LOGINPagi itu, Bogor diselimuti kabut tipis yang dingin, seolah ikut merasakan suasana hatiku yang membeku. Aku duduk di meja makan, hanya mengaduk-aduk bubur ayam buatan Ibu tanpa minat, ketika suara ketukan di pintu depan memecah keheningan. Jantungku mencelos. Aku punya firasat buruk tentang siapa yang berdiri di balik pintu itu.Ibu bergegas membukanya, dan suaranya yang ramah terdengar menyapa tamu tersebut. Namun, suasana berubah kaku ketika tamu itu menyebutkan namanya. Aku melangkah pelan menuju ruang tamu dan menemukan Rey berdiri di sana. Wajahnya tampak kusut, matanya merah seolah tidak tidur semalam."Canna, Bu... Maaf saya lancang datang sepagi ini," suara Rey bergetar.Ibu mempersilakannya duduk dengan sopan, meski aku bisa melihat gurat kebingungan di wajah Ibu. Kami duduk melingkar di ruang tamu yang sempit itu. Keheningan yang tercipta terasa sangat mencekik sebelum akhirnya Rey mulai bicara, menumpahkan segala kejujurannya di hadapan kami berdua."Saya ke sini untuk minta
Hari itu, langit Bogor tidak lagi terasa menyejukkan. Aroma bunga di kios Yura yang biasanya menjadi terapi bagiku, mendadak berubah menjadi bau yang menyesakkan dada. Setelah Widi pergi meninggalkan serapah dan hinaan yang menguliti harga diriku, aku berdiri di tengah kios dengan tubuh gemetar.Aku menatap Yura yang masih berusaha menenangkan napasnya setelah mengusir Widi. Dengan tangan yang masih dingin, aku mulai melepas apron cokelat tanah yang sebulan ini menjadi kebanggaanku."Can, kamu mau ke mana?" tanya Yura cemas, langkahnya mendekat padaku."Aku berhenti, Yur," kataku lirih. Suaraku hampir tidak keluar. "Terima kasih banyak untuk satu bulan ini. Kamu sudah mengajariku banyak hal, memberi aku tempat untuk bernapas. Tapi aku tidak bisa lanjut. Aku tidak ingin terlibat konflik lagi dengan siapa pun, terutama soal pria. Aku lelah, Yur. Aku benar-benar lelah."Yura mencoba menahanku, memohon agar aku tidak mengambil keputusan saat sedang emosi. Namun, keputusanku sudah bulat. A
Ketenangan yang susah payah aku bangun di kios Yura hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Sore itu, udara Bogor yang biasanya sejuk mendadak terasa menyesakkan saat sebuah mobil merah menyala berhenti dengan kasar di depan kios. Seorang wanita turun dengan langkah menghentak, wajahnya penuh amarah yang disembunyikan di balik riasan tebal. Aku mengenali wajah itu. Widi. Kakak kelas yang enam tahun lalu memimpin perundungan terhadapku hanya karena Rey menyatakan perasaan padaku. Wajahnya tidak banyak berubah, masih menyimpan keangkuhan yang sama, namun kini guratan emosinya terlihat lebih meledak-ledak. "Jadi benar, si pemalu ini sudah kembali?" suara Widi melengking, memotong keheningan di antara aroma lili dan mawar. Yura yang sedang merangkai pesanan di sudut langsung berdiri tegak. "Widi? Ada apa ini? Datang-datang kok marah-marah?" Widi tidak memedulikan Yura. Matanya terkunci padaku, tajam seperti sembilu. "Kamu tahu tidak, Canna? Kamu baru saja menghancurkan hari u
Sejak kepulangan Rey dengan rangkaian Hydrangea biru itu, suasana di kios bunga Yura mendadak berubah. Aroma lili dan mawar yang biasanya menenangkan, kini seolah bercampur dengan aura konspirasi yang digerakkan oleh sahabatku sendiri. Yura, yang biasanya fokus pada stok bunga dan laporan keuangan, kini punya hobi baru: menyelipkan nama Rey dalam setiap celah percakapan kami.Pagi itu, saat kami sedang memilah mawar putih untuk pesanan duka cita, Yura memulai "serangannya" dengan cara yang sangat halus."Can, kamu perhatikan tidak? Rey itu sejak ketemu kamu lagi, penampilannya jadi lebih rapi. Biasanya dia ke sini cuma pakai kaos oblong kumal kalau mau ambil pesanan Tante. Sekarang? Pakai polo, rambut disisir klimis, parfumnya saja sampai kecium dari ujung jalan," ujar Yura sambil memotong batang mawar dengan gerakan yang sengaja diperlambat.Aku hanya bergumam tidak jelas, pura-pura fokus membersihkan duri. "Mungkin dia memang lagi ada banyak pertemuan bisnis, Yur. Tidak ada hubungan
Baru dua hari sejak pertemuan canggung itu, aku mulai merasa ritme kerjaku di kios Yura kembali stabil. Aku sudah lebih mahir menangani floral foam dan mulai paham cara mengombinasikan tekstur daun agar rangkaian tidak terlihat membosankan. Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah mobil yang sangat kukenali—mobil yang sama dengan yang dibawa pria itu tempo hari—kembali terparkir tepat di depan kios.Jantungku berdegup kencang. Jangan Rey lagi, tolong, bisikku dalam hati.Namun, pintu mobil terbuka dan sosok jangkung itu melangkah keluar. Kali ini ia tidak mengenakan kemeja flanel, melainkan kaus polo santai. Di tangannya, ia membawa buket wisuda yang aku rangkai dua hari lalu. Wajahnya tidak tampak marah, tapi terlihat... ragu."Yur? Canna?" Rey melangkah masuk, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.Yura, yang sedang sibuk memotong pita di pojok ruangan, mendongak. "Lho, Rey? Kok balik lagi? Ada yang salah sama bunganya?"Rey meletakkan buket itu di atas meja kayu. Aku bisa
Setelah Rey pergi dengan langkah yang sedikit lesu, aku mencoba kembali fokus pada tumpukan bunga mawar yang belum selesai kubersihkan durinya. Namun, jantungku masih berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Pertemuan tadi benar-benar di luar dugaanku. Bogorku yang tenang tiba-tiba terasa seperti panggung lama yang memanggilku untuk memainkan peran yang sudah lama aku pensiunkan.Tak lama kemudian, Yura kembali dari gudang belakang dengan membawa beberapa gulung pita satin baru. Ia melihat ke arah pintu masuk, lalu menatapku dengan senyum yang sangat lebar—jenis senyum yang biasanya menandakan dia baru saja mendapatkan informasi menarik."Canna, Canna... Kamu ini memang tidak berubah ya," goda Yura sambil mulai menata pita-pitanya di rak.Aku pura-pura tidak mengerti. "Maksudmu?""Barusan aku bertemu Rey di parkiran. Dia membanggakan buket wisuda yang kamu buat. Katanya, sentuhan Canna Kirana memang tidak ada duanya," Yura menyikut lenganku pelan. "Tapi dia juga curhat, katanya k
Suara bariton Arion menggema melalui pengeras suara, memenuhi setiap sudut Grand Ballroom dengan otoritas yang tenang. Ia sedang berdiri di atas podium, bermandikan cahaya spotlight yang membuatnya tampak seperti dewa bisnis yang tak tersentuh. Ia bicara tentang visi, masa depan Richie Group, dan
Lantai dansa Grand Ballroom mulai dipenuhi pasangan yang bergerak mengikuti irama waltz yang lembut, namun di sudut area buffet, atmosfer terasa seperti medan perang yang membeku. Arion tidak datang dengan ledakan kemarahan. Ia melangkah tenang, satu tangannya diselipkan ke saku celana berbahan m
Aku menyesap jus jeruk di tanganku, namun rasanya tiba-tiba menjadi tawar. Dari sudut balkon tempatku berdiri bersama Mas Redy, pemandangan aula di bawah sana terlihat seperti panggung sandiwara yang megah. Dan pusat gravitasi panggung itu, tentu saja, adalah Arion. Ia baru saja selesai menyalami
Darahku terasa berdesir hebat saat melihat langkah lebar Arion yang membelah kerumunan. Tatapannya yang tadi hangat kini berubah menjadi sedingin es, lurus tertuju pada Kevin, pria yang masih setia mengulurkan tangannya di depanku. Arion tidak berlari, tapi aura otoritas yang dipancarkannya membu







