LOGINPertanyaan Kirana yang meluncur lirih di tengah temaram kamar mendadak membekukan udara di antara mereka. "Lalu... setelah ini bagaimana?"
Sensasi hangat di kulit keduanya masih menyisa, namun hembusan napas kenyataan yang dingin mulai merayap naik. Mengancam akan menghancurkan kebahagiaan terlarang yang baru saja mereka cicipi. Kirana menatap mata jernih Zayn dengan dada bergemuruh tegang. Menantikan jawaban untuk nasib jiwanya yang kini penuh cela.Zayn tidak menunjukkan kKeheningan malam di meja makan kafe itu mendadak terasa berat.Setelah panggilan internasional tanpa nama itu memotong pembicaraan mereka, Zayn meminta izin untuk mengangkatnya sebentar dengan menjauh beberapa langkah. Saat kembali, raut wajahnya tampak berusaha keras bersikap tenang, meski ketegangan kaku di garis rahangnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.Kirana memilih untuk tidak mencecar. Mengingat janji yang baru beberapa menit lalu terucap dari bibirnya, Kirana memegang teguh komitmennya untuk percaya.Zayn mematikan layar ponselnya yang baru saja meredup, lalu menoleh menatap Kirana dengan raut wajah serba salah. Pria itu menghembuskan napas panjang, berusaha mengikis ketegangan di wajahnya."Na... kita pulang yaa.. ke apartemen, mau?" panggil Zayn pelan, nada suaranya terdengar ragu, seolah bersiap jika Kirana akan menolak atau meminta diantarkan kembali ke toko bunga.Kirana menatap mata yang kini tampak cemas itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemuruh di dadan
Suasana hangat di lantai dua Kirana Flower pagi itu menjadi saksi bisu kembalinya keharmonisan dua insan yang sempat diterpa prasangka. Setelah Zayn membersihkan diri dan menikmati sarapan sederhana buatan Kirana, kecanggungan yang sempat membeku di antara mereka menguap tanpa sisa.Sinar matahari pagi yang cerah mengiringi perjalanan mereka saat sedan hitam Zayn membelah jalanan kota menuju kampus Kirana. Di sepanjang perjalanan, Zayn tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Kirana setiap kali kendaraan berhenti di lampu merah. Senyuman tipis tak pernah lepas dari wajah tegas pria itu, menggantikan raut lelah dan tegang yang menghantuinya beberapa hari terakhir."Belajar yang rajin, ya," ucap Zayn lembut seraya mengusap kepala Kirana saat mereka sampai di depan gerbang utama kampus.Kirana mengangguk anggun, mengulas senyum manis merona yang paling dirindukan Zayn. "Hati-hati di jalan, Zayn. Jangan lupa makan siang."Kembali ke rutinitas masing-masing tak membuat benteng kerind
Cahaya keemasan matahari pagi perlahan merayap naik, menembus kabut tipis yang menyelimuti jalanan kota yang masih sepi. Burung-burung gereja berkicau riang di dahan pohon seberang jalan, menyambut pagi yang sejuk.Di lantai dua Kirana Flower, Kirana sudah terbangun sejak fajar mendatangkan terang. Matanya agak sembap dan tenggorokannya terasa kering akibat melewatkan malam dengan isak tangis yang tertahan.Setelah merapikan tempat tidur dan membasuh wajahnya, Kirana melangkah menuju jendela kayu kecil di bagian depan rumahnya.Ia mendorong daun jendela ke luar, berniat menghirup udara pagi yang segar untuk mengurai rasa sesak di dadanya. Begitu pandangannya mengarah ke bawah, langkah dan napas Kirana seketika terhenti.Di seberang jalan, persis di bawah naungan pohon rindang dekat toko bunganya, terparkir sebuah mobil sedan hitam yang sangat ia kenal.Kirana mematung. Matanya menyipit, memperhatikan kendaraan mewah itu. Melalui kaca depan yang diterpa pendar sinar matahari pagi, Kira
Pagi berganti dengan suasana yang serba salah. Di lantai paling atas gedung Nugraha Group, ruang kerja sang Direktur Utama yang biasanya dipenuhi aura ketegasan kini diliputi ketegangan yang pekat.Zayn duduk di balik meja kerjanya yang megah, memandangi tumpukan berkas laporan keuangan yang harus ia tandatangani. Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Fokusnya buyar total. Wajah Kirana saat melangkah pergi tadi malam, tatapan matanya yang dingin, terluka, dan penuh penolakan, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.Zayn mengusap wajahnya kasar, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karirnya, Zayn tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Prasangka Kirana semalam sungguh melukai harga dirinya. Ia merasa marah dan frustrasi karena Kirana menuduhnya secara sembarangan, menudingnya memiliki rahasia dan menyimpan ragu, padahal Zayn berjuang mati-matian di belakang layar justru demi melindunginya.'
Malam setelah berita tentang Valerie Suwandi tersiar di layar kaca, suasana di dalam apartemen Zayn berubah total. Kirana memilih untuk mengurung diri lebih awal di kamar, memejamkan mata rapat-rapat dan pura-pura tertidur lelap saat mendengar langkah kaki Zayn masuk. Pria itu sempat berdiri cukup lama di samping tempat tidur, menatap tubuh Kirana yang membelakanginya dengan hembusan napas berat sebelum akhirnya berbaring di sisinya tanpa mengusik.Keesokan harinya, kecanggungan itu bukannya mencair, melainkan kian mengkristal menjadi dinding es yang lebih tebal.Kirana tetap memilih bungkam. Ia tidak menanyakan reaksi Zayn semalam, apalagi menyinggung isi surat beracun dari Reyhan. Harga dirinya menahan Kirana untuk tidak terlihat murahan atau putus asa dengan meluapkan cemburu buta.Kirana sengaja menyibukkan diri sejak pagi buta, menata ulang susunan bunga di toko, memperpanjang durasi belajar di perpustakaan kampus, dan meminimalkan interaksi dengan Za
Kertas remasan di dalam genggaman Kirana terasa begitu dingin dan meremukkan dada. Nama Reyhan dan bait-bait racun yang tertera di dalamnya seolah terus bergema, merusak seluruh kehangatan yang baru saja ia rasakan.Tetapi, Kirana bukanlah wanita lemah yang mudah memperlihatkan kerapuhannya. Dengan tangan yang bergetar, ia membuka laci meja kerjanya yang paling bawah, menyembunyikan surat dari Reyhan itu di sana, lalu menguncinya rapat-rapat. Kirana bertekad untuk menyimpannya sendiri. Ia tidak ingin terlihat kekanak-kanakan atau mudah terprovokasi oleh gertakan sang mantan suami. Kirana memilih berusaha bersikap biasa saja, berpura-pura seolah tidak ada satu pun hal buruk yang terjadi.Sayangnya, menyembunyikan luka dari pria sejelas dan setajam Zayn bukanlah hal yang mudah.Malam itu, Zayn datang menjemput Kirana seperti biasa. Saat Kirana masuk ke dalam mobil dan menyunggingkan senyum, Zayn langsung menangkap ada sesuatu yang aneh. Binar mata Kirana yang bia







