Home / Romansa / GODAAN SANG PROFESOR / 9. Ultimatum Oma Evelyn

Share

9. Ultimatum Oma Evelyn

last update publish date: 2026-07-24 14:07:52

Langit London mulai diliputi kabut kelabu saat Oma Evelyn menuruni taksi hitam yang membawanya pulang dari rumah sahabat lamanya. Angin malam menusuk tulang, dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Rumah megah di sudut Jalan Kensington itu berdiri dengan anggun, seolah-olah menyambut kembalinya sang nyonya rumah.

Dengan langkah perlahan, Oma Evelyn membuka pintu utama, menggantung mantel bulu tuanya di gantungan, lalu menepuk-nepuk rambut peraknya yang disanggul rapi. Dia mendesah lega, la
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GODAAN SANG PROFESOR   32. Trento dan Pesonanya

    Pagi yang hangat.Cahaya matahari mulai menembus tirai tipis kamar mereka di Lecce. Cassie terbangun lebih dulu, menatap Charles yang masih tertidur pulas, bibir sedikit terbuka, rambutnya acak. Cassie terkikik kecil.“Charles bangun, Darling. Kita mau ke Trento hari ini,” bisik Cassie sambil mengusap pipi suaminya.Charles menggumam. “Trento … Alpen … pegunungan, dingin rasanya.”Cassie tertawa pelan. “Kamu pasti akan suka. Trento kota cantik, seperti di negeri dongeng. Ada kastil, Alpen, dan strudel.”Charles membuka sebelah matanya. “Ada strudel? Okay, aku ikut.”Cassie mengangguk. “Tentu saja ada strudel. Kita kan mau ke daerah yang dekat sama Austria.”Charles menguap panjang. “Baiklah. Demi strudel, aku bangun.”Cassie mencubit pinggang Charles. “Bukan cuma strudel, Sayang. Pegunungan Alpen itu luar biasa. Udara dingin, salju di puncak, dan Kota Tua Trento penuh warna pastel.”Charles mengusap wajahnya. “Baik, baik. Aku pasrah.”Mereka naik kereta pagi, menempuh perjalanan panja

  • GODAAN SANG PROFESOR   31. Perjalanan Ke Lecce

    Keesokan harinya.Mentari Modena mulai mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar hotel. Suasana kamar masih terasa hangat, sisa keakraban semalam. Cassie terbangun duluan, rambutnya sedikit acak, masih mengenakan tanktop tipis. Dia menatap Charles yang tertidur lelap, satu tangan masih melingkar di pinggangnya.Cassie tersenyum, lalu membelai rambut suaminya. “Hey, Baby bangun.”Charles menggumam, matanya setengah terbuka. “Cassie … apa masih gelap?”Cassie tertawa pelan. “Charles, sekarang sudah jam tujuh. Kita harus siap-siap ke Lecce.”Charles mengerang. “Lecce … Florence of the South, katanya.”Cassie menepuk dadanya pelan. “Betul. Aku tidak mau melewatkan kota itu. Baroque architecture, Baby!”Charles terkekeh, masih setengah ngantuk. “Aku butuh baroque coffee.”Cassie mendaratkan ciuman cepat di bibir Charles. “Nanti kita cari espresso. Cepat mandi.”Charles menatap Cassie. “Mandi bareng?” tanyanya dengan nada nakal.Cassie pura-pura melotot. “Charles! Kita bisa ketinggal

  • GODAAN SANG PROFESOR   30. Terbalut Kehangatan Malam

    Cassie memeluk suaminya. “Aku bahagia hari ini. Ferrari, balsamic vinegar, dan kamu.”Charles mengecup kening istrinya. “Aku juga bahagia. Asalkan akhirnya kita pulang ke hotel dan berduaan denganmu.”“Ha-ha-ha.Cassie tertawa. “Kamu tak pernah bosan, ya?”Charles membisik di telinganya. “Bosanku hanya kalau kamu tidak di sampingku.”Cassie tersipu, menatap suaminya lama. “Aku juga. Tidak ada tempat yang indah tanpa kamu.”Malam pun menuruni kota Modena. Cassie dan Charles berjalan bergandengan, botol balsamic vinegar di tangan Cassie, sementara Charles menatap istrinya dengan penuh cinta. Modena menambah satu bab lagi dalam kisah bulan madu keduanya, sebuah kota yang harum dengan kecepatan Ferrari dan rasa manis asam balsamic, sama persis seperti cinta mereka yang kadang mengila, lembut, namun selalu berkesan.Malam sudah turun sempurna ketika Cassie dan Charles kembali ke hotel. Udara di luar sejuk, beraroma manis balsamic vinegar yang masih melekat di indera mereka. Begitu ti

  • GODAAN SANG PROFESOR   29. Lebih Sexy Dari Ferarri

    Cahaya matahari lembut menembus tirai tipis kamar hotel mereka di Parma. Cassie terbangun lebih dulu, masih mengenakan kaus longgar milik Charles. Dia menoleh, mendapati suaminya terlelap, rambut sedikit acak, bibir sedikit terbuka. Cassie pun tersenyum.“Bagaimana mungkin tidak aku jatuh cinta terus denganmu, Darling?” gumamnya pelan sambil mengusap rambut suaminya.Charles bergumam dalam tidur.“Cassie, keju .…”Cassie menahan tawa. “Bahkan dalam tidurmu, kamu masih memikirkan keju.”Charles membuka mata perlahan.“Hmm, keju dan kamu.”Cassie mencubit hidung Charles.“Bangun, sleepyhead. Hari ini kita akan ke Modena!”Charles memeluk Cassie. “Bolehkah kita bolos sehari untuk jalan-jalan? Tidur di hotel saja.”Cassie menepuk dada suaminya pelan. “Tidak boleh. Modena itu rumah mewah Ferrari dan balsamic vinegar asli. Aku nggak akan melewatkan itu!”Charles menghela napas panjang. “Baiklah. Aku pasrah padamu, tour guide-ku.”Mereka pun mandi, berkemas, lalu turun untuk sarapan. Cassi

  • GODAAN SANG PROFESOR   28. Romantisme Cassie Dan Charles Terus Berlanjut

    Mentari pagi di Pisa perlahan muncul dari balik atap-atap bata merah. Udara masih sejuk ketika Cassie membuka mata. Charles masih terlelap di sebelahnya, tangannya melingkari pinggang istrinya. Cassie menatap wajah suaminya lama, lalu tersenyum tipis sambil membelai rambut Charles. “Sayang, bangun. Hari ini kita harus berangkat lagi,” bisik Cassie lembut. Charles hanya menggumam. “Nggak mau. Aku masih mau tidur.” “He-he-he.” Cassie tertawa pelan. “Kalau kamu tidur terus, kita nggak jadi ke Parma.” Charles membuka sebelah mata, mendesah. “Parma? Yang terkenal dengan keju itu?” Cassie mengangguk. “Keju premium tentunya. Aku sudah lama sekali mau ke sana.” Charles memeluk Cassie lebih erat. “Aku lebih suka makan kamu saja.” Cassie memukul dadanya pelan. “Nakal! Ayo bangun.” Setelah mandi dan berkemas, mereka check-out dari hotel. Kereta menuju Parma berangkat pukul sepuluh pagi. Sambil berjalan ke stasiun, Cassie terus memeriksa ponselnya. “Charles, tahu ngg

  • GODAAN SANG PROFESOR   27. Menara Pisa Dengan Segala Pesonanya

    Mentari pagi menembus tirai hotel di Como, membangunkan Cassie lebih dulu. Dia mengerjapkan mata, lalu menoleh ke sisi ranjang. Charles masih terlelap, napasnya teratur, satu lengan tergeletak di perut istrinya. Cassie tersenyum, membelai rambut suaminya perlahan.“Bangun, sleepyhead,” bisik Cassie.Charles mengerang pelan, menutup wajah dengan bantal. “Masih gelap.”“Hi-hi-hi.”Cassie terkikik. “Sudah terang. Hari ini kita harus berangkat pagi.”Charles mengintip Cassie dari balik bantal. “Hari ini kita ke mana, Darling?”Cassie meraih ponsel, menunjukkannya ke wajah Charles. “Pisa.”Charles mengangkat sebelah alis. “Menara miring, huh?”Cassie menepuk dadanya. “Itu lebih dari sekadar menara miring. Itu ikon dunia.”Charles menghela napas. “Baiklah. Pisa, here we come.”Setelah mandi dan sarapan, mereka check-out dari hotel dan naik kereta menuju Pisa. Sepanjang perjalanan, Cassie terus bersandar di bahu Charles sambil membaca informasi tentang kota itu.“Charles, kamu tahu ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status