LOGINLangit London mulai diliputi kabut kelabu saat Oma Evelyn menuruni taksi hitam yang membawanya pulang dari rumah sahabat lamanya. Angin malam menusuk tulang, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Rumah megah di sudut Jalan Kensington itu berdiri dengan anggun, seolah-olah menyambut kembalinya sang nyonya rumah.Dengan langkah perlahan, Oma Evelyn membuka pintu utama, menggantung mantel bulu tuanya di gantungan, lalu menepuk-nepuk rambut peraknya yang disanggul rapi. Dia mendesah lega, lalu berseru sambil melangkah ke dalam.“Charles? Oma pulang!”Namun tak ada jawaban. Rumah itu hening. Terlalu hening.Wanita itu lalu meletakkan tas kecilnya di meja foyer, hendak menuju dapur untuk membuat teh hangat, namun pandangannya terhenti pada sesuatu yang tampak tidak biasa.Sepasang sepatu wanita, berwarna krem, tergeletak di lantai marmer dekat tangga. Tidak rapi. Seolah dilemparkan tergesa-gesa.Kening Oma Evelyn berkerut. “Apa ini?” bisiknya.Dengan firasat yang tak enak, Oma Evely
Pada suatu siang.Langit kampus sangat cerah, tapi langkah Cassie terasa berat. Sejak insiden di bar tempat dia bekerja sebagai pelayan, bisik-bisik tak mengenakkan terus mengikutinya ke manapun gadis itu pergi. Suara tawa mencemooh terdengar jelas ketika dirinya melewati lorong menuju ruang kuliah.“Hei, lihat deh Si Cassie. Pelayan malam yang berubah jadi mahasiswi teladan sekarang,” sindir Melisa dengan suara keras, namun cukup untuk didengar semua orang.“Cih! Benar-benar tak tahu malu!” sindir Amy.“Dasar perempuan murahan!” Judith tak mau kalah ikut mengolok-olok Cassie.Cassie menggertakkan gigi. Sang gadis sudah mencoba bersabar. Dia sama sekali tidak melakukan hal memalukan seperti yang dituduhkan. Pekerjaannya di bar hanyalah untuk membayar biaya hidupnya, bukan seperti yang orang-orang katakan.“Pakai baju itu ke kampus? Lagi-lagi lupa ganti kostum, ya?” celetuk Amy, sahabat Melisa, menambahkan ejekan.Cassie menunduk dan bergegas masuk ke ruang kelas, menahan air matanya.
Dalam hati, Charles menahan sesuatu yang tidak bisa dirinya ungkapkan.“Aku ingin lebih dari itu, Cassie. Tapi belum sekarang.”Sang profesor sudah bertekad. Cassie harus lulus terlebih dahulu. Mimpi-mimpinya harus tercapai. Baru setelah itu, jika waktunya tepat, dia akan mengungkap siapa dirinya sebenarnya. Bukan hanya seorang dosen, tapi pria yang selama ini mendukung dan menjaganya dari jauh.Cassie menguap kecil.“Kamu lelah,” ucap Charles sambil berdiri. “Aku tak akan lama di sini. Istirahatlah.”Cassie menatapnya, masih memegang cup cokelat panas.“Prof, saya boleh jujur?”“Tentu.”“Saya senang Anda datang. Rasanya, seperti kedamaian yang abadi.”Kata-kata itu menghantam hati Charles seperti badai lembut. Dia tersenyum, menyembunyikan gejolak emosinya.“Aku akan selalu ada saat kamu butuh,” ucap Charles. “Jadi ... jangan pernah takut.”Cassie mengangguk. “Terima kasih, Prof Charles. Saya benar-benar beruntung punya dosen seperti Anda.”Charles melangkah mundur, mengangkat tang
Di sebuah ruang kerja mewah bertingkat di jantung Kota London, Prof. Charles duduk bersandar di kursi kulitnya. Langit malam terlihat melalui jendela besar di belakangnya, lampu-lampu kota berkerlap-kerlip. Dia pun menatap layar ponselnya, membaca pesan terakhir dari Blake.“Nona Cassie selamat. Alan berhasil dihalau. Dia sedang dirawat. Saya akan tetap berjaga di sekeliling rumah sakit secara diam-diam.”Charles mengembuskan napas lega, kemudian meletakkan ponsel itu di meja. Tangannya yang sempat mengepal kini perlahan mengendur.“Untunglah …” gumamnya lirih.Tak lama, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Seorang pria gagah dengan jas hitam masuk, Blake, bodyguard pribadi sekaligus orang kepercayaannya.“Tuan, saya datang seperti yang Anda minta,” ujar Blake dengan sopan.Charles berdiri dan menatapnya dalam-dalam.“Kamu sudah melakukan pekerjaan luar biasa, Blake. Jika kamu tidak datang secepat itu, entah apa yang terjadi pada Cassie malam itu.”“Saya hanya menjalankan perintah,
Sementara itu, Cassie baru saja tiba di halte bus, menunggu kendaraan menuju apartemennya. Dia tidak tahu bahwa seorang pria bertubuh tegap dalam setelan hitam sedang mengamatinya dari kejauhan. Dialah Blake, orang suruhan Profesor Charles.Melalui alat komunikasi kecil di telinganya, Blake berbicara pelan. “Target terlihat aman. Bergerak menuju jalur bus. Dengan jarak sekitar sepuluh meter.”Blake berjalan santai, seolah-olah hanya seorang pejalan kaki biasa. Tapi matanya awas, memperhatikan setiap orang yang melintasi Cassie. Dia bahkan melihat Alan sempat muncul di sudut jalan, namun segera menghilang saat melihat Blake mendekat.“Ancaman menjauh. Akan terus dipantau,” gumam Blake sambil mengikuti dari kejauhan.Malam pun tiba. Di apartemennya, Cassie merebahkan diri di tempat tidur, masih berpikir tentang Charles. Matanya menatap langit-langit."Aku tahu ada yang aneh tentang Prof. Charles," bisiknya. "Tapi kenapa aku tak bisa berhenti memikirkannya?"Cassie menatap ponselnya,
Masih di dalam ruangan Profesor Charles.Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara lembut pendingin ruangan dan detak jarum jam di dinding. Sebuah jendela tinggi membiarkan cahaya senja menyusup masuk, menciptakan bayangan hangat di seluruh sudut ruang kantor dosen yang penuh rak buku, map, dan setumpuk kertas.Profesor Charles duduk bersandar di sofa, dasi longgar menggantung di lehernya. Di depannya, Cassie, mahasiswi bimbingannya, tersenyum simpul sambil menyentuh tangan sang profesor. Rambut panjang Cassie tergerai, pipinya merah merona, entah karena tersenyum atau karena hal lain.“Anda tahu, Prof, saya tidak pernah membayangkan seorang profesor bisa sesantai ini,” ujar Cassie sambil memiringkan kepalanya manja.Prof. Charles terkekeh pelan. “He-he-he. Dan saya tidak pernah membayangkan seorang mahasiswi secerdas kamu bisa begitu … persuasif.”Cassie mendekat, nyaris menyentuhkan hidungnya ke wajah pria paruh dewasa itu. “Kalau begitu, anggap saja kita sedang eksplorasi akademik







