampiri pria di hadapannya. "Tuan Axel! Tuan Besar meminta Anda segera ke ballroom." "Media juga sudah mulai curiga, Tuan.” "Beberapa tamu undangan juga terus bertanya." Hanya saja ada yang aneh dengan sikap para pria berjas hitam ini. Mereka semua tidak ada yang berani menatap pria itu terlalu lama. Semuanya berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Alana kembali terdiam. Dia mulai berpikir. Tuan Axel? Tamu undangan? Alana berusaha mencerna beberapa kata yang sempat terdengar di telinganya. Dia pun akhirnya menyadari. Dia? Axel Pradipta? Glek! Alana menelan ludah. Bola matanya membulat sempurna. Refleks, Alana mundur satu langkah ketika menyadari bahwa pria yang baru saja menabraknya adalah pemilik nama yang terpampang di depan ballroom. Axel Pradipta. Alana kembali memperhatikan sekitar. Semua orang yang menghampiri pria ini terlihat begitu panik menunggu jawaban. Tetapi pria tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suara untuk menanggapi mereka. Alana kini kembali melemparkan pandangan ke arah pria yang menabraknya. Glek! Lagi-lagi Alana menelan ludah, merasa salah tingkah ketika pria di hadapannya itu masih terpaku menatapnya tajam. Sungguh membuat bulu kuduk Alana meremang. Merasa keberadaannya saat ini tidak tepat, Alana pun berusaha menarik diri untuk menghindari keadaan yang terasa semakin canggung. “Maaf. Permisi,” ucapnya penuh kehati-hatian, hendak kabur. Belum sempat kedua kaki Alana melangkah pergi menjauh, Axel justru melangkah mendekat. Alana spontan menghentikan langkah. Satu langkah Axel maju, satu langkah pula Alana mundur. Langkah demi langkah membuat keduanya semakin dekat. Alana pun kini semakin terhimpit, hingga punggungnya menempel ke dinding. Dia tak lagi punya ruang untuk menghindar. Pria itu menatap wajah Alana beberapa saat. Tatapannya masih saja terasa begitu tajam. Seolah sedang menimbang sesuatu. Lalu tak lama, tanpa mengalihkan pandangan, Axel akhirnya membuka suara. "Menikahlah denganku." Bersambung...“Aku mau mencarinya sekarang juga,” ucap Alana yakin.Axel hendak mencegah, tapi ternyata wanita itu sudah pergi begitu saja, sambil berteriak-teriak memanggil nama adiknya.Axel pun akhirnya membiarkannya. Dia juga ikut mencari, dan menyuruh para pengawalnya untuk tetap mengawasi Alana.Hingga tak terasa, hari semakin gelap. Matahari sudah tenggelam. Dan malam kini semakin larut. Namun Alana masih saja berjalan ke sana kemari di dalam stasiun ini demi mencari adiknya.Axel memperhatikan dari jauh bagaimana Alana tak patah semangat untuk mencari adiknya. Dia hanya bisa menghela nafas, kemudian sengaja mendekatinya.“Sebaiknya kita sudahi hari ini,” ucapnya sembari menghampiri Alana.Alana hanya menoleh sebentar. Lalu tak memperdulikan kembali ucapan pria ini. Dia masih saja berteriak memanggil nama adiknya sambil berjalan menyusuri stasiun tersebut.Axel kini kembali mendekati. Dia langsung meraih tangan wanita ini, dan menegaskan kembali. “Kita pulang sekarang!” sentaknya.Alana lang
Mobil yang membawa Axel dan Alana akhirnya berhenti di depan stasiun. Begitu mobil berhenti sempurna, Alana langsung membuka pintu. Bahkan sebelum pengawal sempat membukakan pintu untuknya, wanita itu sudah turun dan berlari kecil menuju pintu masuk stasiun.“Alana!” panggil Axel.Pria ini benar-benar dibuat panik dengan sikap Alana yang selalu bertindak tanpa berpikir matang. Membuatnya semakin khawatir.Wanita itu berhenti sebentar dan menoleh menatap Axel.“Ayo! Kita harus cepat!”Axel menghela napas. Dia kemudian turun dengan sempurna dari mobil, dan segera menyusul Alana. Beberapa pengawal untungnya sudah bersiap ketika Alana berlari. Mereka berusaha melindungi Alana dan Axel di tengah keramaian orang yang ada di dalam stasiun ini.Alana berhenti berlari. Dia berdiri di tengah keramaian sambil menoleh ke berbagai arah.Stasiun ini nyatanya memang terlihat cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa koper dan tas. Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar dari pengeras
“Bisa jadi begitu,” jawab pria ini.Axel menatap layar dengan tatapan tajam. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sebenarnya siapa yang melakukan hal ini?” Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi benak Axel.“Kemungkinan besar, nomor itu sengaja di daftar atas nama Ardi Wijaya. Tapi jika Tuan Ardi benar melakukan kejahatan, dia tidak mungkin memakai namanya sendiri bukan?” Ucapan pria ini barusan membuat Alana dan Axel tersadar.“Benar juga. Ardi Wijaya tidak mungkin segegabah itu,” pikir Axel meyakinkan diri.“Tapi kenapa?” tanya Alana yang masih kebingungan.“Entahlah. Mungkin seseorang sengaja menjebaknya,” duga Axel kembali.Alana kembali berpikir. “Berarti… Ardi Wijaya, bisa saja tidak tahu apa-apa?”Axel mengangguk tipis. Alana mengerutkan dahi. Sungguh dia tak tahu sebenarnya akhir dari cerita ini.Tak lama Alana kembali teringat dengan adiknya. “Bagaimana dengan nomor Alya?” Alana terlihat tak sabar menantikan jawaban terkait adiknya.Axel kemudian menyerahkan ponsel Alana
Alana akhirnya menyerahkan ponselnya kepada Axel. Mereka berdua lalu sengaja pergi begitu saja, meninggalkan rumah tua tersebut untuk mencari tahu hal lainnya.Dalam mobil, selama dalam perjalanan, keadaan begitu hening. Tak ada satu orang pun yang membuka suara, membuat keadaan kian menegang.Alana yang duduk di samping Axel terlihat penuh pikiran. Bahkan saat ini kepalanya terasa begitu berat, karena banyak hal dan pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.Lalu tiba-tiba saja Alana mengeluarkan suara. “Axel,” panggilnya memecahkan keheningan.Axel yang tadinya fokus dengan tablet serta ponsel Alana yang masih di tangannya, kini menoleh menatap wanita ini, tanpa menjawab.Alana memperhatikan ke arah pria di sampingnya beberapa detik. Kemudian kembali mengajukan pertanyaan.“Menurutmu, apa ini semua bisa terungkap?” Alana berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan ini.Namun Axel hanya menghela nafas. Dia kembali menatap layar tabletnya.“Kita sedang mencari tahu i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan