เข้าสู่ระบบDi bawah bayang-bayang temaram lilin yang menari melintasi langit-langit kamar, sekat terakhir di antara mereka benar-benar musnah. Zayn tidak terburu-buru, tidak pula bertindak seolah-olah ia sedang memuaskan hasratnya sendiri secara egois. Setiap gerakan tubuhnya dikendalikan oleh kelembutan yang terukur, seakan-akan Kirana adalah porselen paling rapuh di muka bumi.
Ketika Zayn perlahan menyatukan tubuh mereka, Kirana memejamkan mata rapat-rapat. Seketika, desah napasnya yang terputus-putus memenuhi keheningan kamar. Ada rasa perih sesaat dari kerapuhan jiwanya yang koyak, namun rasa itu dengan cepat tersapu oleh gelombang kehangatan yang mengalir deras dari tubuh Zayn. Zayn menghentikan pergerakannya sejenak. Pria itu menyangga tubuhnya di atas Kirana, mengusap lembut pelipis Kirana yang basah oleh peluh, lalu menunduk untuk memagut bibir wanita itu dengan ciuman yang dalam dan tenang. "Tatap aku, Na..." bisik Zayn serak. "Jangan pejamkan matamu." Kirana perlahan membuka matanya. Di dalam iris gelap Zayn yang membara, ia tak menemukan sedikit pun tatapan merendahkan atau pemuasan nafsu yang liar. Yang Kirana lihat hanyalah pemujaan murni. Zayn menatapnya seolah Kirana adalah pusat dari seluruh dunianya. Tatapan penuh penerimaan dan kepedulian yang selama tiga tahun pernikahan tak pernah sekali pun dilayangkan oleh Reyhan. Hati Kirana yang semula hampa mendadak bergetar hebat. Jemarinya yang bertumpu pada pundak tegap Zayn meremas erat, seiring dengan gerakan Zayn yang mulai teratur, lembut, namun bergelora dengan gairah yang tak tertahankan. Setiap usapan tangan Zayn di pinggangnya, setiap hantaman ritmis kehangatan tubuh pria itu, dan setiap bisikan lembut yang terucap di samping telinganya terasa seperti penawar racun yang menyembuhkan seluruh luka di dada Kirana. Zayn memberikan sentuhan kasih sayang yang teramat pekat. Sesuatu yang selama ini begitu dirindukan Kirana hingga ke sumsum tulang. Kirana merasa diakui, diinginkan, dan dihargai sebagai seorang wanita secara utuh. Di bawah dominasi Zayn yang begitu memabukkan, Kirana tak lagi mampu menahan dirinya. Isakan kecil bercampur desah kepasrahan meluncur bebas dari tenggorokannya. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan gairah terlarang ini. Seluruh rasa sakit atas pengabaian Reyhan, benturan keras di lantai marmer, hingga makian murahan yang menghantam dadanya tadi sore, seketika melebur tak berbekas dalam dekapan hangat Zayn. Zayn menautkan jemarinya di antara sela-sela jari Kirana, menggenggamnya kuat-kuat di atas bantal saat tempo gerakan mereka semakin naik, membawa mereka menuju puncak kehangatan yang belum pernah Kirana rasakan seumur hidupnya. "Zayn..." cicit Kirana pasrah, menyebut nama pria itu di tengah deru napasnya yang makin tak beraturan. Zayn menunduk, mencium leher Kirana dengan penuh gairah yang membakar, menyalurkan seluruh hasrat terpendam yang ia simpan rapat-rapat selama ini. Hingga akhirnya, gelombang pekat itu menghantam mereka berdua secara bersamaan. Kirana memekik pelan, meremas punggung Zayn saat sensasi kenikmatan yang luar biasa meledak di dalam dadanya, melumpuhkan seluruh indera pada tubuhnya. Zayn menggeram rendah, memeluk tubuh Kirana dengan sangat erat, membiarkan detak jantung mereka yang berpacu kencang menyatu dalam keheningan malam. Beberapa saat berlalu, yang tersisa hanyalah deru napas hangat yang berangsur memelan di dalam kamar. Zayn tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Pria itu merosot ke samping, menarik tubuh polos Kirana ke dalam dekapan hangatnya, lalu menyelimuti mereka berdua dengan kain sprei abu-abu. Tangan Zayn yang hangat terus bergerak membelai punggung polos Kirana dan mengusap helai rambutnya yang berantakan dengan sangat telaten. Kirana menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Zayn, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang dan teratur. Secara sadar, akal sehat Kirana tahu betul bahwa ia baru saja melompati garis batas yang sangat berbahaya. Ia telah melakukan kesalahan besar, sebuah pengkhianatan terlarang dalam pernikahan. Namun, saat ia menempelkan pipinya pada dada Zayn dan merasakan pelukan hangat yang begitu protektif ini, anehnya... hatinya merasa sangat lega. Rasa sesak yang membatu di dadanya selama tiga tahun terakhir mendadak sirna. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kirana merasa utuh dan kembali bisa bernapas lega. Lilin-lilin di sudut meja rias mulai meredup, menyisakan sedikit cahaya temaram yang hangat. Kirana mendongakkan kepalanya perlahan, menatap garis rahang Zayn yang tegas dari dekat. Tatapannya kini tak lagi dipenuhi oleh rasa panik, melainkan sebuah kecemasan halus akan realitas yang akan mereka hadapi begitu matahari terbit. "Zayn..." bisik Kirana pelan, suaranya serak dan lembut di tengah kegelapan. Zayn menunduk, menghentikan belaiannya pada rambut Kirana, lalu menatap mata Kirana dengan tatapan dalam. "Ya?" Kirana meremas pelan kulit dada Zayn, menyuarakan kecemasan yang mulai merayap di pikirannya. "Kita sudah melakukannya. Lalu... setelah ini bagaimana?"Di bawah bayang-bayang temaram lilin yang menari melintasi langit-langit kamar, sekat terakhir di antara mereka benar-benar musnah. Zayn tidak terburu-buru, tidak pula bertindak seolah-olah ia sedang memuaskan hasratnya sendiri secara egois. Setiap gerakan tubuhnya dikendalikan oleh kelembutan yang terukur, seakan-akan Kirana adalah porselen paling rapuh di muka bumi.Ketika Zayn perlahan menyatukan tubuh mereka, Kirana memejamkan mata rapat-rapat. Seketika, desah napasnya yang terputus-putus memenuhi keheningan kamar. Ada rasa perih sesaat dari kerapuhan jiwanya yang koyak, namun rasa itu dengan cepat tersapu oleh gelombang kehangatan yang mengalir deras dari tubuh Zayn.Zayn menghentikan pergerakannya sejenak. Pria itu menyangga tubuhnya di atas Kirana, mengusap lembut pelipis Kirana yang basah oleh peluh, lalu menunduk untuk memagut bibir wanita itu dengan ciuman yang dalam dan tenang."Tatap aku, Na..." bisik Zayn serak. "Jangan pejamkan matamu."Kirana perlahan membuka matanya. D
Kecupan hangat Zayn yang meluncur dari rahang menuju leher jenjang Kirana, membuat seluruh persendian gadis itu melumpuh. Jemari Zayn bergerak perlahan menarik sisa satu tali lingerie sutra putih di bahu Kirana hingga baju transparan itu meluncur turun. Sensasi dingin udara malam sontak menyapu kulit polos Kirana seperti sengatan listrik.Bayangan wajah Reyhan yang dingin, benturan keras di lantai marmer, hingga cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya mendadak berkelebat hebat di kepala Kirana. Logika dan kesadaran moralnya yang sempat kabur kini tersentak bangun."Z-Zayn... tunggu..."Suara Kirana bergetar, begitu tipis dan nyaris tenggelam oleh deru napas mereka yang memburu. Kirana menahan dada tegap Zayn dengan telapak tangannya yang gemetar. Matanya yang sayu dan sembap mendongak, menatap Zayn dengan kilat ketakutan yang bercampur aduk dengan rasa haus akan sentuhan."Apa... apa yang sedang kita lakukan?" lirih Kirana, air mata baru kembali menggenang di sudut matanya.
"Zayn, jangan..."Kalimat itu meluncur lirih dari mulut Kirana tepat saat wajah Zayn semakin mengikis jarak diantara bibir mereka. Spontan Kirana memejamkan mata rapat-rapat, memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan parasnya yang memerah bercampur panik. Tangannya yang gemetar mendorong dada Zayn, menahan agar tubuh tegap pria itu tidak semakin menindih tubuhnya yang terbaring di atas ranjang.Zayn menghentikan gerakannya seketika. Sebuah tawa kecil meluncur dari bibirnya. "Mulutmu bilang tidak, tapi jantungmu berdegup kencang sekali, Mbak..." kekeh Zayn pelan.Zayn menarik tubuhnya sedikit, memberi ruang bernafas untuk Kirana. Pandangannya tak sengaja berlabuh pada siku dan paha Kirana. Di bawah remang cahaya lilin aromaterapi, kulit mulus wanita itu tampak memar merah. Bekas benturan keras saat Reyhan mendorongnya tersungkur di lantai marmer tadi.Raut wajah Zayn berubah seketika. Tawa ringannya meluap tanpa sisa. Sorot mata yang tadinya dipenuhi gairah mendadak surut, b
Sentuhan jemari Zayn di lehernya terasa sehangat bara api yang memercik di atas kulit Kirana yang dingin. Kirana tersentak pelan. Naluri pertahanannya langsung menyala merah, memperingatkan bahaya nyata yang kini berlutut tepat di hadapannya.Ia ingat betul bagaimana cara Zayn menatapnya tadi pagi di meja makan. Tatapan yang vulgar, liar, dan penuh ketertarikan terlarang. Kirana bermaksud memundurkan tubuhnya, takut jika adik iparnya ini akan melakukan hal buruk di tengah kondisinya yang begitu rentan dan tak berdaya.Saat matanya yang basah mendongak dan menatap wajah Zayn, Kirana membeku. Tidak ada kekerasan di sana. Zayn berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer, menyejajarkan posisinya dengan Kirana yang tergeletak pasrah.Tidak ada garis kebekuan seperti yang biasa ditunjukkan Reyhan pada wajah pria itu. Zayn menatapnya dengan raut teduh yang begitu dalam, seolah-olah seluruh perhatiannya mendadak tertuju penuh hanya pada Kirana."Z-Zayn... kamu... mau apa?" bisik Kirana ga
Tepat setelah deru mesin mobil Reyhan menghilang di balik pagar. Kirana buru-buru melangkah cepat meninggalkan dapur. Mengabaikan Zayn yang masih mengurungnya dengan pandangan lapar. Ia mengunci diri di dalam kamar mandi lantai bawah. Menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup rapat, sambil memegang dadanya yang berdebar liar.Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 24.Jangankan sebuah kado sederhana. Sekedar ucapan selamat atau pelukan hangat pun tidak ia dapatkan dari Reyhan. Tapi, Kirana tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia sudah terbiasa. Selama tiga tahun terakhir, Reyhan memang selalu lupa.Reyhan cuma terlalu sibuk, bisik Kirana pada hatinya sendiri, berusaha merawat sisa-sisa pembenaran yang kian menipis. Atau mungkin kalau ia yang memulai lebih dulu, Reyhan akan luluh. Pikirnya.Siang harinya, sebuah pesan singkat masuk dari Reyhan.[Reyhan] : Malam ini aku pulang terlambat. Banyak pekerjaan kantor. Jangan menungguku, tidurlah lebih dulu.Kirana me
"Adikku pulang dari Inggris pagi ini. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu." Suara Reyhan yang dingin memecah keheningan di meja makan pagi itu. Ia berbicara tanpa melihat ke arah Kirana yang sedang menuangkan kopi hangat ke dalam cangkirnya. Reyhan lebih fokus mengoles mentega pada selembar roti tawar. Gerakan tangan Kirana berhenti sejenak. Jantungnya berdesir pelan. Selama tiga tahun menikah, Reyhan memang jarang menceritakan tentang keluarganya. Kirana hanya tahu secara garis besar bahwa suaminya memiliki seorang adik laki-laki yang menyelesaikan pendidikan di luar negeri. "Oh... begitu, Mas?" Kirana mencoba mengulas senyum tipis, menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyusup. "Harus aku siapkan kamar tamu yang mana? Yang di lantai atas atau—" "Terserah kamu," potong Reyhan cepat. Nada suaranya menggambarkan bahwa topik itu sama sekali tidak penting baginya. "Zayn bukan anak kecil. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Kamu cukup siapkan kamar dan jangan banyak b







